
Caitlin meninggalkan waduk sekitar pukul delapan. Dia mendapat izin untuk pulang ke rumah dan mengambil beberapa barang. Nadira memberikannya waktu dua jam, tidak lebih, tidak kurang. Selama ini, dia bisa menepatinya dengan tepat. Hari ini, dia berharap waktunya bisa diperpanjang. Mungkin dia bisa sengaja terlambat. Paling-paling, dia hanya akan dapat teguran lisan. Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri.
Pertengkaran dengan Jayden semalam masih membuat darahnya mendidih.
Caitlin duduk seorang diri di tepi jendela kedai kopi dekat rumah. Dia mampir ke sana lebih dulu sebelum pulang ke rumahnya. Dengan ponsel kuno di tangannya, dia menantikan nada sambung berubah menjadi suara yang dia kenal jelas.
[Halo?] Suara berat dan lembut terdengar.
“Hai, sayang.”
[Cait? Hai! Apa yang terjadi? Ini nomor barumu atau ada sesuatu yang telah terjadi?]
Caitlin mendesah. Matanya mengawasi kedai yang cenderung sepi. Tak seorang pun duduk dekatnya. Dia memang memilih tempat yang paling ujung, tak ingin diganggu oleh siapa pun. Jemarinya menyusuri tepi gelas kertas berisi cafe au lait. “Ada beberapa hal terjadi semalam. Mungkin kamu sudah lihat di berita.”
[Pemilik casino De Penguin ditangkap karena penggelapan uang? Jangan bilang kalau itu ulah kalian. Beritanya ada di semua surat kabar pagi ini. Kulihat sempat jadi trending topic di internet juga.]
“Yup. Itu debut pertamanya.” Caitlin mendapati suaranya sendiri bergetar ketika bicara. Jayden benar saat bilang kalau dialah yang paling bersemangat. Tentu saja. Kalau tidak bersemangat, dia tidak akan menanti dan berjuang selama tiu.
[Siapa? Zetta Sonic?]
Caitlin mengangguk meski tahu tunangannya, Baron, tak bisa melihat. Di tempat umum seperti tempatnya berada saat ini sangatlah tidak aman menyebutkan nama ICPA atau Zetta Sonic. “Ya. Misi pertama.”
[Kamu enggak apa-apa? Oh, tunggu. Tentu saja kamu enggak baik-baik saja. Di mana kamu? Biar kujemput.]
Caitlin tertawa kecil mendengarnya. Air mata mengalir dari ujung matanya. “Hei, kita terpisah ribuan kilometer, ingat? Lagipula, aku terjebak dengan pekerjaan ini. Aku tidak mungkin menemui sekarang. Aku bahkan hanya punya waktu dua jam untuk ke rumah dan mengambil barang. Pakaian, make up, hal-hal pribadi semacam itu.”
[Hei, kamu lebih membutuhkanku daripada itu, ‘kan?]
“Aku berharap kamu di sini.”
[Aku akan menculikmu kalau perlu.]
__ADS_1
“Berhentilah bercanda!” Meski bicara begitu, Caitlin tetap tertawa di akhir kalimatnya. “Rekan-rekanmu akan menangkapmu kalau berani mendekatiku. Ini bukan saat yang tepat, sayang. Tidak sampai anak itu lebih stabil.”
[Kamu bilang kalau akan segera meninggalkan pekerjaan ini.]
“Ya, itu rencanaku. Jayden merusak segalanya. Alex merebut kesempatanku …” ujar Caitlin lirih. Dia tak peduli seandainya kedua nama itu didengar oleh orang lain. Kenyataannya, dia memang merasa kesal pada keduanya.
[Kenapa dengan Jayden? Dia sok tahu seperti biasa?]
“Lebih buruk. Dia tahu kalau aku sering menghubungimu. Itu salahku.” Caitlin berhenti sejenak. “Aku tak menyangka kalau dia meretas ponselku dan membaca pesan teks. Dia tahu semua. Itu salahku.” Caitlin mengulangi kalimat tersebut. Dia tahu jelas kalau sudah melanggar peraturan. Di satu sisi, dirinya bersyukur karena Jayden tak melaporkannya. Di sisi lain, dia kesal karena Jayden sudah mencuri privasinya.
[Apa itu sebabnya kamu menelepon dengan nomor baru?]
“Burner phone. Aku tak menyangka akan memakainya untukmu.” Caitlin mengedikkan bahu. Sejak bergabung dengan ICPA, dia selalu punya cadangan burner phone. Ponsel murah yang diperuntukkan keperluan sementara.
[Di mana kamu sekarang? Sepertinya bukan di rumah. Aku mendengar suara musik jazz pelan di belakangmu. Sejak kapan kamu jadi penggemar jazz?]
“Aku ada di cafe. Cafe di seberang taman. Kita pernah ke sana beberapa kali.”
Caitlin juga tertawa kecil, lagi. “Aku kangen. Aku ingin bicara banyak padamu.” Dirinya mulai terisak. “Seandainya aku bisa menceritakan semuanya dari awal.”
[Aku akan terbang ke tempatmu malam ini. Tunggu aku--]
“Jangan bodoh! Aku tetap tidak bisa meninggalkan tempat itu. Mereka membutuhkanku. Maksudku, aku harus membantu profesor. Sekarang, semua kerja kerasnya bergantung pada Alex, apakah anak itu akan bertahan atau tidak.”
[Dan … kamu membutuhkanku. Baik, baik. Aku mengerti situasinya. Mungkin sekarang ini bukan saat yang tepat untuk bertemu. Apa yang bisa kulakukan untukmu? Kamu ingin aku bicara pada Jayden?]
“Enggak. Jangan. Membuatnya kesal sama saja membuat Nadira tahu soal aku selalu menghubungimu. Aku enggak mau Nadira tahu. Enggak sekarang.”
[Kita akan segera menikah. Aku ingin bersamamu tapi aku juga tidak mau kamu terlibat masalah apalagi bahaya. Jujur saja, aku lebih tenang saat tahu kalau Alex merebut kesempatan itu darimu.]
“Apa!?” Caitlin menaikkan nada suaranya.
__ADS_1
Baron buru-buru menimpali. [Kamu mengenalku, ‘kan? Kamu tahu aku tidak pernah setuju dengan pekerjaanmu di ICPA. Aku juga tidak pernah mendukung aksimu jadi relawan eksperimen apalah itu. Wajar saja kalau aku lega mendengar kalau ada orang lain yang menggantikanmu. Proyek kalian berbahaya. Kamu sendiri tahu itu.]
Caitlin terdiam, tak ingin menjawab. Suara Baron terdengar begitu lembut. Semua ucapan tunangannya pun ada benarnya. Meski kesal mengakui, Caitlin begitu senang dengan perhatian Baron padanya.
[Aku juga tahu saat kamu bilang akan meninggalkan pekerjaan ini, itu tidak akan terjadi dengan mudah. Kalau kamu benar-benar jadi relawan, kamu tidak akan pernah pergi dari ICPA. Meski begitu, aku ingin kamu jadi dirimu sendiri. Kalau itu memang kebahagiaanmu, aku akan mendukung sekalipun berat. Hanya saja, aku sudah berjanji pada mendiang ayahmu.]
Caitlin tak bisa menahan air matanya. Tangannya buru-buru mengusap setiap butir yang jatuh membasahi pipinya.
[Aku berjanji untuk selalu menjaga dirimu. Karena itu, mungkin kamu bisa sedikit mempertimbangkan untuk mengurangi sedikit bebanku.]
Mendengar itu, Caitlin tersenyum. “Saat yang tepat untuk berhenti?” pertanyaannya keluar dengan suara bergetar.
[Ya, mungkin ini saat yang tepat untuk berhenti.]
Caitlin terdiam sebentar. Dia menenangkan dirinya. Baron di seberang sana menghujaninya dengan berbagai kata-kata penghiburan. Mereka telah menjalani hubungan selama tujuh tahun terakhir. Caitlin awalnya curiga kalau Baron hanya seorang laki-laki playboy seperti laki-laki yang berusaha mendekatinya selama ini. Seiring berjalannya waktu dan kemampuannya di ICPA bertambah, dia menyelidiki Baron dan mendapati kalau Baron memang setia padanya. Dia beruntung mendapat laki-laki itu. Sangat beruntung.
Laki-laki itu melamarnya tahun lalu sebelum ayahnya meninggal. Dia minta Baron menunggu. Baron menyetujuinya. Caitlin sendiri tak paham kenapa dirinya bisa tetap bertahan dengan ICPA daripada Baron. Kalau teman-temannya tahu, mereka akan menyebutnya bodoh. Dia sendiri sadar itu.
Caitlin akhirnya bicara, “Baiklah. Mungkin kamu benar. Ini kesempatan baik. Aku akan bicara dengan profesor dan pimpinan supaya meninggalkan tempat itu secepatnya.”
[Itu kedengaran seperti rencana bagus untukku.]
“Tentu saja.” Caitlin tersenyum simpul. “Mungkin sebelum keluar, aku bisa mengerjai Jayden dan Alex.” Caitlin menertawakan leluconnya sendiri. “Aku hanya bercanda.”
[Aku tahu. Kamu tidak akan sejahat itu.]
“Terima kasih, sayang. Aku merasa lebih baik setelah bicara denganmu.”
[Kuharap aku bisa melihat senyummu.]
“Mungkin kalau aku mengancam Jayden dengan pistol, dia akan berhenti memata-mataiku.” Caitlin tertawa lagi sambil memainkan gelas kertasnya. Isinya sudah tak bisa dibilang, tapi tidak masalah buatnya. Hatinya yang panas telah mereda. Dia bisa berkonsentrasi lebih baik untuk menolong Alex.
__ADS_1
Ya, seharusnya begitu.