Zetta Sonic

Zetta Sonic
Night Meeting


__ADS_3

Di ruang komando, Alex mendapati wajah Nadira sudah memenuhi layar besar. Seperti sebelumnya, Henrietta berdiri di belakang. Mematung tanpa ekspresi atau sedikit pun keinginan untuk bergabung dalam pembicaraan. Emil duduk di ujung meja panjang, sementara profesor di ujung satunya. Mereka seperti dua anak yang sedang bertengkar. Tiger bersandar pada dinding yang terhubung ke lantai atas ruang komando. Alex bisa melihat kalau kali ini Tiger berada lebih dekat pada profesor. Jelas hal langka.


Alex berusaha berjalan pelan, tak menarik perhatian. Kenyatannya justru berbeda. Semua orang tampak telah menantikan kedatangannya. Semua orang menoleh padanya, menanti dirinya turun dari bagian atas, bergabung dengan mereka di meja panjang berseberangan dengan layar besar di mana Nadira berada.


Ini bukan pengalaman yang akan dia lupakan. Alex tahu. Semenakutkan apa pun presentasi di kelas, tidak ada yang mengalahkan dipandangi para anggota ICPA seperti ini. Tangannya tak lagi gemetar, namun kepalanya tertunduk. Tidak ada sedikit pun keberanian tersisa apalagi kesombongan dari dirinya.


[Ambil tempat dudukmu!] Nadira memberi perintah dengan datar.


Alex tak melawan, tak pula menjawab. Dia bergegas mengambil posisi yang cukup dekat dengan Emil. Sepertinya pembicaraannya dengan si profesor harus menunggu.


[Bagus. Ayo, bicara!] Nadira mulai memainkan jemarinya yang kurus


Alex menarik napas dalam-dalam, bersiap mengutarakan apa yang telah dia lakukan. Tentu saja, dimulai dengan permintaan maaf, lalu disusul dengan keinginan tulusnya untuk menyelamatkan Jayden. Ketika dia mengangkat kepala untuk bicara, Alex sadar kalau Nadira bukan menyuruhnya. Nadira melirik ke kiri, ke arah profesor Otto.


[Bicaralah jujur. Akan kupertimbangkan untuk memperingan hukumanmu.] Nadira bicara lagi, nadanya datar.


Profesor Otto diam dengan santai. Dia membutuhkan beberapa menit hingga menyadari kalau semua tatapan sedang terarah padanya. Pria tua itu membalas tatapan setiap pasang mata yang ada. Dirinya terbatuk dan kalimatnya keluar gelagapan. “A— Apa? Aku? Bicara apa? Hukuman apa ini? Bicara apa?”


Sebagai orang yang bisa berbohong dengan begitu mudah, Alex menyadari kebohongan profesor Otto. Profesor itu menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya, itu bukan hal baru. Alex tahu kalau profesor Otto jelas sekali menyembunyikan banyak hal. Di situ letak masalahnya. Alex tak yakin ingin mengetahuinya. Sepertinya itu bukan yang yang ingin dia dengar pula dalam ruang komando saat itu.


“Bicara!” Tiger berseru keras.


Profesor berjingkat. Suara Tiger bukan hanya mengancam tapi benar-benar merupakan intimidasi. Emil bahkan menelan ludah. Sorot mata Tiger sudah terlatih di atas ring gulat. Otot-ototnya lengannya yang tersembunyi di balik seragam lengan panjang seolah siap beraksi. Amarahnya sudah terbangun dalam perjalanan tadi. Alex berpikir kalau mungkin saja Tiger memarahinya sejak awal karena masalah bertumpuk. Ini salah satunya.


“A— Apa maksudmu?” Profesor berkelit. Matanya silih berganti mengamati setiap orang di sana. “Bicara soal apa?”

__ADS_1


“Bantu dirimu sendiri, prof.” Emil akhirnya ikut bicara. “Kami tahu. Soal dermaga.”


Tahulah Alex kalau profesor terlibat. “Kamu yang membuat monster itu?”


Mata profesor terbelalak mendengar ucapan Alex. “A— Apa? A— Aku— Aku yang membuat Zetta Sonic. Aku membuat Dragon Blood. Bagaimana mungkin aku membuat monster? Kamu gila!? Untuk apa aku melakukannya?”


“Untuk melatihku.” Pernyataan Alex terlontar dengan nada pertanyaan.


“Tentu saja tidak! Latihan bukan bagianku. Itu— Itu bagian pekerjaan Jayden.”


Alex menggeleng. “Kamu benar-benar panik. Kamu menyembunyikan sesuatu. Kamu yang membuat monster itu. Monster dinosaurus di dermaga.”


“Tidak! Itu tuduhan gila!”


Alex mendapati kebohongan si profesor dengan mudah. Lawan bicaranya memang sedang berbohong.


“Kamu sengaja salah,” ujar Emil. “Bukan. Kamu membuat laporan palsu. Ironis sekali.”


Mulut profesor Otto ternganga lebar, matanya juga terbelalak.


Muncul lagi, jendela yang lain. Kali ini, nampak gym sekolah Alex. Di sana ada monster lain yang telah hancur lebur. Ada pula foto-foto lain. Foto Melodiza, sekelompok orang berseragam pengirim monster, truk mereka, juga sejumlah transfer uang ke rekening.


“Kamu butuh bukti lain?” sergah Tiger. “Kamu mengirim uang pada jasa ekspedisi. Orang-orang itu cukup berani untuk mengirim dinosaurus buatan dalam kerangkeng. Mereka bukan jasa ekspedisi biasa. Mereka milik buronan yang sedang dicari ICPA. Kenapa kamu bisa melakukan kontak dengan mereka?”


“Tu— Tunggu sebentar—”

__ADS_1


“Kamu menerbitkan laporan palsu ketika diminta menyelidiki monster itu. Kenapa? Mudah saja. Kamu tidak bisa mengatakan kalau ada Dragon Blood di dalam penyusun monster itu! Masih mau berkelit juga?”


Profesor menutup mulutnya. Matanya memancarkan kepanikan. Dia buru-buru menghindari tatapan Tiger, berlari pada Nadira. “Aku bisa jelaskan.”


Alex sudah berdiri dari kursinya. “Kamu menggunakan Dragon Blood untuk membuat monster-monster itu?”


“Beri tahu kami, prof,” pinta Emil. “Kamu berada di pihak siapa?”


Profesor tak memedulikan ucapan keduanya. “A— Aku bisa jelaskan, Nadira.”


Nadira menggelengkan kepala. Melihat itu, Tiger berdiri mendekati profesor.


Didorong rasa panik, profesor menceritakan semua yang dia tahu. “Aku— Maksudku, seseorang bilang kalau Rocky akan datang ke dermaga. Aku bisa menguji Alex dengan temuanku kalau mau. I— Itu kesempatan bagus. Kesempatan emas. Kita— Kita bisa menguji kemampuan Zetta Sonic di sana.”


Nadira mendengus. [Kamu tidak cerita ini padaku karena tahu tidak akan dapat izin. Aku tidak pernah mendengar soal pembuatan monster. Kamu menyembunyikannya. Kamu pikir aku enggak tahu? Aku menyuruh pihak lain melakukan penelitian ulang pada sampel monster. Kamu berbohong berulang kali.]


“A— Aku melakukannya untuk melatih Zetta Sonic.”


[Tidak. Kamu melakukannya untuk dirimu sendiri!] Nada bicara Nadira bukan hanya meninggi. Wanita itu berteriak sekarang. [Dragon Blood seharusnya tidak dihambur-hamburkan untuk hal semacam ini! Kamu gila! Kamu hanya memikirkan penelitianmu! Melatih Zetta Sonic apanya? Kamu hanya ingin memaksa Alex melampaui batas kemampuannya!]


Alex mulai melangkah maju pada sang profesor yang gemetaran.


Nadira masih melanjutkan. [Kamu memanfaatkan semua informasi yang kamu dapat untuk mengirim monster ilegal ke sana! Bukannya memberitahu soal itu, kamu malah menggunakannya untuk hal gila! Kamu benar-benar ilmuwan gila!] Sejauh ini, hanya Nadira yang benar-benar berani mengatakan hal tersebut secara gamblang di depan profesor Otto.


Profesor menoleh pada Emil, berharap bantuan dari asistennya. Namun, Emil bergeming. Mata sayunya menatap profesor. Mungkin berisi pertanyaan, mungkin juga berisi kekecewaan, yang pasti pemuda itu tak berniat mengatakan apa pun untuk menyelamatkannya. Saat itu, profesor sadar ada sosok lain mendatanginya. Alex di sampingnya. Bahkan, tangannya sudah mencengkeram leher keriput tersebut.

__ADS_1


“Katakan! Di mana Jayden!”


__ADS_2