
Di lantai dua, Alex menemukan lebih sedikit tamu. Mereka berkelompok-kelompok, ngobrol santai di samping jendela. Seorang pelayan berseragam mendekati Alex, menawarkan minuman. Alex mengambil segelas punch lalu beranjak dekat salah satu jendela tinggi. Matanya menyapu kondisi di luar. Pepohonan yang berbaris rapi bergoyang pelan oleh hembusan angin. Mobil-mobil masih mengular masuk ke dalam area balai kota. Begitu pula antrean di pintu masuk.
Dari posisi itu, alex juga bisa melihat ke panggung besar. Para pemain musik mengalunkan nada-nada indah. Beberapa pria mengenakan jas hitam ngobrol di bawah panggung, dekat dinding yang ditutupi tirai dan dekorasi.
Tujuan acara amal ini seperti biasanya adalah menggalang dana untuk menolong orang. Mereka mengundang orang-orang dari kalangan atas, mengumpulkan uang dari mereka, dan semacam itulah. Tidak heran banyak wajah-wajah terkenal di sana.
Selagi mengamat-amati wajah di sana, Alex menyadari kehadiran seorang wanita berambut emas. Rambut ikal tersebut digulung ke bagian atas, memamerkan lehernya yang jenjang. Gaun backless itu menampilkan kulitnya yang putih tak bercela. Si pria di sampingnya menyusuri lekukan tersebut dan berhenti di pinggang. Keduanya mengenakan topeng emas berhiaskan bulu dan permata. Mereka bertemu seorang pria tua dengan tongkat berujung berlian dan mulai ngobrol.
Tak ada yang salah dari kejadian tersebut. Juga tak ada yang salah dari mata Alex. Meski rambutnya dicat emas, Alex mengenali wanita yang sempat meneleponnya tadi. Dia tak lain adalah ibunya sendiri. Dirinya bergeming di tempat. Mungkin seharusnya dia mengenakan make up atau penyamaran selain tuxedo.
Selain itu, dia juga sedikit penasaran dengan pria di samping ibunya. Dia tahu ibunya sering sekali berpergian dengan teman sesama aktor dan pengusaha. Tapi, dia tak menyangka kalau hubungan mereka sampai sedekat itu. Alex menyipitkan mata, berusaha mengenali wajah itu supaya bisa diselidiki nanti.
[Alex.] Kali ini, suara Emil yang terdengar.
“Dapat sesuatu yang menarik?”
[Ya. Kamu juga? Detak jantungmu meningkat.] Emil sempat memeriksa status Zet-Arm.
“Karena punch,” jawab Alex asal setelah meneguk punch merah di tangannya. Bukan jambu seperti harapannya, tapi semangka. “Sedikit membosankan di sini.” tambahnya dengan enteng. “Ada apa?”
[Ada penemuan menarik di belakang balai kota.]
“Robot?”
[Cangkang robot, truk makanan yang kosong, peti, tali.]
Alex berusaha menerka apa maksudnya. Acara amal ini emmang menghadirkan berbagai jenis makanan, jadi wajar saja kalau ada truk pengirim makanan di sana. Tentu saja, truknya tidak kosong. Belum lagi ada cangkang robot di sana.
__ADS_1
“Mereka punya target di sini.” Alex mengedarkan pandangannya, meneliti setiap orang. Terlalu banyak orang di sana. Mereka tidak tahu siapa yang diinginkan Filip. Setidaknya, mereka tahu siapa dalangnya. “Aku akan ke belakang.”
[Rencanamu?]
“Hancurkan cangkang dan kendaraannya jadi mereka enggak akan bisa kabur sekaligus mereka mendapatkan gadisnya.”
Alex berjalan di antara kerumunan, menyusuri lorong panjang dan sepi, langsung ke belakang. Di sana, dia disambut lapangan belakang luas. Hembusan anginnya terasa kencang. Di samping balai kota ada sungai besar yang membentang di ibu kota. Lampu-lampu kuning temaram bercahaya di setiap sudut gedung, membuatnya berkilauan. Sementara lampu sorot diletakkan pada beberapa sisi sungai yang dekat dengan balai kota. Mereka akan tahu bila ada yang menyusup lewat air.
Alex mengawasi sekelilingnya, berjaga-jaga agar dirinya tidak terekam kamera pengawas. Dia bersembunyi di bawah naungan bayang-bayang gedung. Sisi ini tidak diawasi kamera pengawas dan cukup gelap. Dengan satu sentuhan pada emblem, Alex telah kembali mengenakan seragam tempurnya.
Zetta Sonic siap beraksi.
Dengan stealth mode, Alex menjumpai truk yang dimaksud. Truk itu serupa truk-truk lainnya. Bedanya, truk itu diparkir di tempat yang salah. Truk lain diparkir dekat pintu belakang lain. Pintu ini terhubung langsung ke ruangan yang sedang difungsikan sebagai dapur. Mereka juga punya cat putih pada bagian perutnya lengkap dengan simbol restoran. Sementara truk yang dimaksud berada di ujung gedung, tepat di bawah pohon, seolah ingin bersembunyi.
[Ada penjaga.] Emil mengingatkan.
Untuk menghilangkan korban yang juga bukti, Alex memasukkan keduanya ke dalam truk. Seperti kata Emil, Alex melihat peti dengan cangkang robot di dalamnya. Bentuknya memang persis dengan bentuk tubuh wanita. Tinggal menempelkan lempengan-lempengan itu pada seseorang dan tak akan ada yang bisa membedakan apakah itu robot atau bukan.
“Bagaimana kamu menemukan ini?”
[Ada mobil lain yang mengirim peti. Kedua orang tadi memeriksa isinya. Mereka mengangkatnya ke udara. Seperti kucing penasaran. Sangat ceroboh.]
Alex mengangkat pedangnya, mencincang semua peti berikut cangkang di dalamnya. Kemudian, dia turun dan merusak keempat roda truk tersebut. Seharusnya sekarang rute pelarian mereka buyar.
“Apa kalian sudah dapat kemungkinan calon yang akan mereka culik?”
[Jumlahnya banyak. Terlalu banyak.]
__ADS_1
“Kalau begitu, aku akan berkeliling sebentar. Siapa tahu ada petunjuk lain.”
Jayden menyahut. [Sepertinya, kali ini mereka punya dua target.]
“Apa maksudmu?”
[Satu, menculik super model Melissa Hart. Dua, membunuh Bernard Gregory, seorang pengusaha sekaligus politikus yang baru-baru ini berselisih dengan Filip. Bukan masalah uang, tapi masalah kekuasaan. Dia ingin mengubah beberapa regulasi yang membahayakan posisi Filip. Bahkan, lebih dari itu. Bernard tampaknya mencium keanehan di pabrik Filip Shah dan berniat melaporkannya ke posisi.]
“Bernard ada di sini? Di mana? Dia cukup kontroversial. Selalu membuat berita. Wartawan mencintainya karena komentar dan sindirannya. Kalau Filip mau menghabisinya, dia tidak mungkin menghabisinya di dalam balai kota.”
[Tepat. Dia masih dalam perjalanan. Kamu lihat ada menara air dari sana?]
Alex mengedarkan pandangan, dia memang melihat sebuah menara air. Lokasinya bukan berada di dalam area balai kota melainkan berada di lahan kosong. Jaraknya tidak bisa dibilang dekat. Tempatnya cukup sepi dan gelap pula. Rute itu biasanya diambil seseorang yang baru dari bandara.
[Bernard baru mendarat setengah jam yang lalu dari kunjungan kerja di luar negeri. Gavin sedang menuju ke sana.]
“Gavin? Dia menemukan Bernard?”
[Dia menyupir mobilnya lebih cepat dari Tiger.]
Alex sudah berlari ketika mereka ngobrol. Dia berlari ke tas yang disembunyikannya di luar balai kota. Tas itu memuat pistol laser dan roketnya. “Aku akan mencapainya lebih dulu dari Gavin.”
[Musuhmu bukan hanya Gavin, Sonic. Rombongan mobil Bernard baru saja dicegat dua mobil lain dengan orang-orang bersenjata. Aku juga mendapatkan ada pergerakan benda asing menuju ke sana. Gerakannya sangat cepat. Bukan gerakan manusia.]
“Robot pembunuh!”
[Mereka berniat menghabisi Bernard bersama semua orang yang ada di sana.]
__ADS_1