
Nadira tidak akan suka ide Alex.
Anak itu membuka paksa ventilasi dan meluncur masuk ke dalam ruangan. Dirinya mendarat tepat di atas meja, membuat semua mata terbelalak. Alex berusaha tak menoleh pada ayahnya, meski begitu dia tahu kalau tatapan ayah juga menusuk padanya. Siapa yang tidak? Seorang berpakaian serba hitam dengan helm hitam pula mendadak mendarat di atas meja mereka.
Alex hendak berteriak, menyuruh mereka keluar. Tepat saat iu, alarm kebakaran meraung keras. Pasti kerjaan Jayden. Beberapa orang mulai panik. Mereka berlarian ke luar. Mark Hill masih bergeming di tempatnya, berusaha mencerna apa yang terjadi. Keterkejutannya sudah lenyap entah ke mana digantikan rasa ingin tahu.
“Keluar dari sini, pak!” Alex akhirnya bicara.
Ketika Mark berdiri, Alex melompat turun. Dari data yang tadi sempat dilihatnya mengenai ruangan tersebut, dia tahu jelas kalau meja oval tersebut terdiri dari beberapa bagian. Artinya, dia bisa mengambil bagian tengahnya saja. Itulah yang ada di pikirannya. Dia akan mengeluarkan bagian meja itu lewat jendela. Sebelumnya, dia harus menghancurkan jendelanya lebih dulu.
Orang-orang berlari menjauhi dirinya. Lagi-lagi, Mark masih di sana. Dia memang telah menjauh dari meja, tapi dia masih berada dalam ruangan. Matanya mengamati bagaimana sosok Zetta Sonic memecahkan salah satu jendela besar. Pecahan kaca berhamburan, angin dingin tak bersahabat menerobos masuk.
Alex menarik bagian tengah meja. Dengan sekuat tenaga, dia melemparkan meja beserta bom di bawahnya keluar. Ledakan pun terjadi di udara. Alex bisa mendengar teriakan orang-orang di bawah dan di belakangnya. Ini memang bukan cara yang bijak, mengingat ada pekerja pula di bawahnya. Tapi, itu jelas cara terbaik untuk menghindari jatuhnya banyak korban.
Alex berpaling. Tatapan mereka bertemu. Ayahnya di sana seolah ingin bicara. Namun, akhirnya dia bergabung dengan orang-orang lain dan berlari keluar. Alex bergeming melihat bagaimana semua orang meninggalkan ruangan. Dia menyadari ada orang lain yang juga keluar terakhir, seakan ingin menanti aksinya. Seorang pria, mungkin sekitar tiga puluhan, dengan potongan rambut dan jambang yang rapi, mengenakan jas biru gelap dengan arloji berlapis emas.
[Baron!] Suara Jayden terdengar lagi. [Cuma perasaanku atau orang itu dari tadi memperhatikanmu?]
Alex setuju. Dia bahkan berani bersumpah kalau barusan Baron melempar senyum padanya. Belum sempat mengutarakan pendapatnya, Alex mendengar suara ledakan keras disusul ledakan lain dari sisi berbeda. “Apa itu?”
__ADS_1
[Ada ledakan di gudang perlengkapan. Ada lagi di lantai dua, kantor keuangan. Dan…]
Suara komunikasinya terputus di sana. Tepat setelah ada suara ledakan lain.
“Jayden? Jayden! Tiger? Catilin?”
Alex mendekati sisi jendela. Dia bisa melihat ledakan beruntun terjadi. Kini dia paham kalau ada bom yang belum mereka ambil. James hanya memberi tahu mereka mengenai lokasi kotak perkakas besar. Tampaknya, ada pula kotak perkakas kecil berisi bom. Ledakannya mungkin kalah besar dibandingkan bom di bawah meja, meski begitu daya rusaknya lumayan.
Api dan asap hitam mengepul di berbagai titik ledakan. Dari Zet-Arm, Alex tahu setidaknya masih ada tujuh kotak kecil yang belum mereka periksa. Barusan, lima dari ketujuh kotak itu telah meledak. Salah satu titiknya ada di dekat tempat tinggal para pekerja.
Dari dalam gedung, para pekerja berhamburan keluar. Mereka mencari keselamatan masing-masing. Alex bergeming. Dia berulang kali melihat skenario seperti ini di film. Ini pertama kalinya dia mendapatinya di dunia nyata. Tanpa panduan Jayden, Alex sadar kalau dirinya memang kembali ke bocah lima belas tahun dengan hobi dan pengetahuan tanpa pengalaman.
Tanpa sadar, tangannya terkepal. Ke mana kepercayaan dirinya tadi? Ke mana dirinya yang tadi berlagak jadi pahlawan? Ke mana suaranya yang menyatakan diri sebagai Zetta Sonic? Dia paham kalau tidak akan ada perkembangan sampai dia sendiri melakukannya. Karena bagaimana pun, dia memang Zetta Sonic.
Alex pun bergegas keluar ruangan sembari menyusun rencana. Dia bisa mengambil jalur lewat tangga darurat. Itu salah satu jalur teraman baginya untuk keluar dari gedung. Sudah tidak ada titik SOS di sana, dia sendiri yang telah memeriksanya.
Di lantai satu, Alex menyadari sebuah kesalahan. Tiger pasti tidak sempat mengamankan James. Pemuda itu kini tergeletak dengan tangan masih terikat. Dadanya berdarah dengan beberapa bekas tembakan. Siapa pun yang melakukannya pastilah terkait dengan semua rencana peledakan itu.
Saat itulah, pintu terbuka. Alex melihat seorang laki-laki jangkung gondrong mengenakan setelan jas hitam. Ujung kancing kemejanya dibiarkan terbuka. Dia sedang merokok dengan santai. Saat melihat Alex, dia melempar senyum. “Oh, jadi kamu mainan baru ICPA, toh. Kecil, ya. Padahal aku berharap lebih.”
__ADS_1
Alex bisa saja menghiraukan pria tersebut. Tapi, sesuatu dalam pria itu membuatnya penasaran dan cemas. “Siapa kamu?” Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah perintah.
“Aku tidak berminat memberitahu orang yang akan mati. Lagipula aku bukan temanmu.” Dia melemparkan rokoknya ke bawah. Kaki bersepatu pantofel itu menginjak rokok sampai padam. Kemudian, dia melepas jas dan mulai menggulung lengan kemejanya.
Alex baru menyadari kalau laki-laki itu bukan hanya mengenakan sarung tangan hitam. Kedua tangan laki-laki itu semuanya terbuat dari besi dicat hitam legam. Mereka terekspos jelas saat lengan kemejanya tergulung hingga ke siku. Sistem dalam helm Alex bereaksi. Di layarnya, muncul nama berikut informasi pria tersebut.
Dari informasi itu, Alex tahu pria yang dihadapinya bernama Rando. Seorang pembunuh bayaran yang masih berada di daftar pencarian polisi internasional dan ICPA sendiri. Dia telah membunuh lebih dari selusin orang penting di dunia. Dua kali ditangkap, dua kali pula berhasil lolos dengan menghabisi para penangkapnya. Ada peringatan di bagian bawahnya. Sangat singkat, sangat jelas : Berbahaya.
“Aku enggak punya urusan denganmu!” Alex beranjak.
Rando melompat maju ke depan. Alex spontan mundur Gerakan rando terlalu cepat untuk manusia biasa. Alex cukup yakin kalau sebagian tubuh lainnya mungkin juga sudah diganti dengan mesin.
“Oh, tapi aku jelas punya urusan denganmu.” Rando membuat seringai.
“Minggir!” Alex mengayunkan tinju.
Dia tahu kalau tinjunya tidak akan berhasil. Rando punya kejutan. Tangan besi itu menangkap kepalan tinju Alex. Kekuatannya jauh lebih besar di luar dugaan. Alex merasakan cengkraman Rando di setiap jemarinya. Kalau tidak melepaskan diri, tangannya bisa terluka diremas. Kakinya terayun untuk memberikan tendangan ke perut. Tentu saja, itu juga gagal. Tangan lain Rando menahan serangan tersebut.
Sebelum benar benar paham apa yang terjadi, Alex merasakan dunianya berputar. Rando membanting dirinya ke tanah. Alex pernah memikirkan bagaimana bila Tiger membantingnya, tapi jelas bukan seorang asing seperti Rando. Meski mengenakan seragam khusus buatan profesor Otto, Alex merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya.
__ADS_1
Alex mengerjap. Dia melihat Rando datang disertai peringatan dari sistem helmnya. Dengan cepat, Alex mencabut pistol dan melepas tembakan. Tembakan itu mengenai badannya tapi tak membuat luka apa pun. Di balik kemeja, Alex melihat ada bagian tertutup besi lain. Alex mundur perlahan.
Rando mengibaskan bagian tubuhnya yang sempat tertembak. “Hanya itu? Aku bisa lebih baik!” Rando mengulurkan tangan. Telapak tangannya terbuka.