
Alex berlari lagi. Tapi, itu bukan dirinya. Entah sejak kapan Alex sudah mulai kehilangan dirinya. Sesuatu menggunakan tubuhnya untuk melakukan semua gerakan itu. Lagi-lagi, dirinya berada di kursi belakang bukan di di kursi pengemudi.
Tangan itu bergerak cepat, menghajar setiap hewan yang mengancam. Kaki itu melintasi lantai batu tanpa halangan. Tubuh itu berpindah dengan gesit ke berbagai arah untuk melawan para musuh. Bola matanya bergulir, menangkap bayangan dari setiap hewan yang berusaha melukainya. Lalu, pemandangannya bergulir pada ketakutan para hewan tersebut. Dan, seberapa keras Alex berteriak, suara yang keluar hanyalah geraman.
Dia membiarkan dirinya lepas kendali. Lagi.
Akhirnya dia berhenti. Dia merasa lelah meski tubuhnya mengatakan hal berbeda. Kakinya masih berdiri kokoh di atas lantai batu. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Anehnya, alih-alih lelah, badannya merasa sangat sehat. Dia masih bisa menghajar beberapa kawanan lagi kalau dia mau.
Di balik bola mata itu, hati Alex merana. Ini bukan kondisi yang dia harapkan. Hewan-hewan tersebut bergelimpangan di atas lantai batu. Ada yang berdarah, ada yang gemetar, ada yang tak lagi bergerak, juga ada yang meneteskan air mata. Tetesan itu meluncur turun ke pipinya hingga ke tanah. Percikannya seperti es kecil. Alex tak lagi meronta karena tahu itu semua tidak akan ada hasilnya.
Alex hanya bisa berbisik untuk meminta maaf. Bukan maksudnya begitu.
Tubuh itu berbalik. Di depannya, kini terhampar tangga batu dengan kecil pada ujungnya. Dia melangkah santai, melewati hewan-hewan yang tergeletak acak. Tubuhnya sempat berhenti melihat seekor hewan yang tergeletak di depannya. Tanpa ragu, kaki itu menendangnya keras. Penghalangnya sudah lenyap. Bibir itu menyunggingkan senyum. Lalu, tangan itu menarik lepas kain penutup pada bahunya dan mencampakkannya.
Dalam hati, Alex justru memohon ada penghalang di antara dirinya dengan bangunan kecil itu. Dia telah kehilangan timnya, dia juga telah kehilangan Jason, dia bahkan telah kehilangan kain yang seharusnya jadi tanda penghormatan. Dia tak ingin kehilangan dirinya juga. Alex tak bisa berteriak. Dia hanya bisa memohon dalam hati sembari berusaha menutup matanya erat-erat.
Pada anak tangga terakhir sebelum menuju bangunan kecil, Alex dikejutkan oleh suara raungan dari belakang. Dia pun berpaling. Ada seekor hewan yang masih sanggup berdiri. Hewan ini berlari sekalipun terseok-seok, melewati dirinya, lalu menempatkan diri di antaranya dan bangunan kecil.
Alex mengerjap tak percaya.
__ADS_1
Hewan itu terluka. Kakinya berdarah, begitu pula mulutnya. Tubuh itu gemetar, tak bisa berdiri dengan tegak. Ekornya terkulai lemas. Meski demikian, bola matanya berkata lain. Bola mata hitam itu menatap Alex lekat-lekat dengan penuh ancaman. Pemandangan itu tak lantas membuatnya bergerak.
Cukup!
Alex memberontak kali ini. Tak peduli betapa sulitnya mendapatkan dirinya lagi, Alex tak menyerah. Tidak kali ini. Dia sudah muak melihat dirinya melukai dan melukai. Dia jijik pada dirinya sendiri. Dia tak akan membiarkan tubuhnya dipakai untuk membunuh hewan di hadapannya. Tidak!
Suaranya mulai keluar. Alex mengenali suara teriakannya sendiri mengatasi suara geraman yang tadi menguasai. Tubuhnya gemetar karena Alex sendiri. Apa pun yang sedang dilakukan oleh sosok lain dalam dirinya mulai gagal. Kaki itu tadinya hendak melangkah, namun kini hanya gemetar. Tangan itu tadinya sudah terulur ke depan, namun sekarang tangan itu bergerak acak di udara.
“Cukup! Cukup!” Suara Alex kini benar-benar terdengar. “Aku enggak mau membunuh! Cukup! Sudah cukup!”
Teriakan itu terus berulang. Hatinya terasa dipilin. Matanya basah oleh air mata dan hidungnya mengeluarkan darah. Dia mimisan lagi. Namun, Alex tak peduli.
Lututnya adalah yang pertama kali menyerah. Begitu si hewan melepaskan gigitannya, Alex jatuh berlutut. Lalu tubuhnya, baru kepalanya. Kemudian, dunianya kembali lenyap.
Kali ini, kegelapan itu datang cukup lama. Di dalamnya, ada sosok Alex lain. Sosok Alex dengan mata hijau, raut murka, gigi taring, dan kulit pucat. Sosok itu berusaha menerkam Alex namun gagal. Para hewan yang tadi dia lawan berlari dari belakangnya. Para hewan itu menerjang sosok Alex yang lain. Lalu pemandangannya berhenti lagi.
__ADS_1
Alex mengerjap ketika matahari tak lagi bersinar cerah. Dia disambut cahaya oranye kemerahan dari langit. Suasananya sudah tak terang seperti tadi, justru mulai menggelap. Suara-suara yang ada hanyalah gesekan dedaunan. Ada aroma ganjil yang tak dia suka. Ketika Alex menarik dirinya untuk duduk, dia menyadari bukan hanya dikelilingi oleh rasa sakit. Dia dikelilingi oleh hewan-hewan yang bergelimpangan.
Tewas.
Air matanya mengalir tak terbendung. Itu terjadi lagi. Tubuhnya hanya melukai dan melukai. Dia tak ada bedanya dengan Damon. Dia monster. Alex terisak. Menangis dengan keras sampai suaranya tak lagi keluar. Tenggorokannya sakit. Memang sudah lama sekali Alex tak menangis seperti itu. Tidak. Itu bahkan mungkin pertama kalinya.
Dia bukan hanya merasa bersalah. Dia merasa gagal. Seharusnya dia bisa menghentikan dirinya. Dunia akan lebih baik tanpa adanya monster seperti Zetta Sonic. Dia tak lagi berhak hidup. Namun, akankah dia diam saja di sana?
Setelah beberapa menit atau jam yang panjang, Alex berhenti. Sekelilingnya telah gelap. Gelap secara sempurna. Kalau dia bisa melihat, itu hanya oleh bantuan bulan jauh di atas kepalanya dan pendar redup garis-garis merah. Lalu, dia melihat kain yang diberikan Bounura. Itu seharusnya tanda penghormatan.
Alex melangkah gontai. Rasa sakit di tubuhnya tak perlu dijelaskan. Dia perlu bersusah payah demi menggapai kain itu. Didekapnya kain itu di dadanya. Walaupun dia gagal dan harus tewas di tangan Kloster, dia telah siap. Tentu saja tidak di sini. Alex telah siap menghadapi kemarahan Tesiana beserta hukumannya di balairung. Karena itu, dia akan terus melangkah. Berjalan kembali ke desa dalam kegelapan. Hanya dengan satu tujuan. Menghadapi hukumannya setelah mengembalikan kain itu.
Kini, Alex bersyukur. Setidaknya, tidak akan ada yang tahu soal itu. Tidak ada Jayden, tidak ada Leta, tidak ada keluarganya, tidak ada siapa pun. Biarkan mereka memiliki kenangan akan Alex yang menyebalkan. Kenangan itu lebih baik daripada kenangan melihat Alex yang telah menjadi monster seperti ini.
Alex melangkah satu demi satu. Dia meninggalkan bangunan dan tumpukan korban di belakangnya. Dia tak lagi merasa berhak dibantu. Dia hanya merasa layak dibunuh.
__ADS_1