Zetta Sonic

Zetta Sonic
The Horse


__ADS_3

Alex duduk menghadap layar komputernya dalam ruangan yang gelap, seperti biasa. Simbol lebah kuning di bagian bawah berkedip samar. Biasanya, dia bisa mendapatkan yang dia mau dengan mudah menggunakan Killer Bee. Sejak mengakses data ayahnya sendiri, dia sadar kesalahannya. Ada banyak hal yang tidak bisa dia dapatkan dengan mudah.


Alex mungkin bisa memindahkan jumlah rekening seseorang ke rekeningnya sendiri. Alex juga bisa saja membuat dirinya memenangkan giveaway konsol game terbaru. Sayangnya, dia tidak punya cukup motif dan keberanian untuk melakukannya. Dia punya hampir semua hal yang diinginkan anak seusianya. Fasilitas mewah, pelayan, para pengajar terbaik, ruang bermain, anjing peliharaan, bahkan hati gadis yang dia taksir. Sayangnya, dia sadar itu bukan hal yang benar-benar dia inginkan.


Hubungannya dengan Leta, teman sekelasnya itu, terasa dingin. Saat Leta berusaha mendekat, Alex justru merasa ganjil. Tanpa dia sadari, dirinya telah menjaga jarak. Dari Leta, dari Willy, mungkin juga dari teman-temannya yang lain. Alex penasaran apa ayah dan ibu ada hubungannya dengan semua itu.


Tentu saja!


Itu semua berhubungan. Alex tahu ayahnya bukan kriminal seperti yang dia duga semula. Ayahnya seorang pemimpin organisasi rahasia melawan kejahatan. Kini dia sendiri terlibat dalam dunia ayahnya tanpa sengaja. Ibunya aktris ternama. Dengan banyaknya peran yang pernah ibu dapatkan, Alex tidak tahu apa ibunya juga hanya bersandiwara di depannya. Semua terlihat berbeda.


Alex mendesah. Layar komputernya yang terdiri dari tiga layar tengah menunjukkan informasi berbeda pula. Satu layar menunjukkan berbagai artikel terbaru soal ibu dan isu selingkuhnya. Layar berikutnya menunjukkan soal misi terbaru Regis yang kebanyakan dikuci. Alex tak ingin memaksakan diri soal ini. Dia tidak mau sampai ketahuan Nadira atau ICPA Regis. Sementara layar terakhir mengenai dirinya sendiri.


“Fokus, Alex,” katanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Alex menutup satu per satu jendela pada layar komputer. Dimulai dari layar yang paling kiri. Selagi tangan kanannya menggerakkan mouse, tangan kirinya menyambar kopi kaleng dengan sedotan. Dihabiskannya isinya dalam sekali teguk lalu dilemparnya kaleng tersebut dalam tong sampah dekat kaki meja.


Hal yang seharusnya dia periksa saat ini adalah dirinya sendiri. Zetta Sonic. Dimulai dari pertanyaan paling sederhana: Apa perbedaan dirinya dengan Damon?


Alex membairkan sistem komputernya bekerja. Sistem itu membagi rata jendela-jendela sis yang tidak dia tutup dalam tiga layar berbeda. Ada foto Damon dari database ICPA, ada daftar kejahatannya, nama anak buahnya, hingga goto terbarunya. Tewas. Wujud monster. Tanpa nurani.


Apa yang membuat Damon jadi monster sementara dia tidak?


Alex telah memeriksa laporan penelitian profesor Otto. Datanya disimpan rapat oleh Nadira. Namun, seperti kata pepatah, rahasia akan tetap muncul ke permukaan. Dengan sedikit keberuntungan dan banyak keahliannya, Alex mendapatkan beberapa hal penting dari Dragon Blood.


Meninggalnya profesor Otto membawa rahasia itu jatuh makin dalam. Alex tidak bisa bertanya padanya, itu jelas. Meski Alex tahu kalau profesor masih hidup, mungkin dia tidak akan semudah itu mau bekerja sama dengannya. Setidaknya Alex masih punya orang untuk bertanya.


Penelitian semacam ini bukan keahliannya. Semakin banyak dia membaca formula itu, dia semakin pusing dibuatnya. Alex pun memutuskan untuk mengakhiri hari itu. Ini sudah jam tiga pagi. Dia perlu tidur. Mrs. Bellsey akan memberinya ceramah super panjang kalau terlambat ke sekolah. Wanita itu uring-uringan sejak Alex sering izin sekolah. Alasan yang diberikan ICPA agar dia bisa membolos tidak sempurna di mata Mrs. Bellsey. Nilainya juga mulai menurun.

__ADS_1


Alex akhirnya mematikan komputernya. Suara denging pelan membangunkan Rover, anjing rottweiler hitamnya. Alex melempar senyum ketika si anjing ikut beranjak. Dia melewati pigura kecil yang ditempatkan Preston di sana. Pigura dengan gambar ayah dan ibunya. Mereka terlihat bahagia.


“Tidak semua hal seperti kelihatannya,” kata Alex lagi pada dirinya sendiri. Foto itu telah menghentikan langkahnya. “Terkadang menutup mata mungkin lebih menyenangkan. Tidak tahu soal ini dan itu akan membuat hidupmu lebih nyaman.”


Seolah paham, Rover mengeluarkan suara rendah yang lucu.


Alex mendengus geli dan melanjutkan perjalannya ke ranjang. Rover berputar agar kepalanya bisa menghadap ke pintu sementara Alex sudah meringkuk di bawah selimut. Badannya lelah namun berbagai pikiran membuatnya tetap terjaga. Sepertinya dia akan menghabiskan cukup banyak waktu untuk membuat dirinya sendiri terlelap.


Pikirannya menerawang ke berbagai hal. Suhu dingin kamarnya mengingatkan dia pada misi di pabrik pengalengan ikan. Waktu itu, dia bertemu ayahnya. Lebih tepatnya, dia bertemu ketika ayahnya memainkan peran sebagai pemegang saham sementara dia sendiri mengenakan seragam Zetta Sonic.


Berikutnya, dia teringat pada kakak beradik Nikola dan Filip Shah serta robot pembunuh mereka. Alex membenci robot itu terlebih karena memberikannya luka yang dalam. Bekas luka itu masih di sana, terima kasih pada teknologi ICPA yang bukan hanya berhasil memulihkannya tapi juga menyamarkannya dengan cepat.


Kemudian Alex teringat pada robot yang lain. Robot lebah yang dibuat oleh Jason si drone. Robot itu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Mungkin mereka bisa memodifikasinya lebih baik nanti. Sengatan beracun, senapan laser mikro, atau mungkin suara denging berfrekuensi tinggi.

__ADS_1


Ngomong-ngomong soal suara, telinga Alex mendengar suara kuda meringkik. Itu mengingatkannya pada robot kuda pemberian ayahnya. Rasanya lucu bisa mendengar suara kuda tersebut ketika dia bahkan lupa kalau punya robot hewan di rumah.


Saat itu, Alex tersadar. Suara itu bukan hanya dalam pikirannya. Itu suara robot kudanya sungguhan. Robot itu ada di taman tengah. Lokasinya dekat kamarnya bahkan bisa dilihat dari jendela kamarnya saat ini. Apa pun yang membuat si robot kuda meringkik pasti bukan berita baik.


__ADS_2