Zetta Sonic

Zetta Sonic
S14 - (Spring) Wood Piece


__ADS_3

Ketika keluar dari pondoknya lagi, Mark telah mengenakan topi dan kacamata hitam. Dia berhenti sejenak di pintu. Beberapa penghuni dari pondok terdekat tengah berada di luar. Kebanyakan para wanita dan anak-anak. Mereka memiliki kulit putih bersih dan rambut hitam bagai malam tak berbintang. Mata lebar mereka menyembunyikan bola hitam lain yang menawan. Ditambah bibir merah seperti darah, Mark teringat pada dongeng masa kecilnya.


Dibandingkan teman-teman sesukunya yang belum pernah menginjakkan kaki di dunia luar, Tesiana terlihat seperti alien. Wanita itu tengah mengawasi anak-anak bermain tak jauh dari posisinya. Alex juga ada di sana. Dia mengangguk pada Mark saat tatapan keduanya bertemu.


Mark pun menutup pintu pondok. Dia menuju ke bagian tengah desa di mana kepala suku sedang bertemu dengan profesor Dominic. Dari kejauhan saja, dia sudah bisa melihat pondok kepala suku. Pondok itu bukan hanya menjulang tinggi di tengah desa, namun juga punya sepasang patung beruang batu besar. Semua berada dalam lingkaran area berbentuk lingkaran yang ditandai oleh batu. Area itu cukup luas dan lapang namun juga memberi kesan mencekam seolah memisahkan area kepala suku dari area sekitarnya.


Pada satu-satunya sisi terbuka yang tidak ditutupi batu, ada sepasang pria bertombak. Kedua pria tersebut adalah pria yang tadi menjemput mereka di sungai. Mark berhenti ketika keduanya melihat dirinya. Sebelum ada perintah atau semacamnya, Mark pun berpaling.


Ada batu besar di dekat sana, tepat di bawah pohon rindang. Mark memilih menanti profesor di sana. Sesekali, dia memperhatikan jam tangannya. Jam tangan digital, bertenaga matahari dipadukan baterai khusus, juga dilengkapi sebuah panah beracun mungil. Buatan ICPA. Dalam kondisi darurat, Mark bisa mengaktifkan sistem khusus. Sistem tersebut akan mengirim sinyal pada ICPA pusat. Bukan itu saja, sistem itu juga akan melepaskan pengunci pada sistem penghancur otomatis.


Mark tidak pernah menggunakannya dan tidak ingin menggunakannya.


Perhatiannya tertuju kembali pada pondok kepala suku. Dia melihat bayangan seseorang di pintu yang mengantar profesor keluar. Itu kepala suku mereka, dia yakin. Seorang pria tinggi, berpostur tegap, dan — entah bagaimana — berkesan mengancam.


Profesor Dominic keluar dari area lingkaran dan langsung menuju Mark. “Kamu tidak tahu apa saja yang kulihat di dalam sana. Ada satu laptop canggih, pemberian ICPA. Satelit mini, buatan ICPA. Dan, kopi terbaik yang bisa dijumpai di planet ini!” Mark membuat kecupan dari tangannya. “Aku tidak percaya mereka membuatku mencicipi kopi semacam itu.”


“Apa ini kiasan atau—”


“Aku bicara sesungguhnya! Kopi itu sungguhan lezat!” sahut Dominic. “Bukan karena biji kopinya, kalau kamu tahu maksudku.”


“Mereka membuatmu mencicipi air itu? Kupikir itu suci.” Mark merendahkan suaranya.

__ADS_1


Dominic mengangguk cepat. Dia ikut berbisik. “Benar. Makanya mereka melarangku memberitahukan ini pada orang lain.”


Mark spontan melotot. “Kamu baru saja melakukannya.”


“Ah, maksudnya aku tidak boleh memberitahu penduduk lokal di sini. Lagipula, mereka tidak paham bahasa kita.” Dominic mengedipkan sebelah mata selagi Mark memutar bola matanya. “Baik, lupakan soal itu. Sekarang saatnya kita langsung ke lokasi.”


“Mereka akan menunjukkan jalannya? Kapan?”


“Setelah matahari terbenam. Mereka pasti punya alasan kenapa mengantar kita semalam itu ke mata air.”


“Tentu saja. Mereka ingin menyembunyikannya dari orang luar. Kita. Kegelapan akan membuat kita kesulitan menghafal jalan ke mata airnya. Kasus terburuk, mereka juga bisa meninggalkan kita di sana.”


Dominic menepuk bahu Mark. “Itu sebabnya kamu di sini. Sekarang, saatnya bersiap.”


Pondok-pondok yang ada di sekitarnya lebih berjauhan satu sama lain dibandingkan pondoknya menginap. Sebagai gantinya, area ini memiliki pepohonan dan semak lebih banyak. Lentera-lentera penerang juga digantung di sana. Ada semacam tali yang menggantung dari satu lentera ke lentera lain. Mereka menyambung jadi satu rangkaian. Satu per satu kini mulai menyala.


Seandainya Mark terbangun tengah malam dan mendapati dirinya berada di tempat itu, dia akan dengan mudah kembali ke pondoknya lewat rangkaian lentera gantung tersebut. Ceritanya akan berbeda jauh jika mereka berada di hutan. Hewan buas, kontur tanah, bahkan penduduk sekitar bisa jadi ancaman serius.


Mark tak perlu meraba pistol yang dia selipkan di celana bagian belakangnya. Kaus menutupinya dengan sempurna. Meski begitu, dia tahu pistol itu masih di sana. Dia juga tahu benar kalau kepala suku meminta agar setiap anggota ICPA yang datang tidak membawa senjata. Dia lebih tahu lagi bagaimana setiap kali peraturan itu dilanggar. Termasuk saat ini. Apalagi dia membawa putranya.


“Hei,” panggil Dominic dari kejauhan, “tunjukkan jalannya.”

__ADS_1


Mark menjawab santai. “Kukira kamu sudah tahu jalannya.”


Dominic tak menjawab, hanya melempar tangannya ke udara. Mark melepas kacamata hitamnya. Dia menyadari kalau malam datang lebih cepat, bahkan terlalu cepat, lebih dari dugaannya. Tak lama setelah lentera di desa tersebut dinyalakan, langit telah berubah jadi gelap gulita. Suhu turun dengan cepat dan kelembaban tak nyaman datang mengiring.


Mereka masih sempat makan malam di pondok. Kepala suku mengirimkan makan malam bagi mereka sebelum berangkat ke mata air. Mark dan Dominic masih bisa menikmati hidangan suku tersebut. Mereka penggemar daging burung yang ditambahkan rempah-rempah dalam jumlah banyak. Lezat dan menggiurkan bagi Dominic. Si profesor berulang kali berandai-andai kalau mereka bisa minum wine yang sesuai.


Setelah makan, Mark beranjak ke salah satu dari dua jendela yang ada. Sembari bersandar ke dinding, dia mengambil sepuntung rokok dan menyalakannya. “Lancar?” bisiknya sepelan mungkin pada sosok di balik jendela.


“Kupikir kamu sudah berhenti merokok.” Sosok di balik jendela bergerak mendekati cahaya, cukup untuk mengekspos siluetnya.


“Ini cara agar tak membuat orang curiga.”


“Menurutku, profesor pasti sudah curiga padamu. Tapi, itu bukan urusan kita. Urusan kita cuma ini.” Tangan di balik jendela itu mengulurkan sekeping potongan kayu berbentuk segitiga. Ada ukiran garis meliuk pada sisi kiri atas. “Ini petunjukmu.”


“Bagaimana dengan dia?”


“Anakmu aman. Aku jaminannya. Khawatirkan saja tugasmu. Kesalahan kecil bisa membuat suku ini makin terasing dari dunia.”


Mark mendengus geli. “Itu yang diingini oleh ICPA dan ayahmu. Kamu berbeda.”


“Tentu saja.” Sosok itu hendak beranjak pergi tetapi berhenti sebelum mengambil langkah keduanya. “Ngomong-ngomong, apa anakmu alergi sesuatu? Aku enggak mau membunuhnya tanpa sengaja.”

__ADS_1


“Enggak. Tenang saja.”


Tak ada lagi pembicaraan selanjutnya. Mark memandang keping kayu di tangannya. Sebuah liontin yang telah putus dari kalungnya. Dia menyelipkan keping tersebut dalam kantungnya lalu mematikan puntung rokok yang tidak dia hisap sama sekali. Tatapannya beralih pada Dominic. Untuk sejenak, dia merasa kasihan. Alih-alih dirinya menjadi alat pelindung profesor, yang terjadi justru akan sebaliknya.


__ADS_2