
[Bawa profesor pergi dari sana!] Emil berteriak panik.
Tiger sempat terpaku di posisinya. Dia melihat bagaimana Alex sedang dihajar sementara sang profesor ikut mendatangi mereka. Tidak perlu diberitahu, Tiger sendiri paham kalau pria tua tersebut harus dibawa pergi. Mulutnya berseru lebih cepat dari badannya. “Prof, pergi dari sana!”
Profesor Otto bahkan tak menoleh. Dia lebih tertarik pada pertarungan di depannya. Meski begitu, ketertarikan yang ada pada dirinya bukan sesuatu yang membuatnya kagum justru marah. Dia meneriakkan amarahnya.
Awalnya, Damon tak begitu mendengar. Dia sedang menikmati kemenangannya atas Zetta Sonic. Sosok itu tidak bisa berbuat banyak. Pukulannya selalu kena telak. Kepalanya berdarah tapi helm pelindung Zetta Sonic sendiri mulai retak. Tinggal sedikit lagi dan dia pasti bisa menghajar wajah di baliknya.
“Stop! Stop! Apa kamu sudah gila!?” Teriakan profesor akhirnya terdengar. Pria tua itu masih cukup jauh. Dia berusaha bergerak secepatnya dibantu tongkat.
Damon sendiri akhirnya berhenti. Dadanya naik turun cepat. Terengah-engah sekaligus senang atas kekuatannya. Dia mengernyit pada profesor yang berhasil membuatnya teralih pada pertarungan itu. Omelan si profesor hanya membuatnya menggelengkan kepala. “Diam, kakek tua!” hardiknya kencang.
Profesor sama sekali tidak gentar. “Aku tidak pernah bilang kalau kamu bisa melakukan ini semua pada Sonic. Aku memberikan kekuatan itu padamu—”
“Untuk tujuan penelitian,” sahut Damon. “Bla, bla, bla. Membosankan.”
“Sekarang, berhenti. Kamu mengacaukan subjek penelitian utamaku!” Profesor masih tengah melangkah. “Aku tidak pernah memberimu izin untuk membunuh Sonic.”
“Hei, aku belum membunuhnya!”
“Bagus. Sekarang, pergi dari sini.” Profesor sudah tiba di depan Damon. Dibandingkan Damon, sosoknya jauh lebih kecil, baik secara tinggi maupun lebar. “Akan kuhubungi lagi nanti kalau aku butuh bantuanmu.”
__ADS_1
Melihat profesor terlalu dekat, Tiger memutuskan mulai menembak. Tembakan laser itu seharusnya kena. Seharusnya. Namun, Damon mampu bergerak cepat dan menghindar dari titik vital. Serangan tersebut hanya menggores bahunya saja. Darahnya tampak lebih pekat, nyaris hitam.
Selanjutnya Damon malah melompat pada Tiger. Tiger berusaha menembaki tapi usahanya tak berhasil. Damon terlalu cepat. Tahu-tahu saja, serangan itu datang. Lutut Damon menendang ulu hati lawannya. Ini membuatnya terlempar ke belakang. Punggungnya mendarat di atas tanah kasar dengan keras. Selagi kesakitan dan terbatuk-batuk, Damon datang lagi.
Ukuran badan keduanya seharusnya tidak berbeda jauh. Namun, dengan Dragon Blood, otot-otot pada tubuh Damon berkembang di luar batas. Damon kini bukan hanya lebih besar tapi juga lebih kuat dari lawannya.
Damon mengayunkan tinju. Tiger buru-buru bergulung dan bangun. Dia berusaha melindungi dirinya dari serangan berikutnya. Sayangnya, serangan itu terlalu kuat. Tiger terhuyung ke belakang. Ketika serangan lain datang, dia belum siap. Akibatnya, tendangan itu sukses mengenai dagunya. Damon tidak berhenti di sana. Dia melayangkan tinju beruntun lalu membenturkan kepalanya sendiri pada Tiger.
Tiger terjatuh. Dia berteriak kesakitan di atas tanah. Mulutnya berdarah. Tiger cukup yakin kalau ada gigi yang patah atau gusi yang terluka juga memar bahkan tulang patah. Tiger menggeliat, berusaha bangun. Kalau tidak bergerak sekarang, Damon bisa membunuhnya. Untungnya, Damon sudah selesai dengannya.
Damon terengah-engah sebentar. Bergeming di posisinya untuk sesaat. Detik berikutnya, dia malah berpaling. Seolah melupakan semua kelelahannya, dia kembali pada si profesor. “Siapa yang bilang kalau aku butuh izinmu?”
“Apa!?” Profesor langsung protes. “Apa kamu lupa apa yang sudah kulakukan untukmu? Aku yang memberikan transfusi itu padamu. Aku juga yang menyusun rencana pelarianmu dan memberikan senjata—”
“Ka— Kau—” Profesor kesulitan bicara.
Melihat itu, Tiger berdiri dengan susah payah tetapi gagal. Badannya masih kesakitan. Dia tak pernah kesakitan seperti itu ketika berkelahi dengan manusia. Masalahnya, Damon sepertinya sudah tak berada dalam golongan manusia normal. Matanya hanya bisa terpaku pada bagaimana Damon sedang mencekik profesor Otto. Tiger berteriak pada Alex. “Bangun, bocah!”
Alex ingin merespon. Kesadarannya berada di ambang batas. Sekujur tubuhnya bukan hanya sakit tapi juga lemas. Kekuatan Dragon Blood seolah telah lenyap. Dia bahkan berusaha keras hanya untuk tetap terjaga. Teriakan Tiger membantu menjaga kesadarannya, tapi bukan untuk membantu mengurangi rasa sakit.
Tiger mencari senapannya. Senjata itu tergeletak cukup jauh dari dirinya. Dia memaksa dirinya bergerak ke sana meski langkahnya terhuyung-huyung. Akhirnya dia malah kembali terjatuh sebelum mencapai tujuan.
__ADS_1
Profesor Otto menatap lekat-lekat wajah Damon yang kini berada dekat. Matanya penuh kengerian seolah baru tersadar kalau dia telah melangkah terlalu jauh. Bibirnya berusaha bicara. Tak ada satu kata pun yang berhasil terwujud sempurna kecuali satu kata. “Monster…”
“Monster?” Damon tertawa. “Terima kasih padamu. Coba pikir siapa yang membuatnya pertama kali. Kamu yang memberikan kekuatan ini padaku. Kamu pembuat monster ini, Otto. Aku merasa luar biasa. Aku bahkan merasa bisa menguasai dunia sekarang. Ah, bukan. Kupikir aku memang bisa menguasai dunia sekarang dengan kekuatan ini.”
Tiger berteriak lagi sambil merangkak menuju senjatanya. “Emil! Di mana bala bantuannya? Di mana Fergus?”
Tak ada jawaban dari siapa pun.
Damon mengeraskan cengkramannya. “Sekarang, aku mulai berpikir kalau kamu bisa saja mengembangkan kekuatan yang lebih baik dari Dragon Blood. Jadi, kenapa tidak kita akhiri di sini saja, profesor yang terhormat? Biar Dragon Blood jadi penemuan terbaikmu di akhir kehidupan.”
Alex melihat kejadian selanjutnya dengan jelas. Dia melihat bagaimana jari-jari Damon mengencang serta otot-otot tangannya mengeras. Profesor menggeliat tak berdaya sebelum akhirnya seluruh tubuhnya terkulai lemas. Alex tak tahu mana yang lebih mengerikan. Melihat sosok Damon sebagai monster atau melihat profesor bergeming seperti itu.
Di kejauhan, Tiger berteriak. Sebuah raungan kekesalan dan kemarahan.
[Bantuan datang!] Emil akhirnya berseru.
Dua pesawat kecil terbang rendah. Suara mereka memekakkan telinga. Tembakan beruntun turun dari atas langit. Semuanya meleset. Tembakan itu tak lebih dari sekadar gertakan bagi Damon untuk membebaskan sang profesor. Fergus yang memerintahkan para agen untuk menembak sadar akan posisinya. ICPA terdesak.
Mereka tak bisa memastikan apakah profesor masih hidup atau tidak. Lagipula, ada dua agen lapangan yang harus diselamatkan. Benar, prioritas saat ini adalah menolong Zetta Sonic dan Tiger bukan menangkap Damon.
Dari sisi lain, muncul jip terbuka. Dua orang agen ICPA berpakaian hitam melompat keluar dan mulai menembaki Damon. Damon melemparkan tubuh profesor di atas tanah. Dengan kekuatan Dragon Blood, dia bergerak cepat ke arah bangunan terbakar. Rute pelarian yang bagus. ICPA tidak mengejar, kedua agen itu menghampiri rekan-rekan mereka.
__ADS_1
Alex mengerjap. Dadanya terasa sesak. Dia tak bisa menggambarkan apa saja yang dia rasakan lagi. Perlahan, dunianya menggelap. Kalau bicara soal kekalahan, ini adalah kekalahan paling memalukan baginya.