Zetta Sonic

Zetta Sonic
The Car


__ADS_3

Alex bangkit dari kursinya. Dia menjaga sikapnya dengan baik. Jangan sampai orang — apalagi paparazzi — melihatnya lari menggunakan tuxedo pesanan khusus seperti itu. Alex berjalan cepat. Si pelayan yang berbalik dan menyadari kedatangannya langsung lari tunggang langgang.


Alex mengangkat lengan kirinya ke atas, membuat gerakan sedang membetulkan kerah kemeja. “Jayden, kupikir ada yang mau meracuni kami.”


[Aku melihatnya, Alex.] Itu Jayden.


[Kenapa kita harus terus menemaninya bahkan di saat dia sedang berpesta?] Dan, ini Tiger.


“Akan kubawakan makanan yang lebih lezat dari sini, lain kali.” Alex menurunkan tangannya.


Dia menyelinap di antara meja, melewati para pegawai, langsung menuju ke pintu darurat. Alex mengedarkan pandangannya berkeliling sekali sebelum membuka pintu. Aman.


[Dia berlari ke pintu keluar, Alex. Ada mobil menunggunya di seberang jalan.] Suara Jayden lagi. [Dia mau kabur.]


Alex menerobos masuk dan langsung berlari. Pintu darurat itu terbuka menuju tangga lebar. Alex hanya cukup menuruni satu tangga untuk tiba di bawah. Tentu saja dia tidak repot-repot melakukannya. Alex tiba di lantai dasar dengan dua kalo lompatan melewati selusur. Dia membuka pintu sambil mengaktifkan seragamnya.


Seragam itu, sekali lagi, jadi favoritnya. Dia tidak perlu membawa alat tambahan. Dengan sedikit perintah ke Zet-Arm melalui gelombang pikiran, Alex bisa mengaktifkannya. Dalam keadaan bahaya, seragam itu bahkan akan aktif tanpa diminta. Kepingan segienam hitam menyusuri setiap jengkal tubuh, menutupi mereka dengan bahan pelapis untuk bertempur.


Helmnya aktif dan menunjukkan beraneka sensor. Jalanan di depannya menurun ke arah pepohonan.


[Pelarian sempurna. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan warna hitam. Tidak ada satpam, tidak ada orang, dan seseorang telah mematikan kamera pengawasnya.] Jayden berkomentar.


“Kupikir dia mencoba membunuhku!” sahut Alex.


Dengan bantuan Dragon Blood dalam tubuhnya, Alex memelesat cepat. Kecepatannya berlari hampir membuatnya melayang di udara. Dia melompat sekali dan hampir mendapatkan si pelayan pria tadi. Hampir. Karena orang tadi telah berpaling sambil menodongkan pistol padanya. Dua tembakan beruntun. Keduanya meleset.


Pria itu berhasil mencapai arena pepohonan. Alex mengikuti tepat di belakangnya. Mobil yang dimaksud Jayden tadi telah berjalan. Mobil itu siap menjemput.


[Alex, mobilnya datang.]

__ADS_1


“Tidak akan!” Alex menerobos pepohonan.


Pria itu telah masuk ke dalam van hitam tanpa pelat nomor. Mobil itu juga tidak menyalakan lampu. Melihat kedatangan Zetta Sonic, si supir langsung tancap gas. Pria itu memang sudah masuk, namun pintunya belum tertutup sempurna.


“Hei!” Alex berseru.


[Alex, tunggu! Ada mobil lain.]


Dia tidak mau kehilangan orang itu. Alex langsung menyalakan roketnya. Tepat saat itulah, Alex mendapat peringatan. Peringatan akan tembakan dari belakangnya. Alex tak sempat menoleh. Sesuatu mengenai punggungnya dan langsung meledak.


Meski di balik seragam, Alex merasakan rasa panas dan tajam bersamaan melompat di punggungnya. Dia hanya bisa merintih sambil berusaha berlari. Dia tidak melihat penembaknya. Tapi, Jayden tahu.


[Mobil jeep hitam dari arah belakang.]


Dalam kondisi seperti itu, Alex punya dua pilihan. Satu, tiarap di tanah. Dua, berlari ke arah pepohonan. Alex tak mau menyerah. Dia ingin membalas. Jadi, Alex berlari ke arah pepohonan sambil menoleh ke belakang.


Tembakan itu datang lagi dari semacam senjata bazooka. Kalau itu ulah Baron, Alex yakin kalau musuhnya memang ingin dia mati. Alex mampu menghindari serangan itu menggunakan kekuatannya. Dragon Blood memberinya kecepatan yang diperlukan untuk menghindar. Dia juga bersiap untuk membalas. Alex mengarahkan tangannya ke depan. Panas itu kini terkumpul di tangannya. Dragon Aura telah siap ditembakkan.


Kenyataannya tidak demikian. Mobil jeep hitam itu menghindar ke kiri. Serangan Alex menyerempet sisi kanan mobil namun tidak memberikan kerusakan berarti selain dari sisi luarnya saja.


“Aku meleset?” Alex terperanjat.


[Tidak, kupikir bukan begitu.] Jayden terdengar ragu.


[Mereka punya pelindung.] Emil menambahkan. [Senjatamu kurang efektif. Mungkin kamu mau coba langsung? Serangan langsung. Maksudku menyerang pengemudi— ]


[Tunggu, mobil itu tidak sendirian.] Jayden memotong.


Alex memahami maksud Jayden. Dia melihat setidaknya ada dua mobil lain datang dari belakang mobil jeep pertama. Mereka semua bersenjata. Tembakan beruntun pun datang. Alex berlari. Dia membiarkan peluru meleset itu menghancurkan deretan pohon di belakangnya.

__ADS_1


Alex berniat menyalakan roketnya lagi tetapi tidak berhasil. Sebagai gantinya, dia malah mendapatkan peringatan lain di layarnya. Serangan pertama pasti sukses membuat roketnya macet. “J! Aku perlu sedikit bantuan.”


[Aku tahu. Bantuan dalam perjalanan.]


Alex melihat kedatangan mobil lain lagi, masih dari arah yang sama. Bukan jeep. Sebuah sedan hitam. Siapapun pengemudinya sedang mengulurkan pistol ke luar dan menembak. Tembakan pertamanya sukses mengenai ban mobil jeep. Mobil tersebut langsung oleng dan keluar jalur. Tembakan selanjutnya kurang beruntung.


Kedatangan mobil itu membagi fokus mobil lainnya. Mereka pun menembak mobil sedan hitam tersebut. Agaknya pengemudi ini cukup handal. Dia berhasil menghindari serangan pertama dan kedua dengan sempurna. Namun, serangan ketiga itu meledak dekat bannya. Mobil sedan ini pun akhirnya keluar jalur pula.


Alex mengernyit. Dia melihat siapa yang ada di dalam mobil. Begitu pula Jayden. “Caitlin?”


[Apa yang dia lakukan di sana?]


Satu mobil jeep lain berbalik kepada Caitlin. Mereka bersiap menembak lagi. Sementara itu, Caitlin keluar dari mobilnya. Air bag yang mengembang membuatnya sedikit kesusahan. Dia sedikit memaksa, membuat gaunnya tersangkut, dan malah robek. Caitlin kehilangan keseimbangan lalu jatuh.


“Aku akan menolongnya!”


Alex berlari cepat. Dia melewati jeep pertama yang sedang menembaknya lalu ke arah jeep kedua. Alex melihat si penembak. Dia sudah mengulurkan senjatanya ke luar. Bidikannya tepat. Tembakan itu akan kena sasaran, kecuali dia menghentikannya.


Tanpa pikir panjang, Alex melompat ke atas mobil. Dia menarik moncong senjatanya. Satu tangan menarik senjata, satu lagi memegangi ujung jendela kap mobil. Tembakan itu melenceng dari sasaran. Tembakannya malah meledak di udara.


Alex tak lantas melepaskan pegangannya. Dia mendorong senjata itu masuk. Senjatanya memukul si penembak. Selagi adegan tarik menarik itu terjadi, Alex melihat kelebat mobil lain. Mobil putih yang cukup familiar baginya. Mobil ICPA.


Caitlin juga melihatnya. Gadis itu berlari ke sana.


Jeep yang lain berusaha menembak, namun takut mengenai rekannya. Mereka mengganti bazooka dan mengambil pistol tangan. Tembakan itu meleset tidak karuan. Beberapa tembakan beruntung mengenai seragam Alex tapi tak membuahkan hasil apa pun.


Alex sekali lagi mendorong bazooka itu masuk. Ditambah dengan kekuatan Dragon Blood, dia justru menyerang si supir pula. Mobil pun tak terkendali. Mobil tersebut keluar dari jalan, bergerak lurus ke arah pohon. Alex buru-buru melompat.


Mobil ICPA telah datang. Mobil itu datang dan membuka pintu supir untuknya. Alex mengerjap, menyadari mobil itu tidak memiliki pengemudi. Semua dikendalikan oleh sistem. Alex pun melompat masuk. Caitlin sudah duduk di sampingnya, tampangnya berantakan.

__ADS_1


Sistem dalam mobil pun aktif. [Halo, Sonic.]


“Keluarkan kami dari sini!” pinta Alex.


__ADS_2