
Jayden meninggalkan hotel bersama Caitlin. Gadis itu menjemputnya segera setelah Tiger membawa Alex pergi. Mereka berjanji untuk bertemu di waduk. Jayden sama sekali tak repot-repot menawarkan untuk menggantikan Caitlin menyetir.
Di mobil, gadis itu sudah melepaskan helm dan rompi anti pelurunya. Dia masih mengenakan pakaian serba hitam dengan riasan sederhana dan rambut diikat ekor kuda. Jayden duduk di samping setelah meletakkan barang-barangnya di belakang.
“Malam yang panjang,” gumam Jayden sambil menutup pintunya.
Mereka menggunakan mobil SUV yang sama persis dengan yang sedang dipakai Tiger dan Alex saat ini. Keduanya punya sistem komunikasi dan senjata yang sama. Sedikit lebih baik daripada mobil dinas ICPA yang lain. Jayden sendiri menambahkan berbagai pernak pernik di sana. Dia bisa mengaktifkan atau mematikan fitur sesukanya. Mobil itu bisa berada dalam kendalinya kapan pun dia mau.
Caitlin mendesah. “Beritahu aku soal anak itu!”
Jayden mengambil alat mungilnya yang kini dia panggil sebagai Flipad -- salahkan Alex soal ini. Matanya mengamati beberapa indikator. Tangannya mengusap dagu sambil bergumam pelan. “Dia masih hidup, itu yang pasti.”
“Bukan itu yang kumaksud.” Caitlin menggelengkan kepala seraya menjalankan mobil memasuki jalan raya. “Pakai sabuk pengamanmu, J!”
Jayden menurut. “Kamu seharusnya lebih tahu dari aku. Dragon Blood adalah eksperimen kalian. Kamu seharusnya lebih paham soal carian ini dibandingkan aku, bahkan Alex sekalipun. Itu mainan kalian.”
Caitlin membuka mulut, tapi mengatupkannya kembali tanpa bicara apa pun.
Jayden melempar senyum. “Kamu gelisah. Aku sangat paham. Bukan karena kamu peduli pada anak itu atau eksperimen kalian, tapi karena kamu salah satu agen yang seharusnya jadi relawan transfusi Dragon Blood. Alex merampas kesempatan itu darimu juga agen-agen lainnya. Dibandingkan mereka, kamu yang paling bersemangat, ‘kan?”
“Tutup mulutmu, Jayden!” Caitlin menyempatkan diri berpaling ke pemuda di sebelahnya dan memberi tatapan tajam. “Itu semua salahmu!”
“Kamu sudah berulang kali bilang itu, Cait. Ga bosan menyalahkanku?”
“Kamu membuat anak itu datang ke waduk dan membuatnya hampir tewas gara-gara Dragon Blood. Kamu bilang kalau aku gelisah. Tentu saja! Aku berlatih mati-matian agar bisa memenuhi syarat jadi relawan Zetta Sonic. Aku bahkan satu-satunya perempuan di antara para relawan lainnya. Aku mengambil risiko demi Zetta Sonic.”
“Profesor Otto sempat melarangmu. Kamu asistennya. Dia tidak mau kehilangan asisten. Risikonya terlalu tinggi.”
__ADS_1
“Nah, kamu paham masalah itu. Aku berdebat panjang dengan profesor. Saat akhirnya dia setuju dan Nadira mengumumkan empat orang relawan terpilih, aku sudah siap. Sangat siap. Hasil keisenganmu membuat semuanya berantakan. Uji coba paling cepat dilakukan bulan depan. Itu pun kalau profesor sudah cukup yakin Dragon Blood dan kondisi relawannya stabil. Kamu mengacaukan semua rencana!”
Jayden memilih tak menjawab. Semua orang menyalahkannya, bahkan dirinya sendiri. Dia sendiri memang tahu semua kejadian yang dialami Caitlin. Dalam hatinya, dia bahkan sudah menanti kapan Caitlin akan meledak padanya.
Gadis itu merupakan putra tunggal dari mantan jenderal. Ketika bergabung dengan ICPA, dia berharap banyak. Dia memulai karier sebagai agen biasa. Karena otaknya cemerlang, profesor menariknya jadi asisten. Ketika mereka mulai mengembangkan Dragon Blood, Caitlin berpikir mengajukan diri sebagai kelinci percobaan. Nadira melarang karena ingin setidaknya ada uji coba orang-orang lain selain dirinya. Caitlin menanti. Dia menanti proses panjang pemilihan para relawan secara diam-diam.
Karena Nadira belum mau mengumumkan keberadaan Zetta Sonic ke anggota ICPA yang lain, pemilihan makan waktu lebih panjang. Caitlin menanti dengan setia. Hingga akhirnya Nadira memutuskan siapa orang-orang terpilih tersebut. Nadira memilih Caitlin pula karena kesiapannya. Lagipula, memilih seseorang di dalam operasi mereka akan menjamin rahasia lebih tertutup. Setidaknya, itu pikiran Nadira.
Jayden sebaliknya. Dia cukup yakin kalau Caitlin bukan orang yang tepat. Baginya, Alex mungkin lebih layak baginya secara mental dan pola pikir, bukan fisik. Setidaknya, fisik masih bisa dilatih. Jayden beranggapan Caitlin mati-matian berjuang jadi relawan bukan untuk Zetta Sonic tapi demi dirinya sendiri.
“Kenapa diam!?” Caitlin memelototinya sebentar baru mengembalikan tatapan ke jalan. “Merasa bersalah? Terlambat! Semua sudah terlanjur terjadi.”
Jayden mendesah panjang. “Nadira memotong gajiku selama enam bulan karena kasus kecelakaan kemarin. Setidaknya dia enggak menyuruh Tiger menghajarku. Sekarang, kamu memaki-maki. Kupikir, hukumanku sudah lengkap.”
“Kamu tahu, J? Kamu sebenarnya pintar. Tapi, kamu terlalu egois. Kamu anggap semua ini permainan. Kalau kamu lebih serius sedikit, mungkin adikmu masih hidup.”
“Hei!” Jayden balas membentak. “Soal itu enggak ada hubungannya denganmu.”
“Kalau kita bicara soal kesalahan, aku bukan satu-satunya yang membuat kesalahan di sini. Kamu sendiri jelas-jelas melanggar peraturan. Untung saja aku berbaik hati dan tidak melaporkan perbuatanmu.”
“Apa maksudmu!?”
“Jangan kira aku enggak tahu kalau kamu menceritakan semua rahasia Zetta Sonic pada pacarmu. Namanya Baron, ‘kan?” Jayden bicara sambil menatap lekat-lekat wajah Caitlin. Dia suka bagaimana bibir Caitlin bergetar dan dahinya berkerut cepat. “Nadira tidak mau kalau operasi ini ketahuan. Kamu malah menceritakannya terang-terangan pada pacarmu. Itu bisa masuk dalam tindakan pengkhianatan, lho.”
“Keterlaluan! Kamu memata-mataiku!?” Caitlin berteriak.
“Salahkan Nadira! Aku bertanggung jawab untuk teknologi dan informasi yang beredar dalam operasi Zetta Sonic. Wajar kalau aku memata-matai kalian semua.”
__ADS_1
Semua.
Terkecuali dirinya sendiri.
Jayden bisa bertindak bebas di sana. Sebelumnya, ketika masih berada di ICPA, Jayden punya atasan. Atasannya punya pengawas dan seterusnya. Mereka saling mengawasi satu sama lain. Di operasi Zetta Sonic, satu-satu pengawasnya adalah Nadira. Jayden bisa menyembunyikan hal-hal tertentu dari Nadira. Ini salah satunya.
Jayden membaca setiap pesan teks yang dikirim Caitlin pada pacarnya. Dia tahu jadwal telepon, kencan, dan nonton mereka. Dia tahu kalau mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah padahal Caitlin bilang pada Nadira mereka masih pacaran. Jayden tahu kalau Baron merupakan seorang pengusaha muda dan cukup sukses. Meski sudah berulang kali minta Caitlin berhenti berhenti dari ICPA, Caitlin bersikeras bertahan.
Setelah perdebatan sengit mereka, Caitlin pun terdiam.
Jayden sendiri tak ingin melanjutkan. Dia lelah. Masih banyak hal dalam pikirannya dan banyak hal harus diselesaikan. Satu-satunya penghiburan di malam itu hanyalah mereka berhasil menggagalkan transaksi formula gas beracun, Nikola ditangkap, meski Oliver tewas. Mengesampingkan soal Alex, Nadira akan cukup puas dengan hasilnya. Jayden harus menulis laporan secepatnya malam itu.
Di tengah keheningan, suara denting pelan terdengar dari earphone. Baik Jayden maupun Caitlin masih menggunakan milik mereka. Semua saling terhubung dengan markas sebagai pusatnya.
Jayden menyahut lebih dulu, “Apa?”
[Di mana kalian?] Tiger terdengar di seberang.
“Terjebak kemacetan,” jawab Jayden asal.
[Kalau begitu, terbang!]
Ucapan Tiger tak lebih dari lelucon. Tiger tahu kalau Jayden belum selesai memodifikasi mobil mereka agar bisa terbang. Jayden bahkan tak yakin bisa memenuhi permintaan Nadira tersebut. Bersama anggota ICPA lain, mungkin bisa. Dia sendirian jelas mustahil. Meski begitu, Jayden paham ada yang tidak beres.
“Ada masalah, Tiger?”
[Ada beberapa barang yang harus kamu perbaiki dan Caitlin diperlukan di lab. Segera.]
__ADS_1
“Apa yang terjadi?”
[Kamu pasti sudah bisa menduga. Jadi, cepatlah ke sini!]