Zetta Sonic

Zetta Sonic
S3 - (Winter) Red Foliage


__ADS_3

Alex tak biasa menyetel lagu seperti di rumah Willy. Hal yang mengingatkan dia kalau liburan segera datang hanya pohon cemara besar di sudut ruang tamu. Bukan pohon cemara asli, hanya imitasi. Mereka lebih praktis dan awet. Ukurannya hampir tiga meter. Pita emas dan merah melilit setiap dahannya. Ornamen bintang, lonceng, bola aneka warna, memeriahkan suasana. Ada pula kotak-kotak kosong terbungkus kertas kado bertumpuk di bawahnya.


Preston yang menyiapkan semuanya di awal bulan Desember. Dia juga yang menyiapkan makanan, minuman, dan camilan khusus yang hanya disediakan di bulan ini. Salah satu favorit Alex biasanya kue jahe atau winter hot cocoa, yang resepnya selalu dirahasiakan Preston.


Mrs. Bellsey justru sebaliknya. Dia tidak ikut dalam nuansa liburan tersebut. Ketika libur sekolah datang, wanita ini selalu mengambil cuti tahunannya. Biasanya dia akan pulang ke rumahnya sendiri yang ada di pedesaan di bawah kaki gunung. Percayalah, di musim dingin seperti ini, kota akan terasa jauh lebih hangat daripada di sana.


Alex bisa melenggang santai di rumahnya terlebih ketika tidak ada pengawasnya berkeliaran. Begitu pula dengan absennya tugas rumah. Liburan itu memang liburan yang selalu dinanti-nantikan. Apalagi dengan janji yang dia buat bersama teman-temannya. Bayangkan saja, pesta malam Natal. Alex tak pernah memikirkan ide ini sebelumnya.


Dia tak ingat persis apa saja yang dia lakukan di malam Natal. Tapi, dia tahu persis kalau keberadaan orang tuanya di malam Natal sangatlah jarang. Makin besar dirinya, makin jarang mereka berada di rumah. Alex menepis semua kenangan buruk yang hendak mencuat ke permukaan. Bukan saat yang tepat untuk merasa sedih. Dia punya pesta yang harus diurus. Malam Natal tinggal hitungan hari.


Orang pertama yang dia cari di rumah jelas Preston. Bukan ibu atau ayah. Dia telah minta izin ibu ketika berada dalam perjalanan pulang tadi. Ibunya memberikan izin tanpa syarat-syarat apa pun. Sementara, ayah? Jaringannya bahkan tidak tersambung. Mungkin ayahnya ada di tempat susah sinyal.


Alex menanyakan keberadaan Preston, tapi para pelayan di depan tak melihatnya sejak pagi. Penasaran, Alex pun beranjak ke dapur.


 


 


Gone away is the bluebird


Here to stay is a new bird


He sings a love song

__ADS_1


While we stroll along


Walking in a winter wonderland


 


 


Ketika mendekat ke dapur, Alex mendengar lantunan lagu serupa yang dia dengar di rumah Willy. Preston tidak biasanya memutar lagu di dapur. Alex masuk ke dapur lewat kolom lengkung. Tepat di sampingnya ada dinding tertutup penuh mosaik bernuansa coklat dan hitam. Sementara di tengah ruangan ada kitchen island. Alex tak menyadari kalau mereka telah mengganti marmer penutupnya jadi warna putih. Di belakang island, ada kitchen set yang kini juga berwarna putih. Cocok dengan lemari mereka yang berwarna kelabu.


Dapur depan itu kosong. Tak seorang pun di sana. Bukan suatu hal yang biasa. Alex melewati lengkungan lain. Dia berpindah ke lorong yang juga merupakan teras. Di sebelah kirinya, ada tanah terbuka dengan air mancur di bagian tengah. Pemandangannya jauh dibandingkan taman dalam di depan kamarnya. Taman ini hanya untuk tempat istirahat para pelayan.


Di sisi kiri tempat Alex berada sekarang terdapat sebuah ruangan besar berpintu kembar. Pintunya dicat hitam, sementara gagangnya sendiri terbuat dari stainless steel. Alex tak menyukai desainnya. Tapi, dia tidak perlu memberikan protes. Ini mungkin baru kesepuluh kalinya dia berada di sana.


“Di mana Preston?” tanya Alex, menghiraukan segala kekacauan yang ada. Ada daging merah besar tergeletak di atas meja stainless, karung berisi berbagai bahan makanan, juga bawang dan bahan masakan yang tak bisa dia sebutkan tergantung terbalik. Tentu saja, lantunan musik di sini jauh lebih kencang dibandingkan di luar.


Seorang pelayan wanita menghambur pada pemutar musik, buru-buru mematikannya padahal Alex tak berkata apa pun.


Sambil menanti jawaban, Alex berusaha sebisa mungkin menahan suara perutnya. Jam makan siang telah berlalu. Dia menikmati makan siangnya di rumah Willy tadi dan dia harus setuju kalau keluarga Sims mempekerjakan koki yang luar biasa kompeten. Terlepas dari fakta tersebut, Alex selalu merasa lapar ketika mencium bau kue jahe yang baru dipanggang.


Salah seorang dari pelayang, laki-laki besar mengenakan celemek coklat, menunjuk ke dapur dalam dengan pisau potong besar di tangannya. “Dia bilang mau menyiapkan camilan dan teh untukmu, Tuan Muda.”


Pelayan lain menimpali, “Hei, kupikir aku mendengar Preston bicara soal bunga tadi.”

__ADS_1


“Poinsettia?” tebak Alex sembari membayangkan bunga merah lebar khas musim dingin. “Akan kucari dia di ruang keluarga. Itu satu-satunya tempat yang belum dia dekorasi.” Alex pun berbalik. Sebelum keluar dari dapur, Alex kembali berpaling pada para pelayannya. “Hei, nyalakan lagi lagunya. Aku suka.”


 Alex meninggalkan dapur tanpa perlu melihat bagaimana reaksi mereka. Seiring kepergiannya, suara lagu pun kembali mengalun.


Menyusuri lorong-lorong tinggi, Alex menuju ke ruang keluarga. Ruangan itu tak lebih dari sekadar nama. Tak pernah benar-benar ada keluarga bercengkrama di sana. TV besar di tengah ruangan hanya pernah menyala dalam hitungan jadi. Sofa di seberangnya memang sangat mengundang, meski begitu Alex tak pernah menikmati waktunya di sana. Meja kopi di tengah ruangan juga sudah berulang kali diganti tanpa dia sadari.


Seperti dugaan Alex, dia melihat karangan bunga dengan bunga Poinsettia bertengger cantik di atas meja kopi. Sayangnya, tak ada Preston di sana. Alex mendesah sambil memikirkan tempat lain yang mungkin dikunjungi Preston. Ketika dirinya menyusuri lorong untuk kembali ke kamar, Alex melihat sosoknya.


Preston berdiri di ujung teras menuju taman dalam. Posisinya berdiri tertutupi sempurna oleh tirai tebal berwarna gradasi biru putih. Alex melihatnya sedang menelepon. Penasaran, Alex pun mendekat. Dia tak berniat menguping pembicaraan sang kepala pelayan. Meski begitu, Alex bisa tahu kalau telepon tersebut tidaklah berujung baik. Preston membuat raut yang hampir tak pernah dia lihat.


Tanpa berselang lama, Preston pun menutup telepon tersebut. Dia berjingkat ketika melihat Alex berdiri tak jauh darinya dengan tatapan mata tertuju padanya. “Kamu mencariku, Alex?” tanyanya, lembut.


“Apa yang terjadi?” Alex balas bertanya sambil mendekat. Dia bisa melihat raut cemas belum benar-benar meninggalkan lawan bicaranya.


“Tidak ada.” Preston memaksakan senyum palsu lewat bibirnya yang tipis. “Apa yang bisa kulakukan untukmu, Alex?”


“Aku berencana membuat pesta malam Natal di sini. Willy dan Ivan sedang menyebarkan informasinya sekarang. Mungkin akan ada dua puluhan orang. Kupikir, kamu bisa mulai bersiap-siap menyiapkan menu.”


“Kuharap teman-temanmu suka daging domba. Kita baru saja mendapat daging berkualitas bagus.” Preston berhenti sebentar. Dia kelihatan ingin menanyakan sesuatu. Apa pun itu, pertanyaannya telah berubah jadi, “Bagaimana dengan minumannya? Apa aku masih perlu menyiapkan soda selain cokelat hangat?”


Alex menghela napas pendek. “Aku jauh lebih ahli berbohong darimu,” kata Alex, jujur. “Siapa yang kamu telepon tadi? Ada masalah apa, Preston?”


Preston tertawa kecil. “Ini soal putriku. Sepertinya dia akan melahirkan lebih cepat dari dugaan dokter. Bukan hal yang perlu dikhawatirkan, Alex. Lebih baik aku mengkhawatirkan persiapan untuk pesta kecilmu.”

__ADS_1


Alex tahu Preston berusaha kelihatan biasa saja di depannya. Namun, dia tahu raut wajah kepala pelayan itu. Sebuah bentuk kecemasan dari orang tua terhadap anak. Sesuatu yang tidak pernah dia dapat dari orang tuanya sendiri.


__ADS_2