Zetta Sonic

Zetta Sonic
The Crash


__ADS_3

Petugas medis pergi begitu saja setelah membawa Jayden. Tidak seorang korban lain pun ditolong. Bahkan, Alex tidak lagi melihat petugas lain. Baik petugas yang tadi menembak maupun petugas medis.


“Alex!”


Alex terhentak melihat Emil berlari padanya. Di belakangnya, Alex melihat kumpulan polisi dan petugas medis lain. Kali ini dia tahu telah ditipu mentah-mentah. Mereka adalah pasukan penolong asli. Sementara yang tadi entah siapa.


Alex buru-buru berdiri, balik berlari menghampiri Emil. “Kita harus menolong Jayden.”


“Apa yang—” Emil tak sempat bicara.


Alex sudah berlari lebih dulu. Dia berlari menuju di mana mobil mereka diparkir. Mobilnya tak semulus kelihatannya. Ada baret dan hangus pada celah bagasi. Dia tahu apa penyebabnya. Namun, dia belum tahu bila Jayden membawa barangnya.


Dengan sedikit paksaan, Alex membuka mobil mereka, membuat alarm mobil meraung. Tanpa seorang pun petugas keamanan di sana, tidak akan ada orang yang mencurigainya mencuri mobil. Dia mulai mencari benda di dalam dashboard. Mungkin gelang, mungkin emblem, mungkin benda apa pun yang bisa jadi seragam tempur buatnya. Namun, Alex tak mendapatkan apa pun. Dia mengutuki dirinya sendiri karena melupakan seragam tempur bentuk pelurunya.


“Alex!” Panggilan lain datang. Bukan dari Emil, melainkan Tiger. Pria besar itu berteriak dari dalam mobil SUV putih yang pintunya sedang terbuka. “Masuk! Kita harus mengejar mereka!”


Tanpa pikir panjang, Alex melompat masuk ke dalamnya. “Ja— Jayden… Di— Dia—” Pertama kalinya dalam hidup, Alex mendapati dirinya gelagapan.


“Tenang!” bentak Tiger.


Setidaknya bentakan Tiger berhasil membuat Alex diam. Tiger memacu mobilnya di antara keributan yang terjadi. Mobil-mobil polisi dan ambulance berjajar tak karuan di jalan raya. Orang-orang berlarian, menangis, saling berpelukan, serta mayat bergelimpangan. Entah sejak kapan penembakan terjadi, karena korban berjatuhan lebih banyak dari dugaan.


Alex tak pernah menyangka akan melihat teror penembakan terjadi seperti itu di depan matanya. Darah para korban membasahi jalan. Kengerian membawa bau amis terasa dalam otaknya tanpa melalui hidung. Segera saja, perutnya terasa dikocok. Alex merasa mual oleh pemandangan semua itu. Dia memalingkan wajahnya dari jendela, berharap gambaran itu segera lenyap.


Mobil mereka melaju lebih kencang setelah meninggalkan kekacauan tersebut. Ada deru suara tembakan. Tiger terpaksa menyetir zig-zag agar tak tertembak. Di depan mereka, ada sebuah jip terbuka berisi tiga orang. Ketiganya memakai seragam yang dilihat Alex. Orang yang sedang menembaki mereka merupakan orang yang sama. Orang itulah yang menghabisi orang keempat tadi.

__ADS_1


Alex menekan semua ketakutannya. “Kamu membawa seragamku?” tanyanya. Suaranya masih bergetar entah karena amarah atau mual.


“Aku bawa senapan di belakang!” seru Tiger.


Alex berpaling. Dia menarik senapan dan bersiap menembak. Tangannya bergetar. Alex tak yakin bisa menembak. Dia berada di dalam mobil yang sedang melaju kencang. Manuver yang tiba-tiba dilakukan Tiger bisa mengacaukan segalanya. Namun, dia tidak akan membiarkan orang-orang itu lolos.


Alex menekan tombol sunroof. Jendela persegi yang ada di atas kepalanya bergerak terbuka. Alex baru bersiap berdiri ketika Tiger membanting setir.


“Menunduk!” seru Tiger.


Dalam sepersekian detik, semua berlangsung terlalu cepat. Alex tak tahu apa yang terjadi. Dia merasakan guncangan hebat. Dirinya terbentur ke kursi. Senapannya lepas dari pegangan, entah terlempar ke mana. Telinganya menangkap suara kencang. Matanya hanya bisa terpejam erat, tak mau melihat apa yang terjadi.


Ketika pikirannya berpikir mereka telah mengalami kecelakaan, ada rasa panas membara dalam dirinya. Darahnya teras  mendidih dalam arti sesungguhnya. Sesuatu yang salah telah terjadi padanya. Sesuatu yang menakjubkan terjadi.


Matanya mengerjap. Kegelapan mulai tergantikan gambaran samar. Perlahan, pandangannya kembali utuh. Dia mendapati balon putih di sekelilingnya. Benda yang dia kenali sebagai air bag mengembang dari bagian depan. Pada mobil SUV mereka, seharusnya ada pelindung pula di bagian samping. Namun di sanalah semua rasa panasnya terjawab.


“Apa itu tadi?” Tiger bertanya dari samping. Ada jeda dari satu kata ke kata lain.


Alex berpaling perlahan pada rekannya.


Mata Tiger terbelalak mendapati bola mata Alex berubah menjadi hijau muda. Dia tidak berlebihan kalau menyebutnya berkilau. Mata anak itu seperti lampu neon di dalam kegelapan. Tidak ada dari mereka yang berani bicara lagi.


Saat itu, muncul mobil hatchback putih di samping Tiger. Emil membuka kaca sambil melambaikan tangan.


“Kita harus pergi dari sini!” Tiger membuka pintu sampingnya.

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya, Alex bergeser. Dia keluar dari pintu kemudi, berpindah ke mobil hatchback. Emil melompat ke jok belakang, membiarkan Tiger mengambil alih. Alex duduk di samping Tiger. Jantungnya masih berdegup begitu kencang. Matanya berair. Peluh membasahi dirinya. Sebelum keributan menyusul ke posisi mereka, Tiger menginjak gas. Mobil mereka meraung, meninggalkan kekacauan.


Alex melirik dari kaca spion.


Dia tahu apa yang terjadi. Mobil SUV yang tadi mereka kendarai berada di perempatan jalan. Sebuah mobil truk trailer merah datang dari arah berbeda. Keduanya bertabrakan di tengah perempatan. Alex tak tahu apakah si sopir truk selamat atau tidak. Tapi, tidak ada ledakan di sana. Mobil truk tersebut menghancurkan bagian belakang mobil mereka. Sementara bagian depannya selamat oleh tangan Alex.


Tangannya tak lagi terasa panas. Meski masih memerah, asap hijaunya telah lenyap.


“Kita harus kembali ke markas,” ujar Emil.


“Apa!?” Alex spontan protes, suaranya bergetar seperti tangannya. Dua hal yang baru dia sadari saat itu. “Tapi, Jayden—”


“Kita harus kembali untuk menyusun rencana!” sahut Tiger. “Aku sama sekali tidak mau berdebat denganmu sekarang. Pakai sabuk pengamanmu! Kita serahkan ini pada ahlinya. Biarkan orang-orang itu yang bernegosiasi.


“Negosiasi?” Alex mengulang kata tersebut.


“Menurutmu, apa yang ada di kepala Jayden?”


Alex tak berani menebak. “Apa maksudmu?”


“Dia punya banyak rahasia yang tidak boleh sampai bocor keluar. Identitas anggota ICPA? Bukan. Lebih berbahaya dari itu. Teknologi ICPA. Termasuk pengetahuan di balik Zetta Sonic.” Tiger melanjutkan dengan mata yang masih terpaku pada jalan raya. “Sekarang pakai sabuk pengamanmu!”


Alex menurut. Meski begitu, dia meloloskan pemikirannya. “Apa Nadira akan menyelamatkan Jayden?”


“Harus!” sahut Emil. Tangannya memeluk drone yang tertembak lebih erat.

__ADS_1


Saat Tiger tak menjawab, Alex tahu Nadira punya pilihan. Masalahnya, dia tak tahu pilihan mana yang akan diambil Nadira.


__ADS_2