
Tak satu pun jawaban Jayden atau Tiger memberi Alex jawaban. Setidaknya, dia dapat petunjuk. Laba-laba itu sendirian dan ukurannya pasti besar. Ralat. Menurut Alex, ukurannya mungkin raksasa. Tergantung ukurannya, mungkin nanti dia akan menanyakan bagaimana mereka mendapatkan laba-laba raksasa.
Sebelum masuk, Alex mendapat tambahan lagi. Dia mendapatkan gelang serupa Zet-Arm. Namun, yang ini lebih lebar dan berwarna hitam polos. Fungsinya untuk melemparkan tali berpengait. Jayden bilang kalau Alex akan membutuhkannya.
Saat ini, Alex sedang berjalan sendirian di lantai satu gedung tersebut. Dari posisinya, dia bisa melihat posisi tenda dari jauh. Tenda itu kelihatan begitu kecil sementara lantai satu gedungnya terasa begitu luas. Apalagi langit-langitnya tinggi. Dindingnya sudah ditutupi plester meski ada beberapa bagian yang telah mengelupas. Debu dan serpihan tebal menghiasi lantai. Angin malam berhembus kencang di sana, menerobos setiap sisi yang berlubang serta membawa suasana mencekam. Suasananya begitu tenang.
Alex bukan penggemar film thriller, dia juga tidak takut dengan monster atau hantu. Lagipula, dia tidak sendirian. Ada drone Jayden yang bertugas mengawasi latihan. Namun, sesuatu di sana membuatnya resah.
[Detak jantungmu meningkat. Kamu takut?]
Alex menyangkal ketika ucapan Jayden terdengar. “Enggak. Aku merasa bersemangat.”
[Bagus. Lanjutkan saja pencarianmu.]
“Mudah buatmu bicara. Aku di sini mencari sesuatu sementara kamu di sana enak-enakan bersantai. Kenapa kamu enggak mau memberitahu langsung saja di mana target itu berada.”
[Selama kamu bersantai di sekolah, aku sibuk bekerja untuk memperlengkapi Zetta Sonic. Sekarang giliranmu bekerja dan aku bersantai.]
“Kamu enggak mau latihan ini selesai lebih cepat?” Alex berpindah ke lantai dua menggunakan tangga. Tadi, dia menemukan struktur lift tanpa lift. Jadi, tak ada jalan lain selain naik tangga untuk berpindah lantai.
[Kamu sepertinya enggak paham apa saja yang bisa kamu dapatkan dalam latihan ini?]
“Biar kutebak. Insting pemburu?”
[Itu hanya salah satunya. Akan ada banyak misi yang seperti perburuan. Kamu enggak selalu bisa mengandalkan operator menemukan targetmu setiap waktu. Berhentilah mengeluh dan lakukan tugasmu. Kamu baru ada di dalam sana tidak sampai lima belas menit.]
__ADS_1
Alex mendesah. Dia tahu Jayden benar. Ini baru empat belas menit lebih. Dia bisa melihat waktunya lewat Zet-Arm. Gelang itu kali ini berwarna kelabu. Alex berhasil menemukan cara untuk mengubah warna keseluruhan gelangnya agar bisa menyesuaikan dengan seragamnya. Entah bagaimana Zet-Arm selalu berada di atas seragam tempurnya.
Lantai dua gedung tersebut tak punya banyak perbedaan dengan lantai satu. Kalau lawannya laba-laba, mungkin dia ada di lantai lebih tinggi untuk siap menyergap mangsa. Alex mengharapkan kemunculan lawan bergelantungan dari lantai teratas atau dari sisi gelap gedung. Meski kalau diamati, semua sisi gedung saat ini memang berada dalam kegelapan.
Kalau bukan karena bantuan dari helmnya, Alex akan kesulitan melihat. Helm miliknya dilengkapi sensor gerak dan panas juga inframerah untuk melihat dalam gelap. Sejauh ini, dia belum melihat apa pun selain dinding, puing-puing, terpal kotor, atau perkakas tukang yang tertinggal.
Alex tak tahu sudah berapa kali dirinya berpindah lantai. Mungkin ini lantai sepuluh atau kedua puluh, dia mulai bosan. “Kamu enggak mau memberikan bantuan apa pun padaku?”
[Aku mengirim beberapa berkas padamu. Pasti belum kamu baca, ya?”
“Aku sudah baca semuanya.”
[Kalau begitu, apa hal baru yang kamu pelajari dari Dragon Blood?]
[Hei, kamu mau membocorkan semuanya ke semua orang yang ada di sini?] Jayden mengingatkan kalau rekan-rekan mereka juga bisa mendengarkan jalur komunikasi sedang dipakai. [Maksudku, apa yang kamu pelajari soal kemampuan Dragon Blood atau setidaknya tujuan awal yang diharapkan dari eksperimen itu?]
“Membuat agen super.” Alex membuat kesimpulan dari berkas yang dikirimkan Jayden dalam satu kalimat singkat. Dia bisa mendengar Tiger tertawa dan Jayden mendesah. Kemudian, Alex menyadari hal lain. “Dragon Blood seharusnya bisa menyimpan energi dan mengubahnya jadi kemampuan yang diperlukan penggunanya. Kecepatan super, kekuatan super … Apa aku bisa menggunakannya untuk pendengaran super?”
[Langsung coba saja, jenius!]
Alex memejamkan matanya. Dia belum paham bagaimana cara menggunakan kekuatannya sungguhan. Dia hanya tahu kekuatan itu selalu datang saat diperlukan. Saat pemandangannya berkilat hijau, dia tahu telah berhasil menggunakan Dragon Blood. Alex berkonsentrasi pada semua suara yang ada. Suara angin terdengar lebih kencang. Samar-samar ada suara gemeretak di antaranya.
Sumbernya dua tau tiga lantai di atas posisinya sekarang. Alex berpindah ke sisi lift. Dari sana, dia bisa berpindah ke lantai mana pun pmenggunakan pengait barunya. Alex mengulurkan tangan kanannya ke atas. Gelang hitamnya menembakkan peluru hitam bertali. Peluru tersebut kemudian membentuk semacam jangkar yang menempel pada balok. Semua terjadi persis seperti kehendaknya. Satu-satunya yang terjadi di luar dugaannya hanya sentakan dari gelang tersebut.
Begitu pengaitnya mencancap, gelang tersebut menarik dirinya ke arah pengait. Alex sempat terkesiap. Dibantu reflek cepat dan Dragon Blood, dirinya bisa terayun ke lantai yang diinginkan. Sayangnya, dia lupa efek ayunan yang dihasilkan. Dia pun mendarat darurat di atas tanah berdebu. Lagi-lagi, Alex mendengar Tiger tertawa ditemani Jayden.
__ADS_1
Alex tak punya waktu untuk mengomel atau memperbaiki penampilannya. Matanya menangkap sekumpulan kilau merah dari dalam kegelapan. Mata laba-laba. Ketika makhluk itu keluar ke arah cahaya, Alex tahu kalau semua perkiraannya benar. Laba-laba raksasa setinggi truk dengan kaki-kaki setajam tombak.
“Apa aku serius boleh membunuhnya? Ini bukan makhluk langka atau semacamnya?”
[Jangan khawatir. Masih ada lebih banyak lagi di gudang.]
“Apa? Gudang? Kalian mengembangkan monster raksasa?” Alex mundur selagi lawannya berjalan mendekat.
[Bukan. Laba-laba ini eksperimen salah satu ilmuwan gila. Kami menangkap si ilmuwan dan menggunakan penelitiannya untuk hal lebih baik. Latihanmu, Zetta Sonic. Cobalah tidak terluka dan merusak peralatan apa pun.]
Alex mendesah. Dia kini paham mengapa Nadira memastikan kalau Alex hanya takut lebah. Alex tak menyangka kalau Nadira punya monster-monster menyeramkan di gudang ICPA. Mengingat keberadaan Zetta Sonic sendiri, Alex jadi makin punya gambaran lawan-lawan seperti apa yang akan dia temui.
“Apa ada bonus kalau aku menyelesaikannya lebih cepat dari satu jam?”
[Jangan memaksakan keberuntunganmu. Cepat habisi kalau memang bisa.]
Alex tersenyum. Ucapan Jayden seolah tantangan baginya. Ketika laba-laba berada cukup dekat, dia menembakkan jaring-jaring lengket. Dibantu kekuatan Dragon Blood, Alex bukan sekadar menghindar, dia berhasil berdiri di samping si laba-laba. Dengan satu tembakan laser, si laba-laba terdorong jauh dan hancur berkeping-keping. Cairan kuning kental menyembur, mengotori sekitar. Alex beruntung cairan tersebut hanya mengenai sepatunya.
“Ew. Ini menjijikan.”
[Kamu bisa bilang itu lagi.]
Giliran Alex tertawa. Dia baru menyadari kalau ada cipratan yang terkena tepat pada kamera drone. “Mungkin kamu mau melihatnya langsung ke sini.”
[Enggak, terima kasih. Kerjaanku masih banyak. Aku harus menyiapkan latihanmu besok. Sudah kubilang pada Nadira kalau satu laba-laba terlalu mudah untukmu.]
__ADS_1