Zetta Sonic

Zetta Sonic
Going


__ADS_3

Layar besar itu menampilkan sembilan layar berbeda. Tujuh di antaranya menampilkan wajah pimpinan dari tujuh ICPA berbeda. Ada lambang yang sama di bagian kiri atas setiap layar dan keterangan cabang ICPA di bagian tengah bawah. Selain itu, ada satu layar dengan lambang saja tanpa seorang pun di sana. Layar terakhir adalah layar mereka sendiri.


Alex terkesiap. Untung saja, orang-orang di sana tak bisa melihat reaksi wajahnya saat ini. Dia bukan hanya menyadari kalau bertemu dengan pimpinan penting ICPA dari berbagai belahan dunia. Dia juga menyadari penuh kalau akhirnya Nadira membuka keberadaan Zetta Sonic pada pimpinan lainnya.


Nadira bicara banyak. Dia menjelaskan sedikit informasi mengenai operasi Zetta Sonic. Sedikit di sini maksudnya sangat sedikit. Dia tidak menyebutkan berapa, siapa, dan di mana operasi digelar. Dia juga menyebut operasi mereka dengan istilah baru yaitu Special Force Zetta Sonic. Tentu saja, dia mengenalkan Alex dan memanggilnya Sonic di sini. Nadira tidak meminta Alex bicara. Tak perlu ada yang khawatir kalau sosok berpakaian hitam itu adalah robot. Salah satu pimpinan itu sudah pernah melihatnya langsung.


Satu per satu pimpinan melontarkan pertanyaan. Tidak sedikit juga yang memberikan komentar pedas dan kritikan. Ada yang menduga kalau Sonic adalah robot bukan manusia. Ada yang khawatir kalau fokus Nadira adalah senjata biologis. Dan, banyak lagi lainnya.


Alex tak bisa mencerna ucapan mereka satu-satu. Matanya fokus pada sang ayah. Pikirannya fokus pada tubuhnya yang semakin lama terasa makin aneh. Dadanya berdebar. Kakinya mulai terasa lemas. Dia tak yakin masih berdiri tegap sekarang. Alex ingat apa yang menanti di akhir tubuhnya yang seperti itu. Dia akan pingsan.


Jayden mendekatkan wajahnya ke depan, sepertinya dia sadar akan kondisi Alex.


Alex belum sempat bicara apa pun.


Nadira mungkin juga menyadari hal tersebut atau merasa kalau pengenalan Zetta Sonic melebar ke mana-mana. Bukan suatu hal yang patut didengar bawahannya. Dia pun mengusir Alex dan Jayden keluar dari rapat. Keduanya hanya ada di sana tidak lebih dari lima belas menit. Singkat tapi cukup memberikan gambaran bagi Alex.


Begitu Jayden mematikan komunikasi, layar menghitam. Alex oleng ke belakang. Dia buru-buru berpegangan pada meja. Perlahan, dia membawa dirinya sendiri duduk di lantai. Jayden hendak membantu Alex, namun karena anak itu sudah bisa duduk dengan sendirinya, dia hanya memberikan tepukan pelan di bahunya.


Alex menonaktifkan helm, membuatnya kembali ke bentuk headphone. Dahinya basah oleh peluh meski badannya terasa dingin. Dia tak tahu bagaimana wajahnya saat itu, tapi Jayden tahu.


“Dokter Vanessa akan membunuhku kalau ada apa-apa denganmu.” Jayden menggeser kursi, duduk di samping Alex. “Kamu enggak apa-apa?”


Alex tak sanggup menjawab, hanya mengangguk. Dia bisa merasakan kepalanya gemetar. Tangannya kini menekan simbol di bagian tengah seragam. Tanpa seragamnya, Alex merasa sedikit lebih lega. Dia juga melepas sarung tangan, memangkunya bersama headphone, membiarkan dirinya masih bersandar ke meja.


Jayden ikut melepas sarung tangannya, melemparnya ke atas kursi. Tangannya membuka kancing sambil mengeluh. “Seragam ini selalu membuatku kepanasan.”


Alex mengamatinya tanpa bicara.

__ADS_1


Jayden mengyunggingkan senyum. “Kamu melakukan pekerjaanmu dengan baik.”


Alex menggeleng. “Aku mengacaukan semuanya.”


“Kupikir tidak.”


Alex menoleh pada pemuda di sampingnya. “Kamu bercanda? Aku membiarkan orang-orang yang seharusnya kita tangkap malah terbunuh. Kita tidak tahu siapa dalang di balik teror bom itu. Aku terlalu lambat. Kalau enggak, Oliver Button masih hidup. Caitlin keluar. Aku bahkan seharusnya enggak mendapatkan Dragon Blood ini!”


Suara Alex mengajukan protes pada dirinya sendiri.


Jayden mengangkat kedua alisnya, “Kamu menyesal dengan adanya Dragon Blood dalam dirimu? Kalau mau menyalahkan seseorang, aku orangnya. Kamu tidak akan di sini, seandainya aku enggak mengirim virus.”


Alex menghindari tatapan Jayden.


Jadi, Jayden bertanya lagi, “Kamu menyesal karena menjadi Zetta Sonic?”


Alex menggeleng. Dia membuang jauh-jauh wajahnya karena matanya mulai basah. Dia kecewa pada dirinya sendiri. Dia tahu seharusnya bisa melakukan lebih baik dari ini. Dia bisa berhadapan dengan ayahnya tapi tak punya kesempatan untuk bicara. Alex marah dan kesal pada dirinya sendiri.


“Jangan bicara filosofi denganku!” sahut Alex.


“Itu bukan filosofi.”


Alex menarik lutut, membenamkan wajah di antaranya. Dia tak mau Jayden mendengarnya terisak meski bahunya jelas bergetar.


Jayden memukul punggungnya. Bukan menepuk, melainkan memukul. Pukulan itu membuat Alex berpaling. Jayden telah berdiri, perlahan berjalan meninggalkannya. Alex melihat bagaimana punggung itu menjauh darinya. Dalam hatinya, Alex tahu. Kalau Jayden masih bisa bangkit sekalipun telah membuat kesalahan, dia juga bisa.


 

__ADS_1


 


Selesai meninggalkan ruangan Jayden, Alex tak ingat detail akan apa yang terjadi. Dia terbangun dengan badan segar. Dia siap untuk pulang. Bukan untuk sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sarapannya sudah ada di meja. Roti isinya dan susu dalam kemasan. Alex tak mengomel. Sambil membuat gigitan besar di roti isi, dengan cepat dirinya menyalakan komputer.


Tak ada yang terjadi. Komputer itu bergeming sekalipun Alex menekan berbagai tombol. Dia menyadari penyebabnya setelah berputar ke belakang. Kabel listrik ke komputer tersebut telah dicabut. Tanpa aliran listrik, tak ada keajaiban yang membuatnya menyala.


Alex menjatuhkan dirinya kembali ke kursi putar. Matanya mengamati ruangan tersebut. Ranjang besar dengan aneka peralatan medis, deretan mesin di ujung ruangan, meja tinggi lengkap dengan kursi tinggi, tumpukan kardus besar, juga kotak perkakas di lantai. Alex cukup yakin kalau barang-barang dalam ruangan tersebut berubah dari sedikit menjadi banyak hingga menyesakkan.


Tepat ketika roti isinya habis, dokter Vanessa memasuki ruangan sambil membawa kardus kecil lainnya. Dia melemparkan senyum seraya menumpuk kotak tersebut di atas kotak lainnya. “Hai, Alex. Maaf dengan semua kekacauan ini.”


“Beersiap untuk perombakan besar?” tebak Alex.


“Iya. Tidak ada yang tahu sejauh apa Nadira mau merombak tempat ini. Setidaknya kami tahu dia akan mulai dari lantai X-01. Ini lantai terakhir dan mungkin satu-satunya ruangan yang tidak akan tersentuh. Lagipula, kamu akan pulang … Kamu tahu maksudku.”


Alex mengangguk. Dia sama sekali tidak keberatan kalau ruangan yang jadi kamarnya selama beberapa hari itu diubah jadi gudang sementara.


“Bagaimana semalam?” tanya dokter Vanessa.


Alex tahu kalau sang dokter menanyakan soal rapat, tapi dia tidak ingin membahasnya. Alex hanya menjawab. “Aku tidur nyenyak.”


“Bagus kalau begitu.”


Berikutnya, pintu terbuka lagi. Jayden masuk dalam balutan cardigan kelabu, topi bisbol, sneaker, sambil menenteng tas merah besar. “Sudah bangun? Ayo berangkat?”


“Mau pergi ke mana?”


“Kamu enggak mau pulang?” Jayden tersenyum simpul.

__ADS_1


“Bukan aku. Kamu.”


“Oh. Aku juga akan pulang ke tempat yang tidak bisa kusebut sebagai rumah.”


__ADS_2