
Latihan di gedung terbengkalai jadi keseharian baru Alex. Dia bersekolah seperti biasa di pagi hari dan malamnya menghabiskan waktu di sana untuk melatih kekuatan Dragon Blood dalam dirinya. Tiger menjemputnya setiap waktunya tidur datang. Tiga hari berturut-turut, Alex melawan laba-laba raksasa.
Kini, dirinya bosan.
Hari itu, gerimis mengguyur di lokasi gedung terbengkalai. Kabut tipis turun menyertai. Udaranya dingin. Jayden mengenakan sweater serta jaket sementara Alex merasa tetap hangat di dalam seragam tempurnya. Sementara Jayden iri dengan teknologi seragam tersebut, Alex sendiri iri karena orang-orang lain bisa menikmati coklat hangat dan camilan selagi dirinya terjebak dengan helm Zetta Sonic.
“Kukira kamu bilang kalau satu laba-laba terlalu mudah untukku.” Alex melanturkan protes. Ini sudah yang kesekian kali dalam minggu ini. Kadang dia protes sebelum dan sesudah training, membuat Jayden bosan.
“Sudah kubilang kalau Nadira ingin latihanmu berjalan sesuai jadwal. Pelan-pelan saja. Lagipula, kamu tidak memberikan nilai setinggi yang kami harapkan.”
“Nilai setinggi apa?”
Percakapan keduanya berhenti ketika melihat profesor Otto memasuki tenda. Setahu Alex, biasanya profesor memantau dari tempat lain. Sepertinya profesor mengamati dari kontainer medis bersama dokter Vanessa. Baru kali ini, Alex bertemu lagi dengan profesor Otto secara langsung.
“Hai, Alex!” Profesor Otto memberikan senyum padanya.
Jayden menepuk dahi, Tiger menghela napas dalam-dalam. Alex sendiri tersadar kalau profesor baru saja menyebut nama aslinya di depan rekan-rekan ICPA lain. Padahal Nadira ingin mempertahankan identitas Zetta Sonic tetap rahasia. Sepertinya, kakek ini lupa dan tidak peduli pada jati dirinya.
Tanpa meralat ucapannya, profesor menepuk bahu Alex. “Hari ini latihanmu masuk ke fase dua. Apa kamu bersemangat sepertiku?” Senyum profesor terasa berbeda ketika dibarengi mata yang terbelalak. Senyumnya membuat Alex bergidik ngeri.
Jayden melanjutkan. “Nadira memberikan izin untuk beberapa laba-laba hari ini. Ada lima di dalam gedung, tersebar di berbagai lokasi berbeda. Waktumu tiga puluh menit untuk menghancurkan mereka semua sebelum bom meledak.”
__ADS_1
“Tunggu!” sahut Alex. “Apa? Bagaimana? Bom?”
“Jangan khawatir, kali ini aku akan memandumu.” Jayden menghadap komputernya. Dia membuka skema gedung terbengkalai. “Kali ini, aku juga tidak tahu di mana para laba-laba ditempatkan awal. Aku juga tidak bisa melacak keberadaan chip mereka. Tiger yang bisa mengaksesnya. Dia ada di mobil sekarang supaya aku enggak bisa mengintipnya.”
Sekalipun wajah Alex tertutupi helm, dia yakin baru saja bertukar senyum dengan Jayden. Pemuda itu bisa saja meretas sistem ICPA untuk mengetahui keberadaan chip para laba-laba. Tapi, mengingat kalau mereka sedang berlatih, Jayden harus berpura-pura tak mampu meretas sistem. Itu curang.
“Oh, ya. Aku juga sudah meng-upgrade sistem di dalam helm Zetta Sonic. Jadi, aku bisa melihat semua yang kamu lihat dari sini. Lebih jernih, lebih nyata.”
Alex mengedarkan pandangan. Dia memang tidak melihat drone Jayden hari ini. “Jadi, kamu juga dilarang menggunakan drone untuk membantuku? Misalnya membantu menembak atau semacamnya?” Alex menebak pemikiran Nadira dengan tepat.
“Nadira menyangkal waktu aku bilang begitu. Tapi, sepertinya memang itu alasannya melarangku membawa drone hari ini.”
Jayden mengedikkan bahu. “Asalkan kamu bisa menghabisinya dalam waktu setengah jam, tidak ada masalah.”
Profesor Otto melirik si pemuda. “Jangan menghambat Alex, Jayden. Dia bisa menghabisi laba-laba itu secepat yang dia mau. Kerjakan tugasmu dengan benar!” Profesor Otto berpaling. Dia duduk di sisi petugas lain, di depan layar komputer yang lain.
“Ada yang terjadi di antara kalian?” tanya Alex, separuh berbisik.
“Apa yang terjadi sudah lama terjadi. Enggak perlu dipikirkan.” Jayden mengetikkan sesuatu di komputer. Wajahnya sendiri tampak di layar. Itu persis apa yang dilihat Alex saat ini. “Jadi, keluar sana dan habisi mereka!”
Alex melenggang keluar dari tenda. Dengan kecepatan yang dia dapat dari Dragon Blood, Alex mencapai gedung dengan cepat. Dalam beberapa hari, Alex merasa lebih leluasa menggunakan kekuatannya. Dia bisa menggunakannya lebih cepat dan luwes, tidak ada kelelahan atau rasa sakit. Indikator energinya juga belum berkurang.
__ADS_1
Menurut dokter Vanessa, tubuhnya mulai terbiasa dengan Dragon Blood. Kondisi mereka berdua stabil. Ini baru hal yang membuatnya tenang. Alex bisa menertawakan bagaimana dia bisa pingsan beberapa saat lalu sampai masuk ke rumah sakit. Untung saja, dia diizinkan pulang hari itu juga.
Namun, karena kejadian tersebut, Alex merasa hubungannya dengan Leta jadi lebih dekat. Gadis itu penasaran apa Alex sungguhan anemia, bukannya kelelahan sehabis melawan putra petinju. Alex ingin sekali menyangkal keduanya. Sayangnya, itu justru akan membuat penjelasannya makin sulit. Alex membiarkan Leta serta teman-teman lainnya mengira kalau dia anemia. Itu lebih manusiawi.
Alex menapaki jalanan berlumpur menuju gedung. Seragamnya kini basah kuyup. Pandangan dari helmnya tetap jernih. Semua sistemnya bekerja dengan baik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan soal bom. Jauh di dalam hati, Alex yakin seperti Jayden, tidak akan ada ledakan di sana. Alex bahkan sangsi kalau mereka menggunakan bom sungguhan. Ledakan tersebut akan memicu keributan sekalipun lokasinya jauh dari keramaian. Nadira pastinya tak mau itu terjadi. Menurut Alex, itu hanya gertak sambal.
Seperti hari-hari sebelumnya, Alex menghampiri ruangan untuk lift. Dia menembakkan pengait, menjadikannya jalan pintas langsung ke lantai sepuluh. Beberapa hari ini, dia cukup beruntung menemukan lawan dari lantai tersebut. Lantai sepuluh merupakan dasar dari lantai atasnya yang memiliki void. Artinya, dari lantai sepuluh tersebut, dia bisa melihat lurus ke atas hingga lantai lima belas. Seperti ruangan lift yang belum jadi, hanya saja ini lebih besar.
Alex memejamkan mata, membiarkan pendengarannya menajam. Suara gemeretak terdengar dari beberapa sudut. Wajar saja mengingat ada lima laba-laba di sana. Masalahnya, dia mendengar lebih dari lima sudut berbeda. Hujan membuat pendengarannya tidak seakurat sebelumnya. Suara rintik tersebut malah mengganggu konsentrasinya.
“Kamu lihat sesuatu dari sana, Jayden?”
[Belum. Hanya puing-puing dan kursi rusak.]
Alex ingat pernah menghabisi satu laba-laba di lantai itu. Dia ingat adanya kursi-kursi kayu usang, tapi dia ingat kalau kursi-kursi tersebut hanya berdebu bukan rusak. Alex mendapati bekas kehancuran laba-laba kemarin. Lendir kuning mengotori dinding tapi tidak ada bangkai laba-labanya di sana.
“Jayden, apa ICPA masuk ke sini untuk bersih-bersih?”
[Negatif. Itu membuang waktu.] Jayden terdiam, memahami kecurigaan Alex. [Hati-hati, Sonic. Aku pernah dengar kalau laba-laba betina makan laba-laba pria. Saat ini, kita berhadapan dengan laba-laba hasil eksperimen. Kita tidak tahu sejauh mana kebiasaan hewan aslinya melekat.]
“Setuju. Aku juga yakin kalau dia masih lapar.” Alex memicingkan mata ke lantai ketika tetesan cairan kuning jatuh ke sana.
__ADS_1