
Matahari telah lenyap, menyisakan rona kemerahan pada langit seolah enggan berpisah. Malam mulai menjelang. Kemeriahan di City Hall kembali nampak di tengah penjagaan. Mobil-mobil bergiliran menurunkan penumpang mereka di pintu utama. Salah satunya memang terlihat sedikit janggal. Bukan model, bukan pula aktor. Alex terkadang merasa dirinya hanya bocah, seperti kata Tiger.
Mengenakan setelan tuxedo satin hitam legam, dia turun dari mobilnya. Penjaga yang membukakan mobil mempersilakannya menaiki tangga pendek. Pada sisi kanan dan kiri tangga itu, sudah terlihat para wartawan. Mereka sibuk mengarahkan kameranya untuk mendapatkan gambar sempurna. Berbeda dengan para artis, Alex tak berhenti untuk bergaya. Dia hanya memasang senyum tipis sambil berjalan cepat.
Ini memang bukan pertama kalinya. Dia pernah mengalami kejadian serupa atau pesta yang lebih dipenuhi pencari berita. Itu soal pesta bersama ibunya. Di mana pun ibunya berada, sekarang selalu saja ada paparazzi menguntit.
Alex menjumpai sekuriti lain di depan gerbang detektor. Sama seperti sekuriti yang lain, pria ini juga mengenakan kacamata hitam serta earphone. Kabelnya tampak terjuntai ke balik jas mereka.
“Nama?” Sekuriti itu bertanya dengan nada datar.
“Alexander Hill. Di sini, aku mewakili ayahku, Marcus Anthony Hill.”
Si sekuriti memeriksa tablet PC di tangannya. Dia pun mengangguk. Tangannya melambai ke pintu detektor. Alex melangkah masuk tanpa menimbulkan suara berarti. Setelahnya, Alex melenggang masuk ke dalam City Hall tanpa adanya pemeriksaan lagi. Yang ada justru keramahtamahan.
Ada sebuah meja panjang dengan barisan goodie bag hitam. Mereka tersusun rapi di salah satu sisinya. Sementara di sisi lainnya, dua orang wanita mengenakan gaun panjang menyapanya. Mereka memberinya kartu berisi nomor dengan nama ayahnya pada bagian bawah. Dia bisa menukarkannya dengan souvenir saat pulang nanti.
“Pembayaran tanpa batas di seluruh penjuru dunia.” Alex membaca apa yang ada di balik kartu. Itulah alasannya berada di sini.
__ADS_1
Sebuah bank besar berskala internasional berniat meluncurkan sebuah sistem pembayaran baru. Mereka mengundang para artis, pengusaha, juga para politisi. Singkatnya, ini hanya acara peluncuran produk baru. Ayahnya cukup antusias dengan hal ini. Alex pun menyanggupi untuk hadir.
Tempat itu dipenuhi oleh orang-orang penting. Alex mengenali beberapa wajah orang tua temannya. Pesta kali ini menyediakan lebih banyak fasilitas dan sajian bagi para tamu undangan. Dekorasinya lebih indah, makanannya lebih mewah, pelayannya lebih baik, serta ada orkestra melantunkan musik indah. Semua bertujuan menaikkan mood orang-orang di sana. Alex harus mengakui kalau itu cukup efektif. Setidaknya, untuknya. Mocktail yang baru saja dia cicipi benar-benar enak.
Alex mengedarkan pandangannya. Dia tahu kalau Tiger juga bisa melihat dan mendengar hal yang sama. Meski begitu, bukan berarti kalau Tiger bisa bicara langsung dengan mudah dengannya. Kalau ingin bicara, Tiger bisa menghubunginya lewat Zet-Arm atau meneleponnya langsung.
Salah seorang pelayan lewat di dekat Alex, menawarkan untuk membereskan gelas kosong di tangannya. Setelah meninggalkan gelasnya pada si pelayan Alex berputar. Dia tahu siapa yang dia cari. Seseorang menggunakan gaun merah panjang baru saja masuk. Itu Caitlin. Dan, tentu saja, dia tidak sendirian.
Caitlin tampak menarik. Bukan karena rambutnya yang dikuncir tinggi dan kini memiliki dua pilihan warna, coklat gelap di atas dan merah di bawah. Bukan pula karena gaun merahnya yang membalut tubuh indahnya. Melainkan sorot mata beserta gerak tubuhnya. Gadis itu selalu tampak percaya diri. Menawan dan menekan di saat yang sama. Sebuah daya tarik yang tak bisa diabaikan oleh Alex.
Gadis itu melenggang dengan alami. Dia mendampingi seorang pria berbalut tuxedo biru. Jam tangan emasnya mengilap ketika menjabat tangan salah seorang anggota dewan kota. Dia pernah bertemu dengan anggota dewan tersebut beberapa kali. Tapi, lain halnya dengan pria mengenakan tuxedo itu. Alex melihat pria ini di pabrik pengalengan ikan. Dia juga salah satu pemegang saham seperti ayahnya. Nama pria itu Baron. Sebuah nama yang cukup mudah diingat karena unik.
Alex bergerak di antara tamu-tamu yang lain sambil terus menjaga jarak. Ini mudah. Alex tak dikenali di sana. Beberapa rekan ayahnya juga tidak akan repot-repot menyapa anak sepertinya. Dalam pesta semacam ini, lebih baik menggunakan kesempatan untuk membangun jaringan.
Sambil mengawasi Caitlin, dia melihat beberapa orang terkenal di sana. Sebut saja seperti wali kota, artis yang sedang naik daun, model papan atas juga seorang pria yang baru-baru ini menghiasi kover majalah. Dia mengenalinya. Alex pernah melihat pria tersebut bersama ibunya beberapa waktu yang lalu, di tempat yang sama, di pesta berbeda. Pria itu seorang CEO perusahaan komunikasi. Viktor Vasil.
Alex bergerak mendekat. Dia melihat seorang pelayan melintas dan mengambil minuman mocktail yang sama. Dirinya lantas berbalik. Dia melihat bagaimana Baron mendatangi Viktor dan ngobrol dengannya.
__ADS_1
“Aku yakin kamu sudah menerima surat elektronik dari asistenku.” Suara yang datang terdengar berat tapi empuk. Alex melirik, melihat Viktor melempar senyum lebar khas pengusaha.
“Ya, tentu saja. Itu benar-benar sangat menarik. Aku sedang mempelajarinya. Kupikir aku akan segera sampai pada kesimpulan.” Baron menjabat tangan Viktor. “Semua orang sadar kalau komunikasi memegang peranan penting. Sangat. Penting.”
“Oh, aku suka bicara dengan orang yang paham.”
“Mungkin kita bisa bertemu untuk membicarakannya.”
“Kapan pun. Kabari asistenku dan kita bisa bertemu di mana pun yang kamu mau. Ngomong-ngomong, siapa gadis cantik yang sedang bersamamu, tuan tampan? Gadismu ini benar-benar menawan. Salam kenal, nona…”
“Caitlin.” Akhirnya Caitlin ikut bicara. “Senang bertemu denganmu.”
“Aku yang seharusnya senang bisa bertemu gadis rupawan seperti dirimu. Aku selalu bepergian dari satu negara ke negara lain. Bertemu gadis di sini dan di sini. Sebut saja, model, aktris, banyak. Kamu menyaingi kecantikan mereka. Baron benar-benar punya mata yang jeli. Kalian sudah…”
“Kami bertunangan,” ujar Caitlin lagi sebelum Viktor menyelesaikan kalimatnya.
Alex melirik ke belakang lagi, memastikan apa yang tengah terjadi di belakangnya.
__ADS_1
Baron memegang pinggul Caitlin dan menariknya mendekat. “Terima kasih atas pujianmu. Memang tidak sembarang gadis bisa menarik perhatianku. Caitlin satu-satunya. Dan, akan selalu begitu. Tolong bantu aku, Viktor. Jangan goda gadisku seperti yang biasa kamu lakukan pada wanita-wanita lain.”
Baron tertawa di akhir kalimatnya, begitu pula Viktor. Namun, entah kenapa Alex menangkap kalau itu bukanlah murni bercanda. Sebelum pembicaraan tersebut sempat berlanjut, seorang pemuda mengenakan setelan hitam mengundang Baron ke atas panggung.