
Alex kembali ke rumah. Dia tak menyadari betapa kesal dirinya sampai melihat Rover berlari ke sudut ruangan. Tadi dia mengira telah menutup pintu kamarnya dengan cara biasa. Ternyata, suaranya begitu keras sampai si rottweiler hitam kabur. Kini, dia menghiraukan sekitarnya dan berjalan cepat ke meja komputer.
Sejak bergabung dengan Special Force, Alex tak punya banyak waktu berkeliaran sebagai Killer Bee. Sekarang kesempatan baginya untuk menguji bila dia masih mahir menggunakan hobi terlarangnya.
Dulu dia menyangka kalau hobi ini sekadar keren. Sekarang dia menyadari kalau hacking sangat berguna. Ketika lampu kamarnya mati, tiga pasang layar pun menyala bersamaan. Mereka memiliki satu kesamaan besar, simbol lebah kuning di sisi kiri. Layar pertama memutar rekaman kamera pengawas jalan raya. Layar kedua menunjukkan daftar nama kriminal berikut wajah mereka. Layar ketiga menunjukkan berita, percakapan, dan semua yang bisa dia dapat dari tempat gelap di internet.
Tidak sampai satu jam, Alex sudah mendapatkan nama si sopir berikut latar belakangnya. Dia dikenal dengan nama Rocky, seperti gurunya. Itu bukan nama asli, hanya nama panggilan. Rocky pernah bergabung dengan tentara, berjaga di garis depan, lalu mengalami luka cukup parah di kaki. Sekarang, dia banting setir bergabung dengan para kriminal.
Alex melirik gelang hitam yang ada di sudut meja. Gelang hitam tersebut bersebelahan dengan seragam tempur bentuk peluru yang diberikan Jayden. Sebelum meninggalkan ruang komando, Alex mengambil gelang tersebut dari atas meja Jayden. Pemuda itu berniat membuatnya sekadar jadi pajangan. Namun, Alex jelas punya rencana lain.
Kalau mau beraksi tanpa ketahuan, dia butuh helm. Prototipe seragam tersebut menjawab keperluannya. Dia punya seragam tempur, roket, senjata --sekalipun hanya pistol biasa--, dan juga Dragon Blood. Dia bisa beraksi sendirian.
Aksinya mungkin akan dianggap sebagai bentuk ketidaktaatan pada ICPA. Alex tak peduli. Pada dasarnya, dia tidak pernah setuju menjadi anggota ICPA. Semua bermula dari kecelakaan. Meski kalau seandainya bisa memilih, mungkin Alex akan memilih menjadi Zetta Sonic. Saat ini, dia hanya ingin menyelamatkan Jayden.
Pikirannya teralihkan ketika ponselnya bergetar. Dia melihat nomor yang dia kenal di sana. Dokter Vanessa. Alex tak yakin kenapa sang dokter meneleponnya. Wajar saja kalau wanita tersebut mendengar cerita penculikan Jayden. Alex tak paham alasan dokter. Vanessa menelepon. Tapi, dia tidak ingin bicara dengan siapa pun saat ini. Apalagi kalau membayangkan Nadira yang menyuruh agar meneleponnya. Nadira salah besar mengira Alex akan menerima panggilan tersebut.
Menghiraukan ponselnya, Alex bersiap-siap. Lawannya harus sadar sudah menculik orang yang salah,
__ADS_1
Alex mengaktifkan seragam tempur di depan cermin. Dia penasaran bagaimana penampilannya. Ketika gelang tersebut menempel di kulitnya, Zet-Arm bereaksi. Keduanya tersambung tanpa kendala. Zet-Arm membaca pikiran Alex dan memunculkan seragam tempurnya.
Dia melihat kepingan segi enam hitam merayap keluar dari gelang. Mereka bergerak memenuhi tubuhnya sampai tak terlihat sisi kosong satu pun. Termasuk bagian kepalanya. Alex menatap sosok berpakaian serba hitam. Mereka mengikuti lekuk tubuhnya dengan baik bukan lekuk pakaiannya. Tetap dengan sedikit sentuhan serupa jas dan sabuk. Bagian terbaik, Alex tak melihat garis hijau satu pun. Juga tidak ada tanda-tanda pengenal ICPA atau Zetta Sonic di sana. Seragam hitam itu masih polos. Alex tersenyum meski tak bisa melihat pantulannya di cermin.
Sekali lagi, dia berusaha mengingat apa yang diucapkan Jayden dan Tiger mengenai kedua seragam. Seragam ini merupakan prototipe, bisa dipakai berulang kali, tapi ringkih. Artinya, dia harus menghindari semua pertarungan. Kalau sampai kena tembak, tidak akan ada bedanya memakai seragam tempur atau tidak. Sementara seragam satunya sangat mirip dengan seragam yang biasa dikenakan. Sayangnya, seragam itu hanya bisa dipakai satu kali.
Tidak!
Alex tidak ingin memakai seragam itu untuk kedua kalinya. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan benar. Saat ini juga. Berikutnya, Alex berjingkat. Dia mendapati ponselnya kembali menerima panggilan. Namun, bukan itu alasannya terkejut. Melainkan nama dan wajah yang terpampang di sana. Itu ayahnya.
Ayah meneleponnya di saat yang luar biasa tidak tepat. Alex bahkan berpikir kalau ayahnya tahu Jayden diculik dan dia adalah Zetta Sonic. Sambil menepis keraguannya, Alex pun menerima panggilan.
“Hai, ayah.” Semakin hari, Alex mendapati dirinya semakin kaku ketika bicara dengan ayah. Seolah bibirnya tak mau bekerja sama dengan benar. Semua kata-katanya seolah jawaban dari mesin otomatis.
[Aku mau bertanya soal Stallion.]
Alex menepuk dahi atau lebih tepatnya helm hitam yang telah menutupi dirinya. “Kuda,” ujarnya pelan. “Ayah serius mau memelihara kuda di sini?” Manor mereka memang besar, tapi Alex yakin tidak cukup besar untuk kuda beserta kandangnya. Bagaimana pun, mereka tinggal di kota bukan pinggiran.
__ADS_1
[Kamu lebih suka aku memelihara kuda di rumah?]
“Tidak.” Alex tak yakin ke mana arah pembicaraan mereka. Dia sekarang ragu apakah ayahnya sedang membicarakan soal kuda sungguhan atau patung kuda sebagai ornamen tambahan manor. Jujur saja, dia lupa sama sekali untuk mengirim pesan pada ayah.
[Preston mungkin lupa cerita detailnya padamu.]
“Dia hanya tanya apa aku suka kuda atau tidak.”
[Oh. Baiklah. Ini akan jadi kejutan kalau begitu.]
Seingat Alex, dia pernah naik kuda bersama ayahnya entah di peternakan yang mana, entah pada liburan yang mana. Meski begitu, dia ingat angin yang menerpa dan keseruan yang timbul. Sensasinya berbeda dengan terbang. Alex juga menikmatinya. “Well, aku suka kuda. Kalau ayah ingin memelihara kuda, kupikir boleh saja.”
[Baiklah.]
Alex membiarkan percakapannya berakhir di sana. Dia tak ingin benar-benar mengetahui apa maksud ayahnya. Tidak perlu. Dia ingin segera pergi ke pelabuhan. Alex bahkan tidak memberikan tempat keraguan bercokol dalam hatinya. Dia ingin menemukan kebenaran dari video rekaman tersebut. Kalau Nadira tidak mau bertindak, dia akan melakukannya.
Alex beranjak keluar, ke halaman belakang. Dia tidak perlu menghindari kamera pengawasnya sendiri. Semua berada dalam kontrolnya. Tidak seorang pun akan mengetahuinya terbang dari halaman belakang malam itu. Langit cerah, hembusan angin pelan, udara sejuk. Kondisi ideal untuk terbang. Otaknya memutar rekaman suara pilot pesawat terbang komersial. Kali ini dia pilotnya. Tujuannya jelas meski tak ada bayangan apa saja yang akan menantinya di sana.
__ADS_1
Penerbangan malam ini tidak akan pernah dia lupakan. Dia tahu.