Zetta Sonic

Zetta Sonic
Pick Up


__ADS_3

Alex mendapati dirinya berada dalam dilema. Di satu sisi, dia kecewa karena tidak menemukan apa pun di lokasi titik koordinat pertama. Di sisi lain, dia juga lega karena karena masih bisa mempersalahkan Caitlin.


Titik koordinat yang dia terima, yang juga berasal di kota tersebut, tak lebih dari sebuah bar pinggiran kota. Bar tersebut bukan hanya kumuh tapi juga terlupakan. Tak banyak tamu yang datang. Para agen ICPA menelan kenyataan kalau mungkin bar itu hanya salah satu bar favorit Marcel.


Dari Emil, Alex mendapatkan perkembangan terbarunya. Fergus memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa lingkaran terdekat Marcel dan kapan terakhir kali mantan agen ICPA tersebut terlihat. Setidaknya informasi tersebut cukup untuk menenangkan Alex. Dirinya tidur nyenyak malam itu. Sayangnya, ketika pagi datang, semua masalah itu seolah kembali.


Alex mendesah di kursinya. Seorang diri. Pikirannya sudah keruh padahal hari masih pagi. Dia berusaha menempatkan dirinya di posisi si penculik. Di mana kita-kira dia akan menyembunyikan Jayden dari ICPA?


“...x. ...lex. Alex?”


Alex tersentak setelah menyadari kalau namanya sudah dipanggil berulang kali oleh gadis favoritnya. Leta berdiri di sampingnya. Tatapannya melekat pada si anak laki-laki. Akhirnya, dia menarik kursi kosong dan duduk di samping Alex. Saat itu, Willy memang belum datang.


“Kamu tidak apa-apa? Mukamu seram,” kata Leta lagi.


“Ya. Aku cuma sedikit tidak siap untuk nanti.”


“Ujian biologi hari ini?” tebak Leta.


Alex mengangkat bahu sambil menyunggingkan senyum tipis. Itu terjadi lagi. Kebohongan menyelamatkannya dari kecanggungan. “Kamu sudah belajar?”


“Enggak juga.” Leta melemparkan pandangannya pada gelang di tangan Alex. “Sebenarnya, aku penasaran itu apa.”


“Cuma jam tangan. Modelnya unik, kan?” Alex sengaja menggoyangkan tangan kirinya. Ketika dia berpikir kalau itu bukan hal yang akan jadi masalah, Zet-Arm tersebut justru berkilat. Alex sadar kalau ada pesan datang untuknya.


“Ya, cukup unik.” Leta menjawab. Dia sepertinya tidak melihat apa yang baru saja terjadi pada alat tersebut. “Sebenarnya, belakangan ini aku penasaran. Kamu kelihatan agak berbeda, Alex.”

__ADS_1


“Benarkah?” Alex menarik lengan kirinya ke bawah meja, menyembunyikan Zet-Arm dari pandangan Leta dan siswa lain yang sedang lewat.


“Kamu tidak bicara banyak. Padaku. Pada Willy.” Leta berhenti sebentar, mengigit bibirnya. “Aku penasaran apa belakangan ini ada masalah yang sedang kamu hadapi sendirian. Maksudku… Kamu tahu, kami cemas padamu.”


Kami.


Kata-kata itu agaknya tak sepenuhnya tepat. Alex tak yakin kalau Willy cemas padanya. Alex bahkan merasa kalau Willy sendiri sedang tak ingin dekat-dekat dengannya. Sebut saja sejak dia menegur Willy merebut teknologi baru Cody, hubungan mereka jadi dingin. Bukan berarti kalau mereka tak lagi makan siang bersama, hanya saja semua lelucon kini jadi terasa canggung.


“Masalahku saat ini hanya soal ujian biologi.” Alex memaksakan dirinya tertawa kecil. Saat itu, ponsel dalam sakunya bergetar. Alex bisa menebak siapa yang meneleponnya. Itu membuatnya makin resah.


“Kamu bisa bicara padaku.”


Ucapan Leta membuat Alex salah tingkah. Dia bingung haruskah tersenyum atau malah mengernyit. Tak satu pun terasa tepat. Akhirnya Alex hanya bisa membuka mulut tanpa bicara apa pun. Leta di depannya tak merubah ekspresi. Alisnya bertautan dan matanya masih melekat pada Alex.


“Aku serius.” Leta mengulangi ucapannya. “Kami temanmu. Kalau ada masalah, apa pun, kamu bisa cerita. Mungkin itu akan membuatmu sedikit lebih lega. Aku tahu banyak anak yang mengalami masalah di usia kita. Terlalu dewasa untuk dianggap anak-anak tapi juga masih terlalu anak-anak untuk dianggap dewasa. Kadang kita merasa tak dimengerti orang tua. Aku paham rasanya. Apalagi saat kamu jarang bertemu orang tuamu.”


Leta, sebaliknya, malah lebih berusaha menekankan maksudnya. “Aku peduli padamu. Aku di sini untukmu. Jadi, kalau ada masalah, cerita saja. Aku akan mendengarkannya.”


Tanpa disadari, tangan Alex sudah terkepal. “Itu sangat… menyenangkan. Maksudku, menenangkan. Maaf. Aku… Ada telepon yang harus kuangkat.”


Alex berdiri. Dia melewati Leta cepat-cepat tanpa sedikit pun memberikan kesempatan bagi Leta untuk merespon. Alex sudah menghambur pergi. Sebuah hal yang tidak akan dilakukan Alex dulu. Dia ingin mendapatkan hati gadis itu. Kalau disuruh memilih antara ICPA atau Leta, dia tak perlu pikir panjang untuk menjawab. Sekali lagi, sekarang berbeda. Alex justru tak ingin berada di sekolah. Dia punya prioritas baru.


“Apa?” Alex mengangkat telepon bahkan sebelum dia mencapai taman sepi.


[Kita dapat masalah, bocah.] Suara Tiger terdengar. Napasnya memburu. [Aku di pintu belakang sekolah.]

__ADS_1


Alex langsung berbalik. “Katakan kalau kamu menemukan Jayden.”


[Kuharap begitu. Sayangnya, kita menemukan yang lain.]


“Jangan beri aku berita buruk, Tiger.”


Alex berlari ke arah pintu belakang sekolah. Dia melihat sebuah SUV putih berbelok tajam dari kejauhan. Mobil itu berhenti persis di depan pintu belakang. Alex berlari padanya tanpa perlu cemas. Dia tahu Emil yang akan mengakali semua CCTV sekolah nanti termasuk membuat alasan kenapa dia tak muncul di kelas hari itu.


Alex membuka pintu depan, melompat ke dalam mobil, menatap Tiger yang menyetir dengan penuh pertanyaan.


“Sabuk pengaman.” Tiger memberi perintah. Barulah setelah Alex mengenakannya, Tiger menjalankan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi. “Damon kembali. Membuat kekacauan di plaza. Dia mencarimu.”


“Apa? Kenapa para penjahat begitu ribet? Dia bisa datang ke rumahku kalau dia mau.” Kalimat tersebut meluncur mudah dari bibir Alex meski dia tahu kalau tak berharap itu sungguhan terjadi.


“Sebenarnya, bisa. Tapi, dia punya tujuan lain.”


“Apa? Show off? Menunjukkan kemampuannya di depan publik supaya menghiasi headline?”


Tiger melirik Alex di sampingnya. “Kamu sekarang mulai berpikir seperti para penjahat,” jawab Tiger, “dan agen ICPA,” imbuhnya.


Alex terdiam. Dia mulai memahaminya.


Tiger membawanya ke plaza yang dekat dengan taman kota. Tempat itu memang kacau balau. Orang-orang berhamburan keluar. Beberapa barang dagangan yang dipajang di luar toko sudah hancur. Bagian dinding yang dihiasi mural kini berantakan di tanah. Lorong panjang pertokoan tersebut dipenuhi asap, debu, juga teriakan.


Setelah orang-orang berhamburan pergi, Alex bisa melihat sosok tinggi besar berjalan keluar dari antaranya. Dia menyeret seorang laki-laki berpakaian polisi yang berlumuran darah. Alex tak mau membayangkan apa yang terjadi pada laki-laki tersebut. Namun, dia jelas penasaran apa yang terjadi pada sosok tersebut.

__ADS_1


Damon kini lebih tinggi, lebih besar. Kulitnya juga berwarna lebih gelap. Dan, matanya. Matanya memerah dan melotot. Sosoknya seperti raksasa. Ah, bukan. Bukan raksasa, melainkan sesosok monster. Ketika dia meraung, Alex bersumpah kalau kaca mobil SUV mereka bergetar. Pertarungannya dengan Damon kali ini tidak akan mudah.


__ADS_2