Zetta Sonic

Zetta Sonic
Roomie


__ADS_3

Sejak Jayden pindah ke markas utama, dia memiliki sebuah ruang pribadi di lantai empat. Ruangan kosong tersebut kini diisi oleh komputer canggihnya juga beberapa peralatan lain dari markas di waduk.


Jayden duduk di tempatnya seperti biasa, sementara Emil duduk di sisi lain menghadap layar berbeda tapi dengan sistem saling terhubung. Meja Emil tidak sepenuh milik Jayden. Setidaknya ada keyboard, mouse, botol air minum, juga gelas berisi kopi panas. Markas mereka menyediakan kopi dan teh panas di setiap lantai melalui mesin. Setiap agen memerlukannya untuk begadang. Terutama bagi mereka yang bekerja di balik layar seperti Jayden dan Emil.


Setelah satu jam berkutat dengan benda-benda maya, pintu ruangan terbuka tanpa diawali ketukan. Tiger masuk. Tangannya membawa kantong kertas besar. Matanya bergeser dari Jayden ke Emil, lalu ke layar yang sedang mereka awasi. Emil balas menoleh padanya lalu kembali ke layarnya sendiri.


“Aku sebenarnya malas bertanya, tapi apa kamu sudah resmi merekrutnya?” Pertanyaan Tiger ditujukan langsung pada Jayden.


“Kuanggap itu sebagai pertanyaan retoris.” Jayden melempar senyum simpul.


“Aku bahkan tidak tahu apa itu retoris.”


“Pertanyaan yang tidak perlu dijawab.”


“Jadi, ini tahap wawancara atau apa?” Tiger memicingkan matanya, meneliti apa yang sebenarnya sedang dikerjakan dua pemuda itu di sana. Mereka setidaknya punya kesamaan ketika berada di depan layar dalam hal fokus. Seperti hewan buas mengincar mangsa. Jayden lebih berisik, Emil lebih tenang.


“Apa aku perlu menjawab itu?”


“Enggak usah. Aku lapar.” Tiger menarik satu kursi ke dekat Jayden. Dia meletakkan kantong kertasnya di atas meja. “Camilan.” Tiger mengambil sebuah burger terbungkus kertas merah di dalamnya dan sekotak kentang goreng.


“Sejak kapan kamu suka membawakanku camilan seperti ini di malam hari?”


“Sejak anak itu menguras energiku. Secara fisik dan mental.”


“Alex atau Zetta Sonic?”


Tiger memicingkan mata lagi. Dia yakin mereka masih sepakat tidak menyebutkan nama Alex di depan orang asing. Lebih tepatnya, di depan orang yang tidak termasuk dalam Special Force Zetta Sonic. “Keduanya,” jawab Tiger sambil mengambil sepotong kentang.


“Kamu menantangnya satu lawan satu. Bukan langkah pintar.”


“Tidak persis seperti itu. Jangan tanya.”


Jayden mengangguk. Kalau Tiger sudah memutus obrolannya di sana, dia tidak akan berani melangkah lebih jauh. Jayden ikut mengambil potongan kentang.

__ADS_1


“Masih ada banyak untuk kita semua,” kata Tiger lagi. Dia melirik Emil yang masih terpaku ke layar. “Hei. Kamu mau burger ayam atau telur?”


Emil berpaling padanya. “Aku suka ikan.”


“Kalau begitu, tangkap!” Tiger menyambar satu burger berlapis kertas biru. Dia melemparkannya pada Emil dan pemuda itu menangkapnya dengan mudah. “Ada bagusnya juga aku beli setiap jenis burger di Trooper.”


Emil tersenyum. “Burger mereka lumayan. Tapi, chicken stick mereka aneh. Rasanya seperti karet. Dengan tepung. Dan bumbu tabur.”


Tiger mengangkat burgernya pada Emil seolah itu gelas bir. “Setidaknya kita sepakat akan satu hal. Chicken stick mereka lebih cocok disebut calamari stick.”


“Aku bahkan enggak tahu mereka jual chicken stick,” sahut Jayden. Tangannya merogoh kantong kertas, memilih antara burger ayam atau burger telur atau yang lain. “Apa mereka jual calamari ring?”


Emil angkat suara. “Tidak. Belum.” Dia meletakkan burgernya di atas meja tanpa berniat memakannya.


“Mungkin bukan sesuatu yang layak dicoba.” Tiger mengedikkan bahu, membuat gigitan besar di burgernya. “Kamu dapat sesuatu? Cetak biru dari robot pembunuh?”


“Aku masih memilah-milah datanya. Data teks, data keuangan, data penelitian, dan macam-macam. Ada banyak hal menarik. Setidaknya kita jadi tahu ada lebih dari satu pabrik seperti ini. Bukan hanya di kota ini saja, ada di benua lain juga. Cirinya sama. Pabrik bawah tanah di bawah pabrik normal lainnya.”


“Entahlah. Tapi, kalau aku jadi Filip, aku akan segera mengganti pabriknya ke tempat lain.” Jayden akhirnya mengambil burger telur. Dia mengambil dua kotak kentang, satu untuknya, satu untuk Emil. Digunakannya kesempatan itu untuk meregangkan badan sebelum berjalan ke tempat Emil. “Istirahat sebentar tidak akan menyakitkan.”


“Mereka membuat empat robot baru. Empat kemampuan berbeda. Empat senjata berbeda. Api, laser, listrik, angin. Pedang, cakram gerigi, tombak, pisau lempar.” Emil menunjukkan empat macam gambar di layar. Setiap gambar memuat gambar robot yang mirip dengan warna berbeda.


“Aku yakin Alex sudah menghancurkan yang api.”


“Masih ada tiga lagi. Tugas kalian masih banyak?”


“Kami? Aku yakin kamu akan memberikan banyak bantuan di sini.


Tiger ikut berdiri. Dia berjalan ke sisi Emil. Telunjuknya mengarah ke burger. Kamu mau makan itu atau enggak? Baunya menggodaku.” Ucapan Tiger membuat Emil menggerakkan tangannya untuk membuka bungkusan burger. Tiger berpaling pada Jayden. “Aku enggak suka ini. Apa dia bilang laser tadi?”


“Aku yakin itu bukan robot dengan senjata laser pertama. Daripada itu, aku lebih tertarik dengan robot yang punya kemampuan untuk memodifikasi angin. Dia bisa mengubah arah angin. Semacam itu, ‘kan? Itu sesuatu yang baru. Apalagi dengan pisau lempar--”


“dan senar,” lanjut Emil.

__ADS_1


“Senar?” Jayden mengulang ucapan Emil seolah salah dengar.


“Senar.” Emil memperbesar gambar si robot biru. Di sana terdapat beberapa contoh bilah pisau dengan garis panjang di belakangnya lengkap dengan keterangan. Memang ada tulisan senar di sana. “Robot ini akan merepotkan.”


“Kami terbuka dengan ide baru,” ujar Jayden. “Apa kamu sedang membuat sesuatu ada sedang ingin membuat sesuatu?”


“Kenapa kalian tidak membuat Zetta Sonic bisa terbang?”


“Masih dalam tahap pengembangan.”


“Kalau dia bisa terbang, seharusnya dia bisa keluar dari rangkaian senar itu dengan lebih mudah. Dia tidak akan terjebak di dalamnya. Kalau si robot cukup pintar membuat jebakan.”


“Pemikiran menarik. Kamu bisa membantuku mengembangkan roket dan sayapnya. Akan kubagikan rencana besarnya nanti.”


Emil mengangguk. “Tentu.” Sambil menikmati burger ikannya, jemarinya bergerak untuk melanjutkan sortir data. “Serahkan padaku. Selagi kamu mencari di mana robot-robot kosong itu. Atau, mungkin gadis-gadis.”


Jayden bertukar pandang dengan Tiger. “Robot kosong apa?”


“Robot kosong ini.” Emil menunjukkan deretan cangkang robot yang sudah dibongkar. Ada pula satu daftar nama-nama gadis dengan jumlah uang. Nominalnya tidak sedikit. Selain itu, ada pula resi pengiriman.”


Jayden terdiam sesaat. Setelah itu, dia bisa merasakan kengerian merayapi punggungnya. “Astaga. Ini kenapa Gavin ada di sana!”


“Apa maksudmu?” Tiger mengernyit.


Jayden menjelaskan. “Nama-nama wanita ini ada di daftar pencarian orang hilang. Salah satu nama yang ada di bawah, Silvy Eleanor, adalah pacar Gavin. Dia dan Silvy seharusnya sedang berlibur sekarang. Filip pasti merupakan dalang di balik lenyapnya wanita-wanita ini. Kemungkinan, dia menculik mereka dan mengirim mereka ke berbagai tempat. Ada banyak resi pengiriman ke luar negeri, ‘kan? Human trafficking”


“Untuk apa?”


“Banyak. Kemungkinan besar, dijadikan budak atau mendapatkan organ.”


“Bagaimana mereka bisa lolos dari pengawasan di pelabuhan dan yang lain?”


Kali ini, Emil membantu menjawab. “Mereka menggunakan cangkang robot. Gadis sungguhan. Penampilan robot.”

__ADS_1


__ADS_2