Zetta Sonic

Zetta Sonic
The Brake


__ADS_3

“Aku tidak menerima perintah darimu, bocah!” Tiger tersenyum simpul. Entah bagaimana, senyum itu menular pada Alex.


Hampir bersamaan, Emil masuk ke dalam ruangan. “Mobil sudah siap. Waktunya pulang.” Emil melangkah, berdiri di ujung peti kaca. Dia tak berani melangkah lebih jauh. Berdiam di situ, matanya sedikit menyipit pada Alex. “Kamu bisa jalan?”


Alex ingin sekali bercanda kalau dia bahkan masih bisa memukul orang dalam kondisi seperti itu. Namun, menyadari kalau Emil bahkan tak berani mendekat, dia memutuskan hanya mengangguk. “Tentu.”


Tiger mengantar Alex pulang, seperti biasa. Anak itu duduk di belakang, sementara Emil duduk di samping Tiger di jok depan. Nyaris tak ada percakapan sepanjang perjalanan sampai Alex menyadari mobil mereka melambat. Tiger membawa mobil mereka ke pengisian bahan bakar.


“Kupikir kalian punya stasiun bahan bakar sendiri,” ujar Alex.


“Memang,” jawab emil singkat.


Tiger menambahkan. “Kita diikuti.”


Alex sadar benar kalau Tiger hanya sekadar melewati stasiun bahan bakar tersebut. Setelahnya, mereka keluar lagi tanpa melakukan apa pun. Begitu keluar dari area tersebut, Tiger memacu mobil ICPA tersebut. Mesinnya meraung dan menimbulkan guncangan tak nyaman. Didorong rasa penasaran, Alex menoleh ke belakang. Ada dua mobil di belakang mereka. Keduanya merupakan jip terbuka. Setidaknya ada tiga orang di setiap mobil. Cahaya lampu jalan menunjukkan senjata laras panjang mereka.


Belum sempat bicara apa pun, Alex mendengar Tiger mengumpat. Mobil mereka berbelok tajam. Manuver ini membuat Alex terbentur pintu. Ada teriakan dan suara sesuatu yang pecah. Untungnya, itu berlangsung begitu cepat.


Berhasil memulihkan diri, Alex menyadari apa yang terjadi. Mobil lain telah bergabung dengan mereka. Mobil ini datang dari sisi kanan perempatan yang baru mereka lalui. Mobil itu jelas-jelas menerobos lampu merah untuk menggapai mereka. Itu tadi memaksa Tiger berbelok tajam.


“Siapa mereka?” Alex bertanya, separuh berteriak.


Pertanyaan bodoh. Tak ada jawaban. ICPA memiliki banyak musuh. Bukan hanya ICPA, Zetta Sonic juga pastinya punya daftar panjang. Banyak kriminal ingin mereka lenyap. Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa tahu?

__ADS_1


Di mata orang awam, mobil yang mereka kendarai saat itu hanyalah mobil SUV putih. Bukan sesuatu yang mencolok. Persenjataan dan tameng mereka tersembunyi dengan baik. Sistem itu hanya muncul bila dibutuhkan. Kalau diingat-ingat lagi, Alex pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Waktu itu, ada truk yang hampir melindas mereka. Itu pula saat pertamanya menggunakan Dragon Aura.


Kalau bicara soal Dragon Aura juga, Alex merasa gusar. Pandangannya terasa kabur. Bukan. Alex kemudian menyadari kalau pandangannya bukan kabur melainkan diganggu oleh butiran-butiran hijau seperti kunang-kunang. Mereka muncul dari setiap sudut pandangannya. Alex mengerjap berulang kali, mengusir mereka.


“Bisakah kita kabur dari mereka?” Alex bertanya sembari menyingkirkan segala kegelisahannya.


Emil tak menjawab, sibuk dengan tablet PC di tangannya. Ada panel-panel asing di sana, entah untuk melapor pada ICPA pusat atau memanggil Jason.


“Sepertinya kita tidak akan pulang cepat.” Tiger di belakang kemudi menginjak pedal gasnya dalam-dalam.


Mesin mobil meraung lebih kencang. Mereka baru saja menerobos lampu merah. Kejadian itu membuat mobil-mobil yang mereka potong mengerem mendadak. Suara klakson tak ramah disertai kepalan tangan para pengemudi tak membuat Tiger gentar. Dia memacu mobilnya di jalan raya yang berangsur sepi.


“Sial!” Tiger melirik ke spion.


“Belok kiri!” Emil mendadak berteriak. “Sekarang!”


Tiger menikung cepat di perempatan. Mobil itu memasuki jalanan menurun ke area pinggiran kota. Suasananya remang. Bangunan rumah berderet rapi di sisi kanan dan kiri. Tak ada keramaian di sana. Namun, itu tak begitu berbeda dengan jalan raya yang mereka lalui tadi.


“Kanan!” Emil berseru lagi.


Alex terkesiap. Belokan kanan yang diambil Tiger barusan bukanlah jalan sungguhan. Di depan mereka terbentang tangga lebar dan panjang. Alex pernah melalui medan terjal yang lebih buruk dari itu. Dia pernah ke perkebunan dengan jalanan tak rata. Dia tak menyangka akan menjalani hal yang sama seperti itu lagi. Di kota. Di malam hari. Di perjalanan menuju rumah.


Mobil mereka melompat tak karuan di tas tangga tersebut. Hentakannya bukan hanya membuat pusing tapi juga mual. Tiger menatap lurus ke depan sementara Emil memejamkan erat matanya. Alex sendiri memberanikan diri untuk melihat sambil berpegangan ke jok mobil. Pandangannya kabur tapi terlihat jelas sungai di ujung tangga tersebut.

__ADS_1


“Tiger!” Alex ikut berteriak.


“Tenang, bocah!”


Mobil mereka untuk kesekian kalinya berbelok dengan tajam. Tiger berhasil menyetir mobilnya ke trotoar lebar di samping sungai. Sayangnya, mobil di belakang mereka tidak demikian. Satu jip terbuka yang memaksa mengikuti meluncur bebas dan terjatuh ke dalam sungai. Suara kencang disertai deburan air tinggi tak terelakkan lagi.


Tiger tak menanti untuk memastikan bila para pengejar itu masih hidup. Dia kembali menancap gas. Emil kembali juga pada navigasinya. Alex sekali lagi berpaling ke belakang. Dia tak melihat ada orang yang keluar dari sungai. Dia juga tak melihat mobil-mobil lain lagi.


Mereka melewati jalan kecil yang lain. Tak lama setelahnya, mereka kembali ke jalan raya yang ramai. Emil memandu mereka kembali ke jalur sebelumnya.


“Menurutmu, kita kehilangan mereka?” tanya Alex lirih.


“Setelah kita masuk gang kecil, mereka berpencar. Satu mobil mengikuti kita. Dua lagi menunggu di pintu gang. Mereka menunggu di pintu yang salah.” Emil menjelaskan tanpa sedikit pun berpaling ke belakang.


Alex melongok ke depan. Dia bisa melihat gambar pada tablet PC di pangkuan Emil menunjukkan gambar dari berbagai kamera pengawas. Dia memantau dari udara, menyelamatkan mereka dari pertarungan yang tak perlu.


Tiger menyetir lebih cepat dari biasanya. Dia ingin segera menurunkan Alex di rumahnya. Meski begitu, dia tak ingin menyatakan kekhawatirannya. Mungkin Alex akan lebih aman bersama mereka di markas. Para pengejar itu bisa saja telah menunggu di rumah Alex. Mengingat kalau mereka bahkan bisa mengejar mobil ICPA, bukan mustahil mereka tahu identitas Alex sebenarnya.


Menyingkirkan segala pemikiran dari benaknya, Tiger tetap menyetir. Ada tim khusus yang akan mengawasi Alex. Tim itu pastinya orang-orang yang bisa dipercaya Nadira. Tiger mengerjap. Dia sadar akan beberapa hal ganjil. Bagaimana kalau orang-orang dalam jip tadi adalah tim khusus dari Nadira? Lagipula bagaimana Nadira menjabarkan identitas Alex semudah itu pada orang di luar Special Force? Dan, bagaimana bisa mereka dihadang mobil lain lagi?


Sebuah mobil sedan biru melintas cepat di arah berlawanan. Dengan cepat pula, mobil itu bermanuver untuk menghadang mereka.


Tiger sudah terlalu dekat. Dia pun terpaksa mengerem agar tak menabrak. Hentakan itu membuat para penumpangnya protes. Tiger menghiraukan mereka. “Ambil pistolmu, Emil. Dan kamu, Alex, jangan keluar dari mobil!”

__ADS_1


__ADS_2