Zetta Sonic

Zetta Sonic
Lock Down


__ADS_3

Merasa resah, Alex memutuskan untuk memeriksa.


Dirinya menyelinap keluar dari sekolah tetap dengan seragam tempurnya yang berupa gelang. Jantungnya berdegup kencang. Alex merasa jauh lebih gugup dibandingkan biasanya. Wajar saja, biasanya, dia bersama dengan Jayden atau setidaknya punya bantuan dari ICPA. Kali ini, dia merasa sendirian. Situasi itu mengingatkannya pada insiden hilangnya Jayden. Menepis semua pemikiran buruk, Alex pun menggelengkan kepala.


Gedung gym Wood Peak menjulang di depan. Ukurannya selalu terasa mengintimidasi. Alex seharusnya menyusuri jalan lebar, namun dirinya menyelinap di antara pepohonan agar tak terlihat dari para petugas. Bagi Alex, kamera pengawas jauh lebih mudah diakali daripada mata manusia.


Dirinya berhasil mencapai tepi gedung gym ketika kloter kiriman terakhir selesai. Petugas berpakaian kelabu itu masuk kembali ke mobil lalu menyetir menjauh. Tak seorang pun dari mereka bahkan repot-repot menutup kembali pintu gedung yang biasanya dikunci dan dibelenggu rantai serta gembok. Kalau berhubungan dengan Melodiza, bukan tidak mungkin kalau orang-orang tersebut berada di bawah pengaruh hipnosis.


Alex mengedarkan pandangan berkeliling. Setelah yakin kalau dirinya sendirian, dia pun masuk ke dalam gym. Seperti gym sekolah pada umumnya. Langit-langit tinggi, lantai dengan garis, ring basket beroda, juga lubang untuk memasang tiang dan net. Tidak ada orang di sana. Tak satu pun lampu menyala. Kondisinya sunyi sepi dan remang. Alex bahkan bisa mendengar decit sepatunya sendiri. Semua tampak normal kecuali deretan drum yang mengelilingi.


Jantungnya berdegup lebih kencang ketika melangkah. Tidak ada aroma aneh tercium dari mereka. Tidak ada pula bekas rembesan oli. Semua drum nampak baru. Mereka mengilat di bawah pantulan sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela.


Kadang Dragon Blood tahu apa yang harus dilakukan daripada Alex sendiri. Tiba-tiba saja pandangannya berkilat hijau. Alex mendapati telinganya berdengung hebat meski sesaat. Dia bahkan memejamkan matanya demi meredam. Setelah apa pun itu berlalu, Alex mendengar dengung yang sama namun lebih samar. Tangannya gemetaran ketika menyentuh salah satu drum. Meski kulitnya hanya menyentuh tepi luar drum yang dingin, tangannya seolah bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari dalam. Dia tahu apa yang ada di dalamnya.


Bom waktu.


Alex spontan mundur. Panik, dia bahkan sampai menabrak dinding gym di belakangnya. Dirinya bergeming. Punggungnya terasa dingin, bersentuhan langsung dengan dinding gym yang kokoh. Dia tahu harus melakukan sesuatu. Bukan keluar dari sana, melainkan membereskan masalah yang ada di sana.


Sekali lagi, Alex melirik Zet-Arm. Dia masih belum bisa menghubungi siapa pun. Alex mengambil ponsel, berharap bisa menelepon seseorang. Dia mencari nomor Jayden dan menekan tombol hijau. Setelah mendengar suara balasan operator kalau nomor tersebut tidak dapat dihubungi, Alex sadar aksi spontannya salah.

__ADS_1


Alex mencari nomor lain. Dia berusaha menghubungi Tiger, lalu Emil. Tak satu pun bisa tersambung. Alex bahkan mencoba menghubungi ayahnya namun semuanya gagal. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia seorang diri. Kalau mau menyelamatkan sekolah sekaligus teman-temannya, Alex harus membawa semuanya keluar.


Sayang sekali, Sonic lebih dilatih untuk menghabisi penjahat daripada menolong orang. Tampaknya, Damon lebih paham daripada dirinya. Seharusnya dia mengamankan orang-orang yang disayanginya dari masalah. Cepat atau lambat, para penjahat akan mengincar dirinya termasuk orang di sekitarnya.


Alex buru-buru menggelengkan kepala. Tidak ada waktu untuk mengasihani diri sendiri. Dalam kondisi seperti itu, mau tidak mau, dirinya harus bergerak meski sendirian. Alex menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan mata. Saat dirinya mulai lebih tenang dan pikirannya mulai menyusun strategi, Alex mendengar suara lain.


Suara truk besar. Alex bahkan tak perlu mengintip. Dia dikejutkan ketika sebuah kotak tertutup kain didorong masuk lewat pintu gym. Besar kotaknya sendiri memenuhi pintu gym dan tertutup kain hitam. Ada bagian-bagian kain yang sudah terkoyak di sana sini. Untuk menjaga kain tidak sepenuhnya luluh, kain itu dililit oleh tali besar.


Kotak tersebut didorong masuk oleh dua pasang tangan besi. Begitu kotaknya sudah masuk, kedua pasang tangan itu menarik diri. Alex mendengar pintu dikunci, diikuti derak rantai, lalu gembok. Di antara suara itu, Alex juga mendengar suara geram yang pernah dia dengar beberapa saat lalu.


Apa yang bisa lebih buruk dari terkunci di dalam gym bersama predator zaman pra sejarah dan gunungan bom? Seseorang jelas menginginkan dirinya tewas.


[Halo, Alexander Hill. Atau… Kamu lebih suka dipanggil Zetta Sonic?]


“Siapa itu?” Pertanyaan Alex terdengar seperti bentakan.


Suara di seberang telepon bukan milik manusia. Suaranya seperti suara dari mesin. Hasil rekayasa. Orang yang sudah merencanakan penculikan Jayden tidak akan rela menelepon Alex menggunakan suara aslinya.


[Bagaimana rasanya kehilangan orang dekatmu di depan matamu sendiri? Merasa tak berdaya? Merasa tak berguna?]

__ADS_1


Alex bisa merasakan tangan kanannya mencengkeram erat ponsel. Mengejutkan, suaranya yang keluar justru begitu tenang seperti air samudera dingin tak berdasar. “Kamu orang yang menculik Jayden. Di mana Jayden?”


[Dia tidak bersamaku saat ini. Tapi, kupastikan dia masih hidup.]


“Apa maumu?”


[Kamu lihat apa yang ada di sekelilingmu? Itu semua hadiah dariku. Ayo bermain, Alex. Aku yakin kamu sudah tahu apa yang ada di dalam kotak jeruji dan apa yang ada di dalam setiap drum. Kamu punya waktu dua puluh empat menit untuk menyelesaikan semuanya.]


“Dasar psikopat!”


[Kamu seharusnya bangga. Aku mau repot-repot merancangkan semuanya untukmu. Untuk apa? Hanya satu. Menyadarkanmu kalau kamu tidak pantas jadi seorang Zetta—]


“Dengar, pengecut! Aku sama sekali tidak peduli apa maumu! Tapi, lebih baik kamu bersiap! Akan kubuat kamu menyesal pernah berurusan denganku!”


Alex tak tahu dari mana semua keberaniannya yang tersembunyi di balik kemarahannya. Dia juga tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Mendapat telepon dari penculik Jayden atau dibilang tidak pantas jadi Zetta Sonic. Dia tak peduli lagi. Dia bahkan telah memutus komunikasinya dengan pengecut yang bicara di balik suara mesin tersebut. Diletakkan ponselnya di atas drum. Tak ada sedikit pun kecemasan di sana. Alex tahu jelas akan mengambil ponsel tersebut tanpa ledakan.


Pandangannya dihiasi kelebat hijau lagi. Darahnya terasa mendidih. Dia tidak takut lagi oleh suara geraman di dalam kotak itu atau suara klik meresahkan. Dirinya bergeming di tempat ketika suara besi terdengar. Kain hitam pun jatuh ke lantai, menunjukkan kotak jeruji besi tebal. Pintunya telah terbuka. Tyrannosaurus Rex buatan yang ada di dalamnya mulai menjulurkan badannya keluar sambil menggeram.


Alex memicing seiring seragam tempur menutupi setiap jengkal tubuhnya. Dia sadar ada kalanya menyerahkan dirinya pada Dragon Blood cukup berguna. Kali ini, dia akan membiarkan kekuatan itu mengambil alih.

__ADS_1


__ADS_2