Zetta Sonic

Zetta Sonic
Twenty Second


__ADS_3

Di saat yang sama, Jayden sedang melemparkan pandangannya ke luar jendela pula. Tampilannya monoton. Hanya pergerakan samar awan dengan latar belakang langit kelabu. Dia masih duduk di tempat yang sama dengan penjagaan berbeda. Dua penjaga yang duduk di sampingnya hilang entah ke mana untuk makan siang. Hanya ada dirinya dan Marcel. Selagi dirinya menyibukkan diri dengan pemandangan awan, Marcel sedang bermain dengan ponselnya.


Ah, seandainya dia bisa mendapatkan ponsel itu. Dia ingin sekali memberikan petunjuk keberadaannya. Jangankan ponsel pintar seperti itu, bahkan komputer kuno pun boleh.


Tidak seorang pun tahu tujuan Roban. Tidak ada yang menjamin kalau ini bisa jadi penerbangan terakhirnya juga. Semua ketidakpastian membuatnya resah. Jayden menyembunyikannya sedalam mungkin. Dia yakin tak membuat banyak perubahan ekspresi di wajahnya. Marcel juga masih terperangkap pada ponselnya.


Ah, coba saja dia bisa meminta Marcel menyerahkan ponselnya sebentar saja, pikir Jayden lagi. Jayden yakin bisa melakukan sesuatu. Mulai dari membuka jaringan ponsel tersebut, menyelinap keluar dari sistem keamanan mereka, memberi petunjuk pada si Killer Bee.


Marcel mendengus geli. “Jangan berpikir aneh-aneh. Kamu tidak mungkin bisa kabur dari kami.”


“Kenapa? Apa rencana besar Roban sampai memperkerjakan orang sebanyak itu?”


Marcel angkat bahu. “Sudah jelas. Menghancurkan ICPA.”


“Kamu pasti beruntung bisa mendapat semuanya sekaligus. Balas dendam dan upah besar. Aku cukup yakin dia memberimu gaji yang lebih besar. Mungkin, bahkan lebih besar lagi kalau sampai berhasil naik pangkat.”


Pembicaraan itu menarik perhatian Marcel. Laki-laki itu menurunkan ponselnya. “Tentu saja, upahnya jauh lebih besar daripada yang bisa diberikan ICPA. Bahkan aku yakin apa yang kudapat saat ini lebih tinggi darimu di Special Force.”


Jayden berpura-pura tertarik pula. “Serius? Kupikir kamu hanya asal bicara.”


Marcel malah tertawa. “Ayolah, kamu pikir berapa banyak mereka akan membayar kita. Aku saja sudah dapat dua kali lipat lebih banyak setiap bulannya. Miris, ya? Para kriminal lebih menghargai kemampuan kita daripada penegak keadilan. Bicara soal kriminal, kamu dulu salah satu dari mereka.”


Pikirannya mengelana ke masa lalu. Dia pernah melihat kondisi yang sama. Saat itu, dia masih berada di pihak berseberangan dengan ICPA. Dia menculik sekelompok orang. Para sandera dimuat dengan pesawat barang. Bila mereka berhasil mendapat tebusan, para sandera akan segera dibebaskan.


Dibebaskan dalam arti sedikit berbeda. Rekan-rekannya akan segera membuka pintu pesawat. Para sandera akan ditembak satu per satu lalu dilempar keluar dari pesawat. Jayden ingat jelas bagaimana jeritan mereka juga bagaimana seorang wanita memohon agar tidak dibunuh. Meski tak melihat kejadiannya secara langsung karena duduk menghadap komputer, Jayden bisa membayangkan apa yang terjadi dengan tepat di belakangnya.

__ADS_1


Jayden yang dulu tidak akan memedulikan keselamatan orang lain. Mereka cukup membayarnya mahal atau menodongnya dengan pistol agar dia mau melakukan sesuatu. Sayangnya, sejak melihat adiknya tewas, dia menilai hidup manusia lebih tinggi. Momen yang disusul dengan bergabungnya dia dengan ICPA.


Kenangan itu kembali untuk mengingatkannya kalau dia bisa bernasib sama. Kenangan itu pula memberinya ide bagus.


“Sebenarnya,” kata Jayden sambil memelankan suaranya, “aku dapat lebih banyak dari semua agen yang ada di ICPA.”


“Omong kosong! Tidak mungkin ICPA memberimu begitu banyak.”


“Memang bukan ICPA, tapi diriku sendiri.”


Marcel mengernyit. “Apa maksudmu?”


“Aku mencurinya dari mereka.” Jayden bicara tanpa suara. Dia membiarkan Marcel membaca gerak bibirnya. Ketika Marcel mulai ternganga, Jayden melanjutkan, kali ini dengan bersuara. “Mereka membuat kesalahan dengan membuka semua sistemnya padaku. Jadi, aku mengambil sedikit dari setiap pos anggaran dan menyamarkannya sebagai biaya administrasi. Aku juga hanya memakai ponsel. Sangat efektif. Tidak terdeteksi. Jenius sekali, bukan? Sejauh ini, tak seorang pun sadar.”


“Kamu pasti bercanda.”


Marcel langsung berdiri. “Tunjukkan padaku.”


“Apa?” Jayden pun terbelalak. “Tidak. Kalau aku menunjukkannya padamu, dia akan berpikir kamu lebih pintar dariku. Roban mungkin akan langsung menyuruhmu membunuhku.”


Marcel mengambil pistol, menodong pelipis Jayden, “Kalau kamu tidak mau—”


“Kamu serius?” sahut Jayden. “Dalam kondisi seperti ini, kamu tidak mungkin menggunakan nyawaku sebagai pertukaran.”


Marcel mendesah. Dia malah mengetukkan ujung pistol pada dagunya seolah sedang memikirkan cara lain. “Ah, aku tahu! Bagaimana kalau langsung saja memberikan uangnya ke rekeningku karena aku tidak percaya pada kemampuanmu.”

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak akan mencuri uang ICPA untukmu.”


“Baik, kalau begitu aku akan memberitahu Roban kalau kamu ternyata sama sekali tidak kompeten. Aku khawatir kalau dia akan segera menyuruhku melemparmu keluar dari pesawat ini lebih cepat.”


Jayden mendapatkan peringatan pertamanya. Seperti ketakutannya, Roban akan menembak lalu melemparnya keluar dari pesawat begitu mendapatkan apa yang dia inginkan. ICPA harus segera menemukannya.


“Baik, baik.” Jayden mengangkat kedua tangannya. “Aku akan mentransfer uangnya ke rekeningmu dengan satu syarat.”


“Sekarang apa lagi?”


“Kamu tidak boleh melihat bagaimana caraku melakukannya. Itu rahasia perusahaan. Lagipula aku hanya perlu waktu beberapa detik. Tiga puluh detik saja.” Jayden memperhatikan bagaimana reaksi Marcel berubah-ubah. Dia kelihatan ragu. Sangat ragu. Namun, saat Jayden hendak mengarang alasan kain, Marcel telah setuju.


“Baik. Dua puluh detik.”


“Aku perlu tiga puluh detik.”


“Tidak. Itu terlalu lama. Kamu bisa saja menipuku dan malah mengirim pesan ke rekan-rekanmu. Atau…” Marcel berhenti sejenak. Dia menengok ke berbagai sisi kabin dengan seksama. “Aku tidak bisa membiarkan rekan-rekanku tahu kalau aku mengambil keuntungan darimu. Jadi, lakukan dengan cepat!”


Marcel menyodorkan ponselnya. Begitu ponsel itu berpindah tangan pada Jayden, Marcel pun berpaling.


Sebuah kesalahan fatal. Jayden sesungguhnya bisa melakukan segala sesuatunya dalam waktu sepuluh detik. Ponsel Marcel tidak memiliki enkripsi rahasia seperti yang biasa dipakai ICPA. Ini membuat Jayden beraksi lebih cepat. Belasan detik telah berlalu dan Jayden telah mengirim sinyal darurat ke komputer Alex. Anak itu akan mendapat lokasi terbangnya saat ini berikut kecepatan dan ketinggiannya. Alex akan tahu apa yang dia lakukan.


Berikutnya, Jayden memberikan uang dalam jumlah besar ke rekening milik Marcel. Ada beberapa catatan penting di sini. Satu, Jayden tidak pernah melakukan segala sesuatu seperti yang dia katakan. Dua, itu bukan keuangan ICPA melainkan keuangan dari salah satu perusahaan di mana Mark Hill menjadi pemegang saham tertinggi. Kalau bukan ICPA Sinde menemukannya duluan, maka ICPA Regis mungkin akan melakukannya lebih dulu.


Pintu di sisi belakang terbuka. Marcel berpaling cepat. Napasnya memburu. Dia pun bersandar pada deretan kursi. Dua puluh detik belum benar-benar berlalu. Dia tahu harus memberikan Jayden sedikit tambahan waktu. “Makan siangnya enak?” tanyanya pada kedua rekan.

__ADS_1


“Menjijikan. Seperti biasa.” Jawaban itu datang disusul suara tawa rendah.


Jayden melempar ponsel ke kursi kosong di samping. Marcel menyahut ponsel dan kembali ke posisinya. Dia pun tersenyum lebar tetapi sama sekali tidak menyadari kalau Jayden sudah tersenyum lebih puas.


__ADS_2