Zetta Sonic

Zetta Sonic
S19 - (Spring) Not Ready


__ADS_3

Tak seorang pun dari suku Kloster benar-benar menemani Mark dan Dominic meninggalkan desa. Mereka memberikan perahu mesin tercepat mereka. Selain itu, Tesiana juga tidak main-main saat bilang kalau kondisi di malam hari sangat berbeda dengan kondisi siang hari. Malam itu bukan hanya gelap gulita tapi juga menyesatkan. Semua nampak sama. Pepohonan tak terlihat jelas, semua hanya terlihat sebagai bayang-bayang hitam dalam bentuk semrawut. Meski pencahayaan perahu mereka cukup terang, itu tak mampu menerpa kabut tipis yang menghantui. Belum lagi udara dingin dan ancaman dari hewan liar sungai. Tidak ada yang tahu suara perahu mereka mengusik dan menakuti para hewan atau sebaliknya.


Satu-satunya hal yang membuat Mark fokus mengemudi adalah keselamatan putranya. Dan, satu-satunya hal yang membuat Dominic tidak mengomel semenjak mereka meninggalkan desa secara mendadak juga adalah keselamatan Alex.


Mark sesekali menoleh ke belakang sekalipun tak bisa melihat Dominic dengan jelas. Pria itu separuh tertutup oleh kursi penumpang. Mark sendiri tahu jelas tidak bijak terus menerus menoleh ke belakang. Dia haru membagi perhatiannya pada radar dan pemandangan di depan.


Setiap menit berharga itu membuat Mark tegang. Apalagi ketika profesor mengumpat di belakangnya. Mark berjingkat. “Profesor, ada apa? Apa semua baik-baik saja?”


Ada jeda sejenak sebelum profesor menjawab. “Ya, ya. Aku hanya menjatuhkan tutup botolnya.”


Mark tidak suka mendengar itu. “Tutup botol apa?”


“Apa lagi?”


Mark lebih tak suka lagi mendengar jawaban profesor yang lebih terdengar sebagai pertanyaan. “Kamu mau melakukan penelitian? Di sini?” Mark tak tahu apa yang dia harapkan dari Dominic ketika bertanya demikian.


“Tidak,” jawab Dominic. “Aku sudah mendapat cukup data untuk melakukan percobaan. Di sini. Sekarang.”


“Apa yang kamu bicarakan?” Nada suara Mark meninggi, ada kebingungan juga kekesalan di dalamnya. Suaranya juga makin keras, separuh untuk mengatasi suara mesin perahu, separuh lagi merupakan luapan emosinya. “Aku enggak tahu kalau kamu termasuk ilmuwan gila di jajaran ICPA. Melakukan percobaan di atas kapal yang sedang bergerak?”


“Wow. Aku cukup gila untuk datang ke sini dan mencari mata air suku Kloster. Tapi, aku bukan ilmuwan gila. Aku dokter gila yang sedang berusaha menyelamatkan putramu.”


Mark tersentak, sadar akan maksud profesor. “Hei! Jangan gunakan Alex untuk kelinci percobaanmu!” Kali ini, Mark berteriak sambil menoleh ke belakang. Dia bisa melihat dalam keremangan lampu. Dominic sedang memegang alat suntik dan tube berisi cairan. Warnanya memantulkan cahaya biru kehijauan yang berkilau.


“Aku mencoba menyelamatkan Alex—”

__ADS_1


“Hentikan!”


“Tenang, ini akan bekerja. Aku yakin—”


“Jangan berani menyentuhnya atau kutembak!” Mark sungguh-sungguh. Dia telah mematikan mesin perahu. Satu tangannya telah memegang pistol yang mengarah tepat pada Dominic. “Aku serius! Jatuhkan itu!”


Profesor Dominic bergeming dengan tube dan suntik masih dalam genggaman. Ketegangan melanda dalam keheningan. Akhirnya, Dominic mendesah pelan. Dia memelankan suaranya. “Dengar, kondisi Alex kritis. Kita berdua tahu itu. Peralatan kita terbatas. Kita tidak tahu sejauh apa rumah sakit terdekat dan bagaimana fasilitas yang mereka punya. Tidak ada yang tahu sampai kapan Alex akan bertahan. Hingga pagi? Hingga besok? Atau, hanya satu jam ke depan? Siapa yang tahu? Aku hanya ingin membantu.”


“Kamu menjadikan Alex sebagai kelinci percobaan.”


“Pilihannya padamu, bukan aku. Kita bisa menunggu saja atau mencoba obat ini. Dua-duanya bukan pilihan mudah. Dua-duanya punya risiko. Tidak ada yang pasti. Hanya satu hal yang pasti.” Dominic melanjutkan, “Selagi kita berdebat, kondisi Alex terus menurun. Pertimbangkan baik-baik, Mark.”


Mark terdiam. Perlahan, tangannya bergerak turun. “Aku tidak mau seorang pun tewas malam ini. Bukan Alex, bukan kamu juga.” Bibirnya bergetar. Dilemparkannya pistol itu di atas kursi sebelum melangkah pada Dominic. “Aku juga tidak tahu pilihan mana yang terbaik. Aku hanya ingin Alex selamat.”


“Aku juga ingin Alex selamat.”


Dominic menangguk.


Mark mendekap putranya selagi cairan biru mengalir dari alat suntik memasuki tubuh putranya. Alex tak bereaksi. Mark menunggu cukup lama untuk memeluknya lebih erat. Saat pipi Alex menyentuh kulitnya, dia bisa merasakan kalau tubuh itu bukan hanya lembab tapi juga dingin. Ketakutan memenuhi benaknya lebih cepat daripada pengalaman ditodong pistol.


“Mark,” kata Dominic sambil menepuk pundaknya. “Dia haus.”


Mark menarik Alex menjauhi dirinya. Dia melihat bibir Alex bergerak, tadinya tertutup kini terbuka. Tak lama setelahnya, kelopak mata putranya bergetar. Pemandangan itu membuatnya tak mampu berkata-kata.


“Hei, bagaimana kalau kita bagi tugas saja?” tanya Dominic. “Kamu setir kapal ini secepatnya ke rumah sakit dan aku akan merawatnya?”

__ADS_1


“Itu ide yang sangat bagus.” Mark mengangguk cepat-cepat, menyadarkan dirinya akan secercah harapan kalau Alex memang akan baik-baik saja. Dia membaringkan Alex kembali ke posisinya di atas kursi kapal yang dialasi kain tebal. “Terima kasih, prof.”


“Dokter. Itu panggilan yang lebih nyaman buatku.” Dominic kemudian cepat-cepat meralat. “Tapi, Dominic, itu jauh lebih nyaman.”


Mark menyunggingkan senyum tipis lalu kembali melangkah ke kemudi kapal. Dia menyalakan mesin dan perahu mereka kembali melaju di atas sungai. Kondisi masih gelap namun Mark merasa lebih tenang. Dia sesekali melirik ke belakang, memastikan Alex baik-baik saja. Dominic telah membantu menyuapkan air sedikit demi sedikit pada Alex. Sementara itu, perjalanan mereka juga telah sampai. Mark mengetahuinya dari radar buatan ICPA. Mereka semakin dekat dengan peradaban modern.


“Hei, kupikir lebih baik kamu simpan ini.” Dominic memanggil dari samping. Pria itu telah duduk di kursi terdekat. Dia mengulurkan pistol Mark.


Mark mengangguk. “Terima kasih lagi, prof— maksudku, Dominic.”


“Katakan itu setelah kondisi Alex benar-benar sehat. Kupikir dia perlu beberapa malam menginap di rumah sakit. Untuk observasi.” Dominic menghela napas panjang.  Matanya mengawasi kegelapan yang ada di depan mereka. “Sebelum kita mendarat, kita harus sepakat dulu.”


“Soal apa?”


“Mata air.”


“Tidak ada yang boleh tahu kecuali pimpinan ICPA Regis, kamu, dan aku—”


“Tidak,” sahut Dominic. “Aku tahu mungkin pimpinan kita yang menyuruhmu mengambil air itu diam-diam. Itu perintah, aku paham. Aku juga paham kalau dunia mungkin belum siap untuk rahasianya.”


“Apa maksudmu?” Mark mengernyit.


“Ada kandungan yang sedikit berbeda. Dengan sedikit rekayasa, air itu bisa jadi obat ampuh atau racun mematikan. Aku ingin yang pertama, tapi kita tidak tahu siapa yang ingin pilihan kedua. Jadi, kupikir lebih baik ini jadi rahasia di antara kita. Katakan kalau kamu tidak punya kesempatan mengambilnya. Pimpinan tidak akan keberatan soal itu.”


“Apa? Tapi—”

__ADS_1


“Biarlah ini jadi rahasia di antara kamu dan aku. Percayalah padaku, Mark, seperti kamu percaya aku bisa menyelamatkan anakmu. Dunia tidak siap untuk ini.”


__ADS_2