
Malam itu agak berkabut. Kondisi di ibu kota sedikit lebih dingin dibandingkan malam-malam sebelumnya. Perkiraan cuaca sudah memprediksi kedatangan hujan tengah malam hari ini. Menuruti perkiraan cuaca, Jayden sudah mengenakan jumper putih di atas kemejanya. Dirinya meringkuk di dalam mobil sembari menanti kedatangan Alex.
Minggunya tak berjalan sebaik keinginannya. Kerjaannya terus menumpuk. Perbaikan ini dan itu, pengembangan drone, pelatihan untuk Zetta Sonic. Tidurnya terus berkurang. Matanya sekarang mirip mata panda. Bahkan di saat dia harus membantu Alex untuk latihan kali ini, pun konsentrasinya terpecah pada pengembangan drone.
Stealth mode pada seragam Zetta Sonic memberikannya ide untuk drone. Kalau dia bisa membuat drone tersebut kasat mata, alatnya akan jadi senjata mematikan. Seharusnya itu tidak sulit. Hanya sedikit penambahan alat. Masalahnya, penambahan tersebut bukan hanya akan mengubah bentuk tapi juga mengubah semua perhitungannya. Bobotnya akan mempengaruhi kecepatan geraknya.
“Hei!” Tiger membuka pintu mobil, membuatnya tersentak kaget. Dia membawa dua gelas kertas berisi minuman panas. “Mau kuberi saran? Berhentilah multi tasking. Training akan dimulai sebentar lagi dan kamu masih terpaku pada laptop.”
“Drone,” ralat Jayden sembari menerima minumannya dari Tiger. Sejak mereka jadi teman sekamar, Jayden merasakan pria besar itu sedikit melunak. Mengambilkan minuman dari tenda logistik memang bukan hal besar, tapi Tiger yang biasanya bahkan tak akan peduli kalau Jayden membeku di sana.
“Belum dapat nama?”
“Sebaliknya. Aku dapat banyak ide. Terlalu banyak sampai aku enggak bisa memutuskan mana yang lebih baik.” Jayden mendesah. Dia menyesap minuman tersebut, menyadari kalau isinya coklat hangat bukan kopi. “Nadira sedikit berbaik hati pada kita, eh? Seluruh fasilitas ini, persenjataan, sampai mendirikan tenda seperti itu.”
Tiger hanya mengedikkan bahu. Dibiarkannya pintu mobil tetap terbuka.
Area tersebut merupakan tanah luas dengan gedung separuh jadi. Pemiliknya mendapat masalah izin. Dirinya ditangkap dan asetnya disita. Nadira mengambil alih area ini beberapa tahun lalu tanpa punya tujuan konkret. Hari ini, dia menyadari keputusannya bukan sebuah kesalahan.
Lokasinya ada di pinggiran kota, jauh dari keramaian. Dengan sedikit tambahan palang perbaikan jalan dan larangan masuk, tempat itu sempurna untuk jadi tempat latihan Zetta Sonic. Alex tidak boleh menunjukkan dirinya. Begitu pula dengan lawannya. Mereka akan dapat masalah kalau sampai diketahui masyarakat luas apalagi wartawan.
Untuk itu, Nadira sudah menyiapkan banyak hal. Dia menyiapkan kontainer yang telah disulap sebagai kamar mandi, kontainer lain untuk ruang medis, kontainer berisi peralatan, juga satu tenda logistik berisi makanan dan minuman.
__ADS_1
Tidak akan ada banyak orang di sana. Profesor Otto, Dokter Vanessa, Jayden, Tiger, dan beberapa agen tambahan. Tak seorang pun agen tambahan boleh mengetahui jati diri Alex. Untuk itu, Alex diperintahkan telah mengenakan seragam lengkapnya sebagai Zetta Sonic sebelum berangkat ke lokasi.
Pelatihan Alex bahkan dimulai sebelum dia tiba di sana. Nadira bukan hanya memintanya datang dalam seragam, dia juga minta Alex tiba di sana tanpa ketahuan seorang pun di rumah juga tanpa bantuan ICPA. Pada dasarnya, Nadira ingin menguji seserius apa Alex pada hal ini.
Tentu saja, Alex menyanggupi perintah Nadira tanpa banyak protes. Dia punya sejuta cara untuk tiba di area tersebut. Dia bahkan tak perlu menyelinap keluar. Cukup dengan perintah tugas kelompok palsu, Alex bisa menginap di mana pun yang dia mau. Kali ini, dia bahkan keluar dengan membawa mobilnya sendiri.
Jayden menyambut kehadiran anak itu jauh dari area gedung tempat latihan. Dia sudah memantau datangnya sebuah mobil sedan hitam dari kejauhan. Gambar yang diambil drone miliknya sangat jelas. Bukan hanya plat nomornya yang terekam, wajah supirnya jg tampak jelas. Tidak ada yang akan menyetir dengan helm, kecuali dia punya alasan khusus.
Alex memarkir mobilnya di area luas tersebut. Tak ada pagar pembatas apalagi garis parkir. Dia bisa meletakkan mobilnya di manapun.
Jayden mengangkat alisnya ketika melihat Alex turun. “Kamu bisa ditilang. Aku cukup yakin kamu tidak punya surat izin mengemudi. Lagipula, bagaimana pengawasmu bisa mengizinkanmu membawa mobil?”
“Karena dia tidak tahu,” jawab Alex santai. “Hei, aku tetap majikan di rumah. Saat kuminta kunci mobil, enggak akan ada yang berani membantah.”
“Aku hanya melakukan yang diperintahkan Nadira.”
“Tetap saja, itu melanggar peraturan. Kami bisa kena masalah kalau kamu sampai ditilang. Nadira hanya minta kamu sampai di sini. Lain kali, pakai otakmu dan cari cara yang benar bukan cara yang gampang.”
Entah bagaimana, seolah tahu kalau Alex siap melawan Jayden balik, Tiger menengahi. “Cukup. Kalian bisa lanjutkan nanti. Kita sudah ditunggu. Ngomong-ngomong, Nadira bilang lain kali aku yang akan menjemputmu di rumah, Alex. Bersikaplah jadi anak baik. Dan, Jayden, mungkin kamu mau mulai menjelaskan bagaimana proses latihan.”
Jayden memutar bola matanya. “Ikuti aku!”
__ADS_1
Ketiganya berjalan ke arah tenda logistik. Bentuknya seperti tenda militer pada umunya. Besar dan kokoh, terbuat dari bahan kuat, lengkap dengan jendela. Di dalamnya ada meja, kursi, peti perlengkapan berisi makanan dan minuman, juga beberapa orang rekan ICPA berbalut seragam putih hijau.
“Perhatian, rekan-rekan sekalian, kupersembahkan Zetta Sonic pada kalian.” Jayden berdiri sambil menyilangkan tangan di belakang. Wajah orang-orang itu menunjukkan keheranan bercampur kagum. Mata mereka mengawasi Alex dalam seragam Zetta Sonic secara menyeluruh, mulai dari helm hingga sepatu. “KIta akan segera mulai latihannya. Silahkan kembali ke pos kalian masing-masing.”
Dua di antaranya menempati meja dengan komputer besar menghadap ke arah gedung. Sisanya duduk di posisi berbeda, seperti misalnya dekat kotak obat dan tandu. Ada juga yang duduk dekat peti dengan lambang hazard.
“Apa yang ada di kotak itu? Apa wajar kalau aku sedikit merasa gugup?” bisik Alex.
“Hiraukan saja,” pinta Jayden. “Itu cuma rencana cadangan kalau latihanmu berubah jadi medan tempur, Sonic.” Jayden tak mau sampai keceplosan menyebut nama Alex ketika anak itu berada dalam seragam tempur Zetta Sonic.
Jayden melangkah ke meja lain dengan komputer sementara Alex mengikuti di belakangnya. Di sana, Jayden menunjukkan skema gedung terbengkalai. Setidaknya ada lebih dari dua puluh lantai dan seratusan ruangan. Listriknya belum terpasang dan ICPA tidak berniat memasangnya di sana.
“Latihan ini diperkirakan akan berlangsung selama satu jam. Bisa lebih cepat kalau kamu mengerjakannya lebih cepat,” kata Jayden. “Tujuanmu cukup mudah. Temukan target dan hancurkan. Hanya ada satu target, cukup besar, mudah dikenali. Kamu akan langsung tahu begitu menemuinya.”
“Target seperti apa?” Alex merasakan dahinya berkerut.
Tiger membuka koper, menyerahkan pistol laser di dalamnya pada Alex. “Laba-laba.”
Alex bergiliran melihat pistol yang sekarang ada di tangannya lalu ke arah skema gedung di layar komputer. “Seberapa besar?”
Jayden membuat senyum simpul, dia malah melirik Tiger di sampingnya.
__ADS_1
Seolah tertular, Tiger ikut menyeringai. “Kamu akan tahu saat melihatnya. Yang perlu kamu tahu, kami sudah memasang chip pelacak di sana. Jadi, kalau terjadi hal di luar rencana, kami punya dua pilihan. Menembak laba-laba itu atau sekalian meruntuhkan gedungnya.”