Zetta Sonic

Zetta Sonic
Fire Breather


__ADS_3

[Tuan penyembur api. Nama itu lebih bagus. Daripada Bompeii.]


“Apa?” Alex mengernyit ketika mendengar suara Emil kembali.


[Itu namanya. Nama alias. Tentu saja. Seperti Zetta Sonic.]


Alex memutar bola matanya. Itu memang bukan sesuatu yang mengejutkan. Nama alias bagi penegak hukum atau agen rahasia seperti dirinya ternyata juga berlaku bagi penjahat. Alex melirik Gavin yang menyetir dengan stabil. Mereka baru saja berpapasan dengan mobil-mobil polisi dari arah berlawanan. Di langit-langit, helikopter pembawa berita pun mulai menjauh. Nadira berhasil mengusir pihak selain ICPA dari sana.


Merasa dipandangi, Gavin langsung menyahut. “Tidak. Aku tidak punya nama samaran. Identitas rahasia, ya, bila diperlukan. Tapi, nama yang fancy seperti milikmu, tidak. Tidak perlu.”


Alex tergelitik. Dia tersenyum seraya mengangkat bahu. Dia belum mengutarakan isi pikirannya tetapi Gavin telah paham. Berikutnya, Alex menepuk lencana yang dia sematkan di sabuknya. Kepingan-kepingan hitam mungil menutupinya dalam hitungan detik. Seragam tempurnya telah diperbaiki seperti semula.


“Tidak ada senjata?” tanya Gavin.


“Beberapa senjata butuh izin khusus. Kamu pasti paham.” Alex menyipit walau Gavin tidak bisa melihatnya di balik helm.


“Jangan mulai. Kasusku beda.” Gavin mendengus.


Mobil biru itu meraung di jalan, melewati pos tanpa penjaga, berbelok tajam pada sudut yang terbentuk di antara tumpukan kontainer-kontainer besar. Hawa panasnya telah terasa sejak mereka masuk di dalam kompleks tersebut dan terasa lebih menusuk ketika mereka tiba di area terbuka tempat Bompeii berada. Sosok Bompeii hanya bisa terlihat samar-samar di antara api bercampur asap. Dia masih cukup jauh.


[Peringatan. Suhu tinggi di luar kendaraan.] Parana memecah keheningan selagi kedua penumpangnya terperangah melihat kobaran api besar. [Perlukah aku mencarikan rute baru menuju Safe House 72?]


“Tidak perlu.” Gavin menjawab lalu menoleh pada Alex. “Dengan api sebesar ini, aku enggak bisa mendekat lagi. Kita semua bisa leleh.”


“Tidak semua.” Dari Zet-Arm, Alex tahu kalau seragamnya masih mampu menahan panas tersebut. “Jadi, rencananya adalah membungkam penyembur api itu lalu kamu mengantarku pulang?”


“Mengantarmu ke tempat yang aman.” Gavin meralat. “Kamu punya waktu lima belas menit maksimal sebelum para Kloster kemari.”

__ADS_1


Alex menghela napas pendek tanpa menjawab apa pun. Dalam hatinya, dia berharap bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat. Kobaran api besar membuatnya tak nyaman. Ketika keluar dari mobil, dia mendapati mobil Tiger sudah berada di sebelah. Tiger menyodorkan pistol laser padanya.


“Seharusnya kamu istirahat setelah latihan panjang,” ujar Tiger.


“Anggap saja ini latihan tambahan.” Alex mengambil senjata tersebut dan menghambur dalam kobaran api.


Tiger melempar pandangannya pada mobil Gavin. Mobil itu bergeming di posisinya dan si supir tampaknya tak berniat turun. Jadi, Tiger memutuskan turun lalu mengetuk kaca mobilnya. “Kita perlu bicara.”


 


 


Alex berlari di tengah kobaran api. Rasanya seperti kalkun yang berlari di dalam oven kecuali dia bukan kalkun dan itu bukan oven. Seragam tempur memberitahunya kalau suhu semakin meningkat. Kulitnya juga bisa merasakannya. Begitu pula matanya. Ada rasa pedih samar-samar di sana.


“Halo, Zetta Sonic!” Bompeii menyapanya sebelum Alex sempat mencari. “Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu di sini.”


“Apa aku seterkenal itu?”


“Lebih dari yang kamu tahu. Terimalah salam perkenalan dariku.”


Suara Bompeii terdengar lembut dan tulus. Sayangnya, salam itu tidak. Dia mengarahkan senapan panjangnya pada Alex. Kobaran api besar keluar dari sana, membakar apa pun yang ada di depannya. Untungnya Alex telah siap. Kalau ada roket, dia akan mengudara. Namun, dengan suhu tinggi seperti itu, roketnya bisa leleh. Jadi, Alex hanya bisa berguling saja untuk menghindar.


Kobaran api itu tak lantas lenyap. Alex terpaksa berlari setelahnya. Setidaknya, dia lebih cepat. Kalau tidak, api itu akan menjilatnya. Selagi berlari, Alex menghitung. Dia tahu akan tiba waktunya saat senjata itu berhenti menyemburkan api. Ketika saatnya tiba, Alex langsung berbalik. Dia menodongkan menodongkan pistolnya pada lawan, membidik ransel besar lawan.


“Aku tidak akan melakukannya kalau jadi kamu.” Bompeii bicara dengan tenang diakhiri dengan tawa kecil. “Ada banyak ramuan kimia dalam ransel ini yang bisa meledakkan kita semua dan rekan-rekanmu di sana. Itu tembakan bunuh diri, agen.”


Ucapan lawan membuat Alex bergeming. Dia berbisik di helmnya. “Emil, identifikasi. Dia bohong atau tidak.”

__ADS_1


[Tidak tahu.]


“Apa?”


[Ransel itu punya lapisan karbon di dalamnya. Aku tidak bisa memeriksa apa isinya. Bisa jadi benar. Bisa jadi cuma gertakan. Kalau itu benar… Kita semua bisa jadi daging panggang sungguhan.]


“Saran?” Alex bertanya lagi.


Ada keheningan sebelum Emil menjawab. [Tangkap dia tanpa senjata?] Jawaban Emil lebih mirip pertanyaan daripada jawaban.


Alex berdecak kesal. Dia sadar telah membuang waktunya yang berharga. Bompeii kembali menyemburkan api dari senapan panjang. Ini memaksa Alex berlari lagi. Dia menemukan sebuah kontainer merah cokelat yang belum terbakar lalu memutuskan bersembunyi di baliknya. Bompeii mengikutinya. Kobaran api mendekati Alex seiring langkah Bompeii.


Tanpa bantuan dari Emil, Alex harus mencari jalan sendiri. Dia memaksa pikirannya bekerja berdasarkan pengamatannya. Bompeii tak bisa berlari, dia hanya bisa berjalan. Itu pun cukup lambat. Sepertinya ransel itu cukup berat. Senapan itu menyemburkan api dan harus dihindari. Seragam tempurnya sendiri telah memberi peringatan agar tak mendekat. Bagaimana caranya menghentikannya tanpa mendekat?


Alex bisa saja menembak selang yang menghubungkan pistol dan ransel itu. Masalahnya, tak ada jaminan keamanan. Kalau Bompeii serius soal omongannya tadi, menembak selang itu akan membuat ramuan kimianya berhamburan. Kebocoran itu bisa juga berakibat pada ledakan yang lain. Sambil tetap bertahan di posisinya dan merasakan hawa panas makin mendekat, Alex tersadar akan tulisan pada kontainer besar di seberangnya.


GR-72.


“Gavin River. Safe House 72?” ujar Alex pada dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang, Alex berlari lagi. Dia membuka paksa kunci kontainer lalu masuk. Alex disambut raungan alarm dan tumpahan cahaya lampu merah. Sepertinya perbuatannya tadi telah memicu sistem keamanan bekerja. “Ayolah, cuma segini?”


Di satu sisi, Alex mengeluh soal sistem keamanan yang sama sekali tidak aman baginya. Di sisi lain, sistem keamanan itu merupakan penanda kalau dia telah menemukan kontainer safe house Gavin. Kontainer itu jauh lebih sempit daripada bayangannya. Lorong polos, kamar mandi di sisi kiri lalu ruangan terbuka di bagian belakang lengkap dengan tempat tidur dan dapur sederhana.


“Sejak kapan kontainer hanya sependek ini?”


Alex berlari menyeberangi kontainer. Dia meraba sisi dinding pada ujung. Ada sesuatu di baliknya. Jemarinya berhasil menemukan celah mungil yang membuka panel rahasia. Separuh dari dinding ujung kontainer bergeser, menunjukkan ruangan lain penuh dengan senjata dan teknologi. Alex mengambil pistol tangan. Sepertinya itu lebih aman digunakan dalam kondisi seperti ini.


Dengan pistol tergenggam di tangan dan raungan kobaran api yang bisa di dengar, pertanyaan pun kembali muncul. Dia mungkin bisa menemukan senjata yang dibutuhkan tapi belum menemukan sasaran yang sesuai.

__ADS_1


Bagaimana dengan kepalanya?


__ADS_2