
Jayden tak memberikan alasan apa pun ketika mereka justru kembali ke mobil.
Alex pun langsung bertanya, “Jadi, ada toko yang lebih enak atau ada orang yang harus kita hindari? Musuh atau saingan?”
“Wow. Aku senang kamu cepat tanggap.” Jayden menggelengkan kepala, tak menyangka kalau Alex bisa menduga secepat itu. “Ada agen ICPA lain di situ. Bukan agen dari Sinde. Agen dari Regis.” Jayden berhenti di sana. Dia harus berhati-hati agar tak menyinggung soal Mark Hill yang merupakan pimpinan ICPA di Regis.
“Jadi, sekarang aku terjebak seumur hidup dengan kalian, eh?” ujarnya lirih.
“Lebih baik, biasakan dirimu Alex. Aku menantikan saat bisa memanggilmu Sonic.”
Alex tak melanjutkan pembicaraan mereka. Dia memilih mengikuti permainan orang-orang itu sampai dia bisa menemukan permainannya sendiri. Mereka pun kembali ke waduk, markas rahasia operasi Zetta Sonic.
Sesuai rencana, setelah sarapan, Jayden mengantar Alex pulang. Caitlin telah menyiapkan beberapa suvenir yang membuatnya seolah-olah telah mengikuti camp sungguhan lengkap dengan sebundel materi dan brosur. Rover dikirimkan lewat pintu belakang, pintu yang digunakan Tiger untuk menyusup. Alex punya tugas memperbaiki kelemahan ini. Dia tak mau ada yang menyusup ke rumahnya untuk mencuri atau menculik siapa pun.
Ketika turun di pagar depan, Preston sudah di sana. Dia membawakan tas Alex tanpa bertanya apa pun. Ini salah satu hal yang disukai Alex dari Preston. Pria tua itu bahkan tak bertanya siapa yang mengantarnya tau kenapa mobil itu tak mengantarnya sampai pintu depan. Alex menikmati waktu-waktunya untuk mengamati taman depan rumahnya sendiri. Dia tak pernah menyadari betapa indah taman tersebut. Selama ini, dia melewatinya dalam mobil bukan berjalan kaki.
Di ruang tamu, Mrs. Bellsey sudah menanti. Dia menjabarkan jadwal Alex yang baru. Akan ada beberapa pelajaran dan kursus tambahan demi mengejar ketertinggalan. Alex hanya diam, dia tahu jelas ICPA akan membantunya mengatur jadwal. Kalau tidak, Zetta Sonic tidak akan bisa muncul.
Preston baru bicara ketika mereka masuk ke dalam kamar. “Aku akan membawakan teh dan camilan. Kamu kelihatan lebih kurus, Alex. Ada yang kamu inginkan?”
Di rumahnya, Alex bisa minta apa pun yang dia mau. Tinggal sebutkan saja dan para pelayan akan membawakan apa pun yang dia minta. Makanan lokal, buah import, apa pun. Alex melemparkan tatapannya pada jendela yang masih tertutup rapat oleh tirai. Dia menggeleng pelan.
“Kamu baik-baik saja?” Preston bertanya lagi.
“Apa aku kelihatan sekurus itu?”
__ADS_1
Preston menggeleng dan memulas senyum tipis. “Kamu lebih diam dari biasanya.”
“Benarkah? Mungkin aku hanya sedikit lelah.”
Preston mengangguk lalu pamit keluar dari kamar. Alex menjatuhkan dirinya di atas kursi putar, menghadap ke komputer, membiarkan dirinya dalam tenggelam dalam kegelapan tanpa repot-repot menyalakan lampu atau membuka jendela.
Alex tahu telah terlelap. Dia terbangun dengan selimut di atas tubuhnya, Rover di samping kursi putarnya, juga camilan di meja bulat. Teko tehnya tertutup oleh penutup kain, menjaganya tetap hangat sementara camilannya masih di dalam penutup stainless. Sambil meregangkan badan, dirinya pun bangun.
Rasanya nyaman, berada di rumah sendiri.
Kemudian, dirinya dikejutkan oleh dering telepon. Dari Willy, teman sekelasnya. Dia memeriksa apa Alex baik-baik saja mengingat telah lenyap tanpa kabar selama satu minggu. Dia juga membahas soal tugas kelompok dan berakhir dengan membicarakan game baru dengan tanggal rilis besok.
Untuk sejenak, Alex merasa telah kembali ke kehidupan lamanya. Tentu saja, itu tidak benar. Dia mendesah, mengingat adanya gelang putih di tangan. Alex bahkan tidak tahu bagaimana melepasnya. Karena itu, akhirnya dia malah mengutak atik gelangnya hingga hari berganti.
Semua berjalan lancar. Terlalu lancar. Saat Alex menyadarinya, dia sadar penuh kalau itu saatnya semua berjalan tak terduga. Mulai dari penjemputnya sepulang sekolah sore hari itu. Tidak ada mobil Preston. Sebagai gantinya, sebuah mobil SUV putih telah menunggunya di gerbang sekolah.
“Kenapa aku enggak kaget kalau kamu muncul di sekolahku hari ini?” Alex langsung menempati posisi di samping Jayden. Tangannya memasang sabuk pengaman lalu segera disilangkan di depan dada. “Jadi?”
“Siap jalan-jalan?”
“Tergantung. Apa hari ini ada kucing besar lagi?”
__ADS_1
“Lebih baik. Kamu akan menghadiri pesta bersama para model hari ini. Mereka--”
“Kamu bercanda!?” sahut Alex. “Aku pernah datang ke pesta bersama ibuku. Kalau mereka sampai mengenali…” Alex berhenti mendadak.
Dia memang pernah datang bersama ibunya ke pesta yang dihadiri kalangan model, pembuat film, dan pekerja di bidang tersebut. Itu memang sudah cukup lama. Dua tahun lalu, kalau dia tidak salah ingat. Kemudian, dia teringat bagaimana ibu lebih sibuk ngobrol dengan teman-temannya. Akhirnya, waktu itu Alex menyalakan ponsel, melanjutkan pembelajarannya soal hacking. Hatinya serasa dipilin. Bukan kenangan menyenangkan.
Alex melanjutkan tapi mengganti topik. “Memangnya tidak aneh kalau tiba-tiba saja ada anak muda sepertiku muncul di sana? Aku bahkan masih pakai seragam.”
Jayden tertawa sambil memacu mobilnya ke jalan raya. “Kukira kamu enggak akan tanya soal itu. Professor Otto dan Caitlin sudah menyiapkan penyamaran untukmu. Mana yang lebih kamu suka, pelayan catering atau calon model remaja? Aku lebih suka kamu jadi calon model remaja. Wajah dan badanmu cocok.”
Alex mengernyit, tidak menganggap itu sebagai pujian.
“Sedikit make up dan wig lalu tak seorang pun akan mengenalimu.” Jayden senyum-senyum sendiri ketika mengucapkannya.
Merasakan kalau pembicaraan mereka bisa melebar pada ibunya yang seorang aktris ternama dan ayahnya yang dia kira terlibat dengan organisasi kriminal, Alex berusaha memotong pembicaraan mereka. “Lupakan soal model! Lebih baik aku jadi pelayan catering. Itu membuatku jauh lebih mudah berbaur. Memang, apa yang harus kulakukan di sana?”
“Ada seorang pengusaha kaya yang membeli formula gas beracun. Transaksinya akan dilakukan di pesta. Pukul delapan malam ini. Kamu perlu mencari model tampan, merampas kalungnya yang berisi chip data, dan menghancurkannya. Cukup sederhana.”
“Oliver Button?” Alex menebak nama si model dengan cepat.
Jayden tak suka setiap kali Alex bisa menebak dengan tepat. “Bagaimana kamu tahu?”
“Aku Killer Bee, ingat? Aku tahu kalau dia menerima banyak uang dari penjualan obat terlarang. Banyak rekan-rekannya yang juga terlibat. Hanya saja… Gas beracun? Di zaman ini? Kalian serius? Untuk apa?”
Jayden mengedikkan bahu. “Oh, itu belum ada apa-apanya. Ada lagi yang akan membuatmu terkejut. Mungkin ini malah yang terpenting. Alasan kenapa bukan polisi yang menangani kasus ini bukan karena gas beracun. Tapi, karena mereka punya robot pembunuh.”
__ADS_1