Zetta Sonic

Zetta Sonic
Catch


__ADS_3

Itu pertama kalinya bagi Alex melihat bom sungguhan di depannya. Sejauh ini, dia hanya melihatnya melalui gambar atau video di internet. Sekalipun tak pernah melihatnya secara langsung, dia tahu jelas itu bom. Angka pada badannya menunjukkan angka 00:00. Bom itu seharusnya sudah meledak atau memang rusak.


“Kamu lihat ini, Jayden?” Alex tak berani bergerak. Dia menjauhkan kedua tangannya dari kotak perkakas lalu bergeming di posisi.


Jayden menyalakan komunikasi sentral, membuat Tiger dan Caitlin bisa ikut mendengar kembali percakapan mereka. [Alex menemukan bom.]


Di luar dugaan, Caitlin menimpali dengan hal sama. [Aku juga. Di bawah meja makan, ada bom dengan timer yang mati. Angkanya berhenti di angka nol. Apa artinya ini?]


Tiger ikut bicara. [Aku beruntung hanya menemukan kotak kosong.]


Jayden mendesah panjang. [Kupikir bom itu hanya belum diaktifkan.]


“Seseorang meletakkan bom di sini bercampur dengan kotak kosong lalu mengirimkan semua titiknya sebagai sinyal SOS pada markas Zetta Sonic. Ini bukan tantangan atau jebakan, ini lebih seperti ujian. Seolah-olah ingin melihat apa kita bisa menemukan semua bomnya tepat waktu atau tidak.” Alex merasakan suaranya bergetar ketika bicara. Dia setuju dengan Jayden. Penunjuk waktu di bom akan segera bergerak.


Keempatnya kini diam. Mereka punya pikiran masing-masing.


[Itu menyeramkan.] Tiger memecahkan keheningan lebih dulu. [Kita harus segera menyuruh semua orang keluar dari sini.]


Alex menggeleng. “Menyuruh semua orang keluar dari sini akan membuat si pelaku panik. Bisa-bisa dia langsung meledakkan semua bomb di sini. Kita perlu tahu berapa jumlah titik SOS di sini. Jayden?”


[Sejauh ini, dua puluh delapan titik.]


“Sejauh ini?” ulang Alex.


[Aku sudah bilang, ‘kan. Titik-titiknya sempat bertambah saat ktia berada di pesawat. Saat ini, ada dua pulu delapan titik. Tidak lebih tidak kurang. Empat titik sudah diperiksa. Tiger dan drone milikku menemukan kotak kosong. Kamu dan Caitlin menemukan bom. Masih ada dua puluh empat titik. Lebih baik kita bergerak cepat kalau memang mau menemukan semuanya. Aku sudah membagikan titiknya pada kalian.]


[Aku akan langsung ke titik selanjutnya.] Tiger menyahut lalu terdengar suara derap langkah keras kakinya berlari di sepanjang lantai besi.


Caitlin menghela napas pendek. [Lalu, apa yang harus kulakukan dengan bom ini?]

__ADS_1


“Jinakkan!” sahut Alex.


[Kamu bercanda!?] Caitlin protes. [Memangnya kamu bisa?]


“Belum sempat belajar.” Alex menjawab jujur. “Jayden bisa membantu.”


Jayden mendengus geli. [Aku sempat berpikir kalau kamu benar-benar bisa menjinakkan bom, Alex. Tapi, baiklah. Beri aku satu menit. Akan kukirim panduan untuk menjinakkan bom.]


Dalam waktu satu menit, Jayden mengirimkan panduan akurat dari ICPA pusat mengenai bom. Alex mengikutinya dengan tepat. Begitu pula Caitlin. Sejauh ini tak ada ledakan dan jeritan Jayden. Intinya semuanya aman. Jayden minta mereka membuang bom tersebut ke tong sampah terdekat. Nanti, akan ada agen ICPA Sinde yang membereskan.


Alex tak terkejut. Bahkan dalam badan ICPA sendiri, mereka saling mengirimkan anggota mereka ke benua berbeda dengan berbagai alasan. Meski begitu, Alex sangat yakin kalau alasan utamanya jelas. Mereka saling mengawasi. Mungkin hal ini juga ada baiknya, sekalipun dia tidak yakin sebanyak apa kebaikan dibanding masalahnya.


Alex berpindah ke lantai berbeda melalui tangga darurat. Dia menemukan satu kotak kosong dan satu kotak lagi berisi bom. Dia menjinakkannya dengan lebih cepat. Pada dasarnya, dia memang hanya perlu melepas atau memotong kabel.


Kemudian, suara Jayden terdengar lagi. [Hei, ada satu titik tambahan!]


“Di mana?” sahut Alex cepat.


Selagi Jayden memeriksa melalui kamera pengawas, Alex berlari di tangga darurat menuju ke lantai tiga. Dia bukan ingin memeriksa titik terbaru. Dia ingin bertemu dengan siapa pun yang telah meletakkan titik tersebut. Titik itu pasti dinyalakan secara manual oleh seseorang. Bila dia cepat, dia bisa menemukannya.


[Dapat! Orang itu juga mengenakan seragam pabrik. Dia berlari ke … tangga darurat!]


Jayden belum benar-benar selesai bicara ketika Alex menyergap orang itu. Seperti kata Jayden, orang tersebut mengenakan seragam seperti mereka. Alex berusaha menjatuhkannya ke lantai tapi lawan sepertinya sudah siap. Dia mengayunkan belati tajam. Alex pun terpaksa mundur. Dalam kesempatan singkat itu, pegangannya lepas. Lawannya menggunakan selusur tangga, lompat turun ke tangga bawahnya.


[Sepertinya dia bisa parkour.]


“Aku bisa melakukan lebih baik darinya.”


[Tangkap dia, Alex!]

__ADS_1


“Zetta Sonic!”


[Izin diberikan.]


Alex menempelkan emblem segilima di bajunya. Dalam sekejap, seragam itu muncul lagi. Kepingan-kepingan hitam merembet ke badannya, membentuk pelindung sempurna. Kali ini Alex telah mengenakan sepatu bot sebelum masuk ke pabrik sementara sarung tangan dan headphone helmet sudah disimpan di kantong. Alex mengenakan kembali pakaiannya dalam hitungan detik.


Jayden telah membuka semua akses terhadap persenjataannya. Dia membawa sepasang pistol. Satu pistol standar peluru 9mm, satu lagi pistol laser. Alex sudah mendapat izin untuk menggunakannya di sini sekalipun dia sendiri tidak yakin akan menggunakannya.


Kalau lawan hanya bisa melompati satu demi satu lantai, Alex bisa lebih banyak. Dengan kekuatan Dragon Blood, Alex berhasil mencapai sisi tangga sebelum lawannya membuka pintu keluar. Pertarungan pun terhindari. Lawannya jelas bisa meninju dengan cepat. Kalau tidak dibantu Dragon Blood, Alex setidaknya sudah mendapat satu atau dua kali pukulan di wajahnya. Saat ini, skor mereka masih sama-sama kosong.


Sambil berpegangan di selusur tangga, lawannya mengayunkan tendangan dengan dua kaki. Topi earflap miliknya pun lepas. Wajah tirus di baliknya terlihat muda, mungkin seumuran Jayden. Alex menghentikan serangan tersebut hanya dengan satu tangan. Dia menangkap sebelah kaki lawan dan membantingnya ke tanah. Sebelum lawannya sempat bergerak, Alex menodongkan pistol pada lawannya.


“Kita bisa lakukan ini dengan cara gampang atau sulit. Siapa kamu?”


Lawannya mengangkat tangan perlahan. “James. Aku hanya orang suruhan,” jawabnya masih terengah-engah.


“Siapa yang menyuruhmu?”


“Aku tidak tahu. Sungguh. Aku hanya menjalankan tugas yang dikirim ke ponselku. Orang itu minta aku meletakkan kotak-kotak di tempat-tempat yang dia minta. Lalu, menyalakan tombol di samping kotak.”


[Selalu begini. Para bos menggunakan orang miskin untuk menjalankan aksi mereka. Semua instruksi dikirimkan lewat ponsel dan bayaran uang tunai. Memutus rantai pada dirinya. Kotak itu pasti dilengkapi tombol pengirim sinyal SOS.]


“Kamu tahu apa isi kotaknya?” bentak Alex.


“Aku enggak tahu. Mungkin bom.”


Jawaban orang itu membuat Alex makin kesal. James melakukan suruhan untuk menyebarkan bom di pabrik tanpa peduli risiko di baliknya. “Kamu tahu berapa orang yang akan jadi korban kalau sampai semua bom itu meledak sungguhan?” Alex berteriak. “Sekarang, katakan! Ada berapa bom totalnya?”


James mulai gemetar, bisa merasakan kemarahan Alex di balik helm. “Mungkin ... sepuluh. Bentuk kotaknya berbeda. Semuanya sudah ada di posisi. Sisanya kotak kecil lainnya ada di mobilku.”

__ADS_1


“Kamu akan membantuku menemukan semua bomnya!”


__ADS_2