
Jayden mengajarkan bagaimana mengaktifkan Stealth Mode. Alex menekan simbol bintang pada pusat seragam dan memutarnya sedikit. Derak pelan terdengar disusuli dengung. Alex menarik sunshade, memeriksa dirinya melalui cermin di baliknya. Seperti kata Jayden, dirinya tidak sepenuhnya hilang. Alex masih bisa mendapati siluet kabur di sekeliling tubuhnya. Sementara bagian tengah tubuhnya seakan tembus pandang.
Alex bedecak kagum. Jayden malah meninju bahunya.
“Ow! Untuk apa itu?” protes Alex.
“Memastikan kalau kamu masih beda padat.”
“Sangat lucu, J. Sampai nanti!” Sambil membawa drone, Alex kembali meninggalkan mobil mereka. Dia tidak peduli bila ada orang lain yang melihat pintu mobil terbuka dan tertutup sendiri. Sekarang tubuh sudah sulit dilihat orang awam.
Alex menuruti perintah Jayden untuk menghindari tempat ramai. Dia tidak mau sampai menabrak atau tertabrak. Dirinya berhenti sebentar di balik deretan container. Dia mengaktifkan drone dan menyuruhnya menyusuri dinding yang tidak terkena ledakan. Dengan begitu, Alex dapat mengawasi sekitarnya lebih baik dibantu kamera drone.
Para pekerja masih berkumpul di titik yang sama. Alex melihat bagaimana mereka mengawasi sekitar dengan was-was. Kecemasan terasa dari keributan mereka. Ayahnya ada di antara mereka. Alih-alih cemas, Alex melihat ketenangan dalam diri ayahnya. Dia sedang menelepon seseorang. Alex menduga kalau dia sedang menelepon bawahannya, anggota ICPA lain cabang Regis.
Alex tidak melihat itu semua secara langsung. Itu merupakan bantuan pengelihatan dari drone. Alex sendiri masih menyusuri tepi gedung agar menuju lokasi tersebut sembari mengulang tujuan utamanya berada di sana. Dia ingin memastikan kalau ayahnya baik-baik saja dan juga memastikan kalau semua memang sudah aman.
Mendapati kalau pemandangan dari atas jauh lebih baik, Alex pun naik ke atas container. Dibantu kekuatan Dragon Blood, dirinya melompati satu kontainer ke kontainer lain dengan mudah. Di ujung deretan, di atas kontainer hijau gelap, Alex bisa melihat ayahnya. Kondisinya masih sama seperti yang dilihat drone.
Ayahnya masih menggenggam telepon di telinganya sambil mengawasi jam tangan. Alex baru menyadari kalau ayahnya bukan sedang menelepon, dia tengah berusaha menelepon. Sepertinya sinyal mereka terganggu. Bahkan tanpa ledakan pun, tempat itu tergolong susah sinyal. Apalagi dengan ledakan barusan.
Senja telah tiba. Matahari mulai meninggalkan mereka. Kehangatannya mulai lenyap digantikan hawa dingin. Dalam kondisi remang seperti itu, cahaya lampu akan sangat membantu. Sayangnya, listrik mereka pun sepertinya telah padam.
Alex mendengar raungan samar dengan kelebat merah dari kejauhan. Dia mengenali mobil merah pemadam kebakaran diikuti ambulans dan juga mobil polisi. Pihak berwenang telah datang. Alex menoleh ke arah lain. Dari posisinya, dia masih sempat melihat mobil Jayden kabur dari jalur yang lain. Dari posisi itu pula, Alex melihat hal janggal lain. Dia melihat dua petugas berseragam kelabu berlari ke belakang gedung.
__ADS_1
Alex memerintah drone mengikuti keduanya. Benda mungil ini menyusuri dinding lalu berhenti persis di bawah kanopi pintu belakang gudang. Dari kameranya, Alex melihat bagaimana kedua orang itu melepas seragam mereka dengan buru-buru. Di dekat mereka, ada sebuah benda besar tertutup terpal. Dari siluetnya, Alex mengenali kalau itu mobil. Kedua orang ini terlibat dan mereka hendak kabur.
Jangan pikir mereka bisa kabur dengan adanya Zetta Sonic di sana.
Alex sekali lagi mengedarkan pandangannya ke ayah. Para penolong itu sudah tiba. Mobil pemadam kebakaran mendekati sumber api. Orang-orangnya turun dan menarik selang lalu mulai menyemprotkan air bertekanan tinggi. Polisi sedang bicara dengan para penanggung jawab pabrik. Tim medis menyebar ke berbagai sisi untuk memberi pertolongan.
Mark Hill tak lagi menggenggam teleponnya. Dia kelihatan menjawab dengan tenang ketika ada petugas medis yang menanyakan keadaannya. Ada seorang pria lain mengenakan seragam sopir juga mendekatinya. Orang itu sepertinya sopir ayahnya dan dia baru menemukan ayahnya dalam kekacauan seperti itu.
Ayahnya akan aman.
Sekarang, saatnya bagi Alex untuk memeriksa kedua orang lainnya.
Dia berlari di atas kontainer. Dengan satu hentakan kaki, Alex membuat lompatan jauh. Dia melesat cepat di antara sisi kontainer, menuju ke arah dua orang yang sedang menuju ke arah mobil mereka. Alex tiba tepat ketika bagian terpalnya dibuka. Alex mematikan Stealth Mode sambil bersandar ke pintu pengemudi.
Satu dari kedua orang itu terkejut. Satunya lagi tidak. Dia bereaksi begitu cepat. Alex tahu bagaimana pistol itu akan ditodongkan padanya. Tembakan tersebut mengenai pintu, membuat bekas lubang yang tidak cantik. Rekannya pun marah.
“Jangan tembak! Itu jalur kita untuk kabur!”
Alex tak repot-repot menanti perdebatan mereka. Sebelum si penembak memberikan pembelaan, Alex sudah memberikan pukulan telak, membuatnya berlutut ke tanah. Alex menyarangkan tinju pula untuk orang satunya. Tapi, dia lebih cepat. Dia berhasil mengelak dan justru melayangkan tinju balik. Alex menunduk. Begitu tinju tersebut lolos, dia mengangkat kepala. Helmnya membentur dagu lawan, membuatnya terhuyung ke belakang.
Alex menjatuhkannya dengan satu kali tendangan. Sambil menekan tangannya ke bahu orang tersebut, Alex berteriak. “Siapa yang menyuruhmu mengebom tempat ini!?”
“Ka-- Kami tidak tahu.” Jawaban itu datang dalam suara bergetar.
__ADS_1
Melihat rekannya tak berdaya, orang satunya pun bangun. Alex tahu kalau dia akan menembak, tangannya masih menggenggam pistol. Karena itu, Alex mencabut pistolnya sendiri, menodong dengan ancaman keras. “Aku enggak akan melakukannya kalau jadi kamu. Buang senjatamu. Diam di tempat! Sekarang!”
Orang itu bergeming. Pistolnya bahkan belum benar-benar terangkat dari tanah. Dia pun melepaskan pistol dan mengangkat kedua tangan.
“Kalian kenal James?” sambung Alex.
“Kami seharusnya bertemu di sini. Tapi, dia enggak muncul.”
Alex terperanjat menyadari kesalahannya. Tentu saja, James tidak sendirian. Dia seharusnya menyadari hal tersebut lebih awal. “Kalian bergerak berkelompok. Berapa orang? Siapa pemimpinnya?”
“Kami hanya bertiga. James, dia pemimpinnya. Dia mendapat pesan dan uang. Pengirimnya ingin kami menyebarkan kotak-kotak yang ditentukan. Dia juga mengirimkan senjata, seragam, mobil, perlengkapan lain.”
“Kalian sama sekali tidak tahu siapa dia?”
“Enggak! Kami sama sekali enggak tahu siapa dia!” Orang itu masih bergetar di bawah tangan Alex. “Semuanya datang di depan pintu kamar sewaan James. Kami bahkan enggak tahu siapa yang meletakkannya di sana.”
“Lebih baik kamu bicara jujur. Orang-orang di kantor tidak sesabar diriku.”
Rekannya ikut bicara. “Hei, kalau dipikir, kita sempat mendengar orang itu bicara sesuatu yang berhubungan dengan kerajaan. Baron--”
Ucapan itu berhenti di sana. Alex terbelalak. Lawan bicaranya bergeming seiring darah mengalir dari mulutnya. Alex tahu penyebabnya. Dia melihat sesuatu melintas melewatinya. Peluru. Peluru itu juga menghabisi orang yang sedang ditahannya. Alex tersentak. Dia buru-buru bangun. Berikutnya, peluru besar datang lagi. Kali ini, sasarannya adalah dirinya. Ada penembak jitu di suatu tempat.
Alex berhasil menghindari peluru pertama. Peluru kedua menyerempet lengan kirinya, dekat posisi yang pernah ditembak Caitlin sebelumnya. Tubuh Alex bergetar karena takut. Dengan kekuatan Dragon Blood, Alex berlari cepat. Secepat yang dia bisa. Tembakan berdesingan di belakangnya. Dia terus berlari tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Tahu-tahu Alex mendapati dirinya berada di puncak bukit.
__ADS_1
Puncak bukit salju berarti ada sisi menurun setelahnya. Alex tak sempat berhenti. Dia hanya tahu bagaimana dunianya berputar. Di antara dinginnya salju, pepohonan kering, rasa sakit, dan bau darah.