
Gavin sendiri tak percaya apa yang dia lihat. Gadis itu, kekasihnya sendiri, Silvy Eleanor. Gadis yang dia cari berada di tangan buronan juga dia cari. Filip Shah sejak awal berada di dalam kapal. Dia telah menanti kedatangan mereka bersama Silvy dan si robot pembunuh. Mereka benar-benar berjalan ke dalam jebakannya.
“Kita harus turun ke sana!” Jayden berdiri dari kursinya.
“Negatif! Filip bisa saja langsung menembak!” balas Tiger.
“Kalau tidak, Alex bisa terbunuh!”
“Apa menurutmu anak itu seperti bisa terbunuh dalam kondisi seperti ini?” Tiger melirik Jayden di belakangnya. “Lihat baik-baik, Jayden! Seperti katamu tadi, anak itu seperti kerasukan!”
Jayden tertegun melihat aksi Zetta Sonic. Lebih lagi ketika dia kembali melihat panel kontrolnya. Di sana, dia bisa mengamati dengan jelas bagaimana reaksi Alex ketika melakukannya juga bagaimana sorot mata Filip.
Alex mencengkram kepala si robot. Diremukannya mekanisme rumit berbentuk telur itu tanpa kesulitan. Dia membuatnya mudah seolah meremas keripik kentang saja. Filip yang berada tak jauh di depannya hanya bisa ternganga. Matanya tak berkedip sama sekali. Kemudian, reaksinya berubah. Wajahnya membentuk senyum masih dengan mata yang terbelalak. Baginya, sosok Zetta Sonic itu seperti robot pembunuh idamannya.
“Benar-benar luar biasa!” Filip masih bisa memuji.
Alex telah bangkit. Dia menyingkirkan si robot non aktif yang berada di atas badannya dengan sekali kibasan tangan. Perlahan, dirinya mulai berjalan. Dirinya menghiraukan luka yang ada pada dada kirinya. Langkahnya sama sekali tak terganggu oleh guncangan ombak pada kapal.
“Hei, katakan. Bagaimana kalau kamu bekerja padaku saja?” Filip melemparkan pertanyaan dengan santai.
__ADS_1
Alex mengenali pertanyaan tersebut. Dia pernah mendengar tawaran serupa dari kakak Filip Shah, Nikola. Saat ini sang kakak sudah meringkuk di penjara. Filip akan menyusulnya. Namun, benak Alex punya rencana lebih baik.
Ketika dia menjelajahi dunia hitam sebagai Killer Bee, Alex belajar banyak. Dia sangat paham kalau para bos kriminal, apalagi tingkat internasional, bisa tetap menjalankan bisnis mereka dari dalam penjara. Orang-orang sama sekali tidak menganggap penjara sebagai hukuman. Lebih seperti hotel kelas rendah.
“Hei! Aku bicara padamu!” Alis Filip bertautan. Jelas sekali tak suka karena tak mendapat jawaban. Filip terbiasa dengan jawaban cepat anak buah juga kepatuhan para robot. Zetta Sonic jangankan menjawab, dia malah terus maju. “Hei! Berhenti di sana! Kamu mau aku menembak gadis ini, hah!?”
Filip punya alasan untuk takut sekarang. Sosok di depannya bergerak cepat. Lebih cepat dari semua robot yang pernah dia miliki. Tahu-tahu saja, sosok Zetta Sonic sudah berada di depannya. Dia bahkan tak sempat mencerna apa yang terjadi. Pegangannya pada Silvy telah lepas, begitu pula pistolnya. Kakinya mulai terangkat dari lantai. Zetta Sonic tengah mencengkram lehernya.
Mata Filip terbelalak lebih lebar, rasa takut mengalahkan rasa sakitnya. Tangannya memegangi tangan lawan. “Le… Lepaskan… Aku… Ku… Kumohon.” Dia bahkan tak bisa bicara jelas. Zetta Sonic mencekiknya makin kuat.
Filip lebih ngeri lagi ketika menyadari kalau Zetta Sonic terbang perlahan. Sosok hitam tersebut mengangkatnya lebih tinggi. Bukan hanya itu, dia dibawa menjauh dari kapal ke atas permukaan laut. Ombak berderu tepat di bawah kakinya. Filip berteriak-teriak panik. Tangannya memengang erat tangan Zetta Sonic. Tidak tahu mana yang lebih menakutkan, tewas dicekik atau dijatuhkan ke dalam samudra.
Beberapa kru kapal mendekat. Mereka bersenjata, tapi tak seorang pun berani menembak. Mereka justru ikut terperangah. Dalam kondisi itu, tak bisa dibedakan siapa penjahat, siapa pahlawannya.
“Hentikan!” Suara teriakan terdengar dari atas kapal. “Jangan lakukan itu! Jangan! Kumohon!”
Penasaran, Alex berpaling. Dirinya dibuat terkejut lagi. Teriakan itu datang dari gadis yang baru saja jadi korban penculikan. Silvy Eleanor berteriak, memohon untuk Filip dari atas kapal. Matanya berurai air mata. Wajahnya memerah lagi. Alex tak tahu bagaimana bisa sosok itu membuatnya patuh. Dia pun terbang kembali ke atas kapal. Dijatuhkannya tubuh Filip dari ketinggian. Pengusaha tamak itu pingsan dan mungkin akan mengalami patah tulang, tapi dia tidak tewas.
Alex mendarat di atas kapal.
Di belakangnya, pesawat yang disetir Tiger terbang mendekat. Pintunya telah terbuka dan jembatan sudah terbentang. Silvy terjebak antara rasa lega dan takut, dia pun terduduk di lantai. Gavin berlari keluar, memeluk kekasihnya.
Para kru yang melihat itu melemparkan senjata ke tanah dan mengangkat tangan mereka. Di belakang pesawat itu, mereka melihat pesawat-pesawat lain milik ICPA disertai armada laut. Tak seorang pun berani melawan apalagi setelah melihat bos mereka nyaris dilempar ke lautan.
__ADS_1
Jayden juga hendak berlari keluar namun mengurungkan niatnya. Alex telah lebih dulu terbang ke dalam pesawat.
“Alex?” Panggilan dari Jayden terdengar seperti pertanyaan.
Alex mendarat di landasan dalam pesawat, di mana mobil dan motor mereka tengah terparkir. Anak itu mematikan seragam tempurnya di sana. Tak seorang kru pun bisa melihat dirinya di sana.
Jayden tertegun. Wajah Alex jauh berbeda dengan yang terakhir kali dia lihat di panelnya. Itu bukan sosok yang hendak mengirim Filip pada kematian. Dia melihat anak yang biasanya dia lihat.
Alex berpaling pada Jayden tanpa bicara apa pun. Wajahnya merah. Matanya juga basah oleh air mata. Hidungnya mengeluarkan darah. Ada jeda sebentar hingga Alex menggerakkan tangannya untuk mengusap. Melihat darahnya sendiri, Alex seolah tersadar. Kakinya mundur perlahan dan akhirnya badannya pun merosot. Jayden berlari. Dia sempat menahan kepala anak itu sebelum menabrak lantai.
“Alex! Alex!”
Alex mengerjap. Jayden di atasnya menatapnya ngeri.
“Apa yang terjadi padaku?” suara Alex begitu lirih bagai bisikan.
“Kamu melakukan tugasmu dengan sangat baik.” Jayden tak bohong soal itu. Dia meneliti luka di dada Alex. Dia tak bisa memastikan apakah luka itu fatal atau tidak. Ketika dirinya berada di depan panel, Jayden tak bisa menentukan mana informasi yang valid. Semuanya seperti tipuan. Mulai dari detak jantung hingga raut wajah. Semua seperti bukan Alex yang biasanya.
Alex tak bisa menahan air matanya lagi meski sudah sekuat tenaga bertahan agar tak terisak. Kegelisahan memenuhi benaknya. Jayden menangkap tangannya yang tanpa sadar telah terulur.
“Kamu akan baik-baik saja, Alex,” kata Jayden. Sebuah penghiburan datang dengan keyakinan. Dia melihat indikator pada Zet-Arm di tangan Alex. Energi Zetta Sonic telah terkuras habis. Itu satu-satunya hal yang mungkin bisa dia percayai saat ini. “Kamu aman sekarang.”
Kalimat itu sudah pernah Alex dengar. Meski dia sendiri tak tahu apakah itu benar atau tidak, Alex memejamkan mata. Menyerahkan dirinya, memilih percaya pada Jayden, bukan pada kegelapan.
__ADS_1