Zetta Sonic

Zetta Sonic
High Grade


__ADS_3

Seperti kata Tiger sebelumnya, wajah Nadira sudah terpampang pada layar besar di ruang komando. Wanita itu menggeram sambil memijit pelipisnya. Dia kesan dan pusing, tentu saja. Meski begitu, Nadira menyimpang kekesalan hatinya.


[Kamu baik-baik saja, Alex?] Nadira mencoba membuka percakapan dengan pertanyaan lembut.


“Masih utuh,” jawab Alex singkat.


Alex tak ingin membicarakan dirinya. Dia mengambil tempat pada satu sisi ujung meja. Jayden duduk persis di sebelahnya dan Caitlin duduk di ujung meja satunya. Mereka menunggu sebentar sampai semuanya hadir. Emil dan Tiger duduk di samping Jayden. Dokter Vanessa biasanya akan duduk di samping Caitlin untuk mendukung psikis gadis itu. Namun, dia tidak melakukannya kali ini. Dokter Vanessa justru memilih duduk di samping Alex meski itu membuatnya sedikit kesulitan melihat layar.


Dokter Vanessa melempar senyum pada Alex. Dia cukup lega ketika melihat Alex balas tersenyum tipis. Baru setelahnya dia memutar kursi agar bisa melihat ke layar besar.


[Baik. Kejadian tadi pagi adalah sesuatu yang tidak pernah kubayangkan akan terjadi. Aku membayangkan itu bisa terjadi di rumah Alex tapi tidak di sekolahnya. Kalian paham apa artinya? Pelakunya belum tentu mengincar Alex.]


Ucapan Nadira membuat Tiger langsung mendengus.


Nadira buru-buru menambahkan. [Tapi, melihat bom itu meledak ketika Alex berada di dalam patut diperhitungkan. Kalau pelakunya sekadar ingin menghancurkan Wood Peak, akan lebih efektif kalau dia melakukannya saat pelajaran berlangsung. Saat detik ini kita bicara, kasus ini juga sedang dibahas di berita luar negeri pula. Ini sangat menarik sekaligus mengerikan.


Dunia internasional tengah menyorot masalah ini. Polisi pasti akan dituntut untuk segera menangkap pelakunya. Aku yakin para petinggi juga akan mendesak ICPA bergerak cepat. Fergus sendiri akan minta bantuan kita. Sebab kalau kita lupakan ada Zetta Sonic di dalamnya, maka ini kasus bom biasa.


Tapi, pelaku macam apa yang mengebom sekolah seperti itu? Kalau tujuannya uang, lebih memungkinkan untuk melakukan penyanderaan. Bayangkan berapa uang yang akan dia dapat dengan menyandera satu sekolah. Kenapa harus bom? Untuk menghabisi Zetta Sonic? Itu tidak efektif, ‘kan? Ini membuatku pusing.] Nadira berdecak kesal.


“Bukankah itu sederhana?” ujar Alex. “Pelakunya tahu siapa Zetta Sonic. Dia meledakkan Wood Peak karena aku. Kenapa? Untuk membuatku menderita. Sederhana, bukan?”


Alex mengucapkannya dengan datar. Dia bahkan tidak menatap ke arah layar, hanya ke arah tangannya sendiri yang terkepal di atas meja.


[Itu cukup masuk akal.] Nadira pun tidak menyangkal. [Kamu harus berhati-hati, Alex. Kita tidak tahu siapa saja yang sudah mengetahui identitas Zetta Sonic. Jayden, program robot kita untuk mengawasi Alex.]


“Aku akan baik-baik saja,” sahut Alex.


[Kamu mungkin akan baik-baik saja, tapi orang rumahmu tidak. Jayden, lakukan perintahku.]


Jayden mengangguk dengan mata yang sedang mengutak atik layar tablet PC. “Sedang kulakukan.”

__ADS_1


[Emil, kontak Fergus. Pastikan kalian tetap berbagi informasi terbaru kasus ini. Aku ingin segera menemukan siapa pelakunya. Muka para penegak hukum sedang dipertaruhkan di sini. Kita seharusnya mencegah kejadian semacam ini. Siapa yang sudah memeriksa kamera pengawas Wook Peak? Jayden? Emil?]


“Emil. Aku ikut dengan Tiger ke lokasi untuk mengontrol si robot,” jawab Jayden. Dia menoleh pada rekannya. Dia bisa melihat Emil sendiri menatap kosong pada tablet PC miliknya sendiri. “Emil. Emil? Hei!”


Mendengar namanya disebut beberapa kali, Emil akhirnya merespon. “Hah? Apa? Kalian tanya sesuatu.”


“Kamera pengawas.”


“Oh. Kamera pengawas Wood Peak. Sistemnya lumpuh sejak semalam. Maksudku. Sistem itu terus memutar ulang. Gambar yang sama. Seperti macet. Dari semalam. Hingga pagi ini. Sampai sistemnya mati. Gara-gara bom tadi.”


“Ada petunjuk? Kamu bisa memeriksa siapa yang membajak sistemnya?”


“Belum. Sedang kuusahakan. Tapi, pelakunya di dekat sini. Di kota ini. Sumber pengacau sistemnya dekat.”


Akhirnya Caitlin pun menyahut. “Baron tidak di kota ini. Dia berjarak ribuan mil dari kita dan kalian masih mencurigainya?”


“Ya.” Emil memberikan jawaban yang membuat Caitlin mendengus kesal. “Mengambil alih sistem bisa dilakukan dari mana saja. Dari kota ini. Dari negara lain. Bahkan di pesawat. Cukup komputer. Jaringan yang kuat. Kelihaian. Dan, keberanian.”


“Kupikir bukan dia pelakunya.”


Ucapan Emil spontan membuat semua mata tertuju padanya.


Sebelum Jayden bereaksi, Emil sudah melanjutkan. “Seorang hacker. Mungkin anak buahnya. Mungkin juga bukan. Sistem Wood Peak sedikit berbeda.”


Emil menyentuh tablet PC dan muncul layar baru di samping layar Nadira. Layar itu menunjukkan sebuah company profile perusahaan keamanan dengan lambang bulat putih dan perisai.


“Basdontech. Sistem keamanan Wood Peak,” ujar Emil lagi.


Tiger bersiul mendengar nama itu. “Sangat cocok dengan imej sekolah mahal. Keamanan tingkat militer. Harga mahal. Kualitas tinggi. Mereka punya hacker tersendiri.”


“Cracker,” ralat Emil.

__ADS_1


“Mereka perusahaan keamanan, Emil, bukan biskuit,” sahut Tiger. Emil dan Jayden tak repot-repot menjelaskan. Tiger pun melanjutkan, “Setahuku mereka juga menyediakan jasa petugas keamanan. Latihannya setingkat militer pula. Aku tidak tahu bagaimana soal jaringan kamera pengawas mereka.”


Emil mengangguk. “Cukup sulit ditembus. Tapi, buat Jayden, itu mainan anak-anak.”


“Jadi, ada Jayden lain yang mengakali sistem keamanan selagi ada orang-orang yang menanam bom?” tebak Tiger.


“Atau,” lanjut Emil, “ada orang dalam yang terlibat.”


Emil menambahkan satu layar lagi di samping Nadira. Daftar nama petinggi perusahaan berikut nama pemegang saham. Semuanya menangkap maksud Emil. Ada nama Baron di sana.


Caitlin mendesah kesal. Tangannya menggebrak meja. “Aku tidak bisa membantu kalau kalian terus mencurigai Baron. Aku keluar dari sini.” Caitlin langsung berdiri dan melangkah pergi sampai Jayden memanggilnya.


“Hei, Cait!” panggil Jayden cepat. “Cuma mau mengingatkan, sistem keamanan di sini lebih baik dari milik Basdontech. Kuberi kamu empat pilihan tempat untuk merenung. Lorong, ruang makan, kamar mandi, atau kamarmu sendiri.”


Caitlin ucapan Jayden dengan menghambur keluar ruangan. Seandainya pintu ruang komando bukan pintu geser, Caitlin pasti sudah membantingnya.


Jayden kembali pada Nadira, “Sekarang, bagaimana kita bisa menangkap Baron?”


[Tidak bisa. Selama kita tidak bisa mendapatkan bukti konkret atau sesuatu yang menghubungkannya dengan kasus ini, kita tidak bisa menangkapnya.]


“Bisakah kita membuatnya tertangkap oleh kasus yang lain?” Tiger memberi ide. “Hal sepele. Misalnya, parkir sembarangan atau apa?”


Emil menggeleng. “Jayden pernah memeriksa catatannya.


Jayden menambahkan. “Dia tipe yang patuh pada peraturan. Atau lebih tepatnya, tipe orang yang mengerti hukum. Dia tidak akan terjebak melanggar hal sepele seperti itu.”


Alex tiba-tiba berdiri. “Aku sedikit lelah. Kupikir lebih baik aku istirahat juga di ruanganku.” Tanpa menunggu respon dari siapapun, Alex meninggalkan ruang komando. Nadira membiarkannya. Dia juga tidak minta siapa pun untuk mencegah kepergian Alex.


Setelah melihat Alex keluar dari ruangan, Jayden menghela napas panjang. “Dia sangat terpukul sepertinya. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?”


[Awasi Alex. Aku tidak suka ekspresi wajahnya.]

__ADS_1


__ADS_2