Zetta Sonic

Zetta Sonic
Run


__ADS_3

Pintu di bagian mulai kemasukan asap tipis transparan. Bukan karena kebakaran atau semacamnya. Alex mengenalinya. Itu asap dari roket. Roket dari si robot biru yang telah dia nanti-nantikan.


Alex tak membiarkan si robot masuk. Dia terbang lebih dulu ke arah pintu, menghampiri si robot. Begitu tiba di pintu, alex menyimpan sayapnya. Menggunakannya di lorong akan merusak sayap-sayap. Meski begitu, setidaknya dia masih bisa menggunakan roket pendorongnya.


“Sekarang, lari!” seru Alex pada para gadis.


Begitu pintunya terbuka, Alex menerjang robot. Dia mendorongnya menjauhi pintu, menyusuri lorong bahkan melewati Gavin.


Melihat itu, Gavin buru-buru berlari ke ruangan. Gavin terbelalak, mendapati ketiga gadis berlari keluar. Ketiganya jelas para gadis pilihan. Mereka bak model, dengan wajah menawan dan tubuh seksi. Tak ada Silvy di antara mereka.


Sementara itu, Alex akhirnya melepaskan robotnya di ruangan yang lebih terbuka. Ruang mesin. Tempat itu lebih luas. Mereka bisa bertarung lebih bebas bila mau. Tentu saja ini bukan keputusan bijak. Bertarung dalam ruangan seperti itu berisiko tinggi. Salah tembak dan kapal yang mereka tumpangi bisa kandas. Alex sebenarnya juga punya bom mungil seperti yang dia pakai di pabrik. Ledakan di sana akan memicu ledakan yang lain. Bukan langkah yang bijak pula.


Para kru yang ada di ruangan itu terlihat histeris. Seperti kru yang lain, mereka juga membawa senapan. Namun, tak satu pun berani melepaskan tembakan. Kecuali, si robot, tentu saja. Dia tidak bisa membedakan mana yang baik, mana yang tidak. Dia hanya tahu satu hal. Targetnya. Zetta Sonic harus dihabisi.


Alex baru melepaskan si robot. Dia sama sekali tak menyangka kalau robot itu akan menyerang secepat itu. Deretan peluru mungil sudah meluncur keluar dari jemarinya. Alex berguling menghindar. Namun, bukannya mendarat di tanah, Alex merasakan hempasan angin kuat. Angin itu mendorongnya hingga menabrak pipa besar mesin kapal.


Selagi berusaha memulihkan diri, Alex melihat si robot menghampirinya dalam kecepatan tinggi. Robot ini jelas tak bisa membedakan mana serangan yang bisa membunuh mereka semua. Dia tak ragu menyerang siapa pun yang menghalangi. Dia juga sama sekali tidak takut bila harus tewas bersama targetnya. Melawannya di sana bisa membuat semua orang benar-benar terbunuh.


[Alex, bawa dia ke atas!] pinta Jayden.


Menggunakan roket pendorongnya, Alex memelesat ke atas. Langit-langit ruang mesin itu cukup tinggi. Dia terbang langsung ke pintu lain yang berada ke atas. Pintu itu lebih dekat ke dek. Dia harus membawa si robot keluar dari sana secepatnya sebelum pertarungan mereka memakan korban di luar rencana.

__ADS_1


Di balik pintu itu, Alex masih harus berlari di lorong kelabu. Si robot terbang tanpa memedulikan kerusakan yang dia buat. Tembakan peluru kecil-kecilnya merusak dinding, lantai, langit-langit, bahkan melukai kru yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.


Ketika Alex melihat seorang pria di perempatan depan, Alex tahu orang itu akan jadi korban pula. Jadi sebelum ada peluru yang memelesat, Alex mendorong pria tersebut hingga terjembab ke belakang. Orang itu mengumpat keras-keras. Dia mengangkat senapannya, hendak membidik Alex. Namun, setelah melihat robot biru melintas di belakang Alex, dia malah melongo, menampakkan giginya yang sudah ompong di sana sini.


“Bawa aku ke atas!” pinta Alex. “Rute!”


[Belok kanan di depan!]


Layar di helm Alex mulai menunjukkan garis-garis petunjuk. Jayden memberikan navigasi padanya agar bisa segera keluar dari sana. Garis hijau panjang di depannya berbelok pada perempatan depan sesuai ucapan Jayden. Di ujung lorong itu, Alex menemukan tangga ke atas.


Belum sempat mencapainya, ada sebilah pisau tertancap di sana. Pisau sederhana serupa daun. Bermata runcing, bertubuh simetris, tanpa gagang, dengan lubang mungil di belakangnya. Ada senar transparan terikat padanya. Lalu, pisau tersebut mendapat teman dan teman lainnya lagi. Alex menoleh. Si robot biru telah datang.


Alex tak membiarkan si robot mengubah rutenya. Dia mengambil pedang. Tebasannya memutus senar yang membentang menghalangi. Alex bergegas naik. Tangga itu terasa lebih panjang dibanding tangga lainnya. Ujungnya gelap. Pintu sedang tertutup.


Di belakangnya, si robot berbuat lebih jauh. Sekalipun tubuhnya hanya sedikit lebih besar dari manusia biasa, dia membuat kerusakan jauh lebih besar dari yang diperlukan. Pisau-pisau berterbangan di sisi kiri dan kanan. Tubuhnya melesat dengan kekuatan roket membuat dinding-dinding terluka. Kedua tangannya yang berusaha menggapai Alex membuat kerusakan pada tangga itu sendiri.


Angin kencang menyambut Alex ketika anak itu tiba di atas. Ombak mengguncang kapal, Alex sedikit oleng. Kalau hal tersebut terjadi terus menerus, mungkin dia bisa mabuk laut. Sayangnya, tak ada waktu untuk itu. Lagipula, dia bisa menggunakan sayapnya sekarang.


Belum sempat mengeluarkan sayap dan menyalakan roket, Alex kembali dihujani tembakan. Para kru pesawat yang di atas sudah mendengar soal kedatangannya. Mereka bersiap melawannya.


“Jayden, pastikan Gavin keluar bersama orang-orang yang diculik! Jangan sampai aku melewati ini tanpa hasil apa-apa!”

__ADS_1


[Gavin sedang berlari dengan gadis-gadis itu ke arah titik kumpul. Emil yang memandunya. Dia akan mencarikan jalan paling sepi. Jangan khawatirkan soal itu. Lebih baik kita fokus pada si robot itu.]


Melihat robot biru muncul dari pintu, Alex pun menyalakan roket dan terbang ke angkasa. Alex tak perlu mengkhawatirkan ada peluru yang mengenainya. Hembusan angin kencang, guncangan kapal, dan kecepatan terbangnya tak bisa dicapai peluru.


Alex bukannya terbang tanpa arah. Dia mendarat di atas tumpukan peti kemas. Peti kemas yang berdekatan satu sama lain bisa jadi arena yang memungkinkan mereka bertarung tanpa gangguan. Dalam hal ini, maksudnya Alex tidak akan dihujani tembakan lagi. Orang-orang di bawahnya berteriak satu sama lain, mereka ragu haruskah menyusul ke atas sana atau tidak. Dia juga sempat melihat kalau kumpulan itu  membentuk kelompok kecil dan pergi dari sana.


“Jayden, apa Gavin sudah aman?”


[Dia sudah berada di titik temu. Sayangnya ada sedikit masalah. Ada sekelompok kru lagi menuju posisinya.]


“Lagi? Tunggu! Aku akan segera ke sana.”


[Jangan. Kalau kamu ke sana, robot itu akan mengikutimu. Situasinya bisa jadi lebih sulit. Sejauh ini, dia bisa mengatasinya. Kami juga sudah berada di posisi. Tiger akan keluar membantunya.]


“Yakin soal ini?”


[Gavin dan Tiger akan mengatasi ini. Dan, berdoalah supaya mereka enggak menembaki kami.]


“Mereka bisa melihat kalian? Pesawat itu tidak dalam stealth mode?”


[Tentu saja tidak. Kamu mau Gavin dan cewek-cewek itu melompat ke udara tanpa bisa melihat pesawatnya? Kalau meleset, mereka bisa langsung terjun ke dalam laut. Jadi, mau tidak mau, kami harus menampakkan diri.]

__ADS_1


“Poin menarik. Jadi, kamu yakin enggak perlu bantuan Zetta Sonic.”


[Sebaliknya. Kami justru sangat butuh bantuan Zetta Sonic. Hancurkan robot itu dan segera kembali ke sini!]


__ADS_2