Zetta Sonic

Zetta Sonic
Flame


__ADS_3

Hanya ada sedikit masalah di sana. Alex tidak pernah mempelajari pedang sungguhan. Dia pernah membaca juga melihat video bagaimana cara menggunakan pedang. Meski demikian, menggunakan pedang sungguhan dalam pertarungan sungguhan terasa sungguh berbeda. Alih-alih menyerang, dia tak lebih menggunakannya sebagai penahan agar tak terkena serangan.


Tentu saja, hal ini tidak efektif. Musuhnya punya sepasang pedang dengan pemrograman rumit mengenai cara melukai orang. Alex, sebaliknya, hanya punya satu pedang dengan pengetahuan dasar. Setidaknya, pedang itu berhasil membuat Alex bertahan ketika serangan menyilang datang lagi. Satu tangan memegangi gagang pedang, satu lagi menahan bilahnya. Pedang itu bertahan.


Dalam pertarungan adu kuat, mata Alex berkilau hijau. Dragon Blood memberikan dorongan kekuatan. Alex mendorong ke arah lawan. Mata si robot berkilau merah juga. Namun, dia jelas bukan saingan Alex dalam hal ini. Alex menghentakkan pedangnya. Formasi menyilang si robot buyar. Sebagai tambahan, Alex berhasil menyerang kepala robot itu.


Tidak efektif. Lain kali, dia harus menyerang leher. Itu lebih menjanjikan.


Alex mengoper pedangnya ke tangan kiri. Tangan kanannya melepas tembakan lagi. Kali ini, tembakannya memutus tangan kanan si robot. Namun, robot itu mengangkat tangan kirinya ke depan, melepaskan tembakan dari jemarinya. Alex menolak.


“Cukup!” Alex merangsek maju.


Si robot mengayunkan pedang ke atas. Alex menundukkan dirinya sambil membuat tebasan lain. Tebasan itu mengarah ke perut lawan. Saat itulah Alex tahu kenapa desain robot diganti. Lawannya memiliki sepasang kaki bukan roda. Ketika serangan itu seharusnya masuk, kaki si robot melayan. Panik, Alex malah terlambat menghindar. Dirinya terdorong hingga menabrak rangkaian mesin.


Lawan tak memberinya kesempatan bangun. Asap ke sekeliling Alex terbelah. Bukan berita bagus. Asap itu terbelah ketika pedang lawan datang lagi mengincar dirinya. Alex berguling. Seolah tak peduli kalau pedangnya telah menancap ke mesin, si robot menyeret pedang mengikuti Alex.


Alex telah tiba di ujung rangkaian mesin. Dirinya buru-buru bangun. Alex gantian memberikan serangan ke perut robot itu. Sepertinya para peneliti menyadari kalau bagian itu akan sering dijadikan sasaran. Bukannya memberi serangan, Alex malah merasakan kakinya kesakitan. Mungkin lain kali, dia akan menggunakan kekuatan Dragon Blood ketika melakukannya.


Alex memutuskan menyimpan kembali pedangnya ke posisinya.

__ADS_1


Kemudian, dia melompat ke atas rel. Si robot mengikutinya. Rel tersebut masih berjalan seperti biasa. Alex berlari melompati barang-barang yang sedang dalam perjalanan masuk ke mesin. Robot itu terus menyerang. Setiap serangan gagalnya menambahkan skor pada Alex. Pedang si robot berhasil memutus satu rel secara sempurna.


Kali ini, si agen melompat turun. Alex mulai menyebarkan bom yang sesungguhnya. Bom tersebut mungil, hanya sebesar kancing berkelip. Dia bisa menempelkannya pada beberapa bagian lalu meledakannya dari jarak jauh hanya dengan menekan satu tombol.


[Hei, berikan aku sedikit waktu.]


“Untuk apa?” Alex menengadah ke atas, mendapati Jason telah lenyap.


[Robot itu keluaran terbaru. Artinya ada banyak data di pabrik ini yang belum diketahui ICPA. Aku dan Jason sedang berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain untuk mencuri data mereka. Beri aku waktu, ehm, lima menit?]


“Lima menit. Dimengerti.”


Alex sempat berpikir kalau robot ini tak bisa mengeluarkan listrik seperti para robot versi lamanya. Pemikirannya antara benar dan salah. Dia tahu ketika robot itu berhenti bergerak, pasti ada sesuatu yang sedang disiapkan. Sesuatu yang berhubungan dengan naiknya indikator sensor panas dan dengung samar.


Layar pada helm menunjukkan sesuatu dalam perut si robot sedang berputar. Seiring bertambahnya perputaran tersebut, semakin tinggi pula indikator sensor panas yang dia deteksi. Kilau mata si robot mendadak padam. Sebagai gantinya, kepala bulatnya terbuka ke atas seperti topeng. Sebuah lubang besar menganga tersingkap di baliknya.


“Kamu pasti bercanda!”


Alex masih sempat mengeluh. Sebuah sambaran api besar meloncat keluar dari lubang tersebut. Apinya membuat kondisi asap semakin parah. Selain itu, panasnya bukan hanya membuat hangus tapi juga berhasil melelehkan beberapa bagian plastik. Alex cuma mampu terkesiap. Api itu menyambar bom kancingnya. Tidak sampai hitungan detik, si kancing berkelip cepat dan membuat ledakan besar.

__ADS_1


Dalam kondisi mata terpejam, Alex bisa merasakan badannya terhempas. Dia tidak tahu ke mana dia terhempas. Dia hanya tahu rasa sakit di punggungnya. Rasanya tidak sesakit jauh dari ketinggian gedung, tapi cukup mirip. Alex merintih. Telinganya berdengung.


Seragam tempur Zetta Sonic itu memang berhasil mengurangi guncangan dan efek yang bisa merusak tubuh manusia. Sayangnya, mengurangi tidak sama dengan menihilkan. Alex mulai merasakan sesak dari api sungguhan. Dia mungkin tidak berhadapan dengan robot penyembur listrik. Kalau boleh jujur, robot penyembur api bukanlah alternatif lebih baik.


[Alex, bangun!] Jayden berteriak di tengah peringatan serangan.


Alex harus mengakui kalau fitur itu sangat membantu apalagi dalam kondisi kacau seperti ini. Sistem pertahanan dalam seragam memberitahu dengan cepat kalau ada serangan datang lagi.


Si robot mengayunkan pedang tunggalnya. Kepalanya sudah tertutup sedia kala. Perutnya tak lagi memproses suhu tinggi. Sepertinya si robot butuh waktu untuk mengeluarkan serangan api semacam tadi.


Sambil menghindar, Alex menempelkan kancing lain di dinding. Dia pun berputar mengitari ruangan besar tersebut. Beberapa kancing ditempelkan di dinding, beberapa lagi di mesin, ada satu yang ditempel di kaca. Seharusnya sudah cukup. Sekarang, dia bisa berpindah ke lorong tempat robot itu pertama kali melihatnya. Sementara itu, robot di belakangnya masih memberikan serangan yang justru membantu Alex melakukan penghancuran.


Memeriksa kerusakan apa saja yang dibuat si robot, Alex berpaling ke belakang hanya untuk mendapati sensor panasnya kembali meningkat. Bahkan, robot tersebut tengah berlari selagi membuka lapisan kepalanya. Sialnya, Alex baru saja menempelkan sebuah bom kancing pada dinding lorong barusan.


Seperti dugaannya, sambaran api membuat bom kancingnya meledak. Ledakannya cukup besar. Alex terdorong ke depan. Dia jatuh berguling-guling dan baru berhenti setelah menabrak dinding kaca tempat robot tadi sedang diciptakan. Alex mengerang sambil memegangi kepalanya.


“Ow! Dia harus … berhenti … melakukan itu.”


Alex memicingkan mata. Dia membiarkan sensornya membantu. Sensornya mendapatkan respon apa pun di kejauhan. Entah si robot belum terdeteksi atau si robot sudah lenyap setelah jadi korban ledakan akibat semburan apinya sendiri. Alex menanti sambil mengulurkan tangannya ke pistol laser. Kalau si robot masih bertahan, dia akan segera mendembaknya.

__ADS_1


Ada keheningan dalam kekacauan itu. Kobaran api serta asap menghitam menyembunyikan kejutan. Perlahan, matanya menangkap gerakan siluet di tengah kobaran api. Siluet tersebut tak memiliki bola mata merah menyala melainkan garis hijau. Sekalipun tak melihat sosok apa itu, Alex cukup yakin kalau garis hijau tersebut berasal dari pistol laser seperti miliknya.


__ADS_2