
Tidak sampai satu jam setelahnya, Alex sudah berpindah ke pesawat besar milik ICPA. Pesawat ini, menurut Jayden, satu tipe di atas pesawat ICPA pada umumnya. Ukurannya lebih kecil, hanya bisa memuat sepuluh orang. Tidak lebih dari itu. Radar lebih sensitif, persenjataan lebih lengkap, juga punya pelindung plasma.
Bentuknya berbeda dari pesawat komersial. Moncongnya lebih runcing, sayapnya tebal. Kursi di kabinnya terbagi jadi dua kelompok. Masing-masing terdiri dari empat kursi empuk, saling berhadapan, terpisahkan oleh meja pendek. Jayden duduk di tepi jendela, memangku laptop dalam diam. Alex duduk di seberangnya, juga diam.
Selain mereka, ada pula Caitlin. Dia duduk di kelompok kursi berbeda. Dia telah mengenakan pakaian serba hitam. Sepanjang jalan, dia melemparkan wajahnya ke luar jendela. Tiger ada di kokpit. Dia bertugas memastikan pesawat mereka mendarat di tempat tujuan. Sesungguhnya pesawat ini memiliki fitur pilot otomatis yang canggih. Tanpa pilot sekalipun, mereka bisa tiba di tempat tanpa kecelakaan. Lain halnya bila ada serangan. Serangan mengharuskan mereka menggunakan senjata secara manual. Akan sangat berbahaya bila senjata dikendalikan oleh kecerdasan buatan.
Di belakang kabin tempat mereka duduk, ada kabin luas di belakang. Di sana setidaknya tersedia empat kapsul untuk tidur. Jayden sudah menyuruh Alex beristirahat di sana. Tapi, anak itu terlalu tegang. Dia bahkan tak merasa lelah sekarang.
Perjalanan mereka akan memakan waktu empat jam dua puluh menit. Nantinya, pesawat mereka akan turun di bandara militer. Lokasinya cukup dekat dengan pabrik pengalengan. Dua puluh menit tambahan. Total empat jam empat puluh menit bila semua berjalan lancar. Sebuah penyiksaan bagi mereka berempat. Rasanya dua kali lipat lebih lama.
Setelah perjalanan satu setengah jam tanpa suara, Tiger memecahkan ketegangan. Dia meninggalkan kokpit dan menyerahkannya pada fitur autopilot. Dia mondar mandir di kabin duduk ini, dari pintu kokpit ke pantry di tengah hingga ke pintu menuju kapsul tidur. Tangannya memegang sebungkus keripik kentang. Suara berisiknya ketika makan memancing perhatian keempat orang lainnya.
Caitlin berusaha tidak terdistraksi sekalipun itu terlihat sangat sulit. Dia berulang kali berpaling pada Tiger tanpa sadar. Tiger sendiri tak repot-repot berpindah tempat.
“Ada apa di bawah?” Alex akhirnya ikut bersuara. Dia tahu ada pintu lain menuju bagian bawah pesawat. Pintu ini ada di ujung sementara pintu menuju kapsul tidur ada di tengah. Awalnya, dia mengira itu pintu kamar mandi sampai menyadari kalau pintu kamar mandi ada di sisi lainnya. “Garasi dan gudang senjata?”
Tiger mencibir. “Kucing kecil dan rasa penasarannya.”
“Hanya penasaran. Setidaknya, tebakanku benar ‘kan?”
“Kalau begitu, tidak usah tanya.” Tiger melangkah menjauh.
__ADS_1
Alex melempar tatapannya pada Jayden. Pemuda itu fokus pada laptop, tak repot-repot bicara padanya lagi setelah mereka membahas rencana di markas. Caitlin sendiri juga masih menghadap ke luar, berusaha mengamati awan-awan di langit cerah. Tiger bersandar di pantry, menghabiskan keripik yang tinggal sedikit.
Jemari Alex menyusuri Zet-Arm. Dua minggu lalu, dia masih bocah yang berusaha menerka seperti apa ayahnya. Hari ini, dia bukan bocah yang bisa dikenalinya cari cermin. Dia memang masih mengenakan kaus dan jaket seperti yang sering dia pakai saat bermain bersama teman-temannya. Tapi, jauh dalam dirinya telah ada banyak perubahan.
Alex beranjak ke seberang Tiger. Laki-laki itu memicingkan mata padanya. Kalau dipikir-pikir, ukuran mereka berbeda jauh. Tiger hampir dua kali lipat darinya. Alex mengambil dua soda kaleng dari kulkas. Dia menyodorkan satu pada Tiger tepat setelah laki-laki itu selesai dengan camilannya.
“Terima kasih sudah membawaku turun,” kata Alex lirih.
Tiger tak lantas menerima kaleng tersebut. “Aku hanya melakukan pekerjaanku.”
Alex menggeleng. “Tugasmu hanya memastikan Zetta Sonic tetap aman. Kamu bisa melemparku dari atas sana tanpa takut aku akan tewas. Aku … Zetta Sonic, ‘kan?”
“Aku tahu. Ide itu jelas ada di pikiranmu.”
Tiger berhenti sejenak, menikmati tatapan Alex yang melembut padanya. Anak itu jelas sedang berusaha membuat pertemanan di sini. Tiger mengulurkan tangan. “Air mineral, nak. Aku enggak suka minum soda setelah sesuatu yang berbumbu.”
Alex mengembalikan kaleng soda, menukarnya dengan botol air mineral. Kali ini Tiger menerimanya. Sambil melempar senyum, dia kembali ke kokpit depan.
Alex tak berniat ngobrol dengan Caitlin. Ada beberapa alasan. Satu, dia perempuan. Dua, setelah mendengar cerita Jayden, Alex tak yakin kalau gadis itu memang layak dipercaya. Tiga, dia sedang membawa soda untuk Jayden. Kaleng soda itu bukan untuknya.
Jayden mengintip dari balik laptop ketika Alex menyodorkan soda di atas meja, lebih tepatnya sekaleng root beer. “Kenapa kamu mengambilkan root beer? Enggak semua orang suka itu. Masih banyak soda rasa lain.”
__ADS_1
“Rasanya memang seperti balsam, tapi aku suka. Aku sering minum itu sambil berselancar di dunia maya, kalau kamu tahu maksudku. Mrs. Bellsey selalu mengingatkan supaya sering minum. Komputer kadang membuatmu lupa waktu.”
“Setuju.” Jayden terkekeh. Tanpa banyak bicara, dia mengambil kaleng tersebut dan mulai menikmatinya. Kemudian, Jayden berpaling saat menyadari kalau Caitlin sedang melihat pada mereka. “Kamu juga mau?”
Caitlin membuang tatapannya. Dia malah mengambil earphone, menyetel lagu cukup keras hingga kedua orang itu bisa mendengarnya dalam kabin yang hening, dan kembali mengacuhkan mereka.
“Kupikir dia mau bicara denganmu,” bisik Alex.
“Aku enggak. Aku mau menyimpan energi untuk misi kita kali ini. Sinyal itu bisa berarti banyak hal. Permohonan bantuan sungguhan, surat tantangan, atau jebakan. Kupikir, kita semua setuju kalau yang terakhir paling memungkinkan.”
“Aku enggak bisa meninggalkan ayahku.”
“Kamu harus ingat apa syarat dari Nadira.”
Alex mengangguk. “Aku enggak boleh membuka identitasku di depan ayah. Jangan khawatir soal itu. Aku bahkan tidak yakin ayahku ingat kalau punya anak.” Itu terdengar menyakitkan, tapi Alex sudah terbiasa. Pemikiran itu berubah dari sengatan jadi fakta yang perlahan dia percaya.
“Ayo fokus pada sinyal itu, bukan ayahmu.” Jayden melirik jam pada dinding di atas pintu menuju kapsul tidur. “Mungkin kamu mau istirahat dulu. Masih ada banyak waktu sampai tiba di sana. Kamu butuh pikiran yang jernih.”
Alex tak berniat menurut. Kenyataannya, dia hanya butuh tidak sampai sepuluh menit untuk terlelap. Anak itu tertidur di kursinya. Jayden di seberangnya masih sibuk dengan laptop. Dia menemukan beberapa hal baru terkait pabrik pengalengan ikan yang akan mereka kunjungi. Semakin mereka mendekat, semakin kuat sinyal SOS tersebut dan makin banyak pula. Sesuatu yang sangat aneh. Mereka tersebar di beberapa titik. Termasuk di dalam air, di bawah pabrik.
Jayden melirik Caitlin. Gadis itu kini juga memejamkan mata, terlelap. Jayden mengembalikan tatapannya pada Alex. Dia mulai menerka-nerka. Kalau itu benar sebuah jebakan, mereka seperti rusa yang mendatangi kandang singa. Alex akan jadi kunci keselamatan mereka atau justru kehancuran.
__ADS_1