
Alex tidak percaya hukuman macam apa yang telah menantinya.
Mengingat kalau Nadira masih tak ingin anggota ICPA biasa mengetahui identitas Zetta Sonic yang ternyata sebagai siswa belasan tahun, hukuman itu pasti dilakukan di dalam markas Special Force sendiri. Alex sempat membayangkan beberapa jenis hukuman fisik. Sebut saja seperti push up, squat, maraton, atau semacamnya. Dia juga sempat menduga beberapa hukuman seperti pekerjaan sosial, semacam membersihkan toilet atau sejenisnya. Kemudian, dia mengingat kalau Nadira merupakan penggemar kekerasan. Dia pun membayangkan hukuman cambuk. Alex jelas tidak suka ide yang terakhir. Ah, tidak. Dia tidak suka ide yang mana pun.
Hukuman tetap hukuman.
Meski begitu, Alex tidak menyangka kalau hukuman tersebut adalah dikurung dalam ruangan dengan layar besar, meja besar, kursi besar. Ruangan itu serupa mini teather. Layar di depannya membentang sebesar dinding. Di seberangnya ada tiga deret kursi empuk seperti kursi bioskop. Setiap deret memuat empat kursi yang terpisahkan oleh jalan. Hanya meja besar itu yang salah posisi. Mejanya berada di baris paling depan, menutupi sepasang kursi.
Tiger duduk di deret sebelahnya. Satu kakinya diangkat melewati, sandaran lengan, menghalangi separuh jalan. Dia memangku sebungkus besar keripik kentang. Mulutnya mengunyah keripik itu dengan berisik. Suaranya tercampur dengan film laga yang tengah diputar.
“Jadi,” kata Alex, “aku dengar soal hukuman.”
“Kamu terlambat dua menit.”
“Aku mengerjakan pekerjaan rumahku dulu,” ujar Alex lagi.
“Kami tidak menerima alasan di militer, bocah!” Tiger bicara tanpa mengalihkan pandangannya pada layar. Aksi pertarungan baru saja berakhir dan peran utama tertembak di dada sementara kekasihnya dibawa kabur penjahat menggunakan helikopter. “Setiap detik harus dihitung!”
Alex memutar bola matanya. “Maaf.” Permintaan maaf terdengar tulus meski sesungguhnya tidak demikian.
“Aku tidak mengharapkan permintaan maaf.” Tangan Tiger merogoh keripik kentang. Saat tidak mendapatkan apa pun, Tiger mengintip bungkusannya. Dia pun meremas bungkusan tersebut. Tangannya yang lain meraih remote dan mematikan film. “Aku mau dengar kalau kamu berjanji akan melakukan yang terbaik.”
“Aku janji.” Itu mudah. Alex memang berniat melakukan yang terbaik.
“Saat aku minta sepuluh, beri aku sebelas!” Tiger melompat berdiri di kedua kaki. Kedua tangannya terlipat di belakang punggung. Dengan setelan seragam coklat, potongan nyaris gundul, bekas luka di dahi, Tiger terlihat seperti tentara sungguhan yang baru pulang berperang. “Kamu paham?”
Alex mengernyit. “Tidak.”
“Berikan aku lebih dari yang kuminta!”
“Oke.”
“Bagus. Sekarang push up empat puluh kali!”
__ADS_1
“Apa?” Alex spontan protes. Lalu, dia melihat bagaimana Tiger menyipit padanya. Dia pun menelan ludah. Dilemparkan tasnya ke kursi kosong. Alex melangkah ke depan layar di mana ada area cukup luas. “Empat puluh, ‘kan?”
Alex pun melakukan apa yang diminta Tiger. Itu terasa mudah. Benar-benar mudah. Sejak sering melakukan latihan tempur di training room, Alex memang merasa fisiknya lebih kuat. Badannya yang dulu ideal kini menunjukkan lekukan otot yang bahkan membuat Willy iri. Namun, Willy tidak akan iri dengan bekas luka Alex. Untungnya, dia belum melihat semuanya. Alex sendiri tak berniat menambah koleksi bekas luka.
Salah satunya yang belum hilang — dan sepertinya tidak akan hilang — berasal dari pertarungannya melawan robot pembunuh. Kenangan itu selalu membuatnya merasa tak enak. Kesal di satu sisi, takut di sisi lain. Sayangnya, takut bukan emosi yang seharusnya dirasakan seorang Zetta Sonic.
Tiger duduk di kursinya lagi selama Alex melakukan push up. Pria besar itu mengamati si bocah. Sama seperti Alex, dia juga sedang menghitung. Entah bagaimana, hitungannya sudah lebih dari empat puluh sekarang. Tiger tersenyum lebar. Alex berhenti tepat pada hitungan ke lima puluh.
Alih-alih berdiri, Alex membiarkan dirinya duduk di lantai berkarpet biru. “Selesai.”
“Kamu berani duduk di depan istrukturmu? Berdiri!”
Tanpa perlu membentak, suara Tiger termasuk kencang. Apalagi di dalam ruangan seperti itu. Bentakannya terasa menggelegar. Alex pun buru-buru berdiri tegak di depan Tiger. Dia berpikir kalau hukuman ala militer telah menunggunya.
“Bagus,” lanjut Tiger. “Sekarang duduk!”
Alex melirik sepasang kursi di baris Tiger. Sepasang kursi dengan meja besar. Saat itu, dia menyadari kalau satu kursi memang kosong, tapi kursi sebelahnya memuat setumpuk mal coklat. Dia pun duduk di bagian yang kosong.
Giliran Tiger berdiri. “Sekarang, saatnya hukuman.”
Tiger tergelak. “Jangan manja, bocah!” Tiger menyodorkan remote pada Alex juga sebuah tablet PC besar. “Nadira yang punya ide ini.”
“Jadi, aku enggak perlu memberikan lebih dari yang diminta?”
Tiger mendengus.
“Aku hanya bercanda,” sahut Alex cepat.
“Nadira ingin kamu menonton video rekaman para agen ICPA lain dan membaca laporan misi mereka.” Tiger menunjuk tumpukan map coklat. “Setelahnya, kamu harus menulis laporanmu sendiri mengenai apa saja yang kamu pelajari.”
“Berapa banyak ini?” Alex menoleh ke samping. Tangannya mengambil map paling atas. Isinya cukup tebal. Ada tumpukan kertas yang distaples jadi satu lengkap dengan foto-foto tua. Bagian tepi kertasnya sudah menguning. Aromanya mengingatkan Alex pada lemari tua yang ada di gudang rumah.
Tiger mencibir. “Dua lusin.”
__ADS_1
“Oke, seharusnya itu tidak lama.”
“Kamu tidak menghitung yang ada di dalam sini.” Telunjuk Tiger mengetuk layar besar tablet PC. “Apa yang ada di map itu hanya laporan pilihan dari agen terbaik. Emil membantuku menyortirnya. Tapi, yang ada di tablet PC ini, adalah laporan agen ICPA benua Sinde dalam menyelesaikan misi level A dan B.”
“Kamu punya level misi?”
“Jangan khawatir, tidak akan berlaku untukmu.”
Alex membuka mulut untuk bertanya soal level misi yang pernah dia kerjakan. Kemudian, dia berubah pikiran karena takut mendapatkan jawabannya. “Kamu… mau aku membaca semua laporan mereka?”
“Menonton video dan membaca laporan.” Tiger mengulangi perintah.
Alex memeriksa isi tablet PC dan langsung tengaga. “Semuanya?”
“Tentu saja tidak. Nadira minta sembilan.”
“Sembilan misi atau sembilan video?” Alex merasakan firasat yang sangat tidak enak merayapi punggungnya. Apalagi ketika Tiger memberikan senyum serupa seringai. Alex tahu kalau hukuman Nadira pasti bukan hal mudah.
“Sembilan. Ratus. Jam.”
Alex terhenyak di kursi sambil memegangi dahinya. “Sembilan ratus jam menonton video-video ini?”
Tiger tertawa terbahak-bahak. “Ayolah, itu tidak akan membosankan seperti bayanganmu. Lagipula, aku hanya bercanda.”
Alex tak lantas senang. Dia tahu Tiger tidak sedang berusaha menghiburnya. Dia bisa membaca kalau Tiger hanya ingin mengerjainya. Lagi. Tiger menggunakan kesempatan untuk memberi instruksi hukuman sebagai kesempatan menyiksanya.
“Sebenarnya, Nadira minta kamu menghabiskan seribu jam dalam ruangan ini. Tapi, karena aku berbaik hati, kupikir sembilan ratus jam. Paham maksudku, kan? Kamu hanya perlu menghabiskan waktu di ruang audio visual ini selama sembilan ratus jam, entah itu membaca laporan atau menonton video.”
“Terima kasih, tapi itu tidak terlalu membantu,” kata Alex jujur.
“Kamu lebih suka seribu jam?”
Alex memasang senyum palsu. “Kutarik ucapanku tadi. Itu membantu. Sangat membantu.”
__ADS_1
“Bagus, kalau begitu mulailah menonton. Kamu enggak akan tahu apa saja yang bisa kamu temukan. Jangan lupa mencatat apa saja yang kamu pelajari. Nadira menunggu laporanmu.”