
Alex tahu jelas ada perbedaan antara berani dan nekat. Dia sendiri paham kalau apa yang dia lakukan adalah sebuah tindakan nekat. Mungkin bahkan bisa digolongkan sebagai kebodohan. Pagi itu, Alex datang ke sekolah lebih awal untuk memeriksa guru barunya. Mungkin Melodiza tidak tahu di mana Jayden, tapi Alex mengira tak ada salahnya mencoba bertanya.
Malam sebelumnya, dia telah begadang untuk memeriksa data Melodiza yang tercatat dalam database ICPA. Dia menemukan kalau wanita itu akan cukup merepotkan. Selama ini ICPA sendiri kesusahan menangkapnya. Semua orang yang pernah bersinggungan dengannya tak punya ingatan apa pun soal dirinya. Tanpa bukti dan saksi, ICPA kesulitan menangkapnya apalagi polisi biasa. Di mata orang awam, Melodiza tak lebih dari artis memukau.
Kemampuan hipnosis Melodiza harus diwaspadai. Alex tak mau kedapatan mencuri data darinya. Karena itu, dia datang pagi-pagi sambil membawa seragam tempurnya. Dengan stealth mode, dia bisa menyelinap ke ruang guru.
Alex sempat tersenyum mengingat apa yang bisa jadi komentar teman-temannya kalau mereka tahu dia bisa menghilang seperti itu. Mereka pasti akan memintanya mencuri soal ujian, mengganti nilai, atau semacamnya. Sekarang, semua masalah sekolah jadi terasa sepele buat Alex.
Setiap guru di Wood Peak punya ruangan tersendiri. Semuanya memiliki dinding kaca dan pintu kaca pula. Semua kacanya bisa dibuat kabur secara otomatis. Cukup praktis. Kuncinya menggunakan sidik jari dan kode akses. Alex tak perlu waktu lama untuk bisa masuk ke dalam ruangan Melodiza.
Alex pernah masuk ke ruang guru lain sebelumnya. Seingat Alex, ruangan Melodiza tergolong lengang meski memiliki meja besar, kursi, dan deretan rak kayu pada satu sisi. Penyebabnya jelas. Wanita ini tak punya banyak barang pribadi di sana. Tidak ada piagam penghargaan, koleksi alat tulis, buku-buku, atau mug kesayangan. Mungkin dia belum sempat mengisi ruangan ini atau memang tidak berniat mengisinya sejak awal.
Tujuan pertama Alex adalah tas yang terletak di atas meja bukan laptop di sampingnya. Semua guru di Wood Peak diberikan fasilitas memadai seperti laptop. Seorang pembunuh bayaran seperti Melodiza tidak akan repot-repot memasukkan data apa pun ke sana. Itu akan membahayakan posisinya. Alex mengincar ponselnya.
Sama seperti guru lain, Melodiza sudah hadir setidaknya satu jam sebelum jam pelajaran dimulai. Itu memberikan Alex kesempatan cukup untuk memeriksa isi ponselnya. Dibantu sebuah alat mungil seperti kartu magnetik, Alex menempelkannya ke bagian belakang ponsel untuk menyalin data di dalamnya.
__ADS_1
Waktunya satu menit. Mepet tapi masih memungkinkan. Matanya bolak balik mengawasi indikator pada kartu bagian tengah dan jam dinding di atas pintu kaca. Deretan bar hijau itu masih terisi separuh sementara waktu terus berjalan. Alex mulai memikirkan beragam ide seandainya dia sungguhan ketahuan sedang berada di dalam sana.
Sesungguhnya Alex merasa cukup tenang. Dia telah mengamati kalau durasi stealth mode kini lebih panjang dibanding biasanya. Dia bisa melakukannya lebih dari dua menit, sekarang durasinya bisa lebih dari empat menit. Entah apa alasannya. Entah karena seragam sementaranya ini atau karena kekuatan Dragon Blood. Pertama, durasi stealth mode. Lalu, sinar laser dari tangan. Alex haru segera berkonsultasi.
Aksinya berlangsung lancar. Dia bisa meninggalkan ruangan setelah menyalin data. Melodiza bahkan belum kembali dari kamar kecil. Alex dari dulu merasa tak ada gunanya meretas kamera keamanan sekolah. Itu hanya salah satu bentuk latihan pertamanya sebagai Killer Bee. Sekarang, dia merasa senang sudah tahu bagaimana caranya.
Alex mematikan stealth mode lalu kembali ke kelasnya seolah-olah baru datang. Dia pun duduk di kursinya, lalu menempelkan kartu tersebut ke ponselnya sendiri. Menggunakan casing karet, Alex memastikan kartunya terpasang sempurna dan tertutupi dari penglihatan orang luar. Sambil bersandar di kursi, dirinya mulai memeriksa isi ponsel.
Seperti dugaannya, dia menemukan koleksi beragam gambar Zetta Sonic bahkan anggota Special Force. Dia juga berhasil mendapatkan daftar kontak dengan nama alias berbagai nama hewan. Total kontaknya tidak lebih dari lima puluh. Tampaknya Melodiza berusaha merahasiakan data-datanya. Sebenarnya ponsel itu sendiri diproteksi dengan kode sandi yang dengan mudah dipecahkan oleh Alex.
Alex mendapati adanya folder tersembunyi. Di sana, dia mulai mendapat data-data yang membuatnya terbelalak. Alex mendapatkan foto-fotonya sendiri di sana. Beberapa foto diambil di sekolahnya, beberapa lagi ketika sedang bersama teman-teman, beberapa di tempat umum. Bahkan, ada foto ketika dia menginap di rumah Willy.
“Hei!”
Alex hampir meloncat ketika Willy muncul dari pintu kelas dan melambai padanya.
__ADS_1
“Ha— Hai!” Alex memaksakan senyum. Sulit menyembunyikan keterkejutannya. Jantungnya berdegup kencang. Melodiza punya cukup alasan dan informasi untuk mendekatinya. Dia tak boleh membiarkan Willy terlibat seperti peringatan Damon.
“Tumben jam segini sudah datang.” Willy beranjak lalu menjatuhkan tasnya ke kursi.
“Ya, sekalian jalan.” Alex tak mau berbohong lebih jauh. “Hei, apa hari ini kita sungguhan akan main voli? Bukannya ini jadwal main tenis, ya?”
Willy pun mendesah. “Nah, itu dia. Aku juga kurang jelas, sih. Kudengar ada perbaikan di gym jadi kita enggak bisa pakai aktivitas dalam ruangan. Waktu ke sini, aku berpapasan dengan deretan mobil box. Mereka bawa banyak drum begitu.”
“Drum? Maksudmu, seperti drum minyak? Memang, apa sisinya?”
Willy mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin cat. Mereka memasukkannya ke gym.”
Alex mengangguk. Diam-diam, tangannya mengubah tampilan ponsel ke kamera pengaman yang ada di dalam gym. Dia bisa melihat apa yang diucapkan Willy benar adanya. Ada petugas-petugas berseragam kelabu memasukkan banyak drum ke dalam gym. Mereka dijajar di tepi gym. Itu membuatnya nampak aneh. Alih-alih menyusunnya pada satu sisi saja, drum tersebut dijajar mengelilingi gym.
Selagi Willy sibuk mengambil ponsel untuk bermain, Alex melanjutkan pengamatannya. Dia tahu kalau lokasi gym ada di sisi kiri gedung sekolah mereka. Ukurannya cukup besar, letaknya cukup strategis.
__ADS_1
Alex memutar lengan agar wajah Zet-Arm bisa terlihat dengan jelas. Mungkin ada beberapa fitur Zet-Arm yang bisa membantunya mengenali apa isi drum tersebut. Saat itulah, dia menyadari kalau alatnya tak bekerja dengan benar. Semua penampilannya memang sama, kecuali satu. Bar sinyalnya terlihat beda. Dia bisa mengakses semua menu kecuali menghubungi markas ICPA.
Kalau itu semua ulah Melodiza, ini pasti bukan hal baik bagi Alex.