Zetta Sonic

Zetta Sonic
Midnight


__ADS_3

Jayden tahu kalau kartu yang ditolak bukanlah masalah. Dia jago meretas sistem. Kartu akses itu tak lebih dari sekadar mainan bayi. Dengan menggunakan Flipad, dia bahkan bisa mengubah kartunya untuk mengakses kamar presidential suite di hotel bintang lima. Masalahnya bukan di kartunya, melainkan di teman-teman sekamarnya. Ini bukan pertama kalinya Jayden mengalami kartu akses ditolak karena orang-orang tak mau sekamar dengannya.


Malam sudah larut, badannya lelah, perutnya keroncongan, dan dia tidak bisa masuk kamar. Hari panjang dan melelahkan. Dia membiarkan dirinya duduk di lantai, bersandar ke dinding, ditemani travel bag, sebelum mulai mencari cara.


Dia ingat ketika mendaftar untuk tinggal di sana, dia tak mengenali satu pun nama calon teman sekamarnya. Kemudian, dia ingat kalau petugas registrasi memberikan seringai saat menyerahkan kunci. Sepertinya, itu peringatan kalau dia tidak diterima di sana.


Kalau diingat-ingat lagi, Jayden memang punya sederet nama orang yang tak suka padanya. Dia pernah berada di pihak berseberangan dan menyakiti anggota ICPA. Dia juga pernah bertemu agen yang kakaknya terbunuh oleh aksi Jayden. Dia juga pernah dihina terang-terangan saat terpilih bergabung dengan Zetta Sonic. Alasannya sederhana, selalu sama, dia pernah bekerja untuk orang jahat.


Jayden bertanya-tanya, sejak kapan dia jadi kuat bertahan seorang diri? Sepertinya dulu dia selalu mencari dukungan dari orang terdekat. Ini bukan berarti dia tidak suka saat-saat sendirian, dia hanya ingin dukungan. Jayden punya dugaan kuat. Mungkin sejak kehilangan adiknya, dia mulai terbiasa dengan kesendirian. Tapi, ada kalanya dia merindukan ada orang yang mendukungnya dari belakang.


Saat berpikir kalau tak ada hal yang lebih buruk dari ini, dia mendengar suara yang sangat familiar memanggilnya.


“Sedang apa kamu di sini?”


Jayden mengenali Tiger bahkan sebelum menoleh padanya. “Sepertinya aku yang harus tanya. Kenapa kamu masih ada di sini?”


“Aku bisa berada di mana pun yang kusuka.”


“Tepat.” Jayden malas berdebat.


“Ditolak?” Tiger menurunkan pandangannya ke kartu akses di tangan Jayden. “Kamu pernah mengatasi masalah ini sebelumnya, ‘kan. Retas saja sistemnya. Agen-agen baru itu pasti enggak tahu siapa yang mereka hadapi.”


“Justru itu.” Jayden kembali bangkit. “Aku malas membuat masalah.”


“Kamu enggak pulang?”


Pertanyaan Tiger terdengar janggal. “Rumah yang mana?”


“Dulu seingatku kamu punya apartemen di sini.”


“Aku menyewakannya sejak kita tinggal di waduk.”

__ADS_1


“Kalau begitu, apa rencanamu?” Tiger mulai beranjak.


Jayden berjalan sambil bergumam. “Mungkin, mencari makan malam dan cari hotel dekat sini. Lalu, besok pagi minta kamar baru setelah mengomel ke petugas asrama. Enggak mudah memulai semuanya dari awal.”


“Di mana teman-temanmu?”


“Tugas di cabang lain. Hidup ini tidak selamanya selalu sama.”


Tiger mengangguk. “Kalau kamu enggak keberatan dengan dengkuran, kamu bisa tidur bersamaku. Aku sendirian.”


Jayden tergelak. “Di rumah adikmu? Baik sekali. Tapi, tidak usah, terima kasih.”


“Siapa yang bilang kalau aku pulang ke rumah adikku?” Tiger bertanya balik, membuat Jayden menyadari kalau dirinya juga ikut menginap di asrama. “Aku sudah tidak lama kontak dengannya. Jadi, lebih baik aku tinggal di sini sampai perbaikannya selesai.”


“Sesuatu terjadi di antara kalian,” tebak Jayden. “Kamu enggak perlu cerita kalau enggak mau. Aku enggak mau merusak suasana hati teman sekamarku.”


Tiger membuat senyum simpul. Tawarannya disambar begitu saja. “Kalau begitu traktir aku burger di kedai Trooper. Aku kelaparan.”


“Mereka buka dua puluh empat jam sekarang?” Jayden sadar kalau sejak pindah ke waduk, dirinya jaran sekali keluar. Segala keperluan belanja biasa diserahkan pada Tiger. Dia hanya keluar untuk tugas khusus. “Tunggu. Bagaimana cara kita ke sana? Jangan bilang kalau kamu mencuri …” Jayden membiarkan kalimatnya menggantung.


“Kenapa kamu, bukan aku?”


“Nadira pasti takut kamu memasang sistem aneh di mobilnya.”


“Sangat lucu, Tiger. Aku tidak sekanak-kanak itu.”


“Ayolah, kami mengenalmu.”


Jayden sudah lama tak mendengar kalimat semacam itu. Dia mengikuti Tiger keluar ke lapangan parkir. Mobil mereka sepintas sama seperti mobil ICPA lain yang juga terparkir di sana. Tentu saja, bagian dalamnya berbeda. Tiger dan Nadira tahu jelas kalau ada kemungkinan Jayden akan memasang sistem baru untuk perangkat mereka.


“Baiklah. Tapi, jangan lupa sistem yang kalian bilang aneh biasanya jadi pengembangan dari sistem kuno ICPA. Termasuk, teknologi. Ambil contoh drone milikku. Mereka sedang membuatnya besar-besaran di laboratorium teknis ICPA. Sayang sekali mereka menolak rancangan pistol laserku. Harus diakui, milik mereka lebih seimbang.”

__ADS_1


Tiger menghampiri mobil SUV putih yang terparkir di ujung. “Baiklah, setidaknya kamu pernah membuat hal berguna. Aku pernah liat berkasnya. Kalau tidak salah, ICPA menyebutnya dengan nama proyek XTD-210, ya?”


“Apa!? Aku harus cepat-cepat memberinya nama!”


Tiger pun tertawa. Dia menyupir cepat seperti biasa. Kedai burger Trooper hanya kedai biasa di dekat taman. Mereka tak punya menu istimewa. Untuk bersaing dengan kedai siap saji yang senantiasa berkembang, kedai ini kini buka dua puluh empat jam. Di malam hari, papan nama dari neon milik kedai ini begitu mencolok. Neon aneka warna membingkai bentuk siluet burger dan segelas milkshake.


Tiger mengamati bagaimana Jayden memegangi perutnya sepanjang jalan. “Mau menyalahkan Henrietta atau menyalahkan dirimu sendiri?”


Jayden menyingkirkan tangannya cepat-cepat sambil melepas sabuk pengaman. Mereka sudah sampai. “Apa? Enggak. Aku hanya memikirkan mau makan apa.”


“Kamu harus belajar berbohong dari Alex. Anak itu profesional.”


“Itu bukan pujian. Itu kebiasaan buruk. Jangan memujinya!” Jayden mendengus geli. “Mungkin itu salah satu yang dia pelajari dari orang tuanya. Sesuatu yang kadang memang kita butuhkan dalam misi. Tapi, dia masih harus banyak belajar untuk jadi agen ICPA sungguhan.”


“Latihan fisik, latihan menembak, pengetahuan ini dan itu.”


“Lebih dari itu. Menguasai Dragon Blood.”


“Kamu punya rencana untuknya?” Tiger membuka pintu, melompat keluar.


Jayden menemuinya di depan mobil. “Ya. Dan, aku punya rencana untuk kita.”


“Ulangi lagi. Kita?” Tiger pun tergelak. “Kemampuan bela diriku di atas rata-rata. Kalau ada yang harus belajar, sepertinya itu kamu.”


Jayden melipat tangannya di depan dada, membuat senyum simpul yang membuat Tiger sadar kalau dia telah salah bicara. “Kemampuan di atas rata-rata tapi bisa ditidurkan oleh kapsul buatan anak lima belas tahun. Cukup masuk akal.”


Raut kekesalan nampak langsung di wajah Tiger. “Apa yang mau kamu bicarakan?”


“Ayo latihan.”


Tiger tertawa lagi. “Kamu masih punya banyak tugas yang belum kamu kerjakan dan kamu masih berpikir untuk latihan?”

__ADS_1


“Ajari aku bela diri. Sebagai gantinya, akan kuajari sedikit soal teknologi.”


Tiger langsung berhenti tertawa. “Apa yang membuatmu berpikir aku akan menuruti kemauanmu?”


__ADS_2