Zetta Sonic

Zetta Sonic
Slip Away


__ADS_3

‘Aku bangga padamu.’


Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga Alex. Ayahnya berada di saat dia membutuhkan, ayahnya memuji dia, bahkan ayahnya menelepon untuk menanyakan keadaannya. Hal yang selama ini Alex inginkan terjadi begitu mulus seolah dia tak perlu berjuang untuk mendapatkannya.


Alex mengetukkan jarinya di atas meja. Hatinya terasa aneh. Hal-hal baik terjadi padanya tetapi bukan pada dunia. Alex merasa sedang terbang dan bisa melihat dunia lebih baik dari sebelumnya. Dunia sedang kacau balau. Semua benua, negara, kota, bahkan di jalan-jalan. Kejahatan mengintai. Bentuknya beragam. Pencopet, perampok, bahkan monster. Dia tidak akan memercayai monster kalau tidak terlibat dengan ICPA.


Zetta Sonic memang dibutuhkan. Setiap benua memiliki cara mereka masing-masing. Nadira punya Zetta Sonic dan ayahnya punya triknya sendiri. Dengan terungkapnya identitas Roban alias Baron, penjahat internasional yang membuat resah Regis dan Sinde, Nadira dan Mark akan bersinggungan.


Tahu-tahu, Alex mengepalkan tangan.


Seharusnya dia menyadarinya. Seperti kata ayahnya yang dia dengar ketika kesadarannya menipis di Kloster. Dalam pekerjaan mereka, sulit menemukan kebetulan.


Baron selalu jadi pendukung utama Caitlin. Tidak mungkin laki-laki itu akan membiarkan tunangannya berhadapan dengan para penjahat. Baron mempermainkan semuanya. ICPA juga para penjahat lainnya. Dia mengacaukan misi Alex. Menyuruh robot dengan sengaja membuat ransel Bompeii meledak untuk membunuhnya. Itu sukses besar. Dalangnya, Baron, bukan hanya berhasil melenyapkan Bompeii tetapi juga dermaga kota beserta beberapa agen ICPA dan puluhan penduduk.


Kemudian, hal lain terlintas di benaknya. Soal pesan dengan penghancur otomatis yang dia temukan pertama kali menyusup ke sistem ayah.


Alex melirik Rover di bawah kakinya. Anjing itu meringkuk nyaman di bawahnya, tak paham ketegangan dari sang majikan. Alex merindukannya. Dia rindu kamarnya, anjingnya, dan berbagai fasilitasnya. Lebih dari itu, dia rindu pada kegiatannya menggunakan komputer berlayar besar dengan kelip pada lambang lebah. Alex telah mengaktifkan kembali Killer Bee.


Dibukanya kembali berkas-berkas yang pernah dia unduh sebelumnya dari sistem ayah. Dia memeriksa jalur internet berikut keamanannya, lalu menyadari kalau memang ada usaha untuk mencuri data di sana. Namun, Jayden berhasil mengamankan semuanya. Lalu, seseorang — maksudnya, Baron — mencari cara lain untuk mengacau. Dia menyebarkan berbagai pesan acak. Mengirimkannya pada agensi ICPA lain bahkan para penjahat. Lagi-lagi, Jayden menggagalkan sebagian besar. Sisanya lolos tanpa digubris si penerima.


Alex sadar kalau telah menerima salah satu yang lolos juga.


“Sial! Seharusnya aku tahu! Baron berusaha menggagalkan proyek Dragon Blood sejak awal karena tahu itu akan berbahaya untuk Caitlin.”


[Tepat sekali!] Suara Jayden terdengar seiring munculnya gambarnya di tepi kanan atas. [Apa itu alasanmu menyusup ke sistem ICPA, lagi, Alex?]


“Baron pasti senang menyadari kekasih hatinya aman saat aku yang mendapat Dragon Blood. Kemudian, dia menyadari kalau Caitlin justru tersakiti oleh kenyataan tersebut. Jadi, dia ingin balas dendam. Dia minta Caitlin mengundurkan diri. Lalu, diam-diam menjalankan rencananya lagi untuk menghancurkan ICPA.”

__ADS_1


[Aku benci mengatakannya, tapi dia pintar. Dia sudah melakukan aksi kejahatan ini sejak belia. Beberapa belas tahun. Ada kabar yang mengatakan kalau dia membunuh saudara kembarnya sendiri. Namun, semua orang yang hidup dengannya waktu kecil kini sudah tak ada di dunia ini lagi. Kebetulan? Kupikir tidak.]


“Sejak beberapa belas tahun?”


[Kenapa terkejut? Kamu juga masih belasan tahun.]


Alex mendesah. Dia menjatuhkan kepalanya di atas lengan. “Maniak. Psikopat. Entah sebutan apa lagi yang cocok dengannya. Itu seperti dia bisa mengontrol dunia ini.”


[Tidak, tidak!] Jayden meralat cepat. [Lingkup kejahatannya, sejauh ini, hanya benua Sinde dan sebagian kecil Regis. Dia tidak mengontrol dunia ini. Selama ada ICPA, ada tempat-tempat yang tidak bisa dia sentuh. Seperti, rumahmu.]


Alex mengernyit.


[Tempatmu berada di bawah perlindungan ICPA Regis dan Sinde juga robot kuda yang menyeramkan. Kamu bukan sedang ketakutan padanya, ‘kan?] Jayden menyeringai.


“Apa? Tentu saja tidak!” Alex menggeleng. Dia menegakkan bahu, membuang seluruh keresahannya. “Kita akan menangkapnya. Dia tidak akan lari setelah membuat kekacauan seperti itu. Sudah terlalu banyak nyawa yang hilang karenanya.”


[Pertanyaannya…] Jayden membiarkan kalimatnya menggantung.


[Bagaimana caranya? Dia mengenal ICPA dengan baik lewat Caitlin.  Teknologi, fasilitas, lokasi markas, senjata. Banyak. Kita butuh trik yang lain. Sesuatu yang tidak akan dia prediksi. Mungkin minta bantuan dari lawan?] Jayden ragu pada ide yang baru saja dia lontarkan.


“Maksudmu, para penjahat?”


Jayden mengangkat bahu. [Menggunakan para penjahat untuk melawan penjahat kadang bisa efektif. Seperti saat ICPA merekrutku.] Ketika melihat Alex membuka mulut untuk bertanya, Jadyen langsung menambahkan. [Jangan tanya, aku enggak mau membahas itu.] Kemudian dia kembali lagi pada topik semula. [Sayangnya, kita tidak bisa sepenuhnya percaya pada mereka.]


“Benarkah? Kupikir aku kenal seseorang yang bisa membantu. Penjahat baru, teknologi baru. Seseorang yang akan membuat Baron terkejut.”


Jayden terdiam sejenak lalu mengusap wajahnya. [Nadira tidak akan suka ini.]

__ADS_1


“Percayalah, dia akan suka.”


 


 


Penjara itu masih seperti yang diingat oleh Alex. Meski dia melihatnya dari layar, semua nampak sama. Dinding tebal dari metal, panel kaca, kursi panjang, juga penjahat. Teman sekolahnya, Cody, tidak terlihat berbahaya. Dia sama sekali tidak cocok berada di dalam sana. Dia kelihatan ringkih. Matanya bengkak, rambutnya acak-acakan. Alex tak mau menebak berapa jam dia tidur dalam sehari.


“Kenapa kamu di sini? Berusaha mencemoohku?” Cody mengangkat sebelah alisnya. Anak itu duduk di kursi panjang tanpa berniat mendekat ke kaca.


“Kita perlu bicara.”


“Tidak. Aku ingin bicara pada keluargaku. Aku ingin bicara pada pengacaraku, namun semua tidak berhasil. Aku heran apa yang dilakukan para polisi di sini. Atau ICPA.” Suara Cody mulai gemetar. “A- A— Aku masih di bawah umur! Kenapa tidak ada seorang pun yang mencariku? Apa mereka pikir aku sudah tewas?”


Cody bicara begitu banyak sampai Alex tak sempat bicara. Anak itu tampak ketakutan. Alex melihatnya sebagai pemilik mainan yang sering digoda oleh Willy. Untuk sesaat, Alex ikut mempertanyakan apakah ICPA mengambil keputusan yang tepat dengan mengurung Cody seperti para penjahat lainnya.


“I— Itu— Itu hanya pencurian. A— Aku— Maksudku, keluargaku bisa menggantinya,” Cody mulai merengek.


“Itu bukan sekadar pencurian. Metode pencurianmu terlalu canggih untuk diabaikan.”


“Mereka sudah mengambil semuanya dariku.” Cody sekarang bangun. Dia berjalan tertatih-tatih ke arah dinding kaca di mana layar Alex berada. “Aku bukan penjahat. Aku tidak bermaksud jahat. I— Itu— Itu hanya permainan. Kumohon, biarkan aku bicara pada keluargaku. Kumohon…” Cody merosot ke lantai dan terisak.


Alex terdiam. Dia paham betapa sengsaranya tidak bisa bicara pada keluarganya sendiri.


“Kumohon,” kata Cody lagi dengan suara bergetar. “Aku— Aku— Aku enggak akan me— melakukannya lagi. Ku— Kumohon— biarkan aku bertemu keluargaku. Kumohon…”


Alex menarik napas dalam-dalam sebelum bicara. “Cody, aku memang di sini untuk membantu kita berdua.”

__ADS_1


“A— Apa— Apa maksudmu?”


“Cody Kane, kamu mengenalku sebagai Alexander Hill, teman sekolahmu. Tapi, dunia tidak. Dunia mengenalku sebagai Zetta Sonic. Aku menawarkanmu sebuah kesempatan sekali seumur hidup. Bantu aku menangkap kriminal bernama Baron dan semua kejahatanmu akan dimaafkan. Apa jawabanmu, Bug?”


__ADS_2