Zetta Sonic

Zetta Sonic
Barrel Bomb


__ADS_3

Hal pertama yang dirasakan Alex adalah napasnya sendiri. Dia masih bernapas. Hal pertama yang dia syukuri. Berikutnya, dia merasakan sakit yang menusuk di tangan kiri yang membuatnya merintih. Dia berharap sepenuh hati kalau tangannya masih menempel. Alex menyadari kalau dirinya tak sepenuhnya pingsan. Babak belur mungkin iya, tapi tidak sampai kehilangan kesadaran.


Alex mengerjap, berusaha menjernihkan pandangannya yang kabur. Matanya berair, membuat wajahnya yang terkurung dalam helm basah. Setiap tarikan napasnya terasa dangkal. Kepalanya terasa berat, seluruh badannya lemas. Energinya telah terkuras habis. Kalau ada yang mau membunuhnya saat itu, Alex yakin tak akan mampu mempertahankan diri.


Satu per satu kenangan mulai mengapung ke permukaan. Seandainya ada Jayden, dia akan segera membawanya ke tempat aman. Atau, seandainya ada Jason, dia bisa menjaga dirinya sebelum ada serangan.


Menolak disebut tak berdaya atau tak berguna, Alex berusaha bergerak. Kakinya menolak bangkit. Tangan kirinya hanya merespon dengan rasa sakit. Hanya jemarinya yang basah mampu bergetar. Tangan kanannya gemetaran ketika bergerak. Sebelum badannya juga mencoba bangun, Alex merasakan tekanan lembut pada dadanya yang mencegahnya bergerak.


“Sst…”


Suara bisikan terdengar jelas dan begitu pelan. Alex samar-samar melihat sosok besar di sampingnya. Bahkan tak perlu melihatnya dengan jelas, Alex tahu kalau sosok tersebut adalah Tiger. Tidak banyak laki-laki sebesar dirinya. Tiger membawa benda panjang yang dikenali Alex sebagai senapan. Dia menodong ke tengah lapangan.


Apa pun yang ada di tengah lapangan bukanlah monster lagi. Alex melihat siluet perempuan dengan sepatu berhak tinggi berada di antara onggokan tak berbentuk. Dia menduga itu Melodiza di antara gumpalan monster. Alex mengerjap lagi untuk mendapatkan penglihatan lebih jelas. Namun, matanya justru mengeluarkan air mata dan membuat semuanya makin kabur. Alex akhirnya memejamkan mata.


Dalam keheningan, rasa sakit itu justru makin menjadi. Kegelisahan memperparah rasa mual pada perutnya. Bibirnya terasa kering dan kasar. Hidungnya tersiksa oleh aroma memuakkan, campuran bau busuk dan amis. Alex ingin terlelap. Sayangnya, hal tersebut tak kunjung datang. Beberapa menit berlalu tanpa siksaan.


Keheningan pun dipecahkan oleh suara sepatu yang beradu dengan tanah. Senandung pelan nan merdu terdengar lalu perlahan menjauh.


“Apa di sudah pergi?” Ada suara lain bertanya. Suara Emil.


“Sudah kubilang jangan bersuara sebelum kuberi aba-aba.” Tiger mendesah. “Ya, dia sudah pergi. Kita aman, untuk sekarang.”


Alex kembali membuka mata. Pandangannya masih sedikit kabur tapi dia bisa mengenali sekelilingnya dengan lebih baik. Dinding gym ada di sebelah kirinya sementara tangga ada di atas kepalanya. Mereka membawanya bersembunyi di bawah tangga. “Bagaimana kalian bisa ada di sini?” Pertanyaan Alex keluar dengan lirih dan patah-patah.


“Kami melihatnya.” Emil memberi jawab dari posisi atas kepala Alex.


“Bagaimana bisa?” Alex bertanya lagi, masih tak mengerti. Dia sadar kalau instruksi yang tadi didengar memang adalah suara Emil melalui helm. Pandangannya kini kembali dengan sempurna. Saat itu, helm pelindungnya telah luruh, menyisakan seragamnya yang masih menutupi sebagian badan. Alex tak repot-repot mencoba duduk karena tahu dirinya tak akan mampu.

__ADS_1


Tiger berpindah posisi ke sisi kiri Alex yang tengah berbaring. “Kamu kelihatan sangat berantakan.”


“Dia beruntung,” sahut Emil.


“Beruntung karena masih hidup?” balas Tiger lagi.


“Tidak. Beruntung karena gigi monster tadi cuma gigi palsu. Bukan gigi dinosaurus sungguhan. Kalau tidak, dia akan kehilangan tangannya.” Emil menjabarkan dengan tenang, membuat Alex mengerang seraya mengalihkan pandangan dari sisi kiri tubuhnya. “Tenang saja. Tanganmu masih menempel.”


Ucapan Emil membuat Tiger cekikikan. Pria besar ini meninggalkan senapannya di lantai. Sebagai ganti, dia mengambil kotak obat. Dengan sedikit mengutak atik gelang Alex, seragam pelindung itu lenyap seluruhnya. Tiger bergegas mengambil semacam kain untuk menghentikan pendarahannya.


“Aku sempat penasaran kalau darahmu akan berubah hijau,” ujar Tiger. Leluconnya sama sekali tidak membuat Alex terkesan.


Emil melangkah maju, mengulurkan tangan. Sebuah drone putih muncul dari ketiadaan. Sosoknya turun begitu saja dari langit-langit. Si drone melayang mendekat lalu turun di atas telapak tangan Emil.


Rasa penasaran akan suara dengung drone membuat Alex kembali menoleh ke sisi kiri atas. “Jason?” tebaknya. “Kamu memperbaikinya!”


“Hanya hologram. Untuk kamuflase. Melodiza tidak melihat kita. Kita aman.” Emil mengedikkan bahu lalu kembali di sisi Alex. “Kamu akan baik-baik saja. Dragon Blood membantu penyembuhanmu dengan cepat.”


“Terlalu cepat,” tambah Tiger. Dia sadar kalau darah Alex tak lagi mengalir. Darah merah segar yang menempel pada kainnya hanyalah bekas-bekas.


“Tetap saja rasanya sakit.” Alex menarik tangan kanannya untuk menutupi matanya. Kadang air masih merembes dari matanya. Dia tak ingin kedua laki-laki lainnya mengira kalau dirinya menangis. Alex tak menangis. Dia bahkan tidak paham dari mana datangnya semua air itu.


Emil dan Tiger sibuk mengobati luka pada tangan kiri Alex juga membebatnya dengan perban. Alex pasrah dengan perlakukan keduanya. Akhirnya, setelah beberapa menit berlalu, Alex tertawa. Tawa kecilnya membuat Emil dan Tiger spontan bertukar pandangan.


“Apa yang lucu?” Tiger bertanya dengan dahi berkerut.


Alex menyingkirkan tangan dari wajahnya. Dia yakin baru saja melempar senyum paling tulus yang membuat kedua laki-laki di sampingnya kembali bertukar pandang. “Aku enggak menyangka bisa sangat bersyukur melihat kalian di sini. Terima kasih.”

__ADS_1


Tiger mencibir. “Cuma itu?”


Emil menunduk, menghindari pandangan Alex.


Tiger melanjutkan, “Kami berjuang mati-matian agar bisa mengakses Zet-Arm, minta izin dari Nadira untuk ke sini, lalu menjinakkan bom waktu.”


“Karena itu, kubilang terima kasih,” sahut Alex.


“Harus kuakui tembakanmu dari dalam mulut dinosaurus itu keren. Sangat keren, bocah! Kamu menghancurkan kepalanya. Serangan super efektif. Sekalipun sekarang badanmu bau. Sangat menjijikan.”


Alex mengerang. Tiger benar. Ketika si dinosaurus mengigit tangan kirinya, Alex menjalankan instruksi dari Emil. Dia menembak dari dalam mulut si monster. Tentu saja itu serangan yang efektif. Walau setelahnya, serpihan si monster mengenai dirinya.


“Tapi,” ujar Tiger, “aku juga bersyukur melihatmu masih hidup.”


Alex tersenyum lagi.


“Hei.” Emil akhirnya memotong pembicaraan setelah selesai membebat tangan Alex. “Bisakah kita bicara soal Melodiza? Dia mengirim pesan. Pada Alex. Kamu enggak akan suka.”


Senyum di wajah Alex lenyap. Dibantu Tiger, Alex berhasil duduk bersandar pada dinding. Emil menyerahkan ponselnya yang tadi diletakkan di atas drum. Ada pesan dari gurunya. Sangat singkat dan jelas. Bukan berita baik tapi bencana baru buat Alex. Matanya tak mampu berkedip ketika membacanya.


[Segera kembali ke kelas kalau masih mau melihat teman-temanmu :-)]


Selagi Alex tak merespon, Tiger menyenggol bahunya. “Mana kepercayaan dirimu? Kamu Zetta Sonic. Ada ICPA di belakangmu. Kamu punya semua yang kamu perlukan. Kita akan menangkapnya! Benar, Emil?”


Emil pun tersenyum. Jason mulai mengudara pelan di belakangnya.


Senyumnya menular pada Alex. “Melodiza jelas salah memilih lawan.”

__ADS_1


__ADS_2