
Pabrik itu berada cukup di pinggir kota. Alih-alih pabrik, Alex lebih suka menyebutnya sebagai gedung terbengkalai. Gedung itu dilindungi oleh deretan pagar kawat tinggi. Namun, pagarnya sendiri tidak utuh. Sudah ada beberapa bagian yang roboh. Tiger bisa membawa mobil mereka masuk dengan mudah.
Gedungnya sendiri juga tidak sempurna. Cukup panjang dengan dua lantai. Kaca-kacanya buram bahkan sudah ada yang pecah. Atapnya mengelupas apalagi bagian cat gedungnya. Tempat itu tidak mengundang sama sekali. Di dekat pintu masuk, Alex bahkan bisa melihat plang larangan masuk dengan jelas.
“Kalian yakin ini tempatnya?” tanya Cody, satu-satunya yang berani mengutarakan pikirannya lebih dulu.
“Kita pernah melihat yang lebih buruk, bocah,” jawab Tiger.
Suara Jayden terdengar lagi. [Jaga jarakmu, Tiger. Mode kamuflase yang kupasang di mobil itu belum sempurna. Itu hanya efektif untuk kamera pengawas. Orang normal bisa melihatnya meski buram.]
“Aku tidak melihat kamera pengawas di sini.”
[Tidak terlihat bukan berarti tidak tidak ada. Tetap waspada.]
Alex mengaktifkan seragamnya. Kepingan segienam itu menutupi sekujur tubuhnya dengan sempurna. Alex merasa sedikit lega. Dalam hari ini, sudah dua kali sistemnya aktif tanpa diperintah. Kali ini, dia sendiri yang memberikan perintah untuk mengaktifkan seragam. Tempat itu aman, setidaknya di luar.
Begitu sistem di dalam seragamnya aktif, Alex membiarkannya melakukan pelacakan. Jayden pasti benar karena sistem Alex menemukan adanya hawa panas di dalam. Ada siluet berbentuk orang yang memancarkan hawa panas dari dalam sana. Dua orang sedang melakukan sesuatu lalu lenyap.
Jayden sepertinya juga melihat hal yang sama melalui seragam tempur. [Mereka masuk ke dalam ruangan dan hilang dari radar. Mungkin ruangan, mungkin juga lift. Aku curiga mereka punya pabrik bawah tanah di tempat ini.]
“Apa yang menurutmu mereka buat di sana?”
[Entahlah. Mungkin racun seperti Rando.]
“Ya, sebaiknya begitu,” bisik Alex lirih.
[Apa maksudmu? Kamu punya tebakan lain?]
“Tidak. Lupakan saja.” Alex malah menghindari percakapan tersebut.
Tiger pun menyahut, “Menurutku, di dalam sana kamu akan bertemu dengan robot gorila lagi. Terakhir kali kalian bertemu, kamu sama sekali tidak berkutik. Kalau aku jadi Baron, aku akan menempatkan satu di sini.”
Cody pun menyela. “Apa maksud kalian dengan robot gorila?” Anak itu telah selesai berganti pakaian serba hitam. Masker pun sudah menempel dengan sempurna di wajahnya. Meski begitu, dia sama sekali tidak merasa sesak. Suaranya pun cukup jelas.
__ADS_1
Jayden berbaik hati menjelaskan pada anggota baru mereka. [Baron membuat robot gorila dan menempatkan orang di dalamnya. Robot itu mengambil energi orang di dalamnya untuk bergerak. Cukup efektif tapi jelas mematikan.]
“Itu kejam!”
“Memang,” sahut Tiger. “Dia gila. Tapi, Alex mungkin lebih gila lagi.” Dia memaksa pimpinan ICPA untuk membebaskan seorang kriminal sepertimu untuk membantu kami. Kadang memang dibutuhkan orang gila untuk melawan orang gila.”
[Selamat datang di ICPA!] Jayden meniru ucapan Alex.
Tiger menyetir dengan pelan. Dia melakukan seperti instruksi Jayden. Mobil SUV mereka memang telah banyak dimodifikasi. Dengan bantuan Fergus, mobil itu kini bisa menyelinap dengan lebih baik. Dia dilengkapi semacam peredam suara bahkan juga pengacak sinyal bagi radar lawan.
Mobil mereka melintasi tanah tak rata tanpa masalah. Tiger melihat ada pintu yang terbuka di bagian belakang lalu memutuskan parkir di sana.
“Aku akan berjaga di sini,” ujar Tiger. “Laporkan semua yang terjadi dengan jelas. Kalau fasilitas itu punya ruangan bawah tanah, jangan gegabah. Tanyakan dulu pada Jayden sejauh apa kalian bisa masuk. Paham?”
Alex mengangguk tanpa jawaban.
Tiger menoleh pada Cody yang ada di belakangnya. “Kami bisa melacak keberadaanmu dari masker itu. Jangan berani sekalipun melepaskannya. Kalau kamu dalam masalah, kami tidak akan bisa menolongmu.”
“Tunggu! Kamu tidak ikut? Kalau ada musuh—“
“Ya. Tidak.” Cody mengangguk lalu menggeleng cepat. “Apa yang akan terjadi kalau kami masuk ke dalam bawah tanah dan kehilangan kontak dengan kalian?”
“Kamu dengar kataku tadi, ‘kan? Jayden akan memantau kalian. Dia operator Zetta Sonic. Jason juga akan bersama kalian.”
“Siapa Jason?”
Alex mengangkat piringan putih yang sedari tadi berada di pangkuannya. “Adik Jayden. Dia beberapa kali menyelamatkanku.”
“Baik,” lanjut Tiger. “Cody, ada dua peti berisi seranggamu di belakang sana. ICPA membuatkan beberapa lusin lagi sebagai ganti yang dirusak Alex. Bawa mereka keluar bersamamu. Jangan sampai ketinggalan.”
Cody tak bisa menyembunyikan kecemasannya. “Tapi— Tapi— Tapi, aku bukan penjahat sungguhan. Maksudku, aku hanya sedikit mencoba melakukan pencurian—“
“—yang masuk berita internasional,” sahut Tiger.
__ADS_1
“Itu hanya lelucon. Pada akhirnya aku akan mengembalikan itu semua. Aku hanya belum punya waktu karena—“
“—terlanjur tertangkap,” imbuh Tiger lagi.
“Ya. Dan, kalian membebaskanku—“
“—agar kamu bekerja untuk kami, membantu Zetta Sonic, dan berhenti bertanya. Sekarang, keluar sana!”
Cody tak berani bertanya lagi. Tiger bisa jadi sangat keras. Cody bukan hanya takut pada postur tubuh Tiger yang besar tapi juga suaranya yang lantang. Anak itu tak punya pilihan lain selain melompat turun dari mobil, mengikuti Alex. Robot-robot mungilnya alias para serangga menuruni mobil dengan cepat, mengikuti Cody. Mereka sama sekali tidak terlihat oleh mata normal.
[Tiger memang bisa mengintimidasi.] Suara tersebut terdengar jelas di telinga Cody.
“Kamu, Jayden?” Cody berlari-lari kecil di belakang Alex yang sudah lebih dulu mencapai pintu.
[Yup. Aku akan mengikuti kalian turun ke bawah tanah. Jason akan jadi mata di langit-langit. Dan, kalau hal buruk terjadi, aku akan mengirim Orion ke sana.]
“Siapa?”
[Robot pembunuh milik ICPA. Ah, tunggu. Robot canggih milik ICPA. Tidak diciptakan untuk membunuh, hanya untuk melindungi.]
Alex mendengus geli. “Akhirnya kamu memberinya nama.”
[Kamu sering menerima nasihatku. Aku hanya gantian menerima nasihatmu.]
Alex sudah membuka pintu dan melongok ke dalam. Kosong. Tidak ada apa pun di sana selain struktur bangunan yang usang. Dinding-dindingnya masih berdiri kokoh meski catnya telah pudar. Ada beberapa dinding yang bagian bawahnya dilapisi oleh ubin. Tidak ada pencahayaan di sana. Alex bisa melihatnya karena bantuan seragam tempur.
“Tempat ini menyeramkan dan dingin.” Cody berbisik tepat di belakang Alex. Anak itu juga bisa melihat lebih baik karena bantuan lensa kontak sekaligus pengendali para serangga.”
Alex melangkah lagi, memimpin di depan. Jason melayang tenang di atas kepala mereka. Dengan bantuan si drone, Jayden yang ada di markas mulai bisa memetakan bangunannya.
[Bangunan itu setidaknya berusia seabad. Isinya tidak dirombak sama sekali, masih sama seperti pertama dibangun.]
“Memang ini bangunan apa?” tanya Alex lirih. Semakin dalam mereka masuk, semakin luas lorong yang mereka temui. “Jangan bilang kalau ini rumah sakit.”
__ADS_1
[Yup.]
“Apa yang bisa lebih buruk dari rumah sakit kuno?”