Zetta Sonic

Zetta Sonic
Empty Hallway


__ADS_3

[Untuk hewan.]


“Apa?” Alex mendengus geli setelah paham apa maksud operatornya. “Jadi, ini klinik hewan? Apa menurutmu Baron pecinta hewan sampai membeli pabrik ini?”


[Entahlah. Aku tidak mengenal Baron sebaik Caitlin.]


“Dia ada di dekatmu saat ini?” tebak Alex lagi.


[Tentu saja. Tapi, sebentar lagi dia akan mencoba baju dengan dokter Vanessa. Jadi, aku memanfaatkan sedikit waktu ini.]


Alex hanya menggeleng. Di satu sisi, dia jelas kesal pada Caitlin yang ngotot soal Baron. Di sisi lain, dia sedikit kasihan. Caitlin sendirian tanpa dukungan siapa pun. Untuk sejenak, Alex ingin percaya pada apa yang dipercaya Caitlin.


Alex melangkah lebih jauh. Pada lorong selanjutnya, Alex menangkap secercah cahaya pada salah satu ujung lorong.


“Di film,” ujar Cody, “lorong semacam itu biasanya mengundang bahaya… yang sebenarnya… mungkin cocok dengan kondisi kita… saat ini?” Cody jelas tidak ingin mengakui kalau apa yang dia ucapkan justru sangat sesuai.


“Ayo.” Alex melambaikan tangan seraya melangkah maju lagi.


Kedua anak itu berjalan merapat pada dinding, berjaga-jaga bila ada orang yang berkeliaran di sekitar sana. Namun, sejauh penglihatan Alex, dia belum melihat seorang pun sejak tadi. Mungkin siapa pun yang tadi terdeteksi radarnya telah menghilang di ujung lorong tersebut.


Ada pintu besi besar di sana. Pintu itu tidak memiliki pentunjuk apa pun. Tidak berkarat dan masih mengilat. Pintu tersebut jelas sangat kontras dengan kondisi di sekeliling mereka.


“Jayden? Apa kamu bisa pastikan di belakang pintu ini ada jebakan atau tidak?” tanya Alex.


Cody dan Alex belum benar-benar berjalan ke area terang. Sinar lampu di depan pintu itu membentuk area jelas antara terang dan gelap. Alex berada di ambang batas sebelum dirinya terkena sinar lampu.


[Sayangnya, tidak. Kamu lihat sendiri tadi sensor panas menunjukkan ada dua orang yang menghilang di tengah gedung. Aku cukup yakin kalau mereka menghilang di belakang pintu itu.]


Alex menyipit. Dia tidak melihat tulisan atau peringatan apa pun di pada pintu maupun pada dinding di sekitar pintu tersebut. Pintu itu terlalu mencurigakan. Dan, seperti kata Cody tadi, menuju pada bahaya yang sedang mereka cari,

__ADS_1


“Baiklah, kupikir aku harus memeriksanya.”


Sebelum Alex melangkah, Cody telah mengulurkan tangannya untuk menahan lengan Alex. “Kamu yakin? Di belakang sana bisa ada penjahat, orang-orang bersenjata, atau robot yang kamu bilang tadi.”


“Justru karena itu, kita harus memeriksanya.” Alex buru-buru meralat. “Aku. Maksudnya, aku yang harus memeriksanya. Kamu tunggu di sini. Berjagalah di sini kalau ada serangan kejutan. Lindungi aku dari belakang. Kamu bisa, ‘kan?”


Tak punya pilihan, Cody pun mengangguk. “Oke.”


Alex melangkah maju. Tubuhnya dibanjiri cahaya lampu LED panjang. Lampu itu sendiri terlihat baru. Kalau dugaannya benar, gedung itu seharusnya dibangun sebelum lampu LED ditemukan. Ada sesuatu di balik pintu. Sesuatu yang memang harus dia temukan.


Ketika mendekat, Alex baru menyadari kalau ada panel pada pintu besi tersebut. Panelnya punya warna kelabu hampir sama dengan pintu itu sendiri sehingga sulit dilihat. Ukurannya cukup besar untuk telapak tangan.


“Panel sidik jari?” tebak Alex.


[Dekatkan tanganmu ke sana, tapi jangan sampai menyentuhnya. Aku akan membantumu dari sini.]


Alex menuruti perintah Jayden. Dia mendekatkan tangan kirinya pada panel tersebut. Sebuah sinar hijau keluar dari telapak tangannya. Mereka bergerak naik turun seolah sedang memindai panel tersebut.


Alex menurut lagi. Dia menempatkan tangannya pada panel tersebut. Tidak perlu menunggu lama, ada suara klik pelan dan pintu mulai terayun ke dalam. Di atas kepala Alex, Jason si drone telah menyelinap masuk lebih dulu. Alex sendiri masih menanti hingga pintu itu benar-benar terbuka untuknya.


Di balik pintu, ada lorong suram yang lain. Cahayanya seolah malu. Remang namun cukup untuk menunjukkan kalau dinding kelabu mereka jauh lebih baru dibandingkan dinding di luar tadi. Selain itu, Alex menemukan beberapa pintu pada sisi kiri dan kanan. Tentu saja yang lebih menarik bukan pintu tersebut, melainkan tangga besi menuju ke bagian bawah tanah.


[Aku baru saja membiarkan Jason memindai ruang bawah tanah ini. Jason tidak bisa memindai terlalu jauh. Dinding itu terlalu tebal. Berita baiknya, aku dapat cukup banyak ruangan untuk kamu pilih. Berita buruknya, Jason harus berjalan lebih dalam untuk mengetahui lebih banyak.]


Pada layar dalam seragam tempurnya, Alex bisa melihat denah lantai bawah tanah tersebut. Di depannya terdapat jembatan besi lanjutan dari tangga tersebut. Dari sana, Alex bisa melihat ada tangki-tangki besar yang tingginya hampir mencapai jembatan tersebut. Dia juga bisa melihat adanya tangga turun pada beberapa bagian.


“Aku melihat beberapa ruangan di bawah. Mungkin salah satunya ada dalam video itu.”


[Bisa jadi. Informan di lapangan selalu memberikan informasi rancu kalau soal Baron — maksudku, Roban. Beda dengan penjahat lain. Informasi soal Roban selalu terlalu banyak.]

__ADS_1


“Bagaimana bisa?” Alex mulai melangkah perlahan. Dia berusaha tetap tenang agar tidak menimbulkan suara yang memicu keributan. Matanya memicing. Dia tidak mau dikejutkan siapa pun, entah dari bawah maupun depan.


[Kupikir Roban sengaja melepaskan informasi jauh lebih banyak dari yang sesungguhnya. Kebanyakan palsu. Itu cara untuk mengecoh lawan. Jangan tanya berapa banyak info yang harus dipilih untuk mendapatkan tempat ini.]


“Bagaimana dengan videonya?”


[Caitlin bilang dia mendapatkannya dari laptop Baron. Di laptop itu, ada beberapa surat elektronik berisi ancaman dari Roban. Katanya Roban sering mengancam Baron agar tutup mulut. Kalau Roban tertangkap maka Baron juga akan tertangkap. Katanya Roban juga sering meminta uang tapi Baron tidak pernah memberikannya.]


“Kalian percaya ceritanya?”


[Kalau kamu tanya padaku, jelas tidak. Aku tidak percaya pada Baron. Sekarang, aku juga mulai meragukan cerita Caitlin.]


Alex melangkah lagi. Dia berada tepat di depan sebuah tangga turun di samping sebuah tangki besar. Di ujung bawah tangga itu, Alex tidak melihat siapa pun atau apa pun. Selain itu, dia bisa melihat ada pintu tak jauh dari sana.


“Baik, aku akan mulai dengan turun dari sini,” bisik Alex lirih.


[Ba—]


Sambungannya dengan Jayden terputus. Alex berhenti sejenak. Dia sudah terlanjur sejauh ini dan tidak mungkin berpaling kembali. Setidaknya, Jason masih mengudara di atasnya.


“Tunggu aku!” Cody bicara dengan nada tinggi namun suara pelan. Dia, separuh berlari, menuju Alex.


“Apa yang kamu lakukan di sini? Aku menyuruhmu berjaga di luar.”


“Jangan tinggalkan aku sendiri. Bagaimana kalau ada penjahat di sana? Lagipula, kamu juga bilang supaya aku melindungimu dari belakang.”


“Apa kamu sadar sekarang kita terputus dari markas?”


“Tu— Tunggu. Apa? Kamu serius?”

__ADS_1


Alex memutar bola matanya meski tahu kalau Cody tidak bisa melihatnya. “Sudahlah. Kalau begitu, sekarang jangan jauh-jauh dariku.”


__ADS_2