
Ketika situasinya cukup tenang, Alex sendiri harus mengakui kalau sedikit terkejut. Dirinya tiba di hari Sabtu tanpa kendala apa pun. Lebih tepatnya, dia tiba di kolam renang itu tanpa adanya masalah satu pun. Tidak ada misi bagi Zetta Sonic, tidak ada ujian dan pekerjaan rumah yang menakutkan.
Alex, untuk sesaat, menerawang dari balik kaca mata hitam sambil berbaring di atas sunbed.
Kolam renang umum itu telah disewa untuk acara pribadi. Tidak akan ada orang asing masuk ke sana. Hanya ada dia dan teman-temannya. Beberapa teman memang mengajak saudara mereka, namun Alex anak tunggal. Dia datang sendiri.
Di dalam kolam, beberapa temannya asyik berenang. Di sisi lain, anak-anak perempuan sibuk bergaya dan mengambil gambar. Tempat itu bukan hanya punya kolam ukuran olimpiade, tapi juga dekorasi outdoor yang menawan. Setiap sisinya ditutupi oleh pohon-pohon tinggi, pot bunga aneka warna, dan rerumputan yang dipotong rapi. Ada banyak meja lengkap dengan payung juga sunbed yang bisa mereka pakai.
Minuman dingin tersedia dalam lemari pendingin. Camilan ditata rapi pada deretan meja panjang di bagian ujung. Kalau mereka butuh sesuatu, mereka tinggal memanggil penjaga kolam. Tempat itu sempurna untuk menghabiskan akhir pekan. Anehnya, Alex merasa ada yang kurang.
“Nih!” kata Willy.
Alex tersentak, menyadari Willy sudah berada di sampingnya sambil menyodorkan kaleng soda jeruk dingin.
“Terima kasih.” Alex menarik dirinya agar bisa duduk tegak. Dia menerima kaleng tersebut dan membukanya dengan mudah. Willy duduk di sunbed sebelah yang kosong.
“Jadi, ini pasti bukan masalah cewek,” kata Willy lagi. Dia juga memegang kaleng soda di tangannya. “Kalau ini masalah Leta, kamu pasti enggak mau datang ke sini atau sekarang kamu malah sedang mengajaknya ngobrol.” Willy menunjuk pada beberapa gadis yang baru masuk ke kolam. Leta salah satunya.
“Aku hanya sedang enggak mood.”
“Kamu sering enggak masuk sekolah juga enggak fokus belakangan ini. Kamu sebenarnya sakit apa?” tanya Willy.
Alex mengangkat bahu. “Tidak ada. Hanya butuh istirahat.”
“Kamu sudah periksa ke dokter? Kamu bisa datang ke rumah sakit. Ayahku punya banyak dokter yang bagus. Mereka bisa membantu.” Willy mengingatkan Alex akan usaha keluarganya.
“Sudah, kok. Tenang saja. Aku punya dokter yang bisa dipercaya.”
“Apa doktermu melarangmu berenang? Kamu bahkan belum ganti baju renang.”
__ADS_1
Alex terkekeh. Ucapan Willy tidak sepenuhnya benar. Dia sudah berganti celana renang, dia hanya belum melepas kausnya saja. Alex malah meletakkan kalengnya pada meja di samping sunbed lalu kembali berbaring. “Aku akan berenang. Nanti.”
Willy menatapnya, seolah bingung harus merespon bagaimana.
Alex balik bertanya. “Kondisimu sepertinya juga sudah pulih. Enggak berenang?”
“Ya, karena itu kita di sini. Menikmati Sabtu yang cerah selagi cuaca masih bersahabat dan musim ujian belum datang. Tidak ada pool party di musim dingin, ingat?”
Alex hanya tertawa kecil.
“Kamu biasanya bersemangat dalam pesta-pesta seperti ini. Kamu biasanya membuat pesta lebih hidup. Aku hanya… penasaran. Apa yang berubah? Kalau ada masalah, kamu bisa cerita.”
Alex mengangguk. “Aku baik-baik saja. Sungguh. Setelah menghabiskan minuman ini, aku akan berenang.”
“Ya, ya. Terserah.”
Willy menghela napas panjang. Dia terdengar bosan. Mungkin juga kesal. Anak itu meletakkan kaleng minumannya juga sebelum akhirnya melompat ke kolam.
Malam itu, Alex meminta Jayden membantunya lagi. Dia menghubungi Cody yang masih mendekam di dalam penjara ICPA. Nadira telah bicara dengan Fergus namun tak seorang pun tahu bagaimana hasilnya. Alex merasa kasihan sekaligus merasa tak enak pada anak itu.
“Hei, Cody.”
[Kamu mau mengejekku lagi?] Cody terdengar tak ramah. Suaranya terdengar lemas sekaligus kesal.
“Aku hanya mau bertanya bagaimana kabarmu di sana.”
[Huh! Dasar pembohong. Tertawa saja. Aku sudah salah percaya padamu. Tidak ada yang peduli padaku. Kamu sama saja seperti Willy. Para pembully.]
Cody kecewa. Alex tak menyalahkannya. Dia sendiri mungkin akan merasakan hal sama bila berada di posisinya. Cody sendirian tanpa akses ke dunia luar sama sekali. Merasa dilupakan dan ketakutan. Dia marah pada keadaan juga pada Zetta Sonic yang menempatkan dirinya dalam keadaan tersebut.
__ADS_1
Alex terdiam sejenak. Dia tidak suka disebut pembohong meski dia tahu dirinya bisa berbohong dengan mudah. Mungkin itu pertanda yang baik. Alex biasanya tidak akan mempermasalahkannya. “Kupikir kamu ingin teman bicara.”
[Aku ingin keluar dari sini. Kumohon.] Suara Cody berubah jadi memelas lagi. [Aku akan membantu ICPA. Sungguh.]
Anak itu sepertinya benar-benar telah jera. Dia mungkin telah membuat banyak masalah yang merepotkan ICPA namun Alex juga mempertanyakan mungkin hukuman Cody bisa diubah. Cody masih seumuran dengannya. Mereka masih pelajar lima belas tahun.
“Aku sudah bicara pada pimpinan.”
[Tidak ada yang terjadi, Alex.]
“Benarkah? Kalau begitu, sabarlah sebentar. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan dalam rapat. Jadi, ya, sabarlah sebentar. Percayalah, aku berusaha membantumu.” Alex tak ingin berbohong, dia hanya ingin mencoba menenangkan.
Alex sendiri tahu bagaimana Nadira mengomel padanya juga pada Jayden. Apa yang dia lakukan jelas memberikan dampak padanya. Menurutnya, itu juga jelas memberikan dampak pada Fergus — dan seharusnya Cody. Alex hanya menebak kalau mungkin orang-orang itu punya banyak hal yang harus dibicarakan.
[Kalian membawa para seranggaku pergi. Kalian bisa membuatnya ulang. Dan, saat itu, kalian akan membunuhku.]
Alex menggeleng. “Jangan berpikir sejauh itu. Mereka tidak akan membunuh siapa-siapa.”
[Mungkin mereka tidak, tapi kamu berbeda. Sekali pembohong akan tetap jadi pembohong.]
Alex tak percaya Cody memutus sambungan teleponnya. Cody pasti tak menyangka risiko yang harus Alex ambil hanya untuk bicara dengannya. Alex menghela napas sembari menarik dirinya bersandar.
Kedamaian itu terasa ganjil buatnya. Mungkin itu yang membuka sedikit hatinya untuk lebih baik. Dia ingin menolong Cody meski gagal. Padahal, selama ini Alex yakin kalau dia tak ingin jadi sok pahlawan.
Alex teringat pertanyaan Nadira. Alasan bertarung. Ketika memejamkan mata, aneka kenangan berjalan silih berganti di sana. Pertemuannya dengan Damon, para robot pembunuh, rasa haus darah itu, lalu suku Kloster, dan berakhir pada ibu dan ayahnya.
Kenapa dia bertarung? Kenapa dia ingin menolong orang?
Alex belum bisa menemukan jawabannya. Dia melirik ponselnya. Di sana terdapat pesan baru yang masuk. Pesan dari Willy. Besok malam, mereka akan menghadiri gala dinner. Willy mungkin sekadar ingin memastikan kehadirannya. Itu mengingatkan Alex pada hal lain, ayahnya. Ayah akan datang dalam acara gala dinner itu pula. Akan ada ibu dan ayah.
__ADS_1
Lalu, apa yang lebih buruk dari itu? Kehadiran Baron dan Caitlin. Kalau segala sesuatu bisa terjadi buruk dan memburuk, besok adalah waktu yang tepat. Alex menoleh ke arah kamar tidur. Dari posisinya, dia bisa melihat Jason bertengger di atas nakas. Kalau Baron beraksi besok, dia harus siap.