Zetta Sonic

Zetta Sonic
S1 - (Winter) Dark Room


__ADS_3

ZETTA SONIC


Special Arc : Winter (S1-S10)


*Special Arc : Winter merupakan cerita di luar Main Story Arc.


 


 


Sleigh bells ring, are you listening?


In the lane, snow is glistening


A beautiful sight, we're happy tonight


Walking in a winter wonderland


 


 


Alex mengerjap dalam dingin dan gelap. Selimut masih membungkus badannya. Rover tak bersuara. Suara di sekelilingnya hanya lantunan lagu yang menggema dari lorong hingga masuk ke dalam kamar.


Berikutnya, Alex sadar kalau tidak sedang berada di kamarnya. Dia berada di kasur yang lain, di kamar yang lain, di rumah yang lain. Delapan jam yang lalu, Alex memutuskan menginap di rumah Willy bersama Ivan dan Ben. Mereka berempat bermain hingga lewat tengah malam.


Alex tidak tahu jam berapa sekarang. Mungkin sudah pagi, mungkin sudah siang. Kamar Willy punya tirai ganda, memastikan cahaya matahari tidak akan masuk mengganggu ketika dia ingin bangun siang.


Alex menggeliat di atas spring bed ukuran single. Dia ingat benar kalau tidur di bawah. Willy dan Ivan tidur di atas ranjang, sementara Ben tidur di sofa bed yang ada di dalam kamar itu pula. Mereka memutuskan siapa tidur di mana menggunakan permainan juga. Sambil mengusap mata, Alex menarik dirinya bangun. Dalam kegelapan, tangannya masuk ke dalam kaus, meraba lukanya. Luka itu sudah tak sakit sama sekali meski meninggalkan bekas. Seandainya luka itu tak berbekas pun, Alex akan tahu kalau lukanya ada di sana.


Alex masih mengerjap dalam gelap. Ruangan itu memang benar-benar gelap. Kalau ada sumber cahaya, itu hanyalah ketika tirainya sedikit terbuka. Hal yang sangat jarang terjadi. Dirinya mulai menggigil. Di bawah kaus lengan panjang, selimut tebal, dan pemanas pun, dia masih merasa dingin. Alex jelas bukan penggemar musim dingin.

__ADS_1


Menyadari kalau tak ada seorang pun yang bangun selain dirinya, Alex menyelinap dalam selimutnya lagi. Pikirannya mengenang misi-misi yang pernah dia lakukan juga kunjungannya bersama Leta ke universitas. Bukan kenangan manis, tapi jauh lebih indah daripada kenangan bersama orang tuanya. Alasannya jelas. Kamu tidak bisa mengenang sesuatu yang tidak ada.


Alex berulang kali menulis nama orang tuanya untuk hadiah natal. Sejauh ini, itu hanya sekadar permohonan. Alex tahu kalau tak satu pun dari kedua orang tuanya akan ada di rumah saat liburan musim dingin. Dia tak berharap banyak. Dia tahu bisa menyibukkan dirinya dengan kegiatan lain bersama teman-teman. Persis seperti yang dia lakukan pada tahun-tahun sebelumnya.


Willy pernah menginap di rumahnya selama satu minggu penuh tahun lalu. Tahun lalunya lagi, Alex mengambil kelas intensif di gym atas persetujuan Mrs. Bellsey. Wanita itu tidak tahu kalau Alex mengambil kelas bela diri. Alex sudah beberapa kali mengambil kelas sejenis dengan kondisi serupa. Tahun ini, dia berencana mencari kelas intensif lain. Mungkin memanah, itu kedengaran menarik. Semoga saja dia tidak diganggu oleh misi ICPA.


Telinganya masih mendengar lanjutan lagu tersebut. Di bawah nafasnya, Alex mulai menggumamkan liriknya sejauh yang bisa dia ingat. Matanya melihat dalam pikirannya. Salju terbentang di kaki gunung, putih bersih bak sutra. Pegunungan tertutup salju di balik kabin kayu. Para pemain ski yang asyik meluncur dan keluarga menikmati cokelat hangat.


Lamunannya buyar ketika dia mendengar suara bersin keras.


Willy yang pertama protes dalam suara rendah, “Diam, Ivan!”


Selanjutnya, Ben mengerang. “Kasur ini membunuhku,” suaranya serak. “Aku lapar. Jam berapa sekarang? Apa sudah waktunya sarapan? Aku ingin roti isi tuna atau belgian waffle dengan mix berries. Tapi, steak juga kedengaran enak.”


Serentak, ketiga anak lainnya menyela. “Diam, Ben!”


Keheningan kembali melanda kamar gelap tersebut. Masing-masing mencoba tidur lagi.


Diam-diam, Alex memeriksa Zet-Arm. Cahaya putih menerpa matanya. Selembut apapun cahaya itu, rasanya seperti sengatan lebah di kamar yang gelap gulita. Alex butuh waktu sampai bola mata cokelatnya terbiasa. Dia memeriksa pukul berapa saat itu. Hampir setengah sembilan. Kalau dirinya ada di rumah, Mrs. Bellsey akan mendobrak pintu kamarnya. Karena ini rumah Willy, sepertinya yang perlu dicemaskan hanya suara menggelegar dari pengeras suara. Ayahnya pecinta musik.


Baiklah, mungkin ada hal lain yang perlu dicemaskan di sana.


Kakak perempuan Willy, Beverly, menghambur masuk kamar tanpa mengetuk. Hal itu memancing cahaya dari lorong masuk ke dalam. Alex sadar bagaimana vampir membenci cahaya sebagaimana dia membenci semburat cahaya yang datang itu.


“Will, pinjamkan aku scarf singamu. Gordon bilang akan memakai scarf singa juga hari ini. Aku mau membuat kencan pertama kami berkesan--” Beverly berhenti di sana.


Empat pasang mata sedang menyipit ke arahnya.


Beverly spontan berteriak. “Kyaaaa! Maaf, aku lupa kalau teman-temanmu sedang menginap di sini.” Gadis berambut oranye itu menghambur keluar ruangan tanpa sempat menutup pintu kamarnya.


“Apa itu tadi?” Ivan hanya bisa mengucek mata, badan masih menempel di kasur.

__ADS_1


Alex yang berada paling dekat dengan pintu yakin melihat gadis delapan belas tahun itu masuk hanya dengan mengenakan mantel mandi tadi. Tapi, dia tak repot-repot menjelaskan apa yang dia lihat pada teman-temannya. Meski begitu, Alex mau saja kerepotan untuk menutup pintu. Udara di lorong terasa jauh lebih dingin daripada di dalam kamar. Dia sendiri heran kenapa Beverly bisa tahan berkeliaran dengan pakaian seperti itu.


Kejadian konyol tersebut mengingatkan Alex bagaimana sunyinya rumahnya. Tak ada keributan dari saudara, mengingat kalau dia anak tunggal. Kadang, dia rindu mengalami hal-hal semacam ini terjadi di rumah.


“Jadi, siapa Gordon?” tanya Ben, separuh bergumam. Suaranya tak jelas. Dirinya telah menjadi bulatan besar di bawah selimut tebal.


Willy sendiri malas menjawab. “Entah pacarnya yang keberapa. Aku enggak menghitung.” Si pemilik kamar pun duduk di ranjang sambil menguap lebar. Tangannya menekan tombol dalam kegelapan. Seketika itu juga, cahaya terang membanjiri ruangan.


Kamar Willy memang tidak sebesar kamar Alex. Tak ada ruang bermain di sana. Tapi, tetap ada TV besar di seberang ranjang king size, sofa bed di ujung ruangan dengan jendela berbalkon, juga ruangan kosong untuk meletakkan kasur tambahan bila diperlukan. Seperti kasur Alex saat ini. Mereka bahkan bisa meletakkan tiga kasur lagi atau menambah sofa betulan.


Suasana kamar itu setidaknya terasa hangat. Berkat lantai kayu dan panel kayu senada yang dipasang menutupi satu bagian dinding. Sisanya ditutupi wallpaper emboss dengan ukiran lengkung sederhana.


Melihat Willy, Alex ikut menguap. Dirinya sekarang juga setuju dengan Ben. Perutnya keroncongan. “Jadi, sarapan apa kita pagi ini?”


“Jus jeruk. Omelet. Mungkin.” Willy menguap lagi. “Akan kusuruh pelayan membawakannya ke sini.”


Satu hal besar di antara mereka berempat adalah memiliki pelayan. Sebagai putra dari keluarga kaya dan terpandang, mereka bukan banyak tinggal di manor mewah dengan berbagai fasilitas. Mereka juga punya para pekerja di dalamnya.


Sembari menanti sarapan mereka dikirim, Willy menyalakan TV besar di seberangnya. Alex duduk di atas kasurnya sendiri, bahu menempel ke ranjang, sementara selimut menutupi bahu satunya. Ivan seolah tak terganggu dengan kondisi tersebut, dia masih terlelap. Ben malah sudah mondar mandir sambil mengunyah energy bar.


Hal pertama yang muncul di TV adalah berita mengenai ledakan di udara. Sebuah kecelakaan pesawat. Evakuasi belum bisa dilakukan karena badai salju. Willy mengganti saluran. Berikutnya, ada berita mengenai wabah penyakit yang melanda daerah gurun. Hingga saat ini, para peneliti masih berusaha mencari obatnya. Keluarga Willy akan mengikuti berita itu, Alex tahu. Mereka punya rumah sakit ternama. Mengikuti berita seputar kesehatan jelas makanan sehari-hari.


Lucunya, hingga saat ini, Alex sendiri bingung apa yang ayahnya lakukan. Sejak mengetahui kalau ayahnya bukan pengusaha sungguhan, dia sering menerka-nerka apa yang dilakukan ayahnya saat ini. Ayahnya berada di belahan dunia berbeda. Mungkin enam jam lebih cepat darinya, mungkin sepuluh jam di belakangnya, tidak ada yang tahu.


Ketika akhirnya sarapan mereka datang, Alex mengemukakan pertanyaan yang tadi dia simpan. “Jadi, apa rencana kalian di malam Natal?”


Ketiga anak lainnya saling lempar pandang.


Seolah memahami keinginan Alex, Willy langsung menyahut. “Aku tahu! Ayo adakan pesta Natal! Kita undang anak-anak sekelas, termasuk Leta.”


“Kedengaran menyenangkan.” Alex membuka tutup stainless di tas baki sarapannya.

__ADS_1


“Bagus! Karena pestanya akan diadakan di rumahmu.”


“Tunggu. Apa?”


__ADS_2