
Jayden teringat pada Jason. Pada adik biologisnya, bukan pada si drone. Dia bisa melihat jelas kenangan dalam otaknya diputar seperti menonton film. Terakhir kali dia melihat adiknya adalah di padang gurun. Mereka memang menghabiskan banyak waktu di sana. Tumbuh di tengah badai pasir alih-alih badai kehidupan.
Sebelum pertemuan terakhir itu, mereka bekerja untuk pihak yang sama. Sebuah kelompok anti pemerintah. Singkat cerita, kelompok ini tertangkap oleh kelompok lain. Sudah wajar bila semua yang mereka miliki diambil oleh kelompok yang menang. Sudah wajar pula bila pimpinan kelompok beserta anggota yang kalah dibunuh. Hanya kasus tertentu saja yang membuatnya tidak demikian.
Kasusnya termasuk khusus.
Ketika kelompok itu menangkap mereka, Jayden melohat beberapa orang tertembak dan terbunuh. Jayden sendiri menyadari kalau itu adalah salah satu risiko bekerja pada pihak kriminal. Kalau orang tuanya masih hidup, dia tidak akan menyukai hal tersebut. Apalagi dia mengajak adik satu-satunya menjalankan kriminalitas bersama.
Adiknya, Jason, belajar meretas darinya. Meski tidak sebaik kakaknya, Jason sendiri berhasil mendapatkan data penting juga aliran dana untuk kelompok mereka. Mereka berdua dengan cepat jadi kesayangan sang pemimpin. Dan, justru di sanalah masalah terjadi. Masalah kecemburuan di dalam kelompok mereka juga masalah dari kelompok lain yang berusaha merebut mereka.
Oh, sejak kapan dia jadi rebutan?
Ketika mereka tertangkap, si pemimpin minta keduanya dibelenggu dan dibawa ke depannya, meninggalkan teman-teman mereka yang telah tewas di belakang. Si pemimpin bertanya siapa yang meretas sistem keamanan organisasi pemerintah.
Jason dan dirinya bertukar pandang. Mereka tahu jelas apa jawabannya. Jayden yang meretasnya. Mereka menghapus data pribadi mereka sendiri dari sistem tersebut. Semua jejak lenyap. Itu bukan keahlian Jason, itu milik Jayden.
Di tengah kebimbangan, tak satu pun dari mereka menjawab. Jayden tidak. Jason pun tidak. Si pemimpin menjanjikan fasilitas terbaik bagi si peretas, sementara orang satunya akan dipindahkan ke lokasi berbeda. Hal ini juga biasa terjadi. Mereka selalu punya bala bantuan yang berada di lokasi lain. Bila kelompok utama diserang, kelompok kedua bisa menyelamatkan kelompok pertama.
__ADS_1
Jason pun mengaku. Dia mengaku bahwa dialah yang meretas sistem pemerintah tersebut.
Jayden tidak marah. Meski tak terlihat, dia tersenyum dalam hati. Setidaknya, adiknya akan dapat kehidupan lebih baik. Mereka berpisah di sana.
Tak lama setelah kejadiannya, kelompok yang bersama dengan Jayden diserang. Sama seperti sebelumnya, banyak korban jiwa berjatuhan. Dirinya sendiri tidak. Dia ditangkap dan dibawa menghadap seorang wanita di atas kursi roda. Di sana, Jayden mendapatkan dirinya terjebak bersama ICPA.
Melihat kalau ICPA bisa saja membunuh adiknya secara tidak sengaja, Jayden memohon pada Nadira agar mereka menolong adiknya. Memohon, dalam arti sesungguhnya. Nadira menuruti permohonannya. Berulang kali muncul misi untuk menyelamatkan Jason. Hasilnya? Jason tetap tewas.
Jayden sering memikirkannya diam-diam. Mengenai motivasinya bergabung dengan kelompok tersebut, segi material yang dia dapatkan, kepuasan meretas sistem yang disebut paling aman di dunia, semua. Semakin memikirkannya, Jayden sadar. Di hadapan kematian, itu semua sama sekali tidak berarti.
Alex mengingatkannya pada Jason. Remaja yang penuh semangat dan rasa ingin tahu. Sosok yang ingin dia tuntun.
Akankah dia dapat kesempatan keduanya?
Tiba-tiba, Jayden tersentak dari kondisi separuh tidurnya. Istirahatnya sama sekali tidak menyenangkan, apalagi melihat bagaimana caranya dibangunkan. Seseorang menggebrak pegangan kursi di sampingnya. Cukup keras untuk membangunkannya dan membuat tangan si pemukulnya memerah. Orang itu terkekeh puas melihat Jayden mengerjap tak nyaman. Kalau itu dunia digital, Jayden akan mengirimkan virus untuk menghabisi orang tersebut. Sayangnya, itu sulit dilakukan di sini.
Ini penerbangannya yang keempat hari ini. Dia menghitungnya dengan benar. Orang bersenjata lain di dekatnya menguap. Dia memberi isyarat agar Jayden berdiri cepat dan bergegas mengikuti mereka. Mungkin, sebentar lagi dia akan segera menikmati penerbangan kelimanya.
__ADS_1
Pesawat ini sama seperti pesawat Camellia. Sebuah pesawat barang. Dia mengenalinya langsung dari aroma karat, sebelum akhirnya melihat tali pengaman tebal serta peti-petinya. Sejauh ini, hanya pesawat Marcel yang bukan pesawat barang. Jayden membayangkan bagaimana Marcel membuat banyak alasan untuk diberikan pesawat yang lebih baik.
Itu mengingatkan Jayden pada Alex. Dia penasaran kalau anak itu bisa mendapatkan petunjuknya dengan tepat atau tidak. Jayden mengirimkan petunjuknya pada Alex menggunakan ponsel Marcel. Posisinya sudah berbeda saat ini. Marcel sudah tak bersamanya. Namun, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mengirimkan petunjuk sama sekali.
Orang-orang itu membawanya melewati lorong membosankan. Bukannya pergi ke belakang, mereka justru membawanya ke depan, ke dekat lorong. Salah satu dari mereka membuka membuka pintu kokpit. Orang-orang itu mulai berbincang satu dengan yang lain menggunakan bahasa asing.
Jayden mengintip ke dalam kokpit.
Dari deretan panel di kokpit, Jayden melirik radar. Di sana, radar mendeteksi sebuah pesawat komersial melintas cukup dekat. Mereka berada pada jarak aman, tidak akan saling bertabrakan. Tapi, dari pesawat tersebut, Jayden berhasil mengenali lokasinya. Dia masih berada di benua Sinde dan di negara yang sama. Sayangnya, ada perbedaan waktu dari tempatnya saat ini dari markas Special Force.
Si pilot berbincang melalui headphone yang terpasang di kepalanya. **** bukan dalam bahasa asing, Jayden kesulitan mendengarnya. Suaranya rendah, sulit ditangkap dengan jelas. Jayden sempat berpikir kalau mungkin saja dia akan segera dipindahkan.
Dia tahu kalau dia benar ketika orang-orang itu menggiringnya kembali ke bagian belakang pesawat. Di sana, mereka membukakan pintu untuknya.
Jayden tak percaya ketika melihat pesawat yang menanti di depannya. Kali ini bukan pesawat barang, lebih buruk. Bukan secara fisik melainkan secara kemampuan. Pesawat yang menantinya di depan sana bukanlah pesawat komersial atau pun pesawat kargo. Pesawat tersebut memiliki tubuh meruncing, sayap tipis, dan membawa persenjataan lengkap. Sebuah stealth aircraft.
Sesuatu akan terjadi.
__ADS_1