
Robot pembunuh.
Kalau itu lelucon, maka lelucon Jayden sama sekali tidak lucu bagi Alex.
“Ini pasti pertama kalinya kamu dengar soal itu. Robot pembunuh.” Jayden melirik anak di sampingnya. Alex tengah mengerucutkan bibir dengan tatapan lurus ke depan. Dia terlihat kesal dan penasaran di saat yang sama.
“Selalu ada saat pertama untuk semuanya,” balas Alex sengit.
“Kamu harus belajar hacking dariku kalau mau lebih ahli membongkar rahasia.”
“Dan, kamu perlu belajar bela diri dariku.”
Jayden tertawa kecil mendengarnya. “Kita bisa buat kelas lain waktu. Sekarang, ambil peralatanmu di belakang. Ada koper kecil berisi senjata juga tas ransel berisi pakaian dan makan malammu.”
“Di mana pestanya?”
“Resort tepi pantai. Kita akan sampai di sana satu jam lagi kalau tidak terjebak kemacetan. Sayangnya, data lalu lintas sudah memprediksi kepadatan.”
Alex menengok ke belakang. Dia mendapati kalau hanya ada satu tas ransel berisi pakaian pelayan di sana. Jayden pasti bercanda soal menjadikannya model remaja. “Apa ada hal lain yang perlu kutahu? Beri tahu aku semua detail misi ini, J!”
“Oke, oke. Aku senang kamu menyesuaikan diri dengan sangat cepat. Apa itu gara-gara kamu memeriksa semua fitur di gelangmu sampai dini hari? Aku benar-benar iri padamu. Zetta Sonic memberimu energi lebih untuk begadang.”
“Kamu tahu aku mengakses gelangku hingga pagi? Jadi, sekarang kamu akan mengawasi selama dua puluh empat jam? Menyebalkan! Sama sekali enggak seru!”
“Hei, tenang dulu, agen junior! Aku juga enggak suka membuang waktuku untuk mengawasimu. Aku akan berhenti setelah kamu terbiasa dengan ICPA dan bisa menjadi Zetta Sonic dengan benar. Ya, sekalipun semua penggunaannya akan tetap tercatat di riwayat, sih.” Jayden memacu mobil mereka lebih kencang ketika mereka masuk ke jalan tol. Mobil melaju dengan tenang di tengah cahaya senja hangat.
“Kamu akan berjaga di parkiran lagi kali ini?”
Jayden menggeleng. “Aku akan memandu dari hotel bintang tiga di sebelah. Begitu selesai, keluarlah dari pintu belakang. Tiger akan menunggumu dengan mobil ini. Lakukan secepat mungkin.”
“Tentu saja itu keinginan semua orang.” Alex teringat tugas rumah yang belum dia kerjakan. “Kamu bawa laptop?”
“Ada di belakang. Kenapa?”
“Bagus!” Alex menyambar tas laptop di belakang. Sambil memangku laptop, dia melepas jas seragam sekolah serta dasinya. “Password?” Alex bertanya lagi ketika layar menunjukkan kolom kosong.”
__ADS_1
“Itu laptop ICPA. Kamu pikir kami hanya menggunakan password untuk mengamankannya?”
“Tentu tidak. Voice recognition? Iris scanner? Finger print?”
“Kenapa kamu butuh laptop?”
“Tugas sekolah.”
Jayden mengernyitkan dahi, bingung bercampur geli. “Hei, kerjakan tugasmu nanti setelah misi ini selesai. Itu menjamin kamu tidak berlambat-lambat di dalam.”
“Aku punya tugas kelompok. Kami mengerjakannya terpisah. Aku janji menyerahkan bagianku sebelum pukul delapan.”
Mendengar itu, Jayden menepuk dahi. “Baik, aku terjebak dengan anak yang terlalu patuh pada peraturan sekolah dan setia pada kawan-kawannya tapi tidak dengan orang tuanya dan negaranya.”
“Password?” Alex bertanya lagi.
Sambil mendesah, Jayden pun meletakkan kelingkingnya pada sisi tengah dekat keyboard. Layar pun berubah. Alex bisa masuk ke halaman utama dengan mudah. Dia pun mulai mengerjakan tugasnya dalam keheningan. Jayden sesekali melirik tajam, mengawasi kalau-kalau anak itu melakukan hal lain.
“Berhenti melihatku! Fokuslah menyupir!” pinta Alex. “Aku akan selesai sebentar lagi.”
“Sepuluh menit lagi kita akan keluar tol. Itu batas waktumu.”
Tepat lima menit, Alex menyelesaikan tugasnya. Dia memindahkan datanya ke ponsel lebih dulu barulah dia mengirim berupa surel ke temannya.
Jayden menggelengkan kepala, tak percaya pada apa yang baru terjadi. Anak itu menggunakan laptop kerjanya, mengerjakan tugas, mengembalikan laptopnya ke tempat semula, dan sekarang sedang membuka bungkusan kertas berisi makan malamnya. Jayden heran kenapa dia sendiri bisa membiarkan Alex bertindak sebebas itu.
“Ada hal lain yang perlu kutahu?” Alex melipat bungkusan kertas tanpa sedikit pun menyentuh makanannya. Tangannya meraih tas lain berisi perlengkapannya. “Ini bukan senjata yang umum kugunakan.”
“Tentu saja. Itu pistol laser.”
Ucapan Jayden membuat Alex terbelalak. “Sungguhan?”
“Tadi aku sudah bilang apa yang akan kamu temui di sana, ‘kan? Kamu akan menghadapi robot pembunuh sungguhan. Jadi, ya, itu pistol laser sungguhan. Berhati-hatilah dengannya, aku serius.”
“Pistol lasernya atau robotnya?”
__ADS_1
“Dua-duanya!”
“Ceritakan lagi soal robot itu.”
“Datanya sudah ada di gelangmu, Alex.”
Alex mengangguk. “Apa gelang ini tidak punya nama selain gelang Zetta Sonic? Apa kita tidak akan menamai gelang ini atau apa? Misalnya, nama yang cukup keren untuk disebutkan? “
“Aku tidak perlu nama yang keren. Tapi, kamu bebas mau menamainya apa.”
“Bagaimana dengan kotak bedakmu?”
“Kotak apa maksudmu?” Pertanyaan itu membuat Jayden terbelalak. Lalu, dia teringat pada alat mungil serupa ponsel dari logam yang selalu dia pakai. “Hei, itu bukan kotak bedak! Jaga mulutmu, Killer Bee! Maksudku, Alex!”
“Kamu punya nama untuknya?”
“Enggak. Kenapa?”
“Bagus. Kita sebut gelang ini Zet-Arm dan kotak bedakmu itu Compact Pow-Pad.”
“Apa!? Hei! Itu bukan compact powder! Sebut saja Flipad.”
Alex tertawa sementara Jayden menatapnya dengan kesal. Tapi, itu tak berlangsung lama. Ketika Alex mulai membaca keterangan robot pembunuh di layar Zet-Arm, Jayden tersenyum. Ini pertama kalinya berurusan dengan agen semuda Alex. ICPA punya batas umur untuk setiap agennya. Alex kasus khusus.
Mobil mereka akhirnya meninggalkan tol. Dari sana, terlihat matahari senja cantik dengan pancaran cahaya oranye hangat. Mereka semakin dekat dengan laut. Pohon-pohon kelapa terlihat beserta deretan hotel dan restoran bergaya tropis.
“Mereka memproduksi robot ini di sini tapi tak seorang pun tahu?” Alex terbelalak ketika membaca beritanya.
“Mereka menyamarkannya sebagai robot pelayan. Beberapa manor mulai menggantikan pekerjanya dengan robot. Kamu pasti pernah dengar mengenai hal ini. Atau, jangan-jangan ada robot pelayan juga di rumahmu? Mereka lebih murah, gampang diatur, tidak bisa sakit, patuh dan setia. Dengan berbagai catatan, tentunya.”
“Pengawasku, Mrs. Bellsey, dan Preston, si kepala pelayan, tidak pernah setuju dengan adanya robot di rumah. Mereka tidak punya perasaan. Itu sedikit berbahaya, menurut mereka. Aku setuju. Aku bisa memprogram ulang mereka untuk mengerjakan tugas rumahku.”
“Nanti kamu akan berhadapan dengan robot pelayan yang bisa menggunakan pisau dapur untuk membunuh orang. Satu-satunya cara menon-aktifkan mereka tentu saja dengan merusaknya. Pistol laser adalah senjata terbaik untuk melakukannya.”
“Aku mulai paham masalahnya. Tapi, memang seberapa berbahayanya robot ini? Apa mereka pernah membunuh sungguhan?”
__ADS_1
“Sejauh ini, hanya ada satu robot pembunuh yang kami tahu, KTA-00. Robot itu membunuh detektif kepolisian saat sedang mengintai rumahnya. Kamu bisa menebak kelanjutannya, Alex?”
“Kasus itu lenyap dari publik. Ada petinggi polisi ikut terlibat atau lebih buruk, pemerintah.”