
Alex tak tahu permainan macam apa yang sedang terjadi. Tiger mendadak muncul di sekolahnya sebagai instruktur untuk acara camping mereka. Dia mencium campur tangan Nadira di balik semuanya. Mengingat kalau si pimpinan punya koneksi ke berbagai pihak, memang tidak mengejutkan melihat kehadiran agen besar itu di sana.
Seperti ucapan Ivan dan Ben, Tiger memberikan penjelasan jauh lebih singkat daripada panduan yang dikirimkan sekolah. Alex yakin jadi orang pertama yang membacanya ketika panduan tersebut dikirimkan. Penjelasan Tiger bukan hanya singkat tapi juga mengandung ancaman di baliknya.
Alex tak sempat ngobrol dengan Tiger saat di kelas tapi dia cukup yakin kalau Tiger akan menantinya sepulang sekolah.
Sesuai dugaannya, Alex mendapat panggilan ke ruang guru begitu jam pelajaran selesai. Tiger menantinya di ruang konseling. Ruang tersebut ada di ujung koridor tepat di samping ruang guru. Ruangannya sendiri punya pintu kaca besar. Bagian dalamnya bernuansa cokelat. Sofa kayu, meja kopi warna cokelat tua, lantai kayu cokelat muda, dan rangkaian bunga kering di atas rak tepat di bawah jendela.
“Permainan apa ini?” Alex membuka percakapan sambil meletakkan tasnya di atas sofa. Tangannya terlipat di depan dada, matanya menyorot tajam si agen. “Sejak kapan kamu banting setir sebagai instruktur alam bebas.”
Tiger terkikik. “Ini akan jadi selingan yang baik.”
“Kamu menyusup ke sekolahku, Tiger.”
“Duduklah dulu. Berperanlah sebagai murid yang baik. Di sini, aku seorang instruktur dari pihak luar. Kamu menghormatiku. Aku memercayaimu dan mengangkatmu sebagai salah satu ketua kelompok.”
“Oke. Kupikir aku bisa lakukan itu.” Alex duduk di tengah sofa besar. “Ketua kelompok apa yang sedang kita bicarakan? Ketua kelompok camping?”
“Lebih dari lima puluh siswa dan delapan guru akan berangkat ke perkemahan. Aku butuh sepuluh ketua kelompok. Satu kelompok, satu tenda.”
Alex mendengus geli. “Kita masih membicarakan soal itu?”
“Tidak.”
Alex mengernyit. “Kamu memanggilku ke sini untuk hal lain, bukan?”
“Tentu saja. Ini soal Zetta Sonic.”
__ADS_1
Alex buru-buru meletakkan telunjuknya di bibir. “Sst! Memang tidak apa-apa kita membicarakan itu di sini? Maksudku, ini tempat umum, ‘kan?”
“Jangan khawatir, aku sudah minta Jayden memeriksa tempat aman untuk bicara. Tempat ini tidak memiliki penyadap dan kamera pengawas dalam ruangan. Kacanya tebal, menghalangi suara keluar dan masuk. Sepertinya anak-anak artis punya kebutuhan mereka tersendiri. Jayden bilang kamu tidak pernah ke sini.”
“Pernah. Sekali. Saat setiap siswa diwajibkan ngobrol dengan wali kelas mereka selama lima belas menit. Kamu tidak memecahkan rekorku.”
“Senang mendengarnya.” Tiger mengatakannya dengan wajah datar.
“Kalau begitu, langsung saja. Apa rencanamu? Menyuruhku berlatih selama acara berkemah?” Alex melontarkan satu-satunya hal yang terpikir dalam otaknya sekaligus hal paling dia harapkan tidak akan terjadi.
Tiger tersenyum sekarang. “Tepat.”
“Tunggu! Apa? Aku baru saja berhadapan dengan robot pembunuh dan menghancurkan pabriknya. Apa aku enggak layak dapat liburan?” Sejak bergabung bersama ICPA, sekolah dan semua aktivitasnya terasa begitu santai. Hampir bisa disejajarkan dengan liburan. Tidak ada ancaman pistol atau ledakan.
“Jayden sedang memeriksa berkas yang dia dapatkan dari pabrik kemarin. Sejauh ini, dia cukup meyakini kalau tiga robot yang lari kemarin punya target untuk dihabisi. Tiga robot, tiga orang. Zetta Sonic harus bersiap untuk menghadapi saat mereka muncul lagi.”
“Menurut Jayden, itu karena robotnya sendiri belum siap. Sudah kubilang kalau Jayden sedang memeriksa berkasnya, ‘kan? Dia berharap bisa menemukan petunjuk soal itu dan targetnya segera.”
“Kita seharusnya tanya langsung pada Filip Shah.” Kemudian, Alex menyanggah sendiri idenya. “Ah, seandainya saja dia bukan penjilat seperti kakaknya, ini akan lebih mudah. Nikola lebih kelihatan sebagai penjahat daripada adiknya. Filip punya hubungan baik dengan beberapa petinggi polisi juga anggota pemerintah. Ini enggak akan mudah.”
Tiger cukup yakin kalau baik dirinya maupun Jayden tidak memberikan informasi sedetail itu pada Alex. “Kamu mencari data sendiri? Aku terkesan.”
“Tahu siapa lawanmu menjauhkanmu selangkah dari bahaya.” Alex melemparkan pandangannya ke jendela yang menunjukkan pemandangan senja di luar sana. “Intinya aku nanti hanya perlu menuruti instruksi latihan darimu, ‘kan?”
“Siapkan dirimu, karena ini akan jauh lebih berat dari fase pertama. Semuanya mengenai latihan fisik.” Tiger membuat senyum simpul bak seringai.
“Seperti latihan fase pertama bukan soal latihan fisik.” Alex balas menyeringai.
__ADS_1
“Tentu saja bukan. Pada latihan fase kedua ini, kamu tidak akan menggunakan seragam tempur sama sekali. Kalau menurutmu, itu bukan masalah, sebaiknya pikir ulang.”
Ucapan Tiger membuat Alex mulai berpikir tidak-tidak. Seharusnya tempat yang akan mereka kunjungi tak lebih dari sekadar perkemahan biasa. Latihan berat dalam pikiran Alex hanyalah seperti menimba air dan semacamnya. Tapi, pelatihnya Tiger, seorang mantan pegulat. Mungkin memang dia memikirkan ulang.
“Baik,” Alex melanjutkan, “bagaimana dengan agen itu? Gavin?”
“Jayden memilih tidak ambil pusing soal itu. Nadira sendiri sudah menyuruh orang lain untuk memeriksa profilnya. Sejauh ini yang kita tahu hanya kalau agen itu sedang mengambil cuti satu bulan. Artinya, apa pun yang dia lakukan di sini bukan dari perintah ICPA cabang Regis. Kecuali, kalau dia melakukan misi rahasia yang bahkan tidak boleh diketahui rekan-rekannya sendiri.”
“Seperti Zetta Sonic?”
“Mirip.”
“Apa itu artinya aku juga akan dapat cuti satu bulan?” Alex mengangkat alis ketika bertanya. Tiger bergeming, tampak tak mau menjawab. Alex pun mengganti pertanyaan. “Apa menurut Nadira, Gavin dikirim untuk menyelidiki Zetta Sonic.”
“Kemungkinannya kecil. Misi yang diberikan padamu itu tidak ada dalam rencana sebelumnya. Itu misi baru. Padahal, Gavin sudah meninggalkan Regis setidaknya sepuluh hari yang lalu. Kalau dilihat pun, dia lebih ingin membunuhmu kemarin daripada menyelidikimu.” Tiger berhenti sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha…”
Alex bergidik ngeri. “Tiger? Kenapa kamu mendadak tertawa?”
Tiger kesulitan menghentikan dirinya sendiri. “Kamu … Hahaha … Haha …”
“Hentikan! Kamu membuatku takut,” ujar Alex separuh berbisik.
Tiger akhirnya berhenti tertawa setelah beberapa saat. “Kamu tahu kenapa aku tertawa? Aku membayangkan aksimu kemarin. Kamu seperti anak kucing di kandang ular. Aksimu benar-benar spektakuler. Dalam arti berbeda!”
Alex memasang tampang kesal. Hanya sebentar. Berikutnya, dia malah ikut mendengus geli. “Kamu bertugas melatihku, ‘kan? Pastikan aksiku selanjutnya lebih pantas direkam di kamera!”
Alex mengulang kalimat yang pernah dia dengar dari seseorang yang seharusnya dekat dengan dirinya. Ibunya sendiri. Ibunya sangat awas pada kehadiran paparazi. Itu pula sebabnya dia menyewa banyak bodyguard. Kadang ketika aksi memalukan sang aktris terekam, si bodyguard akan memastikan rekaman tersebut lenyap. Ibunya berakhir dengan mengatakan hal semacam itu.
__ADS_1
Bicara soal ibunya, Alex ingat kalau ibunya akan segera pulang ke rumah.