
Pasti ada yang salah dengan dirinya. Alex tak suka ketika mendengar Leta mengucapkan itu padanya. Dia tak bisa menggambarkannya. Dia tak tahu alasannya. Dia hanya tak suka. Alex harus mengaku kalau dia bersyukur ketika bel sekolah berdering. Alex membiarkan percakapan itu berhenti di sana. Mereka pun berpisah menuju bangku masing-masing.
Hingga istirahat siang, Alex tahu pikirannya terus kembali pada apa yang terjadi di pagi hari. Semakin lama berjalannya waktu, Alex mendapati kalau hal itu lebih meresahkan daripada menyenangkan. Alasannya sederhana, karena dia tidak tahu kenapa dia tidak suka mendengarnya dari Leta.
“Alex, kamu mendengarkan?”
Alex tersadar dari lamunannya.
Willy pun mengulang informasinya. “Kita kedatangan guru baru. Artis ternama, maksudku musisi ternama, Melody Riza. Kamu pasti pernah dengar, ‘kan?”
“Melodiza,” kata Alex, menyebutkan nama panggung guru baru mereka. “Dia datang hari ini? Sekarang? Ini ‘kan jam pelajaran geografi.”
“Benar. Sepertinya pihak sekolah sedang membuat lelucon.” Willy menarik dirinya dan bersandar penuh ke kursinya. “Ini akan menyenangkan. Pasti jauh lebih menarik daripada penjelasan Mr. Rocky.”
“Jadi, Melodiza akan mengajar kita geografi? Kupikir dia guru sejarah.”
“Enggak. Dia memang mengajar sejarah.”
Alex mengernyit, tak begitu paham alasan sekolah mereka mengganti jam pelajaran. Sesungguhnya, itu memang bukan hal besar. Sekolahnya suka membuat kejutan bagi para murid. Ini bukan pertama kalinya. Di atas itu semua, Alex lebih penasaran pada Melodiza. Sama seperti murid lainnya, dia juga penasaran bagaimana musisi itu banting setir untuk mengajar di sekolah mereka.
“Apa menurutmu—”
“Enggak, dia bukan lulusan sekolah ini,” ujar Willy sebelum Alex selesai bertanya. “Semua orang punya pemikiran yang sama. Ternyata, tidak. Melodiza bukan lulusan sekolah ini. Dia lahir di desa kecil dan hanya lulusan sekolah biasa. Bukan dari kalangan atas. Tipe peraih kesuksesan dengan kerja keras.”
Mengingat kalau Wood Peak merupakan sekolah yang identik dengan orang penting dan kaya raya, tak heran kalau guru mereka berasal dari kalangan yang sama. Sekolah juga sering memanggil alumninya sebagai pembicara tamu. Peraih medali emas olimpiade, pengusaha sukses, artis dunia, pelukis, pemahat patung, bahkan menteri dan politisi ternama dunia. Melodiza agaknya berbeda.
“Suaranya bagus.”
__ADS_1
“Bagus? Suaranya seperti menghipnotis.”
Alex mengangguk, terpaksa setuju. Dia sendiri tak bisa melupakan lagu terbaru Melodiza, padahal sudah berhari-hari sejak dia mendengarnya. Lagu Melodiza cukup sederhana dan mudah untuk diingat.
“Dan… dia menawan,” tambah Willy.
Samar-samar, terdengar suara tarikan napas dari seisi kelas. Guru baru mereka baru saja melalui pintu kelas. Dia bahkan lebih menawan dari klip video. Badannya indah, rambut ikal coklat tergerai di punggung, wajah tirus, bibir tebal dan mata lebar. Riasannya tipis, menunjukkan kecantikan alami. Setelan jas merah jambu itu berhasil menunjukkan lekuk tubuhnya yang sempurna.
Alex mengangguk lagi.
Melodiza berjalan menuju ke depan kelas. Bagian depan kelas itu berada sedikit lebih rendah daripada tempat duduk para murid. Sang guru harus sedikit mendongak untuk menatap setiap muridnya. Ketika dia melempar senyum, Alex bersumpah mendengar desahan samar dari teman maupun dirinya. Secara tak sadar, Alex bahkan menopang wajahnya dengan tangan, matanya menatap lekat pada sang guru, seperti fans berat artis tersebut. Padahal, tidak juga. Seolah tersadar, Alex buru-buru mengerjap dan menggelengkan kepala.
Willy di sampingnya mendengus geli. “Aku harus dapat A di mata pelajaran ini.”
“Untuk apa?” balas Alex. “Mendapatkan tanda tangannya? Kita bisa dapat saat mengumpulkan tugas.”
Melodiza bertepuk tangan dua kali, memanggil perhatian semua murid padanya. Perhatian yang dimaksud adalah perhatian guru dan murid, bukan fans dan idola. “Selamat siang, anak-anak! Aku yakin kalian sudah tidak terkejut lagi karena jam pelajaran sejarah dipercepat. Beritanya bocor dengan cepat.”
Alex melempar lirikan pada Willy.
Willy mengedikkan bahu. “Hannah posting beritanya di group.”
Alex memutar bola matanya. Tentu saja. Semua berita bisa menyebar dengan cepat lewat group kelas. Karena tidak sempat membuka group itu saat makan siang, wajar saja kalau Alex tidak tahu berita yang beredar.
“Namaku Melody Riza. Mulai semester ini, aku akan mengajar sejarah. Aku suka memberi kuis dan cukup murah nilai. Berita bagus, bukan? Tapi, ada satu peraturan ketat di sini. Jangan panggil aku dengan nama panggung. Panggil aku Mrs. Melody. Cukup dipahami?”
Bukan hal sulit. Itu juga bukan pertama kalinya seorang guru artis minta dipanggil dengan nama asli. Alex penasaran bila guru mereka ini akan mengajar penuh seperti guru lainnya atau hanya sekadar satu semester. Beberapa alumni sekolah berusaha menunjukkan rasa terima kasih mereka dan jadi guru. Mayoritas dari orang-orang itu hanya bertahan satu atau dua semester paling lama. Akhirnya, hanya mereka yang benar-benar berniat jadi guru akan bertahan. Bukannya pesimis, tapi Alex cukup yakin kalau Melodiza hanya akan bertahan selama dua semester.
__ADS_1
Mungkin juga tidak.
Guru baru mereka tidak membuang waktu untuk perkenalan. Dia mulai mengajar. Alex harus mengakui kalau cara mengajarnya tidak buruk, bahkan bagus. Dia menjelaskan semuanya dengan detail. Cara bicaranya, suaranya, bahasa tubuhnya, semua enak dilihat. Alex melempar pandangan pada teman-teman sekelasnya. Mereka semua memperhatikan ke depan. Mungkin Alex terlalu pesimis. Melodiza ternyata bisa mengajar.
Sayangnya, pengajaran selalu diakhiri dengan tugas. Sekalipun cara mengajarnya enak dan mengaku kalau murah nilai, wanita itu sangat kreatif perihal tugas. “Aku ingin kalian membuat video berdurasi tiga menit. Dalam video itu, kalian akan jadi wartawan yang mewawancarai tokoh favorit kalian dalam sejarah. Percakapan itu boleh sepenuhnya imajiner namun tetap membahas momen penting si tokoh.”
Alex melongo. “Apa dia barusan bilang percakapan imajiner?”
Willy juga melongo. “Kalau kamu juga dengar, berarti kita enggak salah dengar.”
“Satu lagi!” sahut Melodiza. “Ini tugas berkelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Buat sekreatif mungkin. Aku suka melihat hasil karya. Kalian harus mengumpulkannya besok lusa. Unggah datanya di database sekolah sebelum jam dua belas malam.”
Alex langsung menyenggol temannya. “Partner?”
“Apa? Aku? Kupikir kamu akan minta sekelompok dengan Leta.”
“Enggak. Lebih baik denganmu.”
Willy pun mengernyit. “Ada yang terjadi di antara kalian?”
“Enggak. Aku hanya berpikir lebih gampang mengerjakannya bersamamu. Kamu bilang mau ke rumah untuk main game malam ini, ‘kan?” Alex berbohong dengan muda seperti biasa. Matanya melirik pada game terbaru dari Cody yang ada di atas meja Willy.
“Oke. Jadi, malam ini kita kerja tugas bukannya main game?”
“Kamu bercanda? Kita akan main game baru mengerjakan tugas!”
“Beruntungnya aku satu tim dengan anak paling pintar di kelas.”
__ADS_1
Alex menyunggingkan senyum simpul. Ketika melemparkan tatapannya kembali ke depan kelas, Alex bersumpah kalau Melodiza sedari tadi menatapnya terus. Mungkin ini sekadar pikiran gila, namun Alex tahu, masalah akan datang. Dan, Melodiza akan terlibat.