Zetta Sonic

Zetta Sonic
Whole World


__ADS_3

Emil tahu dia seharusnya memperhatikan kelas training fisiknya lebih baik. Sekarang matanya hanya bisa terbelalak melihat Rando menodong dirinya. Otaknya tahu apa yang dilakukan. Kakinya tak mampu bergeser apalagi berlari. Dia mematung oleh rasa takut. Tahu-tahu saja, dirinya sudah berada di tanah. Tak mampu bergerak dan basah. Emil mengerjap. Rasa takutnya kini disertai rasa sakit.


“Emil!” Alex berseru.


Alex menyergap Rando. Dia tak boleh membiarkan Rando menembak lagi. Keberaniannya menggelora didorong oleh rasa bersalah. Alex berhasil menarik Rando dari Caitlin. Dia juga berhasil memberikan pukulan di dada hingga pistol itu terlempar.


Alex melakukan tendangan. Rando menahannya. Pedang Alex terayun pada tangan Rando yang masih dalam posisi bertahan. Rando pun mengulurkan tangan. Dia bukan menghindar. Tangan Rando menangkap tangan Alex, mencegah pedang itu sampai melukai dirinya sendiri. Gagalnya serangan tersebut tak membuat Alex putus asa. Sebaliknya, dia menggunakan kesempatan itu dan menendang lawannya sekuat tenaga.


Rando pun dipaksa mundur. Untuk sesaat, Rando memperhatikan dirinya sendiri, berusaha memastikan kalau dirinya baik-baik saja. Selain dada yang kena tendang dan rasa tak percaya, Rando merasa senang.


Pembunuh itu menyeringai. “Ini akan menyenangkan, Sonic.”


Alex sudah berlari sebelum Rando selesai bicara. Pedangnya terhunus ke depan. Rando juga bersiap dengan belati panjangnya. Rando menghindari pendang panjang tersebut. Kakinya melangkah maju melewati Alex. Ketika Alex berputar, Rando menyerang punggungnya.


Belati tersebut pasti sudah dilumuri cairan khusus. Serangan itu memang tidak sampai melubangi seragamnya, tetapi serangan itu berhasil membuat goresan panjang dan cukup dalam. Peringatan muncul pada helm Alex. Melihat kesempatannya, Rando melukai bagian yang sama. Kali ini, serangannya berhasil merusak seragam. Alex bisa merasakan punggungnya perih dan panas.


Selagi Rando tertawa, Alex berteriak. Alex mengabaikan rasa sakitnya dan berbalik. Dia mengayunkan pedang, tapi Rando lebih cepat menghunuskan belati. Belati tersebut menggores bagian leher yang tertutup seragam. Kalau Rando melakukannya lagi, maka Alex akan mendapat luka lebih parah.


Caitlin menembak lagi. Beberapa tembakan beruntun pada punggung.


Rando hanya berpaling sebentar dan tersenyum. “Tidak belajar dari kesalahan? Kamu seharusnya membidik kepala.”


“Aku tahu!” Jawaban itu bukan datang dari Caitlin melainkan Alex.


Rando berpaling sekali lagi hanya untuk melihat Zetta Sonic tengah mengulurkan tangan padanya. Asap kehijauan muncul dari celah-celah seragam. Mereka terlihat seperti kepulan asap yang keluar dari jendela gedung terbakar. Bedanya, asap itu hijau dan menggeliat seolah hidup. Rando sempat menyipitkan mata. Sebelum sempat berkomentar, kepulan asap itu menyatu. Kilau memancar. Rupanya lebih mirip laser daripada asap sekarang.

__ADS_1


Kali ini, Rando sadar telah membuat kesalahan. Matanya terbelalak. Kakinya bergerak secepat yang dia bisa. Serangan Alex lebih cepat. Sinar hijau itu memancar padanya. Dia hanya sempat bergeser dan menghindarkan wajahnya dari serangan. Sial baginya, sinar tersebut melahap tangan kirinya. Giliran Rando berteriak.


Alex tak melepaskan kesempatannya. Dia mengayunkan pedang, memotong tangan kanan Rando. Dia mengakhiri pertarungan dengan satu tendangan kencang. Rando dibuat jatuh terbatuk karenanya. Alex langsung mengayunkan pedangnya pada lawan.


Rando bergeming. Dia menghadapi datangnya pedang laser tersebut tanpa berkedip sedikit pun. “Lakukan!” pintanya.


Alex berhenti. Pedangnya hanya terpaut beberapa centimeter saja dari wajah Rando. Alex menggeleng. “Aku enggak menerima perintah dari penjahat!”


“Kamu tidak akan dapat kesempatan lebih baik dari ini.”


“Enggak masalah. Akan kupastikan kamu enggak pernah keluar dari penjara.”


Alex tahu kalau pasukan ICPA telah siap. Para agen berdatangan dari kedua sisi lorong. Beberapa langsung meringkus Rando. Tanpa tangan besi, Rando tak berbahaya lagi seperti biasanya. Meski begitu, untuk berjaga-jaga, mereka menyetrum pembunuh berdarah dingin itu sampai tak sadarkan diri. Akan jauh lebih aman memindahkan Rando seperti itu.


“Jangan takut, itu meleset,” ujar Caitlin.


“Tembakan Rando meleset?” sahut Alex.


“Dia beruntung,” tambah Caitlin lagi. “Sangat beruntung.”


“Sungguh?” Alex menaikkan kedua alisnya.


Sekalipun Emil tak bisa melihat Alex melakukannya, dia tahu dan terkekeh. “Aku belajar sepertimu. Teknologi robot pembunuh. Aliran angin untuk mengganggu arah peluru. Lumayan efektif juga.” Emil melirik bahunya yang luar biasa nyeri. “Maksudku, jantungku selamat.”


“Serius?” Caitlin menggelengkan kepala. Dia melempar senyum sambil menyandang senapannya. “Memanfaatkan teknologi penjahat untuk melawan penjahat lainnya. Harus kuakui itu luar biasa.”

__ADS_1


“Jayden bisa melakukannya lebih baik.” Emil tersenyum tipis. Wajahnya terlihat makin pucat. Dahinya dipenuhi peluh. Dia pun menyerahkan tablet PC yang dari tadi dipegangnya pada Alex. “Dan, kamu. Kamu bisa menemukannya.”


“Apa? Kalian menemukannya?” Alex sama sekali tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.


“Hampir.”


Para tim medis menekan luka Emil untuk menghentikan pendarahannya. Segera setelah tandu datang, mereka memindahkan Emil ke atas atasnya untuk operasi. Peluru itu masih bersarang di bahunya dan harus segera dikeluarkan.


Emil memegang tangan salah seorang tim medis, memberi isyarat kalau dia masih butuh sedikit waktu untuk bicara. “Dia siap membantumu.”


“Siapa?” Alex mulai gusar.


“Si lebah. Robot itu. Kamu benar. Dia lebah pekerja. Dia menerima sinyal dari lebah ratu. Dari Jayden.” Emil terdengar yakin di awal namun agak ragu di bagian akhir. “Seharusnya begitu.”


“Apa? Bagaimana bisa? Kupikir semua tracker di tubuhnya sudah ditemukan dan dibuang. Bagaimana Jayden bisa mengirim sinyal pemancar?”


“Tidak semua pemancar harus dipasang di luar. Aku pernah dengar. Ada agen memasang pemancar dalam tubuh mereka. Ditanam di tulang. Pemancar itu butuh waktu untuk diaktifkan. Itu yang kutahu.”


Caitlin tak sabar dengan penjelasan Emil. “Bisakah kita lompati penjelasannya dan langsung ke bagian di mana Jayden saat ini?”


“Aku tidak tahu,” jawab Emil. Suaranya makin lirih. “Si lebah sudah menerima sinyal. Sekarang, dia sedang menerjemahkannya. Pemindaian sedang dilakukan… untuk menemukan… lokasi akurat. Sekarang, aku merasa ngantuk…”


“Tunggu,” sahut Caitlin. “Sejauh apa lebah ini bisa memindai?”


“Seluruh dunia.” Emil tersenyum. “Seluruh dunia, Caitilin. Lebah pekerja itu akan melakukan apa pun untuk menemukan sang ratu.”

__ADS_1


__ADS_2