
Kalau ada kesempatan baik bagi Alex menguji kekuatannya, maka tidak ada waktu yang lebih cocok dibandingkan saat ini. Dia sudah berada di dalam air. Posisinya berada di antara kapal selam SM-204 dan rudal bermoncong kuning. Rudal itu akan ********** habis kalau tidak segera bertindak.
‘Tidak ada pilihan’ tampaknya cocok dalam kondisi ini. Di dalam helm itu, Alex tak perlu menyembunyikan ketakutannya. Situasi ini memojokkannya. Pilihannya jelas. Dihabisi dalam air oleh rudal atau dihabisi bersama rekan-rekannya dalam kapal. Tewas setelah berusaha melakukan sesuatu terdengar lebih heroik di telinga Alex. Meski dia tidak bisa menyangkal kalau perdebatan di dalam kapal selam barusan bukan hal terakhir yang ingin dia tinggalkan.
Waktu bergerak cepat.
Alex merentangkan kedua tangannya. Dia memaksa benaknya dipenuhi oleh berbagai kenangan yang memancing emosi. Mulai dari kenangan akan ayahnya yang tak pernah di rumah, ibunya yang baru saja dilihatnya bersama laki-laki lain, hilangnya Jayden di depan mata, aksi Melodiza, juga beberapa kenangan lain. Salah satu di antaranya yang sedikit mengejutkan adalah dari Willy.
Untungnya, itu berhasil. Ada sesuatu gejolak timbul dalam dirinya. Dadanya berdebar. Tangannya gemetar oleh amarah. Pandangannya dihampiri oleh kilat hijau. Saat itulah, dia mendapati kondisi di sekelilingnya mendadak terang benderang. Seakan-akan seluruh laut diterangi oleh lampu sorot dari berbagai sisi. Tidak ada lagi kegelapan. Matanya bisa mengenali warna dan bentuk dengan jelas. Bersamaan dengan itu pula, dia melihat segala sesuatunya bergerak dengan sangat pelan.
Rudalnya bergerak lambat. Jauh lebih lambat. Alex tidak tahu apa yang terjadi selain kalau kekuatan itu mengambil alih dirinya. Kekuatan itu memberikan bantuan bagi dirinya. Kekuatan mentah, kecepatan, penglihatan dalam gelap, serta Dragon Aura sebagai puncaknya. Dari tangannya, asap kehijauan merembes dari tangan, keluar dari sarung tangannya. Asap itu meliuk-liuk. Hal yang tampaknya tidak mungkin terjadi di dalam laut, benar-benar terjadi di depan mata Alex.
Kekuatan itu menjelma persis seperti bayangan Alex. Serangan laser. Sayang sekali, hal pertama yang harus dia hancurkan bukan rudal melainkan sarung tangannya sendiri. Zet-Arm memberikan tanda bahaya soal kelebihan kapasitas. Suara Tiger berteriak dalam helmnya. Emil bergumam tak jelas.
Apa yang terjadi selanjutnya tak akan pernah dia lupakan.
Kekuatannya meraung. Mereka berlompatan keluar dari dirinya. Ledakan besar pun terjadi. Keenam rudal menerjang dirinya. Ledakan terjadi. Cahaya membutakan. Gelombang besar. Hempasan menyakitkan. Suara kencang.
Alex bergeming. Kedua tangannya masih terentang. Matanya terbuka lebar. Kilat hijau tak datang kembali. Meski begitu, dia tahu kalau matanya memancarkan warna hijau. Segala sesuatunya kembali seperti sedia kala. Kecepatan benda-benda bergerak, kesunyian membosankan, kekuatan tekanan air. Suasana muram datang menaungi. Airnya sendiri dipenuhi serpihan dan kepingan kotor. Tak ada yang hancur selain rudal itu sendiri.
[Apa itu tadi?] Suara Tiger terdengar pertama kali setelah ledakan.
__ADS_1
Di belakang Alex, kapal selam SM-204 bergerak mendekat. Lampu sorotnya menerangi Alex dari belakang. Alex tahu kalau sudah berhasil menolong teman-temannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alex tidak tahu apa yang harus dilakukan dan apa ayng harus dilakukan dalam waktu bersamaan. Kekuatannya tidak akan mampu menghancurkan semua rudal. Namun, dia sanggup menyelamatkan teman-temannya. Perisai yang muncul dari Dragon Aura berhasil melindungi dirinya dan teman-temannya.
[Kupikir tadi dia mau menembak rudal-rudal itu.] Tiger kembali memecah keheningan
Alex berpaling, namun matanya hanya mendapati kegelapan.
Tentu saja, Alex tahu. Setiap kali kekuatan Dragon Aura itu muncul, dirinya selalu merasa kelelahan. Tidak mengejutkan kalau Zet-Arm memberi peringatan akan kelebihan kapasitas. Kekuatannya tak mampu diukur lagi oleh teknologi ICPA tersebut. Begitu kuat sampai merusak seragam pada bagian tangannya.
Kesadarannya tidak sepenuhnya lenyap. Pikirannya terjaga meski badannya tak mampu bergerak. Dia merasakan semacam capit datang dan membawanya mendekati kapal selam. Emil dan Tiger akan menjaga tubuhnya di saat dia tak mampu lagi bergerak. Mereka akan mengamankannya.
Badannya bergerak pelan dalam air. Alex merasa kalau diperlakukannya begitu lembut seolah capit itu takut kalau-kalau akan merusak badannya.
Itu hal luar biasa yang tidak akan pernah dia pikirkan sebelumnya. Alex pernah berpikir kalau Dragon Blood mungkin bukanlah benar-benar cairan eksperimen. Alex kini mulai memercayainya. Mungkin sesungguhnya Dragon Blood adalah semacam senyawa. Makhluk hidup. Mampu berpikir, bertindak, memiliki keinginan, dan mampu mengambil alih. Seolah dia inangnya dan eksperimen tersebut adalah parasitnya.
Pemikiran itu membuat rasa ngeri bergerak naik dalam benaknya. Terlebih lagi ketika dia mendengar kepanikan Emil dan Tiger.
[Apa itu? Monster?] Suara Tiger terdengar. [Kamu pasti bercanda!]
Penjepit itu bergerak lebih cepat. Alex bisa merasakan kalau dirinya ditarik lebih cepat. Namun, belum cukup cepat untuk menghindari apa pun yang tengah menghampiri. Hidungnya mencium bau busuk. Bau kematian. Alex tahu, monster prasejarah lain telah datang pada mereka. Bukan, lebih tepatnya, pada dirinya.
__ADS_1
[Emil! Lebih cepat! Tarik Alex lebih cepat!]
[Tidak bisa. Ini sudah kecepatan maksimal!]
[Kalau begitu, aku akan menembak!]
[Negatif! Kita terlalu dekat. Rudalnya bisa mengenai Alex.]
[Berikan aku solusi yang lain lain, Emil!]
[Nyalakan pendorong!]
[Apa?!]
Tahu kalau mesin penjepit kapal selam mereka tidak lagi bisa menarik Alex lebih cepat, Emil pun menyalakan pendorong kapalnya. Kapal itu bergerak sambil menarik Alex yang ada di luar. Kecepatan mereka sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan makhluk besar yang tengah mendekat. Mereka lebih lambat. Setidaknya itu jelas lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa. Namun, mereka butuh melakukan hal lain agar bisa selamat.
Alex tak paham bagaimana dia bisa memahami apa yang sedang terjadi di luar sana. Padahal matanya tengah tertutup. Setiap jengkal tubuhnya, itu yang memberi tahu. Seperti indera keenam. Sesuatu yang tidak bisa dia pahami tapi bisa dia rasakan dampaknya.
[Alex, buka matamu!] Tiger berteriak panik.
Seolah menyambut perintah Tiger, lagi-lagi, dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia membuka matanya tepat ketika seekor monster raksasa sedang membuka mulutnya di depan tubuhnya.
__ADS_1
Saat dirinya mengharapkan Dragon Blood akan memberikan kekuatan tambahan, itu tidak terjadi. Alex masih tak mampu bergerak. Tubuhnya menolak semua perintah dari otaknya. Bahkan, rasa takut dan panik tidak berhasil mengirimkan sinyal pada tubuhnya. Dia terlalu lelah. Alex sekarang justru berharap kalau dirinya terlelap sekarang karena dia tidak ingin merasakan bagaimana rasanya ditelan ikan.
Dan, tentu saja itu tidak terjadi.