Zetta Sonic

Zetta Sonic
Walk Together


__ADS_3

Alex hanya mengirim jawaban singkat kalau dia suka. Titik. Alex yakin ayahnya bertanya karena ingin membeli patung atau semacamnya. Mereka punya beragam patung, ornamen, dan berbagai hiasan di gudang. Gudang tersebut merupakan sebuah bangunan khusus di luar manor utama. Preston diberi kepercayaan mengenai dekorasi rumah. Dia bisa mengganti bagian mana pun setelah mendapat izin. Mengingat kalau suami istri pemilik rumah jarang berada di rumah, wajar kalau si kepala pelayan dapat izin semacam itu. Sementara sebagai tuan muda, Alex acuh pada semua hiasan.


Saat Alex hendak melupakan soal kuda, dia malah mendapati bagaimana Willy ngobrol dengan Cody di hari selanjutnya. Bukan ngobrol sungguhan. Willy menganggap Cody sebagai sumber game terbaru karena ayahnya punya hubungan baik dengan developer game Nile App. Cody, sebaliknya, pasti tak suka dengan Willy.


Ini bukan pertama kalinya Alex melihat Willy mengambil game dari anak yang lebih kecil itu. Cody bahkan tidak sedang menunjukkannya pada teman-temannya. Willy selalu tahu kapan game baru dirilis Nile App. Dia bisa menebak dengan tepat kapan Cody akan membawanya ke sekolah untuk ditunjukkan pada teman-teman. Kadang, dia malah membawa hardcopy game tersebut untuk dibagi-bagikan.


Alex mendengus geli sambil menggelengkan kepala.


Willy memang tidak sampai mengancam Cody. Biasanya, anak itu akan menyerahkan game tanpa banyak perlawanan. Willy memang tidak mencuri darinya, dia akan mengembalikan game tersebut setelah puas mencobanya bersama Alex dan beberapa teman lain.


Willy berbalik, mendapati Alex ada di belakangnya. “Hei, coba lihat ini! Ah, coba kita dapat game ini sebelum libur!” serunya. “Kita bisa mencobanya di rumahmu. Ini pasti seru. Mereka mencoba mengusung konsep steampunk pirate!”


Alex mencuri pandang jauh ke belakang Willy. Cody langsung membuang wajah, seolah takut melihat dirinya. Kemudian, anak itu bergegas lari meninggalkan lobby utama menuju ke lorong ke arah kelasnya.


Willy masih melanjutkan dengan semangat. “Kamu tahu? Kudengar Nile App banyak merekrut orang dari para beta tester mereka. Maksudku, itu ide brilian! Mereka bukan cuma mencari orang-orang yang sudah peduli pada perusahaan sejak awal tapi juga mahir bermain game buatan mereka. Kupikir itu semacam menyamakan konsep sejak awal!”


“Ya, itu menarik.” Alex harus mengakui.


“Hei, ngomong-ngomong, sejak awal semester ini kuperhatikan ototmu lebih besar. Sering menghabiskan waktu di gym?” tebak Willy.


“Yup. PT.” Alex terkekeh. Dia sudah punya jawaban. PT atau Personal Trainer akan jauh lebih masuk akal daripada latihan bersama di waduk bersama simulasi tiga dimensi, menggunakan beragam senjata, dan gulat melawan seorang mantan petarung bebas macam Tiger. Willy tak akan pernah percaya kalau Tiger yang sama adalah instruktur kemah mereka semester lalu.


“Leta akan terkesan.”


Willy mempercepat jalannya. Alex tahu penyebabnya. Dari sisi lorong lain, Leta berjalan ke arahnya. Gadis itu nampak menawan seperti biasa. Rambutnya tergerai di punggung, berkilau di bawah matahari. Sebelum bicara pun, Alex bisa mendengar merdunya suara gadis itu. Kalau ada yang bisa memaksa Alex mengambil kembali kursus pianonya, Leta adalah orang yang tepat.


“Hai!” Alex melempar senyum lebih dulu.


“Hai, Alex.” Leta berjalan tepat di sampingnya. Gadis itu tak lagi membawa tas seperti Alex. Mungkin dia sudah meletakannya di kelas lebih dulu baru berjalan-jalan dalam lorong megah sekolah mereka.

__ADS_1


“Ada yang menarik di sana?” Alex melirik ke lorong yang tadi dilalui Leta.


“Beberapa penggemar.”


Alex terdiam sebentar. Pikirannya menerka-nerka. Penggemar, bukan taman. Leta bicara soal orang bukan pemandangan yang ada di sepanjang lorong tadi. Bukan pula soal cerahnya hari itu. Sesuatu dalam diri Alex terusik. Meski tahu apa itu, Alex menolak menyebutnya rasa cemburu.


“Seseorang minta tanda tanganmu?” tebak Alex.


Leta menggeleng. “Tidak ada yang minta tanda tangan seorang anak sekolah. Aku bukan ayahku. Sebenarnya, dia memberiku sesuatu.”


“Kuasumsikan kamu menolaknya,” tebak Alex lagi. Sejauh ini, dia tidak melihat Leta membawa apa pun.


Leta memberikan satu kali anggukan pelan. “Bukan tipeku.”


“Terlalu muda?”


Alex tahu kalau dia tidak seharusnya melanjutkan percakapan tersebut. Sayangnya, pikiran dan bibirnya seolah tak mau bekerja sama. Pertanyaan selanjutnya meluncur mulus tanpa izin dari otak atau hati. “Jadi, tipe seperti apa yang kamu suka? Seseorang dengan keahlian musik seperti ayahmu?”


“Enggak. Mungkin hanya seseorang yang melihatku sebagai Leta.”


“Aku enggak begitu mengerti soal filosofi.”


“Begini sederhananya, seseorang yang melihatku tanpa melihat latar belakangku.”


“Kenapa?”


“Kenapa?” Leta mengulang pertanyaan Alex. “Itu berat. Hidup yang kita jalani bukan milik orang tua. Apa yang kita lalui seharusnya merupakan keputusan kita sendiri. Aku enggak mau hidup disetir orang lain. Ayahku mungkin akan menyuruhku turun ke industri musik, tapi keputusan terakhir ada padaku.”


Ucapan Leta membuat Alex melongo.

__ADS_1


Leta langsung cekikikan. “Bukannya benci musik. Aku suka. Sangat suka. Aku hanya ingin menjalani sesuatu yang kuputuskan sendiri.”


“Oke. Kalau itu aku paham.”


“Bagaimana denganmu?”


Alex tak pernah suka ketika pertanyaan dibalik pada dirinya. “Apanya?”


“Apa orang tuamu menyuruhmu mengikuti jejak mereka? Misalnya, Alex, seorang pengusaha ternama atau Alex, aktor muda pembuat para gadis histeris.”


“Aku lebih suka yang kedua,” jawab Alex jujur. “Tapi, enggak. Kurasa, aku enggak cocok hidup dalam kebohongan di depan kamera.” Kali ini, itu tak terdengar jujur. Alex sangat mudah membuat kebohongan-kebohongan dalam hidupnya. Dia bisa menyimpan rahasianya sebagai Zetta Sonic tanpa kesulitan sedikit pun.


“Kakakku juga suka yang kedua. Sangat normal,” ujar Leta. “Jadi, kalau kamu mau jadi pengusaha, apa kamu akan masuk ke universitas tertentu?”


“Belum menentukan pilihan pertamaku.” Alex mengedikkan bahu.


Dia dulu memikirkannya sebelum bertemu Jayden, Tiger, dan yang lain. Dia bukan tak tahu mau masuk ke universitas mana, dia bahkan tak yakin apakah bisa terus hidup hingga saatnya masuk ke universitas. Usianya masih lima belas tahun. Segala sesuatu bisa berubah dalam hitungan hari bukan tahun. Untuk saat ini, dia tak mau ambil pusing soal itu.


“Aku akan ke Leberiel.”


Lagi-lagi, Alex melongo. Leberiel berada di Regis. Salah satu negara yang terkenal akan kesenian dan budayanya. Leta tak perlu bicara apa pun, Alex tahu kalau dia sudah menentukan arah hidupnya. Bukan merasa senang, Alex harus jujur kalau iri.


“Cuacanya bagus di sana,” kata Alex setelah mereka diam cukup lama. Bukan hanya diam dalam bicara tapi juga berdiam di tempat. Keduanya telah tiba di depan pintu kelas yang terbuka lebar.


“Enggak sebagus di sini.”


Alex tersenyum geli. “Kita tahu itu bohong. Cuaca di sana jauh lebih bagus. Matahari cerah, udara hangat, hampir enggak pernah ada badai. Tapi, kamu lebih suka di sini, ya? Bersama keluarga?”


“Bersama semuanya. Keluarga, teman, kamu.”

__ADS_1


__ADS_2