Zetta Sonic

Zetta Sonic
S8 - (Winter) All Around


__ADS_3

Jayden kesulitan mencium bau darahnya. Hidungnya terbenam di dalam salju. Dia hanya mampu berguling agar bisa bernapas lebih lega. Sementara seekor beruang dewasa berdiri di depannya. Darahnya terlihat menempel di cakar beruang. Jayden hanya berharap kalau lengan kirinya masih menempel di bahu karena dia tak bisa melihatnya. Tatapannya terpaku pada hewan karnivora tersebut.


DOR! 


Jayden mendengar suara tembakan. Dia melihat bagaimana darah hewan itu terpercik dari luka tembakan di bahu. Bukannya merasa kesakitan, si beruang malah mengerang marah. Cakar itu kembali datang padanya.


“Jayden!”


Jayden mendengar namanya dipanggil oleh suara yang tak seharusnya dia dengar. Suara itu membuatnya berhasil berpaling dari si beruang. “Alex?”


Sosok hitam Zetta Sonic melesat cepat di udara. Tangannya mendorong si beruang menjauh dari Jayden. Kekuatan itu membawanya hingga beberapa meter ke dalam hutan sebelum akhirnya menghempaskannya di atas tanah.


Si beruang meraung keras lagi sambil berusaha bangun.


Alex melayang di udara. Tangannya sudah menggenggam pedang di tangan. Dia siap menghabisi si beruang. Tentu saja si beruang tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi. Hewan itu maju. Cakarnya terayun cepat. Namun, Alex lebih cepat juga kuat. Dia menghunuskan pedangnya dengan cepat.


Tidak sedikit pun ada niat di dalam hatinya untuk membunuh si beruang. Alex hanya ingin beruang itu menjauh dari Jayden bukan memulangkannya pada sang pencipta. Bukannya berhasil melukai si beruang, pedang Alex malah terpental menjauh.


Si beruang kembali lagi, hendak menyerang. Alex menunduk. Dia tahu jelas kalau seragamnya akan melindungi dari cakar si beruang. Alex menghindar dan menghindar. Pada kesempatan berikutnya, dia meninju perut hewan karnivora tersebut. Si beruang hanya dibuat makin marah dan makin marah.


Insting si beruang hanya untuk memangsa. Cakar tajamnya mengenai tubuh Alex, membuatnya jatuh ke tanah. Si beruang menekan tubuh Alex dengan satu tangan sementara tangan lainnya berusaha mencabik seragam tersebut. Alex tak diam saja. Dia menangkap tangan yang tengah menekannya. Dibantu Dragon Blood, Alex membanting hewan besar tersebut ke tanah.


Alex pun buru-buru menjaga jarak. Dia terbang rendah. Tangannya terulur ke bawah, mengambil pedangnya dari tanah. Dirinya berbalik, kembali menghadapi si hewan buas. “Pergi!” seru Alex.


Si beruang meraung keras. Suaranya membuat Alex bergidik ngeri. Lalu, suara tersebut berhenti mendadak setelah terdengar suara tembakan. Hewan itu sempat mengeluarkan suara erangan pelan lagi sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Jauh di belakang beruang, Alex bisa melihat Tiger masih dalam posisi membidik.


Sambil menurunkan senapan, Tiger mendengus geli. “Kita tidak bernegosiasi dengan kriminal, Sonic, apalagi dengan beruang sebesar itu.”

__ADS_1


Alex mendaratkan dirinya. Dia menyimpan sayap dan pedangnya. Tangannya masih gemetar. Alex berulang kali menghadapi tembakan, orang jahat, ledakan, dan robot pembunuh. Ini pertama kalinya dia berhadapan dengan makhluk hidup buas. Ukurannya, geramannya, serangannya, kekuatan murni itu membuatnya gemetar. Sesuatu yang memukau dan menakutkan di saat bersamaan.


Kemudian, dia bergegas kembali pada rekan-rekannya. Jayden duduk di atas tanah bersalju. Jaket serta bajunya sudah digunting pada bagian bahu. Dokter Vanessa memeriksa lukanya. Ada tiga sayatan panjang, untungnya tidak begitu dalam. Alex tertegun ketika melihat ada beberapa bekas luka lain di sana. Dia tak mengharapkan pekerja di belakang layar seperti Jayden menyimpan luka fisik juga.


Jayden meilirik Alex. “Aku kelihatan berantakan, eh?”


“Ya.” Alex bisa melihat bagaimana rambut pemuda itu berantakan, menempel pada kening. Belum lagi pakaian yang robek, juga adanya luka tersebut. “Itu kelihatan sakit.”


“Kupikir aku harus memberinya beberapa jahitan,” ujar dokter Vanessa sambil membuka kembali kotak obatnya.


Kara, si pilot wanita, berada di dekat mereka juga. Dia menatap Zetta Sonic dengan mata lebar. “Aku adalah penggemar beratmu. Sebuah kehormatan bagiku diselamatkan oleh Zetta Sonic! Aku benar-benar tersanjung!”


“Maaf? Aku bahkan tidak tahu siapa kamu.” Alex mengernyit, yakin kalau gadis itu tak melihatnya. “Aku tidak di sini untukmu. Aku di sini untuk timku.” Alex melemparkan jawaban santai ditutup dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Mata Kara langsung menyipit. Mulutnya membentuk lengkungan. “Lupakan ucapanku tadi.” Kara berbalik pada Emil dan melangkah pergi. “Hei, kamu! Bantu aku memindahkan barang-barang itu. Mereka enggak bisa berjalan sendiri!”


Jayden pun melirik Alex. “Sangat bagus, Sonic. Kamu membuat musuh pertamamu di ICPA. Dia pilot--” Jayden berjingkat, spontan menatap pada lukanya. “Aw!”


Jayden menyesal melihat bagaimana jarum mulai menusuk kulitnya. Dia pun mengalihkan tatapannya kembali pada Alex. “Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa ada di sini? Apa kamu membuka hadiah natalmu lebih cepat?”


“Sepertinya begitu.”


“Kamu seharusnya masuk ke daftar anak nakal!”


“Benarkah? Anak nakal ini baru saja menyelamatkanmu supaya enggak jadi makan malam beruang. Sekalipun aku yakin, beruang itu enggak akan suka dengan rasamu.”


Tiger berdehem. “Dan, pria besar ini baru menyelamatkanmu supaya enggak jadi mainan. Kamu seharusnya melihat bagaimana Alex mencoba bicara pada beruang itu. Mungkin bicara dengan binatang bisa jadi fitur baru Zetta Sonic.”

__ADS_1


Jayden terkikik mendengar itu sementara Alex membuang tatapannya. “Hei,” Jayden memanggilnya lagi. “Kupikir kamu sedang menyiapkan pesta natal atau semacamnya?”


“Acaranya batal.”


“Kenapa?”


“Banyak alasan.” Alex malas menceritakannya, jadi dia mengganti topik. “Ngomong-ngomong, pesawat itu luar biasa! Tapi, aku yakin tambahan bantalan di kursi pilot akan sangat membantu.”


“Baik, biar kupikirkan nanti. Saranku untukmu, bersiaplah mendengarkan omelan panjang Nadira. Aku yakin kamu belum mengantongi izin untuk menerbangkan pesawat itu.”


Tiger menyelempang senapannya kembali. “Aku akan membantu Emil.”


“Butuh bantuan?” sahut Alex. Itu hanya sekadar basa basi. Dia berharap jawabannya tidak. Karena memang begitu fasih berbohong, Alex merasakan tawarannya terasa tulus, padahal tidak.


Tiger berpaling sebentar hanya untuk bicara, “Ya. Lindungi kami dari beruang. Jangan ajak mereka ngobrol. Itu tidak akan berhasil.”


Setidaknya Tiger tidak minta bantuannya untuk memindahkan kotak-kotak perbekalan. Setelah lukanya diobati, Jayden dan Alex duduk bersebelahan di atas batu besar. Mereka mengedarkan pandangan, mengawasi kedatangan beruang atau ancaman lain.


“Tempat ini membuatku beku.” Napas putih tipis terbentuk ketika dia bicara. Dokter Vanessa sudah berbaik hati mengambilkan selimut untuknya dari dalam pesawat Kara. Beruntung masih banyak barang selamat dari kecelakaan tersebut. Jayden mengenakan selimut tersebut di atas badannya. Cukup membantu.


“Itu alasan kenapa aku enggak akan mematikan seragamku di sini,” tukas Alex.


“Setuju. Ada orang di luar Special Force juga. Gadis berisik itu bisa ribut kalau melihat bocah sepertimu di balik seragam tempur.” Jayden tersenyum melihat Kara bolak balik dengan kotak perbekalan, kemudian dia berpaling pada lawan bicaranya. “Terima kasih.”


“Lain kali, mungkin kamu mau berpikir dua kali sebelum meninggalkanku sendirian.”


“Aku hanya berpikir kamu butuh liburan.”

__ADS_1


“Ya, memang.”


Lalu, momen canggung itu datang.


__ADS_2